Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 10 Di ajak Jalan


__ADS_3

Berikan like dan tinggalkan komentarnya yah 🤗🤗


I love my viewer❤️


❤️


“Kelihatannya memang udah malam benaran sih, apa gua langsung balik aja yah? Ntar juga ni anak makannya malu-malu pastinya. Nggak enak juga tengah malam gua nongkrong bersama cewek, berduaan lagi.” Gumamnya dalam hati. “Ehm. Masuk yuk.”


“Masuk?”


“Jangan aneh-aneh dulu, maksud aku masuk aku anterin kamu tuh ke sana.” Jelasnya sambil menunjuk ke teras.


“Oh, ya udah.”


“Am, makanannya aku simpan sini yah.” Sambil meletakkan tas berisi kotak nasi. “Aku mau langsung pulang aja.”


“Nggak minum dulu?”


“Nggak usah. Aku mau langsung pulang aja, soalnya nggak enak ama tetangga.”


Uslin merasa dirinya sangat membebani Ariel. “Makasih yah. Maaf udah ngerepotin kamu.”


“Nggak apa-apa. Kamu makan yah, habis itu istirahat.” Pintanya. “Ingat jangan lagi ngelakuin apa-apa sesudah makan langsung istirahat."


“Iyah. Mkasih banyak yah.”


“Iyah, sama-sama. Masuk!”


“Kamu pulang dulu aja.”


“Masuk dulu!”


“Pintu pagar mau aku kunci Ril.”


“Oh iyah. Lupa, yuk.”


Mereka berdua berjalan menuju luar pagar. Uslin mengantar Ariel hingga Ariel sudah duduk di atas motor.


“Hati-hati di jalan yah."


“Iyah kamu masuk dulu.”


“Kamu jalan dulu aja.”


“Aku nggak bakal jalan kalau kamu belum masuk."


“Hm, ya udah deh. Masuk dulu yah, hati-hati.” Akhirnya Uslin mengalah.


“Iyah. Bye.”


“Bye."


Uslin pun masuk dan mengunci kembali pintu pagarnya. Uslin kembali berjalan menuju teras dan meraih tas yang disimpan Ariel di atas meja itu. Ia membukanya.


“Lagi-lagi aku ngerepotin dia Tuhan. Apa yang harus aku lakukan demi membalas kebaikannya?” Gumamnya dalam hati seakan merasa dirinya membebankan untuk Ariel. Meski sebenarnya Ariel tak merasa seperti itu seujung kuku pun.


Uslin membawa tas itu ke dalam lalu membuka kotak makanan itu dan memakannya.


...


Ariel pun tiba di rumahnya. Saat ia sampai pintu pagarnya tertutup dan digerendel dari dalam. Cela-cela pagarnya pun kecil,l sehingga sulit untuk Ariel membukanya dari luar. Ia menoleh ke sebuah rumah kecil tempat Pak Andre dan Pak Umar sekuriti di rumah Ariel, itu biasa nongkrong bersama. Mereka berdua terlihat sedang tertidur lelap.


Ariel mendorong motornya perlahan ke bawah pohon alpukat yang ada di depan rumahnya tetapi di luar pagar. Ia memarkir motornya di sana. Udara di luar sangat dingin. Saat itu Ariel tak mengenakan jaket hanya memakai baju kaos tipis berlengan pendek pula. Ia sangat merasakan angin menembus sekujur tubuhnya. Tak ada pilihan lain baginya. Ia harus melompati pagar untuk bisa tembus masuk dalam rumah.

__ADS_1


Setelah ia berhasil melewati pagar setinggi dua setengah meter itu, ia pergi mendapati Pak Andre dan Pak Umar. Ia ingin membangunkan mereka berdua namun ia tak enak.


Akhirnya Ariel pun ikut duduk di sana sambil bermain game. Tepat sekitar pukul setengah satu malam Pak Umar terbangun.


“Astaghfirullah.” Ucapnya kaget.


“Ini saya Pak.” Kata Ariel.


“Ya Allah, Mas ngapain di sini?” Tanyanya.


“Ada apa Mar?” Tanya Pak Andre. “Loh Mas, kok di sini? Jam berapa ini?”


“Hampir jam satu Dre.” Jawab Pak Umar.


Ariel diam dan tertawa lirih sambil mendengarkan obrolan Pak Andre dan Pak Umar.


“Saya baru pulang tadi, saya mau masuk pintu ketutup. Saya liat Bapak berdua sedang tertidur. Jadi saya lompat pagar. Saya mau bangunin tapi nggak enak, akhirnya saya tungguin di sini sampai Bapak berdua bangun.”


“Masya Allah, maap Mas. Kita berdua ketiduran.” Ucap Pak Andre.


“Iyah Pak. Nggak apa-apa, hm tolong bawa masuk motor saya yah Pak. Saya dingin soalnya.” Kata Ariel.


“Baik Mas.” Ucap Pak Umar sambil berlari ke luar dan membawa masuk motor sport Ariel. Pak Umar langsung memarkirnya dengan rapi di garansi rumah Ariel.


“Sudah Mas, sudah saya amankan di sana, hehe.”


“Makasih Pak, yah udah, masuk kamar baru tidur. Jangan di sini lagi. Udah larut malam nih.” Pinta Ariel.


“Baik Mas sekali lagi maap Mas, masuk dulu Mas.”


“Selamat malam Mas.”


“Iyah Pak. Selamat malam."


Kring… Kring...


“Hai, kamu sibuk nggak?”


"Nggak juga sih."


“Hm, jalan yuk.”


“Jalan? Ke mana?”


“Hm, ntar baru kamu tau.”


“Nggak apa-apa emang?”


“Nggak apa-apa, mau nggak?”


“Sama siapa aja?”


“Ntar baru kamu tau.”


“Yah udah deh.”


“Siap-siap yah.”


“Sekarang amat?”


“Yah ialah sekarang, masa besok!”


“Aku siap-siap dulu.”

__ADS_1


Tut… Tut… Tut… suara tutup telepon.


Seusai bersiap-siap ia pergi dan menunggu Ariel. Tak lama kemudian handphonenya berdering.


“Hallo!! Udah siap belum?” Sapa Ariel lewat telepon lembut.


“Iyah udah. Aku jalanya ke rumah kamu dulu atau kita langsung ketemunya di pantai aja.”


“Nggak. Aku jemput!” Terdengar lembut tapi sedikit tegas.


“Nggak usah jemput. Kan arahnya ke situ juga kan?” Jawab Uslin dengan tujuan agar tidak merepotkan Ariel untuk pulang pergi. Padahal sebenarnya arah ke pantai jika dilihat dari tempat Uslin memang arahnya lewat rumah Ariel. Tetapi karena memang Ariel maunya jemput. Ia pun langsung berangkat tanpa basa basi lagi.


“Nggak. Intinya aku jemput!”


“Nggak ngerepotin emang?”


“Yang ngajak aku. Yang mau jalan juga aku. Yang pastinya nggak dong, hhh.”


“Hhm. Ya udah deh. Kamu hati-hati yah di jalan."


“Okeh deh.”


“Udah jalan belum?”


“Udah mau dekat kok.”


“Kok cepat amat.”


“Buka pintunya, aku di luar kali.”


“Hah??? Yang benar Ril.”


“Kapan sih aku bercanda? Hhm.”


Tak lama Ariel datang melaju dengan mobil mewahnya. Uslin pergi ke luar dan langsung mengunci pintu pagarnya. Ariel turun dari mobilnya dan matanya melongo tak berdaya menatap Uslin. Uslin terlihat begitu cantik ketika mengenakan celana jeans biru, Blazer hitam berlengan setengah siku dan sepatu jintu warna putih kebiruan.


“Bentar yah bentar, aku keluar dulu.” Sambil berlari dari kamarnya menuju pintu depan dan melewati ruang tamu kecilnya. Uslin pun langsung membuka pintu dan ternyata benar Ariel sudah berdiri di depan pagar. Karena pagarnya masih terkunci, Uslin langsung berjalan menuju pintu pagar dengan senyum indahnya melengkung di bibir tipisnya. Terlihat amat manis. Ariel pun sebentar tersentak pada tenggorokannya. Benar-benar seperti melihat sebuah mahkota mewah yang dimuat di atas tempat makan gadis itu.


“Cepat amat padahal juga baru telpon.” Ucap Uslin sedikit heran dan kagum pada kecepatan Ariel.


“Buat kamu, apa pun itu harus cepat, hhm.”


“Ahhh. Lebay deh.” Ucap Uslin sambil tertawa lirih.


Mata Ariel kembali seperti melihat permata. Matanya benar-benar tak kuasa memandang kecantikan wanita yang di depannya.


“Kenapa? Aneh yah?” Tanya Uslin yang seketika merasa tak pede karena lirikan Ariel.


“Nggak, hmhm. Cantik.”


“Mulai deh.” Ucap Uslin dan memukul kecil di lengan kekar Ariel.


Ariel berjalan menuju pintu mobil sambil memegang pergelangan tangan Uslin. Ariel membuka pintu mobilnya dan menyuruh Uslin masuk.


“Yuk…”


“Am. Bentar aku ambil tas dulu.”


“Ya udah. Sana! Pintu jangan lupa di kunci!”


Uslin mengangguk dan berjalan kembali ke kamarnya untuk mengambil tas. Dan kembali keluar. Mengunci pintu rumahnya dan keluar menuju Ariel. Dia pun tidak lupa untuk mengunci pintu pagarnya. Saat Uslin mau ke mobil, Ariel sudah berdiri di bagian pintu kiri mobil Ariel. Dan pintunya pun sudah dibukakan.


“Masuk!” Pintanya dengan halus sambil tersenyum.

__ADS_1


“Makasih.” Ucap Uslin sembari masuk ke dalam mobil.


Selanjutnya...


__ADS_2