Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 31 Ariel ke mana?


__ADS_3

“Terus lo tidurnya di mana?”


“Di sini juga.”


“Berarti lo tau dong kalau si cewek kampungan itu juga semalam di mana?”


“Maksudnya lo apaan?”


“Ya gue nanya ke lo. Nggak benar kan kalau dia itu tidur di kamar Ariel?”


“Eh Ria. Jangankan di kamar Ariel, sekamar pun udah sering.”


“Maksud lo benar apa yang tadi Ariel bilang?!”


“Bilang apa?”


“Tadi kata Ariel semalam tuh cewek kampung tidur sekamar dengannya.”


“Ya iyahlah seranjang juga, satu bantal juga, satu selimut juga dan seterusnya... Udah? Puas? Apa perlu gue jelasin lagi lebih detail?”


“Iiih. Gue benci sama perempuan itu. Dasar junior nggak ada urat malu.” Sambil mencakar rambutnya dan lari kembali ke arah sahabatnya berada.


“Yang ada juga lo yang tau malu. Hhh. Mampus lo emang enak gue kerjain.” Aldi tertawa puas dengan apa yang dilakukannya terhadap Ria. Menurut Aldi perempuan egois seperti Ria memang pantas untuk mendapatkan perlakuan yang seperti itu.


...


“Kamu aja yang ke sana aku nggak enak.” Ucap Uslin dengan suara rendah dan benar-benar dapat tertebak dengan jelas bahwa ia saat ini sedang sangat sedih. Bahkan tanpa ia ceritakan pada Ariel pun Ariel sudah mengetahuinya.


“Maaf yah. Aku tau, kamu sedang sedih. Kamu dengar aku, sampai kapan pun si cewek resek itu nggak akan pernah bisa nyentuh kamu.”


“Persoalan itu aja aku juga bisa hadapin Ril. Hanya saja aku takut dikeluarkan dari kampus, karena Ria itu adalah keponakan dari pak rektor. Sementara aku siapa?” Gumamnya dalam hati sambil berpura-pura senyum dalam menahan tangisnya.


“Nggak usah takut, yah! Kita ke sana yuk, ketemu sama mama.”


“Kamu duluan aja nanti aku nyusul.”


“Ya udah.” Ucap Ariel sambil berjalan menemui orang tuanya yang sedang tertawa bahagia dengan momen kebahagiaan mereka.


“Kenapa nggak ikut?” Tanya seseorang.


“Eh, nggak ntar gue nyusul juga kok.”


“Duduk gih. Ngobrol bentar sama gue.”


“Iya.” Ucap Uslin sembari melangkah mendekati kursi di dekatnya dan duduk untuk memenuhi permintaan orang itu.


“Ehm. Ngomong-ngomong gue boleh nanya nggak sih?”


“Tanya apa?”


“Lo sama Ariel ada hubungan yah?”

__ADS_1


“Iya hubungan kita teman.”


“Iya itu gue tau. Maksud gue lo ada hubungan lebih gitu nggak sih sama Ariel. Soalnya gue perhatiin lo berdua dekat banget.”


“Iya emang kita dekat sebagai teman.”


“Jadi nggak pacaran?”


“Nggak.”


“Oh gitu. Terus sekarang lo kuliah?”


“Iya, hhh. Emang nggak tau?”


“Nggak tau, hhh. Dari mana juga bisa tau, Ariel aja tiap gue tanya-tanya tentang lo sensitif banget. Marah-marah mulu.”


“Hhm.” Senyum Uslin perlahan dapat Aldi baca bahwa ia sedang sedih.


“Lo lagi mikirin apa sih? Muka lo kok sedih banget gue liat.”


“Nggak kok nggak apa-apa.”


“Nggak usah sungkan. Gue nggak ember-ember banget kok, hhh.”


“Gue nggak apa-apa.”


“Nggak bohong, gue tau kok. Lo harus cerita sekarang kalau nggak gue panggilin Ariel untuk nanyain langsung ke lo.”


“Cerita dong! Gua nggak jahat-jahat amat tau.”


“Gue sedih, kenapa sih status gue sebagai orang kampung itu selalu dianggap rendah. Padahal kan, meskipun gue orang kampung kan gue juga manusia. Emang salah yah jadi orang kampung?” Tanya Uslin dengan sedih. Aldi berusaha menangkap apa yang diceritakan Uslin. Dalam sesaat ia langsung mengerti. Karena tadi Ria baru saja menanyakan hal yang serupa yakni perempuan kampung. Tentu yang dimaksud Ria pasti Uslin.


“Karena itu lo sedih?”


“Iya.” Ucapnya sambil meneteskan air mata.


“Seharusnya soal itu sih menurut gue lo nggak usah mikirin deh. Karena itu hanya membuat lo sedih, dan gue yakin dia ke gitu sama lo pasti karena Ariel. Karena kan selama ini dia suka sama Ariel. Tapi Ariel nggak peduli dengan dia.” Jelas Aldi.


“Iya sih, gue juga takut status gue sebagai mahasiswa itu bakal berakhir jika gue terus membuat dia marah. Di satu sisi gue nggak enak juga sama Ariel, nggak mungkin gue jauhin dia. Dia udah berkorban banyak buat gue.”


“Soal itu gue udah tau sih. Eh, gue minta nomor lo boleh nggak?”


“Boleh.”


“Tapi lo jangan bilang-bilang Ariel yah.”


“Hhm. Iya.”


“Mam.” Sapa Ariel dengan hangat sambil merangkul mamanya.


“Sayang. Maafin mama.” Sambil memeluk anaknya.

__ADS_1


“Iya mam nggak apa-apa.”


“Maafkan papa nak.” Ucap Edward sambil memeluk anaknya dengan linangan air mata.


Ariel hanya mengangguk dan tersenyum kecil sambil memeluk papanya dengan sangat erat. Mereka baru bertemu tetapi langsung dekat. Mungkin karena ikatan batin antara ayah dan anak. Ariel duduk sambil menatap dalam-dalam mamanya. Sambil tersenyum kecil ia bangun lagi dari duduknya dan memeluk mamanya. Mamanya menangis haru memeluk Ariel.


Selang ia memeluk mamanya, ia beralih dan memeluk ayahnya dari belakang. Sambil mencium kepala ayahnya. Ia memeluk ayahnya dengan sangat dalam dan memejamkan matanya. Sangat bahagia rasanya saat ia sudah bertemu sang ayah. Setelah sekian tahun ia hidup sendiri tanpa ayah.


“Lo ke sana aja.”


“Iya gue jalan dulu yah.”


Uslin perlahan menenangkan dirinya. Ia memejamkan matanya lalu membuang napas pelan-pelan. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menghilangkan rasa sedihnya. Uslin berdiri sedikit jauh dari mereka sambil melihat Ariel memeluk ayahnya. Tetapi Ariel merasakan kehadirannya di sana. Ariel menoleh ke arahnya dan berjalan menghampiri dan menggandeng tangannya sambil berjalan kembali mendekat dengan Ardila.


“Sayang. Terimakasih banyak yah.” Ucap Ardila sambil bangun dan berdiri lalu memeluk Uslin. Uslin dengan senang memeluk Ardila.


“Sama-sama tante. Ini adalah takdir tante, hhm. Selamat yah tante.” Ucap Uslin sambil mengelus belakang Ardila.


“Makasih sayang.”


“Kamu temannya Ariel yah?” Tanya Edward.


“Iya om.”


“Terimakasih dek. Thanks sis for everything.” Ucap Edward sambil menundukkan kepala kepada Uslin dan juga Wulan.


“Dek makasih banyak yah.” Sambil memeluk Wulan.


Acara berakhir.


Pagi yang cerah, menyapa Edward dan Ardila yang masih dengan hangat dibalut selimut di atas ranjang. Edward bangun lebih dahulu, sementara Ardila masih nyenyak. Saat ia hendak ke kamar kecil ia melewati sebuah pintu yang masih tertutup. Ia berdiri sekejap di sana lalu membukanya perlahan. Saat membukanya ternyata kamar itu adalah kamar anak laki-lakinya. Namun, ia sangat terkejut saat melihat keadaan dalam kamar tersebut. Ia berlari dengan pontang-panting sambil mendobrak pintu kamar mereka. Hal itu membuat Ardila kaget dan bangun dari tidurnya.


“Ma, Ariel ke mana? Di kamarnya nggak ada orang.”


“Oh my God, papa. Udah jam segini Ariel mana ada di kamarnya.”


“Emang dia ke mana ma? Dia nggak mungkin pergi karena nggak suka sama kehadiran papa kan?”


“Papa...” Ucap Ardila tenang lalu berjalan mendekati Edward yang berdiri dengan panik di depan pintu. “Ariel itu biasanya jam empat subuh itu dia sudah pergi lari pagi sama sekali teman-temannya. Tentu saja dia nggak ada di kamar pa.” Jelas Ardila.


“Really?”


“Yes.”


“Bagus deh. I’m afraid he’s lost you know.” Sambil memeluk istrinya.


“Nggak mungkin dong pa.”


Edward benar-benar terkejut saat melihat Ariel tidak ada di kamarnya. Tentu saja ia tidak mengetahui rutinitas Ariel dalam kesehariannya. Karena Edward baru hari pertama menjalani hari bersama dengan anak dan istrinya.


Selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2