Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 8 Berkat Tuhan


__ADS_3

Mereka berhenti di sebuah rumah kecil, di mana rumah itu sangat sederhana. Ukuran kebesarannya hanya sekitar tiga kali lima. Rumah itu beratap seng biasa dan dindingnya bukan tembok melainkan tripleks. Meski rumah itu tidak mewah, tetapi terlihat sangat rapi. Karena semua yang ada tertata rapi. Mulai dari halaman yang disapu setiap pagi dan sore juga terdapat beberapa vas dan pot bunga yang berjejer di bagian teras rumah sederhana itu.


Ariel meminggirkan mobilnya dan berhenti di sana.


Ariel membuka pintu mobilnya dan turun sambil berjalan menuju pintu pagar rumah kecil itu. Aldi juga membuka pintu mobil dan keluar mengikuti Ariel. Saat ia ingin membuka pintu dan masuk ternyata pintunya digembok.


“Kok, dikunci? Ke mana dia?”


“Ngapain di sini?” Tanya Aldi.


“Nganterin buku-buku tadi.”


“Emang ini rumahnya siapa?”


“Teman.”


“Teman? Teman yang mana? Kok nggak pernah tau gua?”


Ariel kembali tak merespon pertanyaan Aldi. Ia mengambil handphonenya dari dalam kantong celananya dan menyalakannya. Belum sempat lama mengoperasikan handphonenya, ia mendengar sebuah suara.


“Kok di sini?”


“Eh. Dari mana?”


“Bro dia siapa?” Kepo Aldi. Tapi seperti sebelumnya Ariel tak meresponnya.


“Am. Dari sana, dari rumah teman.”


“Teman? Teman siapa?”


“Teman aku, kamu nggak kenal.”


“Oh!” Ucapnya seraya malu dengan sahabatnya. Juga merasa canggung di depan Uslin.


Aldi si mata keranjang itu tetap dengan kelakuan yang sama. Memandang Uslin dengan penuh kegenitan. Seperti Aldi sangat tertarik dengan wajah cantik dan badan langsing Uslin.


Kelakuan Aldi menjengkelkan Ariel.


“Oh Iyah. Ngapain di sini?”


“Nggak, ada urusan sedikit.”


“Urusan apa? Sama aku?”


“Iyah.”


Karena Ariel bilang kalau ia ada urusan dengannya. Uslin meraih kunci dari tasnya dan membuka gembok pintu pagar rumahnya. Uslin mengajak Ariel dan Aldi masuk.


“Eh. Lo jagain mobil.”


“Lah bro, mobilnya juga aman kok”


“Nggak, nggak apa-apa. Masuk aja. Mobil kamu di sana aman kok. Nggak bakal ada apa-apa.” ucap Uslin.


“Tuh kan bro." Ucap Aldi semangat.


“Kamu masuk duluan, aku mau ngomong sama dia dia dulu.” ucap Ariel menghadap Uslin dan dan menunjukkan Aldi pertanda bahwa Ariel mau bicara dengan sahabatnya.


“Aku, kamu? Sejak kapan nih anak ke begini?” Bisik Aldi dalam hati.

__ADS_1


“Okeh.” Sambil berjalan masuk.


“Masuk ke mobil.”


“Bro, masa lo tega sih ninggalin gua sendirian di mobil."


“Lo bukan banci, masuk!” Perintahnya sambil membukakan pintu masuk dan menyuruh Aldi.


“Bro, bro, bro. Kok gitu…”


“Ya udah turun, biar gua masuk dan gua balik ke rumah.”


“Ya udah, gua di sini juga nggak apa-apa kok, hhh.”


Ariel tercengang seketika mendengarkan kata-kata Aldi. Dalam sekejap Ariel langsung paham apa maksud dari ucapan Aldi. Karena di sana ada Uslin sehingga dia senang saja saat Ariel mengancamnya.


“Okeh. Ada duit nggak?”


Mendengar pertanyaan Ariel, Aldi merogoh kantong celana belakang dan depannya.


“Yah. Dompet gua lupa.”


“Gua pergi nih.” Ancam Ariel lagi.


“Ya udah sana, jangan lama.”


Ariel membuka bagasi mobilnya dan mengambil tas-tas tadi. Lalu membawa masuk. Saat Ariel masuk Uslin sudah berganti baju, dan memakai pakaian rumah. Uslin mengenakan stelan berwarna abu-abu kecokelatan. Sehingga sangat memikat akan warna bajunya dengan kulit Uslin yang terang. Di samping itu, Uslin sudah duduk di teras dan menunggu Ariel.


“Mau minum apa?”


“Nggak usah. Aku nggak haus.”


“Ada apa?”


“Ini apa?”


“Jangan di buka, bukanya setelah aku pergi aja.”


“Oh gitu. Tapi thanks yah.”


“Iyah. Sama-sama.”


“Loh itu kan sopir pribadi mamanya Ariel.” Ujar Aldi saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan mobil Ariel yang sedang didudukinya. Ia keluar dan menemuinya. “Pak Andre?” panggilnya.


“Eh Mas Aldi. Di sini juga Mas?”


“Iyah Pak, itu sama Ariel juga,”


“Mas Arielnya di mana Mas?”


“Ada di dalam Pak, masuk aja.”


“Baik Mas.”


Pak Andre masuk dengan membawakan beberapa tas juga.


“Mas Ariel.” panggil Pak Andre.


“Pak, kok di sini?”

__ADS_1


“Anu Mas. Mau ngantar ini baju-baju yang tadi, sudah saya beli ganti Mas.”


“Astaga Pak. Saya nggak nuntut harus ganti juga kali Pak.”


“Nggak apa-apa Mas. Ini ide dari neng Arni sama teman-temannya. Mereka yang bantuin saya Mas.”


“Dari mana Bapak tau saya di sini?”


“Ini Mas. Saya ngikutin ini. Di bantuin sama neng Marla untuk temukan lokasi Mas.” sambil menunjuk layar handphone yang tertampil maps di layarnya. Dalam keluarga Ariel memang seperti itu. Lokasi mereka saling terhubung satu sama lain secara otomatis. Dengan tujuan agar ketika terjadi apa-apa bisa secara langsung mengetahui di mana keberadaan mereka.


Pak sopir bisa menemukan Ariel dengan bantuan GPS. Global Positioning System adalah alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan sesuatu ketika ada GPS . GPS merupakan sistem navigasi satelit yang didesain untuk menyediakan informasi mengenai posisi mobil secara cepat dan tepat. Dengan memasang GPS di mobil, dapat melacak posisi kendaraan atau posisi sesuatu lainnya dalam keadaan real-time.


Ariel merasa bersalah pada sopir pribadi mamanya.


“Maaf yah Pak. Ntar saya transfer balik yah.”


“Iyah Mas. Nggak apa-apa mas. Nggak usah. Kalau nggak saya akan berhenti kerja dengan mas Ariel. Saya pamit pulang dulu Mas. Tadi katanya Ibu mau keluar.”


“Oh my God." Ucap Ariel dalam hati. "Iyah Pak. Hati-hati Pak.”


“Makasih banyak Pak.” Ucap Uslin.


“Iyah neng. Sama-Sama.”


“Bawa masuk.”


“Iyah. Ntar aku bawa.”


“Bisa sendiri?”


“Iyah. Bisa kok.”


Uslin mengambil tas-tas itu, lalu bawa masuk.


“Makasih yah Ril.”


“Udahlah.”


Ariel mengangguk lalu senyum. Ariel menatapnya erat pada wajah lugu Uslin.


“Udah mau jam enam, aku pulang yah.”


“Iyah hati-hati.”


“Baik-baik yah, bye.” Ucapannya sangat lembut dan hangat.


“Iyah. Bye.”


Sambil berjalan keluar, ia kembali memalingkan penglihatannya ke belakang. Ke teras rumah kecil itu, tepat di tempat Uslin berdiri dan melambaikan tangannya. Uslin tersenyum sambil melihat ke arah Ariel dan melambai-lambaikan tangannya.


Ariel berjalan menuju mobil dan membuka pintunya lalu masuk.


“Loh? Hm memang kebiasaan.” Ariel menurunkan kaki Aldi dari jendela mobil dan meluruskan kepalanya supaya bisa tidur dengan lelap dan nyaman. Tak hanya itu, Ariel juga memasang sabuk pengaman. Mereka sangat dekat bagai kakak beradik. Mereka saling memberi perhatian satu sama lain. Bukan saja dari pihak Ariel yang menganggap hubungan mereka sebagai saudara melainkan juga Aldi.


Ariel menyalakan mesin mobilnya dan melaju perlahan dengan memacu gas dan pergi.


Uslin masuk ke dalam kamarnya dengan membawa semua pemberian Ariel.


“Sebenarnya aku kerja untuk membelikan buku-buku ini.” ucapnya sembari meraih semua buku yang dibelikan Ariel untuknya.

__ADS_1


“Ya Tuhan. Terima kasih Tuhan. Luar biasa kasih-Mu. Berkati Ariel, dia begitu baik, tanpa aku minta dia mengerti akan kebutuhanku. Terima kasih banyak Tuhan.” Ucapnya, sambil meneteskan air mata.


Selanjutnya...


__ADS_2