
Ikuti terus yah 🤗🤗🤗
“Kamu udah sampai belum?”
“Aah. Syukurlah. Mama nggak apa-apa?”
“Iyah mama nggak apa-apa, kenapa emang?”
“Nggak mah aku panik aja. Oh iyah ma. Ini baru aja sampe.”
“Oh iyah. Bagus deh. Kamu hati-hati yah sayang.”
“Salam my cute." Eambung Bibi Wulan.
“Iyah ma. Okeh Bi. Siap nanti Ariel sampaikan.”
“Okeh deh. Mama tutup telponnya yah, bye.”
“Iyah ma. Bye.”
Ariel memukul jidatnya dan tersenyum tipis.
“Kenapa Ril?”
“Nggak sih. Aku pikir mama aku itu mama aku itu kumat lagi.”
“Emang tante punya riwayat penyakit gitu?”
“Iyah jadi mama aku tuh dulu pernah mengalami gangguan jiwa, waktu aku masih kecil.”
“Emang kenapa, apa yang terjadi?”
“Yaah. Ada masalah sih sedikit waktu itu kata mama aku, maaf yah aku nggak bisa cerita."
“Oh. Nggak apa-apa.”
“Ehm. Kamu nggak berniat untuk keluar gitu?”
“Keluar? Oh! Astaga sampe lupa loh. Ahh.”
Ariel tertawa kekeh. Mengingat mereka sudah sampai sebelum mama Ariel telepon. Namun mereka tetap ngobrol dalam mobil dan tidak keluar. Uslin langsung membuka pintu mobil dan keluar. Sambil merogoh ke dalam tas kecilnya menemui kunci pagar dan kunci pintu rumahnya. Uslin membuka pintu pagar dan masuk. Saat mereka tiba di teras rumah sederhana Uslin mempersilakan Ariel duduk.
“Kamu mau minum nggak?”
“Eem. Kayanya nggak deh. Tapi dada aku sakit banget loh!” Sambil menekan dadanya seakan benar-benar tidak sanggup menahan sakitnya. Ariel menunduk dan rasanya ia ingin menangis dengan kesakitan itu. Uslin sangat panik dan langsung memegang bahu Ariel dan bertanya.
“Hah? Kenapa? Kamu butuh apa biar aku…”
“Aku butuh hati kamu.” Belum sempat bicara hingga kata-katanya selesai Ariel memotongnya. Uslin terlihat kesal. Karena ia benar-benar panik dan shock dengan ekspresinya.
“Astaga Ariel”
“Ahh. Kenapa? Panik yah, hhh.”
__ADS_1
“Kok. Kamu jadi gini sih? Kamu yang tegas itu di mana?”
“Aku yang tegas? Tceh. Gimana mau tegas orang kamu aja selalu lembut sama aku.” Canda Ariel sambil membuang senyum genitnya.
“Geli tau."
“Ih. Kok gitu?”
“Tau ah. Malas. Tapi benar kan kamu ngga apa-apa?” Tanya Uslin yang terlihat masih panik.
“Benarlah. Untuk apa sakit kalau kamu aja sehat-sehat." Sambil menatap Uslin dengan tatapan sayang.
“Ariiel. Kamu kenapa sih?”
“Nggak apa-apa. Ahh.”
Uslin melototi Ariel dengan kesan sedikit tidak percaya dengan kegenitan Ariel barusan. Karena selama Uslin kenal Ariel kata-kata gombalan seperti itu tidak pernah ia dengar. Uslin mengangkat alisnya sebelah seolah geli sambil menoleh ke belakang agar Ariel tidak melihat ekspresinya.
“Hah?” Uslin terkejut ketika melihat wajah Ariel yang benar-benar dekat dengan wajahnya saat ia menoleh kembali ke arah semula.
“Hah! Kamu nggak senang yah?”
Uslin memutar bola matanya dan berkata “Aku kaget tau.”
“Nggak seru! Huf!”
“Sorry. Aku kaget. Kamu tiba-tiba nyosor aja.”
“Deg degan nggak?”
“Pulang sana!” Kesal Uslin.
“Kamu ngusir aku?”
“Nggak gitu juga sih. Hanya… Ah tau ah!” Sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Ahh. Maaf kalau nggak nyaman.”
“Ya iyahlah, genit.” Uslin keceplosan.
“Hah? Kamu bilang aku genit?”
“hm?? Nggak nggak maksud aku…” Tiba-tiba sebuah pelukan melayang mendekap dirinya.
“Tuhan. Aku takut dengan keadaan ini.” Ia berkata dalam hatinya. Hatinya serasa ingin menangis dengan merasakan semua saat ini. Namun pelukan itu serasa mengerti dengan perasaannya saat ini. Sangat hangat dan tenang. Ingin lari dan menghindar. Namun, ikatan kenyamanan tak bisa dipungkiri untuk menjauhkan utuhnya benih murni yang ada di antara mereka berdua. Hatinya yang hampir kembali rapuh, kembali mekar seperti bunga mawar di pagi hari. Ia terlihat seperti sangat nyaman dan menikmati pelukan itu sampai lupa bahwa ia sampai matanya terpejam dalam pelukan Ariel. Ia bersandar nyaman di atas dada bidang Ariel.
“Udah belum?” Tanya Ariel sambil melirik kekeh ke arah indra penglihatan gadis yang ada dalam pelukannya.Mendengar ucapan Ariel, ia sangat terkejut dan malu. Ia serasa ingin marah dan kesal sama diri sendiri yang sudah lupa diri dan tidak tau malu.
“Iyah.” Sambil mengangguk. “Makasih yah.”
“Untuk apa, hum?”
Uslin menunduk malu.
__ADS_1
“Aku balik dulu yah.”
“Iyah. Hati-hati.”
“Bye, kamu baik-baik yah.” Sambil mengelus kening Uslin.
“Iyah. Bye.”
Ceklek… pintu terbuka saat Uslin membukanya. Namun, ia belum sepenuhnya masuk ke dalam kamar ternyata handphonenya berdering dari dalam tas. Ia bergegas untuk mengangkat telepon tersebut. Ternyata yang telepon adalah tante Nia. Seorang wanita yang mempekerjakan Uslin sebagai penyuci pakaiannya.
“Hallo, tante?”
“Hallo dek, kamu jadi datang nggak?”
“Oh iyah. Jadi tante jadi. Ini aku udah mau jalan kok.”
“Okeh dek. Kamu hati-hati yah dek,”
“Iyah tante.” Sambil menekan tombol penutup telepon.
Tok… tok…
Ceklek…
“Oh kamu udah nyampe. Yuk masuk.” Ajak tante Nia. Uslin mengangguk dan mengikuti tante Nia dari belakang.
“Aku langsung nyuci aja yah tante.”
“Eh bentar dek. Kamu nggak minum dulu?”
“Kebetulan tadi aku udah minum juga tante,”
“Oh gitu. Ya udah deh. Kirain kamu belum minum tadi.”
“Udah kok tante. Ya udah aku ke belakang yah tante.” Tante Nia mengangguk.
Uslin berjalan menuju belakang dan mulai melakukan pekerjaannya. Sementara tante Nia sibuk memasak di dapur.
Jam dinding tante Nia berdering. Waktu sudah menunjukkan jam 10.00 siang. Itu adalah waktu yang ditentukan tante Nia setiap hari sebagai rutinitasnya yaitu makan siang. Tante Nia pun sudah selesai masak. Dan akhirnya tante Nia memindahkan semua menu makanan yang dimasaknya ke meja makan di ruang keluarga. Tante Nia sengaja masak banyak karena Uslin datang bekerja. Karena selama seminggu sekali barulah Uslin datang ke sana lagi yaitu hanya di akhir pekan. Setelah selesai memindahkan kemudian tante Nia pergi menyusul Uslin ke belakang. Saat tante Nia mendapati Uslin ternyata Uslin sudah hampir selesai mencuci.
“Dek. Kamu udah selesai?”
“Bentar lagi tante. Tinggal bilas aja.”
“Oh gitu. Ikut tante bentar yuk. Bantuin tante bentar.” Tante Nia sengaja tidak memberitahu Uslin bahwa ia mengajak Uslin untuk makan. Karena tante Nia tahu bahwa Uslin pasti menolak dan berkata bahwa ia sudah makan. Karena bukan lagi hal baru bagi tante Nia soal Uslin yang selalu tidak mau merugikan orang lain apalagi merepotkan. Bahkan sudah berulang-ulang tante Nia menawarkan namun Uslin selalu dengan perasaan untuk tidak mau. Maka itu tante Nia berinisiatif untuk tidak mengatakan langsung.
Uslin mengikuti tante Nia. Ternyata tante Nia masuk ke ruang keluarga, Uslin merasa canggung dan terkejut ketika melihat makanan lezat di atas meja.
“Tante… mau aku bantuan apa?”
“Temani tante makan.”
“Ahm. Nggak usah aja tante.”
__ADS_1
“Kamu nggak kasian ama tante? Tante udah masak sebanyak ini loh, tante juga masak gini supaya tante ada teman. Tante sedih deh.”
Selanjutnya...