
Setelah mengetahui anaknya tidak berada di kamar karena keluar untuk lari pagi. Kecemasannya menghilang.
“Ya udah mama siapin sarapan dulu yah.” Ucap Ardila.
Edward tersenyum lalu mengangguk dan Ardila berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur disiapkannyalah semua sarapan untuk hidangan pagi. Sementara Edward masih berdiri dengan diam di depan kamar Ardila sambil menatap dalam-dalam dengan senyuman ke arah pintu kamar Ariel.
“Thanks very much God for everything. Terimakasih untuk jalan yang sudah Engkau tunjukkan kepada everyone for me.” Ucap Edward dengan suara rendah penuh syukur. Ia sangat bahagia, sudah sekitar sepuluh jam ia melihat wajah Ardila dan anaknya. Hanya lima puluh persen yang merupakan tangis, meskipun sebenarnya itu adalah tangis haru dan bahagia. Yang ada dalam benaknya saat ini adalah membahagiakan anaknya dan istrinya.
Edward berjalan perlahan menuju dapur. Karena langkanya yang pelan dan ringan, sehingga entakkan kakinya tak dapat Ardila dengar. Ardila terus sibuk dengan memotong bawang untuk menggoreng telur dadar kesukaan anaknya. Ternyata, Ariel membawakan jejak ayahnya suka makan telur dadar. Edward berdiri sebentar lalu memperhatikan Ardila dengan tatapan yang sangat dalam. Dari bola matanya terpancar jernih ketulusannya. Ia sangat merindukan sosok istrinya yang setelah puluhan tahun tidak bersama. Bahkan di setiap pagi Edward terus disapa dengan sarapan buatan diri sendiri, dan terkadang buatan anak-anak Nia. Lalu pagi ini adalah yang berbeda dari semuanya. Ia disapa dengan sarapan buatan istrinya tercintanya. Ia berjalan perlahan lalu memeluk istrinya dari belakang lalu mengecup pelan di leher kanan istrinya.
“Terimakasih sayang. Kamu masih mau terima saya.” Ucapannya lagi dan lagi tentang ucapan terimakasih. Sangat merasa bersalah dengan keadaan sebelumnya. Ardila mengangguk. Edward terus melingkari perut Ardila dengan tangannya.
Seorang lelaki putih tampan berdiri dari belakang menyaksikan adegan mereka. Tatapan lelaki itu pun sangat dalam dan matanya ikut berkaca-kaca.
“Pa, maafin aku yang pernah membencimu. Cinta papa terhadap mama ternyata sebesar ini. Bukan hanya untuk mama tetapi untuk aku juga.” Ia berdiri dengan mengisikan kedua buah tangannya ke dalam saku celana joggernya. Sementara tatapannya terus terarah ke tempat semula, tempat mama dan papanya berada. Di saat Edward memalingkan kepala ke arahnya ia tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Setelah sampai dalam kamarnya ia langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
“Sayang sebentar yah!” Ucap Edward lalu berjalan mengikuti arah jalan Ariel. Setibanya di depan kamar Ariel, pintu tertutup bahkan terkunci. Ia berdiri di sana dengan rasa gelisah yang mengguyur perasaannya. Ia takut anaknya tidak menyukai perilaku yang baru saja dilihatnya.
“Ariel...” Ia memanggil anaknya. Namun, ternyata ia tak mendapatkan jawaban. Ia berdiri di sana sambil berjalan maju mundur.
Ceklek...
Setelah beberapa saat pintu kamar Ariel terbuka, Edward langsung terkejut.
“Papa di sini? Ngapain?” Tanya Ariel.
“Nak, kenapa kamu tidak menjawab panggilan papa? Kamu masih marah sama papa?” Ucap Edward dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
“Kapan papa manggil? Tadi kan handphone Ariel di rumah pa. Jelaslah Ariel nggak bisa jawab.” Jelas Ariel dengan heran.
“Papa nggak memanggil kamu lewat telepon. Maksud papa yang barusan. Papa liat kamu lagi liatin mama sama papa di dapur, setelah itu kamu jalan. Papa ikutin kamu, papa berdiri di sini dan memanggil kamu, kenapa kamu nggak menjawab papa? Hum?” Tanya ayahnya balik.
“Barusan pa? Aku nggak dengar mungkin pa. Karena tadi aku masuk ak... Oh mungkin karena tadi aku pake headset pa, aku lagi doa tadi.” Tentu saja Ariel tidak mendengar panggilan papanya. Karena setiap kali ia pulang dari lari pagi tentunya ia akan masuk dan berdoa terlebih dahulu. Ia pun selalu memakai headset untuk menutup semua suara-suara yang muncul di saat ia berdoa. Karena baginya itu akan mengganggu konsentrasinya dalam berkomunikasi dengan Tuhan.
“Really?”
“Iya pa. Papa kenapa memangnya kok papa macam gelisah gitu?”
“Papa takut kamu masih membenci papa nak. Maafin papa untuk semuanya.” Jawab Edward dengan memberitahu alasan kenapa ia gelisah.
“Udahlah pa. Nggak ada yang perlu minta maaf di sini. Siapa pun itu, yah. Semuanya terjadi bukan karena kemauan kita, mungkin saja Tuhan yang mengatur semua ini. Toh setelah ini juga kita nggak tau kan apa lagi yang akan terjadi. Papa nggak salah, mama juga nggak salah, aku mungkin yang salah, hhm.” Ucap Ariel menenangkan ketakutan dan kegelisahan papanya sambil bercanda lalu memeluk ayahnya dengan hangat.
“Ya ampun nak. Papa nggak nyangka kamu sudah sedewasa ini.” Ucap papanya penuh haru lalu memeluk anaknya.
“Papa... Sarapannya udah siap nih.” Panggil Ardila dari ruangan makan. Tentu saja Ardila tidak memanggil Ariel. Ardila belum tahu kalau ternyata anaknya sudah pulang.
Edward mendengar panggilan Ardila, ia melepaskan pelukannya pada anaknya.
“Ayo kita pergi sarapan.”
“Papa duluan aja aku mandi dulu yah.” Ucap Ariel sambil berjalan menuju kamar mandi. Sementara Edward berjalan menuju ruang makan. Setelah tiba di ruang makan semuanya sudah Ardila siapkan. Sehingga Edward hanya perlu duduk dan makan saja. Sangat bahagia perasaan Edward sekarang, sudah dipertemukan dengan keluarga kecilnya.
Edward berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Sementara Ardila masih bolak-balik dari dapur ke ruang makan sambil memindahkan menu-menu makanan dan meletakkan ke atas meja makan. Edward langsung duduk dan menyantap makanan yang sudah disediakan istrinya dalam sebuah piring.
“Sayang... Rasanya masih seperti dulu. Berjuta terimakasih yang bisa lagi untuk saya ucapkan sayang.” Ucap Edward setelah menyantap makanannya dan hampir menangis. Ardila berjalan mendekatinya dan memeluk lehernya dari belakang persis seperti Uslin memeluk Ariel dimalam ulang tahun Ardila.
__ADS_1
Tak di sadari ternyata Ariel menyaksikan adegan mesra papa dan mamanya.
“Lin.” Ucap Ariel tanpa sadar pula, lalu tiba-tiba sadar lalu malu sendiri. Ariel ingat kehangatan tangan Uslin saat memeluk lehernya. Bahkan masih bisa ia rasakan meski hanya sekedar membayangkannya. Sambil berusaha tenang ia berjalan sambil senym dan menyapa papa dan mamanya yang sedang bermesraan.
“Morning.”
Edward tersenyum.
“Morning sayang. Kamu udah mandi?” Tanya Ardila.
“Udah ma.”
“Dari tadi dong kamu pulangnya.”
“Iya sejak pelukan di dapur.” Ucap Ariel sambil menunjukkan muka yang tak enak.
Edward dan Ardila tersenyum tipis melihat aksi kecemburuan anak mereka.
“Enak yah sekarang yang udah punya pawang. Kamar aku aja pas subuh nggak ada yang ketuk.” Ucap Ariel dengan kecewa
“Sayang. Maafin mama yah semalam tuh mama lelah banget. Karna kan kamu tau sendiri acaranya tuh lama banget. Berakhirnya juga udah larut.” Ucap Ardila.
“Iya deh. BTW Bibi mana?” Ucap Ariel.
“Bibi masih tidur. Sebentar lagi pasti bangun kok.”
Selanjutnya...
__ADS_1