Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 4 Kebakaran Hati


__ADS_3

“Semuanya yah Pak." ujarnya.


“Okeh mas.” Jawab Bapak berseragam hitam itu.


“Siapa itu?”


“Sopir pribadi mama aku.”


“Kenapa kamu menyuruh dia? Kan bukan sopir kamu!”


“Aku juga bayar kali.”


“Ril, makasih yah ”


“Buat apa?”


“Semuanya, hmhm. Udah beliin aku baju sebanyak itu. Udah mau nganterin aku pulang. Maaf juga sudah ngerepotin kamu!”


“Iyah sama-Sama. Di mana kita sekarang?”


“Mall. Lupa emang?”


“Berarti belum nyampe dong, hhh.” Ariel sengaja mengalihkan pembicaraan sehingga membuat Uslin ikut tertawa. Karena ia tak ingin Uslin meminta maaf dan berterima kasih padanya secara terus-terusan. Itulah Uslin yang Ariel kagumi.


Sedari tadi mereka jalan, Ariel merasa Uslin hanya berpura-pura senang. Mungkin di satu sisi dia senang. Namun di sisi lain pasti masih kepikiran soal masalah tadi. Dalam perjalanan mereka keluar dari mall Ariel terus berpikir bagaimana caranya ia dapat membantu Uslin?


“Yuk. Pulang!”


“Ke mana Ril? Motor kamu kan di sana?” Tanya Uslin.


“Ikut aja." Katanya pelan dan penuh perhatian.


Ariel ingin bilang bahwa ia tak mungkin memboncengnya dengan motor. Apa lagi dengan motor sport. Selain tinggi, perjalanan menuju rumahnya juga masih jauh. Ditambah lagi dengan saat itu Uslin bukan lagi memakai celana melainkan dress. Sehingga ada rasa tak nyaman bagi Ariel ketika ia harus membawa Uslin pulang dengan motor pada saat mengenakan dress seperti itu. Ariel tak bisa bilang karena ia menjaga perasaan Uslin. Ariel memegang tangan Uslin tepat di pergelangannya lalu mengajaknya jalan menuju pinggir jalan.

__ADS_1


“Taxi!” teriak Ariel sambil melambaikan tangan untuk memanggil sebuah taxi yang muncul dari arah kiri mereka. Taxi itu pun menyeberang dari sebelah jalan menemui mereka. Di mana mereka saat itu berada di mall bagian utara. Rumah Uslin ke arah barat.


Uslin tampak heran. Ariel membawa motor tapi kenapa memanggil taxi?


“Ril? Kamu kan bawa motor?” Beritahu Uslin


“Masuk." Sambil membukakan pintu taxi untuk Uslin masuk. Ariel menutup pintu taxi itu. Ariel melihat ke arah sopir. Ariel terlihat kaget ketika melihat wajah sopir itu.


“Mas, titip teman saya yah. Jangan jalan sebelum saya kembali.” Pesan Ariel kepada sopir taxi itu lalu berlari menuju motornya. Ariel menaiki motornya. Sesaat matanya kembali menatap ke arah taxi berada. Dengan air muka yang terlihat tak tenang, ia turun lagi dari atas motornya. Ariel kembali mendapati taxi itu kemudian ikut masuk.


“Kenapa kamu juga ikut masuk?”


“Nggak apa-apa, jalan mas!" Ucapnya. Raut wajahnya tetap terlihat tak tenang. Gelisah seperti takut akan sesuatu.


“Terus? Motor kamu gimana?” tanya Uslin lagi.


“Biarin aja. Pasti aman kok!” Pandangannya tak lepas dari sopir itu. Ia terus melihat ke arah sopir itu. Entah mengapa.


Mata Ariel seketika terlihat sangat tajam. Seperti penuh dengan kesal saat menatap sebuah cermin kecil, persegi panjang, luas sekitar lima kali lima belas senti meter, spion tengah dalam mobil taxi itu.


“Kamu nggak apa-apa? Mas tolong yah, pelan-pelan! Mas nggak liat itu lampu merah.” Ucap Ariel dengan nada kesal. Sopir itu hanya diam.


“Iyah. Aku nggak apa-apa, huuf.” jawab Uslin sambil menarik nafas panjang.


Sopir taxi itu hanya dan kembali menatap hangat pada sebuah spion tengah itu, matanya berbinar-binar. Mata Ariel pun kembali tertuju ke sana. Ketika Uslin merasakan keheningan dalam taxi pada siang bolong itu, Uslin melirik Ariel dan sopir itu secara secara berganti. Sopir itu menggerakkan matanya sedikit ke kiri dengan menatap erat tak lepas pada objek yang sama, cermin spion tengah dalam mobil itu. Ariel kembali menajamkan pandangannya pada objek yang sama pula. Mereka saling bertatapan. Ariel dengan tajam. Namun sopir dengan tatapan dengan penuh kehangatan sembari tersenyum lirih. Menatap bergantian pada empat mata yang sama-sama menatap lekat pada cermin kecil itu. Mata Uslin dan mata Ariel.


“Mas!! Orang mana?”


“Hmm, NTT Mbak.”


“Ooo. Pantas aja manis, hihihi.”


“Iyah Mbak. Makasih.” Kembali tersenyum dengan membentukan bibirnya mempesona. Sopir pemilik bibir langsing berwarna merah delima itu memberikan pesona manja. Membuat Uslin sesaat fokuskan penglihatannya pada wajah asli si sopir. Ariel sejenak diam saat mendengar obrolan mereka. Dengan menahan dadanya yang serasa sedang di panaskan bara api. Sangat gerah melihat tingkah Uslin dengan sopir itu.

__ADS_1


Mukanya memerah dan lehernya terasa tegang. Matanya memandang berpindah pindah pada Uslin dan sopir itu. Jidatnya sedikit berkerut. Sambil menggeretakan dan mengesek giginya satu sama lain. Duduk pun tak tenang.


Ariel terlihat sedang mencemaskan suatu hal. Ariel takut Uslin tergoda dan mulai naksir dengan sopir taxi itu. Apa lagi sopir itu terlihat tak kalah tampan dari Ariel. Mulai dari garis wajahnya yang sangat seimbang, berbodi kekar, tinggi, rambut air berbelahan samping dan kumis tipis. Membuat aura ketampanan dari wajahnya terlontar sempurna.


Akibat anggapannya tentang ia disaingi sopir itu, membuatnya tak tahan untuk berlama-lama dalam mobil itu.


“Mas!! Pinggir mas.” Ketus Ariel sambil membuka pintu mobil dan keluar.


“Loh, Ril. Kenapa? Kan belum sampai.” Tanya Uslin.


“Nggak aku gerah di sana!” ketus Ariel dengan wajah yang sangat datar. Tak ada kesejukan sedikit pun. Seakan ia sedang dibakar dengan api yang membara.


“Ooo. Kamu hati-hati yah. Mas jalan." Ucap Uslin dengan lembut.


“Nggak nggak nggak. Kamu juga turun. Ikut aku!”


“Aku mau pulang Ril, rumah aku masih jauh di sana.”


“Emang kamu pikir aku nggak tahu rumah kamu?”


“Lah, itu tahu, kenapa turunnya di sini?”


“Mas! Nih.” Sambil menyodorkan beberapa lembar uang dengan macam-macam warna.


“Jagain temannya baik-baik, hhh.” Sopir itu jahilin Ariel yang sedang di bakar api cemburu.


Ariel tak mengucapkan sepatah kata pun untuk merespons kelakar sang sopir itu. Namun, raut wajahnya kembali datar dan mengerutkan keningnya. Tatapannya seolah mengatakan bahwa dia mengesalkan tingkah sopir itu.


“Genit banget!” ucapnya.


Uslin mengangkat wajah cantiknya, mengarahkan tatapan ke wajah Ariel, mengangkat alisnya sebelah. Tingkah Uslin itu, mempertanyakan ada apa dengan Ariel? Sehingga hal seperti ini bisa terjadi pada seorang Ariel yang terkenal dingin.


Ariel membalas tatapan Uslin, seperti seekor singa yang hendak memangsa. Tingkah itu kembali Uslin pertanyakan, apa sebenarnya maksud dari keadaan aneh yang secara tiba-tiba terjadi?

__ADS_1


Selanjutnya...


__ADS_2