
Terdengar sebuah helaan napas yang panjang.
“Yes. I’m sorry. itu benar sekali. but I have a reason for that.”
“You have a reason for that? Okeh why?”
“Semua kartu yang aku punya di pegang sama Riana itu.”
“Semuanya?” Tanya Wulan.
“Yes. Semuanya. Apa lagi saat anak aku lahir. I don’t have money and I need someone to help me. Riana bantu aku, tapi dengan syarat aku harus jadi pasangannya di saat anak aku lahir. Aku nggak punya pilihan. So, aku ikuti maunya. Aku terus mencari alasan agar kita nggak jadi tunangan. Beberapa kali acara kita dibatalkan karena aku nggak siap. Itu membuat Riana marah. Tapi aku tetap mencari alasan. Karena aku nggak mau berpisah dengan Ardila. Sampai suatu saat yang mungkin benar-benar membuat Ardila nggak sanggup lagi, ia pergi dari rumah sementara aku belum mendapatkan cara untuk mengakhiri semuanya dengan Riana. Saat Ardila pergi pun aku nggak di rumah, I spelled that time, kamu paham kan apa yang aku cerita?”
“Yes. Aku paham kok aku paham. Tapi, why don't you tell Ardilla about it?” Tanya Wulan lagi.
“It’s very impossible you know. Nggak mungkin sekali buat aku katakan dengan polos ke Ardila. Nggak ada namanya jujur yang membuat kelar apa lagi dengan situasi kita yang saat itu memang sangat jauh. Jarak yah maksudnya. Karna aku tau, hal itu akan membuatnya lebih sakit lagi."
“ Iyah. Aku paham itu." Wulan ikut sedih. Nia dan Uslin ikut merasakan kesedihan itu.
“Wulan, aku percaya loh sama kata-katanya." Ucap Nia meyakinkan Wulan dengan alasan saudaranya.
“Iyah. Aku sepertinya percaya dengan kata-katamu.” Ucap Wulan.
Tiba-tiba Uslin mengambil handphone yang dipegang oleh Bibi Wulan dan langsung bicara. Wulan dan Nia tertawa lucu melihat itu.
“But, wait. Apakah om masih ada rasa sayang sama tante Ardila?” Ucap Uslin.
“Sangat besar, kamu temannya Ariel.” Mendengar ucapan Edward Nia dan Wulan kembali ikut merasakan bahagia dan senang.
__ADS_1
“Iyah om. Ariel itu my best friend, hhh.” Ucap Uslin dengan lembut dan senyum kecil dan kembali menyorong handphone itu kepada Tante Nia.
“Sayang, hhh. Kamu ngambil handphonenya hanya untuk itu. Kamu ini, hhh.” Ucap Bibi Wulan ledek. Uslin tersenyum malu dan ramah.
“Okey. So, Brother, makasih udah bersedia cerita yah, aku akan menghubungimu nanti ketika ada sesuatu dari hasil usaha kita hari ini." Ucapkan Tante Nia terdengar lembut dan dalam. Sehingga membuat Edward merasa sangat penasaran. Namun ia pun tak ingin bicara banyak. Edward yakin bahwa saudarinya itu akan membuat yang terbaik untuknya.
“Okeh sis. Please yah. Help me. Aku benar-benar butuh kamu dan mereka yang ada disekitar kamu sekarang.” Mohon Edward.
“Okeh. Bye”
“Bye sis.”
Tut… Suara telepon terputus karena mereka telah mengakhirinya.
Edward mendengar hal tersebut membuat hatinya sedikit memiliki napas yang normal. Kesesakan dalam dadanya setiap saat, hari ini sedikit lega dan dapat beroperasi dengan baik. Dengan posisinya yang berdiri ia kembali mengambil beberapa langkah untuk kembali duduk di sebuah kursi yang bergandengan dengan meja doanya. Edward memang bukanlah orang cengeng, bukan seorang lelaki banci yang lemah. Tapi, bagaimana pun sebagai seorang lelaki normal, rasa sayang dan cintanya ada dan benar-benar ada. Apalagi sebagai seorang lelaki yang pernah saling membagi rasa cinta bahkan pernah merasakan aura seksual. Sangatlah sepi baginya. Meski bukan baru sehari tetapi telah bertahun-tahun. Namun, Edward merupakan lelaki penyayang. Ia bertindak secara tidak bermaksud untuk menyakiti tetapi menyakiti karena suatu keterpaksaan.
“God. Thank you for everything. Lindungi dia di sana Tuhan. Doaku hari ini sangat berbeda dengan apa pun di hari lalu Tuhan. Limpah syukurku hari benar-benar tak bisa lagi aku bendung. Terimakasih Tuhan, for your time, for chance yang Tuhan kasih untuk aku kembali mendengar namanya masih dengan napas yang sama, Thanks God, Amin”. Doanya dengan linangan air mata yang tak mampu ditahannya lagi. Aura bahagia benar-benar keluar saat ini.
Di rumah yang sama. Masih tetap dengan jumlah penghuni yang sama yaitu tiga orang wanita sedang berunding dan berdiskusi. Saling bertanya dan menjawab satu sama lain. Saling membagi ide dan tujuan yang mulia. Hingga waktu telah mereka gulir hingga pada saat dipanggil pulang rumah, dan berpisah satu sama lain.
Suatu pagi di ruangan yang paling elegan. Ruang yang sangat luar biasa mewah dan indah. Penuh dengan lukisan-lukisan luar negeri dan bermerek. Tampak hening, waktu menunjukkan pukul 04.00 am, Australia. Seorang lelaki kekar, tua setara om om. Terbaring nyaman dengan tenang di atas ranjangnya. Namun
Kriing…. Kriing…..
Dia dikejutkan dengan bunyi alarm dan sekaligus dengan bunyi handphonenya. Matanya yang sangat sulit dibuka, benar-benar membuat sangat malas meladeni pengingat yang mengganggunya itu. Karena terlalu berbunyi bising di telinganya, perlahan membangunkan kepalanya dan menoleh ke arah pengingat sambil di giring dengan tangannya untuk dinonaktifkan. Terasa tenang di telinga kirinya, karena pengingat telah dimatikan. Namun, tetap masih ada bising dering handphone yang terus bergetar di rak samping ranjang bagian kanan berdekatan dengan telinga kanannya. Kembali ia meraih handphonenya dan mematikannya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
Drrt… drrt…
__ADS_1
Kembali lagi berdering. Dimatikan kembali tanpa memiliki niat untuk melihat.
Drrt… drrt…
Dering ketiga benar-benar membuatnya kesal. Akhirnya bangun dengan marah dan mengangkat teleponnya.
“Hallo!! What's wrong? You don't understand this is still so morning for me. I still want to rest you know?” Teriaknya di telepon dengan marah.
“Okeh. Kamu tidur aja terus. Aku matiin sekarang." Sahut seorang wanita dengan kesal dan langsung mematikan panggilan tersebut sebelah pihak.
Edward dengan malas dan rasa kantuknya kembali melemparkan diri dan merebahkan diri seperti orang lelah. Tanpa peduli siapa yang meneleponnya.
Drrt… drrt… drrt…
Dering yang sangat panjang kembali membuat energi Edward untuk tidur benar-benar terkuras dengan kemarahannya.
“Do you not understand what I say? This is still so morning for me. I still want to rest you understand?” (Apa kamu nggak ngerti apa yang saya bilang? Ini masih terlalu pagi untuk aku. Aku mau istirahat kamu mengerti?. Suara bentakan itu membuat seorang karyawan yang meneleponnya takut dan terkejut.
“Sorry sir, I’m Nita, your asistant.” Ucap Nita dengan nada takut.
“What?? Sorry I don’t know. Why call on the morning?”
“Oh. Saya mau beritahu Bapak perihal salah satu kewajiban aku setiap tahunnya Pak?”
“Apa itu?! Saya baru bangun tidur. Konsentrasi belum sepenuhnya ready. Tolong jelaskan saja!”
Selanjutnya…
__ADS_1