Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 18 Video Call


__ADS_3

“Nggak tante, aku merasa nggak pantas aja.”


“Kok gitu? Di mana pun itu? siapa pun itu? Pasti pantas asal jangan dengan melukai satu sama lain.”


“Aku malu tante.” Sambil tersenyum malu.


“Nggak. Tante sepi makan sendirian. Nggak ada temannya. Setiap hari di rumah sendirian.”


“Tapi tante...”


“Kamu mau yah. Kamu duduk sini.” Bujuk tante Nia sambil menarik sebuah kursi untuk Uslin duduk. Uslin pun luluh. Dia seperti merasakan hal yang sama dalam segalanya merasa sendiri. Dan akhirnya Uslin duduk dan ikut makan.


"Maaf yah tante."


"Nggak apa-apa dek."


“Ngomong-ngomong kenapa tante sendiri? Itu foto keluarga kan tante?” Uslin merasa heran. Dalam foto itu seperti sepasang suami istri dan digandeng dengan beberapa anak-anak.


“Iyah. Itu foto keluarga dek.”


“Kok bisa tante sendirian?”


“Suami tante meninggal dua tahun lalu.”


“Oh gitu tante. Maaf yah tan.”


“Iyah nggak apa-apa. Tante punya tiga orang anak. Tapi mereka di ambil sama paman mereka ke Australia. Mereka sedang sekolah dan juga kuliah di sana.”


“Wah. Bagus yah tante. Semoga mereka sehat-sehat dan sukses.” Sambil tersenyum dan mendoakan anak tante Nia.


“Amin. Semoga yah. Kamu juga. Makasih yah buat doanya.”


“Sama-sama tante.”


Setelah sekian menit mereka makan sambil ngobrol. Akhirnya mereka selesai makan siang. Uslin membantu membereskan semua piring kotor dan mencucinya. Ia kembali bergegas untuk membilas pakaian. Setelah pakaian selesai dibilas dan dijemur. Uslin kembali ke dalam dan menemui tante Nia di ruang tengah.


“Tante aku balik yah.”


“Oh kamu udah selesai yah dek, kamu tunggu tante bentar yah.”


“Iyah tante.”


Tante Nia masuk ke dalam kamarnya. Saat ia keluar dengan sebuah kantung plastik yang tergantung di tangannya.


“Ini tadi ada makanan lebih masakan tante. Lumayan buat kamu makan sore dan malam.” Sambil menyorong kantung itu kepada Uslin.


“Aduh. Makasih banyak tante maaf merepotkan.” Seru Uslin sambil menerima kantung itu.


“Iyah sama-sama. Oh iyah ini bagian kamu hari ini. Tante kasih lebih karna tadi kamu mau makan sama tante, hhm.”


“Aduh. Sebenarnya nggak usah lebihin tante. Aku udah makan trus dikasih makanan juga."


“Nggak apa-apa. Lagi pula tante dapat uang lebih mudah dari kamu."


“Makasih banyak yah tante, semoga Tuhan melimpahkan rezeki dan memberkati setiap pekerjaan tante."


“Amiin. Terima kasih banyak dek. Kayanya kamu langsung balik aja deh, ini udah siang banget takutnya kamu kemacetan lagi."


“Iyah tante, aku pulang dulu, yah. Tante hati-hati yah di rumah.”


“Iyah dek.”


Uslin keluar dan memesan ojek online lewat handphonenya. Tidak membutuhkan waktu lama ojek online itu datang menjemputnya.


“My bie udah pulang.”


“Shalom Bi. Mama mana?”


“Iyah sayang. Mama kamu di dalam lagi masak.”


“Oh. Okeh deh.”


“Iyah. Kamu masuk bibi mau pergi sebentar.”


“Oh. Okeh deh. Hati-hati bibi sayang, hhh.” Sambil masuk dengan senyum-senyum.


“What happened? Dia happy sekali.” Sambil berjalan keluar dan memasuki mobil yang disetir oleh sopir pribadi Ardila.


“Mama.”


“Iyah sayang.”


“Mama masak apa?”


“Masak telur dadar kesukaan kamu.”

__ADS_1


“Wow. Harum yah, hhh.”


“Iyah dong, hmhm.”


“Gimana tadi?”


“Apa mah?”


“Yaah mama paham lah, hmhm.” Sambil tertawa mengejek anak laki-lakinya.


“Mama jangan aneh-aneh deh.” Sambil tersipu malu.


“Nggak lah. Mama juga pernah muda tau.”


“Ha ha ha pernah mudah.” Tertawa sinis dan raut mukanya menurun seperti orang kesal dan tidak suka dengan perkataan mamanya.


“Oh my God. Thank you God Thank you. Sudah mengirimkan seseorang yang mampu membuat my boy seperti seorang pemuda cool dan sedikit terlihat romantis hari ini."


“Hah?” Terlihat bingung. “Mama omong apa sih? Aneh-aneh deh.”


“Ahhh. Sorry. Tapi kayanya tebakan mama benar deh.”


“Taulah mah. Malas Ariel.”


“Ih kok gitu. Kamu cute banget loh kalo ke gitu. Muka unyu-unyu tau nggak, hhh.”


“Iyah deh. Oh. Tadi bibi mau ke mana?”


“Oh itu. Bibimu tadi ada teman katanya yang ajak ketemuan.”


“Teman? Emang di mana tempat mereka bertemu?”


“Mana mama tau. Tadi juga mama lupa tanya."


“Oh gitu yah. Udah masak yah. Aku lapar soalnya."


“Serius?”


“Banget Mah.”


“Tuh nasi di situ nanti ngambil telurnya di sini.”


“Hah, panas banget." Saat Ariel hendak menyendok nasi ternyata tidak sengaja nasinya jatuh ke tangannya. Nasi itu bahkan masih sangat panas.


“Mama nggak makan?”


“Belum sayang. Belum lapar soalnya.”


“Jadi tunggu lapar dulu nih baru makan.”


“Nggak juga sih. Soalnya tadi baru habis makan buah juga sama Bibi."


“Ooh gitu. Aku makan yah ma.”


“Jangan lupa doa dulu.”


“Iyah mamaku sayang.”


“Yah udah mama ke kamar dulu.”


“Hm, iyah mah."


Ariel meletakan piringnya di atas meja makan dan melipat tangannya dan berdoa makan. Setelah selesai ia barulah mulai menyantap makanannya.


Sudah jam 12.00 siang. Ariel tidak mempunyai kegiatan apa-apa.


“Mah. Mama ngapain sih?”


“Mama mau tiduran bentar. Mama ke ngantuk deh.”


“Ya elah gitu. Yah udah deh selamat beristirahat yah mam.”


“Kamu juga udah nggak ngapa-ngapain kan tidur sana.”


“Iyah mah.”


Ariel masuk ke dalam kamarnya. Sesaat setelah ia duduk di ranjangnya ia merogoh handphonenya dari dalam saku celananya.


“Kira-kira dia ngapain yah? Video call aja deh."


“Wah berdering.”


“Hai ” Sapa Ariel saat Uslin menjawab teleponnya.


“Iyah, ada apa?”

__ADS_1


“Kangen aja.”


“Terserah deh.”


“Kamu udah makan?”


“Iyah. Sudah tadi.”


“Iyah bagus deh.”


“Kamu?”


“Baru aja selesai, kamu lagi ngapain?”


“Oh. Nggak ngapa-ngapain.”


“Temanin aku yuk."


“Temanin? Temanin apa?”


“Iyah temanin. Temanin aku tidur gitu, ahh.”


“Aneh tau.”


“Ahhh. Emang Iyah yah.” Sambil tertawa lucu.


“Iyah banget."


“Kamu sama siapa di situ?”


“Sendiri aja. Emang kenapa?”


“Takut aja sih ada lebih dekat sama kamu selain aku.”


“Mulai alay.”


“Nggak apa-apa alay. Asalkan kamu jangan beralih.”


“Ariel. Aku matiin yah."


“Eh, eh jangan dong."


“Benaran nih. Temani aku yah."


“Apaan emang? Ngomong yang serius aku malas dari tadi kamu pada basa basi mulu.”


“Nggak. Aku nggak bercanda. Temanin aku tidur. Soalnya aku jarang tidur siang.”


“Temanin?? Macam anak kecil tau nggak.”


“Ya udah deh. Bye.” Ariel menutup telepon.


“Kira-kira dia bakal nelpon balik nggak yah?”


“Yaa ampun. Nyebelin nih anak.”


Ariel menunggu Uslin menelponnya kembali namun ternyata harapannya tidak terpenuhi. Akhirnya Ariel membulatkan tekad untuk menelponnya kembali.


“Kenapa?”


Ariel hanya menatap Uslin dengan nada kecewa.


“Aku kecewa sama kamu.”


“Kenapa emang?”


“Kamu nggak peka banget."


“Nggak peka nggak peka. Kamu ada-ada aja.”


“Ahhh. Bercanda sayang."


Uslin terkejut dan membesarkan matanya melotot layar handphonenya yang tertera video Ariel. Seolah bertanya sambil kaget.


“Kenapa? Nggak suka?”


“Tau ah.”


“Tau ah. Gemes banget. Ya udah kamu istirahat yah.”


“Iyah. Daa”


“Dadaa”


Selanjutnya…

__ADS_1


__ADS_2