Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 30 Sekamar?


__ADS_3

“Dasar junior nggak tau malu. Nggak mikir apa? Emang dia pikir dia pantas untuk Ariel.” Comel Ria.


“Oh. Pasti nggak dong.” Sambung Angel sambil mengebas poni pendeknya.


“Jelas nggak dong Ria. Ariel sama dia itu bagai bumi sama langit tau nggak. Nggak selevel...” Sambung Anggi, sahabat Ria yang sama sombongnya dengan Ria.


“Huh. Benar-benar junior nggak tau diri. Dia nggak tau yah dia sedang berhadapan sama siapa? Hah?”


“Dia pasti sengaja deh manasin lo. Secara kan dia tau lo suka sama Ariel.” Ucap Angel.


“Gue cinta yah sama dia bukan hanya sekedar suka.” Bentak Ria.


“Iya gue tau kalees. Gue kan belum selesai ngomong.” Jelas Angel.


“Benar sih. Menurut gue dia pasti merasa paling istimewa di depan. Karena Ariel itu sering belain dia tuh.” Sambung Anggi dengan nada memanasi emosi Ria agar meledak.


“Stoop. Diam kalian berdua. Kalian lupa gue siapa? Hah? Gue senior nggak ada yang berani melawan sama apa perintah gue. Lo liat aja ketika kita ketemu di kampus. Huh!!” Sambil jalan mendekat di arah Ariel dan Uslin makan.


“Eh mau ke mana lo?” Tanya Angel tetapi Ria tidak membalasnya. “Mau ke mana dia?” Tanya Angel kepada Anggi.


“Mana gue tau.” Balas Anggi.


Ria berjalan perlahan sambil mengumpulkan ide untuk berbicara dengan Ariel.


“Haii adik semester, ternyata kamu di sini juga? Sejak kapan di sini? Hum?” Ia menyapa Uslin dengan senyuman manis dengan tujuan agar Ariel tidak curiga dengannya bahwa sebenarnya dia nggak dengan Uslin.


“Hallo kak... Ak...” Belum sempat berkata-kata hingga selesai Ariel memotong.


“Iya! Dia di sini. Dari tadi malam, kenapa? Emang lo sensus? Setau gue lo hanya mahasiswa kan?” Balas Ariel dengan ketus.


“Kok dari tadi malam? Maks...” Uslin belum sempat berbicara hingga selesai pun kembali dipotong lagi.

__ADS_1


“Makan lanjut!!” Perintah Ariel pada Uslin.


“What dari tadi malam? Apa maksudnya?” Gumamnya dalam hati.


“Oh gitu. Lo pasti tidurnya di kamar pembantu kan. Ya ampun Ariel lo tega banget tau nggak sih. Masa iya sih cewek secantik ini lo biarin dia tidur di kamar pembantu. Oh my God. Iyuu.” Ucapnya dengan kesan merendahkan Uslin. Mendengar kata-kata itu Uslin langsung tak lagi niat untuk makan.


“Lo tau dari mana emang?” Tanya Ariel.


“Seriuan? Berarti benar dong dia tidur di kamar pembantu.” Bisik bahagia Ria dalam hatinya. “Hahh. Ya iyalah gue tau Ariel. Secara kan levelnya dia berbeda sama kita. Iya kan? Hhh.” Ucapnya sambil tertawa merendahkan Uslin. Dengan kata-katanya kali ini benar-benar membuat Uslin sangat sakit hati. Tak terasa air matanya jatuh. Melihat hal itu, Ariel menatap Uslin dengan rasa kasihan dan sedih. Berbeda dengan tatapannya kepada Ria penuh dengan amarah.


“Siapa bilang? Dia bukan pembantu dan dia nggak pantas tidur di kamar pembantu. Lagian rumah gue juga nggak ada kamar pembantu yang ada hanya kamar tamu yang banyak.”


“Ya iyalah mana cocok dia jadi pembantu di rumah gede dan mewah begini? Apalagi cewek kampungan kegini mana pantas, hhh.” Ledek jahat Ria semakin membuat Uslin tak tahan.


“Pala gue pusing yah dengar lo. Lo benar dong pastinya. Mana cocok dia jadi pembantu, dia kan calon istri gue.” Jelas Ariel sambil bangun perlahan dan berdiri tepat di depan Ria. Aura ketampanan Ariel tergambar bersih di depan mata Ria. Sehingga membuat Ria semakin menggebu-gebu untuk memilikinya.


“Lo bercanda terlalu berlebihan Ariel. Mata lo nggak buta kan?” Ucap Ria kesal dan masih bersikap seolah-olah tak percaya dengan perkataan Ariel. Namun, mengingat bahwa Ariel adalah sosok tegas, ia berpikir bahwa Ariel tidak akan pernah berbohong. Apalagi ini semuanya keluar dari mulut Ariel sendiri. “Dan satu hal yang harus Lo tau, ini adalah jawaban dari semua pertanyaan lo tadi. Dia dari kemarin di sini, dia tidur di kamar gue, sama gue. Paham? Hm?”


“What? Lo nggak gila kan? Nggak mungkin dong.” Tanya Ria semakin gelisah dan kuatir.


“Lah bro lo di sini? Ngapain? Tante sama papa lo nyariin lo tau.” Ucap Aldi.


“Emang iya?”


“Iyalah bro. Cepat deh lo ke sana.” Perintah Aldi.


Ariel meraih tangan Uslin dan menggenggamnya erat sambil berjalan ke arah orang tuanya duduk. Ariel terlihat santai. Namun Uslin tak lagi di sana, pikirannya kosong. Ia sangat sedih, sakit hati setelah mendengar perkataan dan juga hinaan dari Ria. Uslin tahu persis maksud Ria. Tak lain hanya untuk merendahkannya di depan Ariel. Meskipun Ariel terlihat tak peduli dengan Ria. Tetapi, Uslin adalah wanita yang cepat tanggap dengan hinaan. Sangat sakit ketika ia diremehkan. Apalagi statusnya sebagai anak kampung diumbar-umbar. Karena hal itu akan membuatnya ingat kepada orang tuanya yang jauh.


Melihat Uslin dan Ariel bergandengan tangan, hati Ria tambah panas. Melihat Aldi yang masih berdiri di sana, jiwa penasaran Ria muncul.


“Aldi kan sahabat Ariel. Dia juga pasti ikut membantu Ariel dong untuk nyiapin semua acara ini. Gue harus peralat dia untuk cari tau semuanya.” Ria bergumam dalam hati.

__ADS_1


“Eh ini dekornya pasti bayar mahal yah?” Tanya Ria kepada Aldi yang berdiri di sampingnya. Ia berpura-pura menanyakan hal itu agar ia bisa membuka pembicaraan dengan Aldi. Karena biasanya juga Adli adalah orang yang susah untuk di ajak bicara. Apalagi dengan seorang Ria yang juga tidak ia sukai. Namun, Aldi tetap asyik dengan melihat sekitar tanpa menghiraukan pertanyaan Ria.


“Ngeselin juga nih orang.” Kesal Ria dalam hati. “Eh. Gue lagi nanya sama lo!!” Teriak Ria tepat di telinga Aldi. Sehingga hal itu membuat Aldi terkejut.


“Apaan sih lo.” Kesal Aldi.


“Gua nanya sama lo apa lo budek?”


“Tanya apa sih nih ma lampir? Iya tanya apa?” Kesal Aldi lagi.


“Sahutin gue ke dari tadi.”


“Mana gue dengar. Lo nggak dengar tuh musik lebih gede dari suara lo.” Ketus Aldi.


“Iya. Gue bilang nih dekor siapa yang kerjain sih? Bagus soalnya gua juga mau pesan untuk ultah gue nanti.” Ucap Ria dengan sengaja mencari-cari ide.


“Nggak dari mana-mana. Bikin sendiri.” Jawab Aldi singkat.


“Heh. Lo pikir gue nggak sanggup bayar.”


“Terserah!!” Sambil melangkah pergi. Tetapi tangannya ditarik oleh Ria sehingga ia mundur kembali


“Bentar-bentar gue masih punya pertanyaan sama lo. Lo harus jujur sama gue.”


“Jangan pegang-pegang. Lepasin.”


“Siapa juga yang pegang lo amit-amit.”


“Udah nggak usah basa-basi deh. Lo mau tanya apa? Kamar mandi? Atau mau tanya gimana cara gue kubur lo nanti?”


“Nggak soapn lo yah. Gue mau tanya semalam lo di sini?”

__ADS_1


“Tadi gue ke sini ada Ariel ada nona NTT juga terus ada Ria juga. Pasti ada sesuatu nih makanya dia nanya ke gini. Ikutin dulu ah, kayanya drama bagus deh. Hhh.” Bisik lucu Aldi dalam hatinya. “Jangankan semalam dari tahun lalu pun gue di sini.” Ucap Aldi.


Selanjutnya...


__ADS_2