Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 34 Calon Mertua


__ADS_3

“Ya ampun. Bahagia banget anak mama sebentar lagi wisuda. Sudah siap semuanya sayang? Hm? Nggak ada yang lupa gitu?” Ucap Ardila yang sudah berdiri rapi dengan kebayanya. Sementara Edward dan Ariel lengkap dengan jas yang sama. Kemeja putih lalu dibaluti dengan jas berwarna hitam dari luarnya. Celana hitam dan dipadukan dengan sepatu hitam berkilau di bawahnya. Di samping itu sebuah Edward dikalungi dasi berwarna merah maron versi mafia tua. Sementara anaknya Ariel berdasi merah maron pula namun terlihat seperti mafia muda.


“Lengkap empat lima Mam.” Jawab Ariel sambil tersenyum bahagia. Edward dan Ardila pun berpelukan dan sama-sama tersenyum melihat anak mereka yang sedang merasakan bahagia.


“Eh ngomong-ngomong video call sama Bibi yuk. Kemarin belum sempat ngabarin loh kalau kamu udah finish kuliahnya.” Ucap Ardila.


“Boleh juga tuh Mam.” Ucap Ariel sambil menganggukkan kepalanya serta sebuah senyum yang terukir indah di atas bibir tipis dan merah delima itu.


Ardila pun langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Menggerakkan tangannya ke atas bawah mengusap layar ponselnya. Tak lama bunyi dering terhubung ke panggilan berbunyi. Sebuah muka terekam jelas dengan aura bahagia.


“Morning.” Sapa Bibi Wulan dari layar ponsel.


“Eh aku mau ngasi surprise loh. Mau tau nggak?” Iseng Ardila membuat adiknya penasaran.


“What is it? You make me curious? (Apa itu? Kamu membuatku penasaran?) Hm?” Tanya adiknya sambil tersenyum membalas kejahilan adiknya.


“Pejamkan mata kamu, lalu buka setelah aku suruh yah! Hhhm.” Perintah Ardila sambil tertawa kecil.


“Okey.”

__ADS_1


Ardila perlahan mengatur posisi. Anaknya, Ariel berdiri tepat di sampingnya namun lebih ke belakang sedikit. Posisi itu membuat seluruh tubuh Ariel terekam jelas oleh kamera ponsel Ardila dan tersampaikan secara nyata kepada Bibinya.


“WHAT???? Benaran ini? Oh my God. Anak Bibi, aaa sayang why did you not say before Bibi returned America? (Kenapa kamu tidak bilang sebelum Bibi balik ke Amerika?).” Ucap Wulan. Ada rasa bahagia yang dirasakan Wulan, namun ada juga rasa menyesalnya karena sudah tidak lagi di Indonesia. Perkara pekerjaan yang akan ia hadiri itu membuatnya buru-buru untuk kembali ke Amerika. Namun, sayangnya orang yang sedang menjalin kontrak dengannya sedang keluar kota. Ia sangat menyesalinya. Seandainya saat ini ia berada di Indonesia, tepatnya di Jakarta tentu ia sudah bisa memeluk keponakannya yang sedang meraih hasil usaha dalam studinya selama ini. Ariel sudah wisuda. Padahal hal yang paling ia tunggu-tunggu selama ini adalah untuk merayakan hari wisuda Ariel. Namun, sangat disayangkan hal itu malah dibatalkan karena hal penting yang harus diurusnya di Amerika. Meskipun akhirnya hal itu tetap dibatalkan, karena yang bersangkutan tidak ada di tempat.


“Bibi kan katanya waktu itu ada urusan mendadak. Waktu itu juga kan Ariel masih dalam proses konsultasi jadi Ariel juga belum tau kalau bakal selesai secepat ini Bi.”


“I’m very sad you know? Hal yang paling Bibi tunggu selama ini adalah menanti hari wisuda kamu. Tapi semuanya malah nggak sesuai harapan Bibi.” Sesal Wulan lewat video call, dengan isakan tangis.


“Sudah dong Bi. Ini kan hanya hari wisuda kan nanti kita masih bisa adain ketika Bibi sama-sama dengan kita di sini lagi.” Hibur Ariel.


Mendengar perkataan dari ponakannya Wulan berhenti menangis. Meskipun sebenarnya tangisannya bukan sepenuhnya tangisan sedih namun haru. Namun, karena harapan yang sudah ditunggu-tunggu oleh Wulan selama ini tidak bisa berjalan sesuai harapan.


“Sudah dulu yah. Keburu waktu soalnya.”


“Iya sayang Bibi nggak nangis lagi kok. Sana gi pergi nanti kamu telat.”


“Ya udah bye Bi. Love you.”


“Love you too sayangku. God bless and have a nice day sayang.”

__ADS_1


“Have a nice day too Bibi. Bye.”


Ardila pun menutup telepon. Mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain lalu masuk ke dalam mobil yang sudah di tumpangi sopir. Ariel duduk di depan di samping Pak Andre, sopir pribadi Ardila. Sementara Ardila dengan sang suami duduk di bagian tengah. Mereka berbincang bersama dalam mobil sambil bercandaan dengan Pak Andre. Edward iseng untuk bertanya pada Pak Andre kapan nikah? Pak Andre menjawabnya dengan malu-malu dan memberitahu bahwa calonnya belum ada.


Mobil sudah sampai di kintal kampus. Tinggal beberapa meter lagi akan tiba di depan gedung yang akan mereka datangi.


Saat mobil sudah terparkir rapi di parkiran semuanya keluar dari dalam mobil. Mereka keluar saat mobil sudah terparkir itu kebetulan suasana parkiran masih sepi sehingga baru satu mobil saja yang ada di sana. Hanya mobil yang mereka berempat kendarai saja. Setelah mereka keluar semua mata yang ada di depan gedung terarah ke parkiran. Seolah mereka seperti melihat Pak Jokowi yang turun ke kota-kota terpencil. Tatapan mereka seperti melihat sesuatu hal yang paling langka. Sehingga tak heran beberapa menatap ke sana sambil mangap.


Tentu saja yang ada di sana merupakan hal langka. Biasanya mereka dapat membayangkan bagaimana seorang mafia muda berdiri seperti yang ada di drama-drama baik Korea, Cina dan lain-lain. Namun, saat ini mafia muda itu berdiri tegak tepat di depan mata mereka.


“Oh my God. Anjir, gua kira hanya di alam imajinasi gua doang yang ada ke begini.” Ucap seseorang di antara mereka.


“Saya juga kiranya gitu teh. Biasanya tuh saya ngebayangin seperti pangeran-pangeran yang ada di novel-novel online iki loh. Eh ternyata saat ini pangerannya terpampang jelas di sini atuh.” Lanjut seseorang.


“Wow.” Sorak mereka.


Tentu saja hari ini penampilan Ariel memukau. Ariel biasanya hanya memakai pakaian jeans dan kemeja biasa saja. Meskipun itu tampannya tak lari. Namun saat ini jauh dari biasanya bahkan melebihi maksimal.


“Bahagia kamu sekarang... Selamat yah.” Ucapnya sambil berdiri mengintip dari cela dinding kantin.

__ADS_1


“Hai calon mertua... Ah bahagia banget aku bisa ketemu lagi. Maaf yah mamy aku sibuk banget jadi nggak sempat main-main ke rumah.” Ucap seseorang dan langsung memeluk Ardila dari belakang. Ardila terlihat biasa saja dan seperti biasa di akan merespon sesuai apa yang orang lain lakukan padanya. Sehingga tak lain yang ia lakukan adalah membalas pelukannya.


“Hm oh gitu yah. Nggak apa-apa kok, nanti lain kali saja.” Ucap Ardila sambil melihat ke arah Ariel. Ariel hanya tersenyum melihat mamanya. Namun, di saat Riana melihatnya ia membuang muka dan memilih untuk tidak melihatnya. Karena itu akan membuatnya muak saja. Edward hanya diam saja melihat apa yang mereka lakukan. Karena sejujurnya dan juga kenyataannya Edward tak tahu menahu tentang apa pun itu. Apalagi dengan wanita yang datang dan memanggil istrinya dengan sebutan calon mertua sama sekali ia tidak mengenalinya. Sehingga Edward hanya memilih untuk diam saja dan tersenyum saja dengan mereka.


__ADS_2