Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 14 Ternyata Gangguan Jiwa


__ADS_3

“Hups. Sampe deh,” ucap Ariel.


“Akhirnya sampe juga, huf." Lirih Ardila, mama Ariel.


“Sayang, kamu mau singgah dulu atau langsung pulang?” Tanya Ardila pada Uslin. Ariel melirik dengan mengangkat alisnya seolah memberikan pertanyaan pada Uslin.


“Am. Ngobrolnya di luar aja deh. Aku parkir mobil dulu.” Uslin belum sempat menjawab.


Mereka bertiga keluar mobil dan Ariel masih memarkir mobil. Sementara berjalan ke depan garasi mata mereka masih terarah ke mobil Ariel yang yang sedang bergerak maju mundur. Tak lama setelah Ariel selesai memarkir mobilnya ia berjalan menghampiri mereka beertiga.Mereka berdiri di depan garasi mobil di samping rumah Ariel.


“Gimana sayang? Mau langsung pulang?” Tanya tante Ardila lagi pada Uslin.


“Aah, aku langsung pulang aja tante.” Ucap Uslin.


“Seriusan, mau pulang memang. Kenapa nggak main-main dulu gitu?” Kata Bibi Wulan.


“Am. Nggak apa-apa tante. Kebetulan aku ada urusan juga setelah ini.”


“Ehm. Bibi tau sih. Ya udah kamu kerjanya baik-baik yah!”


“Hm. Iyah bibi. Pasti.”


Uslin sedikit heran kenapa bibi Wulan langsung mengetahui tujuan kenapa Uslin tidak bisa singgah. Belum lagi kejadian tadi pagi, bibi Wulan bisa mengetahui tentang apa yang pernah terjadi padanya. Tentu saja bibi Wulan tahu. Apa lagi posisi mereka saat ini sangatlah dekat. Pasti saja bibi Wulan dapat menembus pandang dan melihat pikiran Uslin secara transparan.


“Aku antar yah!”


“Riil. Nggak perlu nanya okey!” Tegas mama Ariel.


“Oh my God my beby? What do you have to ask again? Jika melihat orang perlu bantuan jangan lagi berikan pertanyaan atau penawaran." Nasehat bibi Wulan.


“I’m sorry, siap salah my bos, hhh.”


“Jangan pernah di anggap bercanda, okey!” Mama Ariel terlihat kesal dengan Ariel dan langsung berbalik badan dan masuk.


“Oh. Mom, mom, mom, wait me heiii!! I’m sorry, I know. Aku salah. I’m so sorry okey! Please jangan gini dong mah."


Ariel mengejar dan memegang pundak mamanya dan memutar badan Ardila dan langsung ia dekap dengan kuat ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Mah, haruskah mama ke gini sama aku? Is your son Mah, kapan aku pernah harus benar-benar make my mom to remember… ah, udahlah. Aku anak Mama. Everyday with Mama. Seharusnya you know me!”


“Ardila, I know your… oh my God. Pikiran kamu itu jangan mengarah ke mana-mana dulu okey. Is your boy. Kamu jangan secepatnya mengambil sesuatu pemikiran yang sebenarnya itu belum tentu benar. Okey." Bibi berusaha untuk menjelaskan sampai akhirnya kakaknya luluh.


“Okey. Maafin mama, tapi mama tegaskan lain kali jangan lagi ke gitu?”


“Yes mom! Maafin aku juga yah mah.” ucap Ariel dengan ketulusan.


Uslin yang menyaksikan peristiwa itu pun bercampur aduk pikirannya. Di mana dia sama sekali tidak mengerti dan membuat dirinya bertanya-tanya bahkan merasa bersalah.


“Maaf tante." Uslin mencoba untuk meminta maaf meskipun sebenarnya tidak tahu apa-apa. Masa ia hanya sebuah pertanyaan atau penawaran itu saja dipermasalahkan.Bahkan ia merasa bahwa itu hanyalah sebuah masalah sepele lalu kenapa sampai menjadi sebuah situasi yang serius. Atau apakah mereka punya sesuatu yang terjadi di masa lalu? Uslin bertanya-tanya dalam hatinya. Tentu saja ia merasa seperti itu. Di mana Uslin sendiri memiliki masa lalu dan selalu membandingkan peristiwa itu dengan keadaan-keadaan selanjutnya.


“Okeh. Gitu dong jangan secepatnya gito loh." Tegas bibi Wulan. “Okeh sekarang my bie, kamu anterin my cute dulu, okeh.” My bie (bi) adalah beby panggilan sayang dari bibi Wulan untuk Ariel sejak Ariel kecil dan itu terbawah hingga Ariel sudah menjadi seorang mahasiswa senior, semester delapan.


“Okeh. Mama, Bibi, aku nganterin Uslin dulu, yah.”


“Iyah sayang hati-hati yah.” Ucap bibi Wulan namun mama Ariel malah tidak mengeluarkan kata-kata.


“Mom. I want to going. Apa masih…”


Ariel menghela nafas panjang dari raut wajahnya sangat terlihat bahwa ia kuatir dengan mamanya.


“Are you okey? Mom?”


“Iyah. Iyah. Mama nggak apa-apa. Kamu perginya hati-hati okey.”


“Mama masuk dulu okey, Bi titip Mama yah."


“Iyah sayang, hati-hati kamu.”


Gelisah, khawatir, takut. Iya, itu yang Ariel rasakan. Di mana mamanya pernah mengalami gangguan jiwa. Itulah yang membuat ia pikiran.


“Yuk. Kita pergi sekarang.”


“Iyah. Tante, Bibi aku pulang dulu yah.” Ucap Uslin sambil menganggukkan kepala untuk mengiyakan. Lalu pamit untuk pulang.


Ariel buru-buru membuka pintu mobil alphardnya yang lain, yang diparkir di dekat pintu pagar rumah megahnya. Kemudian setelah pintunya di buka lalu memberikan gerakan lewat anggukannya untuk Uslin masuk.

__ADS_1


“Makasih.” Ucap Uslin lirih. Suaranya masih terkesan rasa bersalah.


Ariel kemudian ikut masuk lewat pintu yang lain dan menyalakan mesin mobilnya dan bergerak ke depan. Bibi Wulan dan mama Ariel melambaikan tangan dari teras rumah. Mereka masih berdiri di sana hingga jejak mobil yang dikendarai Ariel benar-benar jauh dari jangkauan penglihatan mereka.


“Aku mau bicara sama kamu!” Ucap bibi Wulan.


“Bicara apa?”


“Aku…”


“Eh, bentar kenapa jadi aku kamu sih, geli gua.”


“Kamu dengar nggak kata Ariel tadi. Pakai bahasa yang terkesan halus, do you forget it?”


“Iyah terserah deh.”


“Aku mau tanya sama kamu. Kenapa ke gitu tadi di depan Ariel?”


“Lan. Aku tuh cuman mau anak aku nggak ngikutin jejak papanya.”


“Kalau aku bilang sesuatu kamu bakal percaya nggak?”


“Gimana aku tau mau percaya atau nggak. Orang aku aja belum tau kamu bicara apa?”


“Makanya dengar dulu. You listen me, okey. Kamu tau aku kan. Aku nggak pernah nutup-nutupin apa pun yang aku liat dari orang-orang yang dapat aku baca kehidupannya. Hal yang tidak pernah aku liat pada orang dan itu pun merupakan hal yang paling langkah untuk dimiliki oleh anak muda sengaruh dia dan juga pemuda tampan seperti dia. Pemikiran yang sangat sangat mulia menurut aku tau nggak. Ariel, anak laki-laki kamu itu jauh berbeda tujuan dan komitmen hidupnya dengan ala-ala hidup mantan suami kamu itu. You believe me? Kamu percaya sama apa yang aku katakan?”


“Iyah sih. Aku tau Ariel itu ke gimana. Hanya saja aku takut. Gimana pun suatu saat nanti dia pasti menikah kan? Bagaimana kalau misalkan perempuan yang ia nikahi merasakan hal yang sama seperti aku?”


“So, tunjukkin diri kamu yang pernah serendah itu di hadapan lelaki bejat itu. Agar Ariel dapat melihat bahwa oh mama aku pernah ke gini dan endingnya mama aku ke gini. Di mana your boy juga kan sudah tau seperi apa kejadiannya.”


“Mudah-mudahan aja. Ariel nggak ke gitu."


“Kamu tau nggak tadi aku tuh kepikiran loh."


“What?”


Selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2