Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 23 I Can


__ADS_3

“Baik Pak. Hari ini adalah hari Kamis, dan…” Ucapan Nita terpotong dengan sanggahan tiba-tiba oleh Edward. Hal itu menambahkan rasa takut Nita. Edward juga merupakan orang yang tegas. Namun terkadang selalu bertindak buru-buru tanpa mendengarkan penjelasan.


“Saya tau, ini hari Kamis, jadwal saya padat, jangan beritahu hal itu lagi saya juga punya jadwal.” Ketus Edward lagi.


“Maaf pak, tapi maksud saya, hari ini memang hari…” Kembali terpotong lagi. Mungkin karena bawaan Edward baru saja bangun dari tidurnya. Seperti yang dikatakannya bahwa konsentrasinya belum sepenuhnya siap.


“Kamis kan, saya tahu itu Nita.”


“Sir, listen to me. Today is your wife's birthday in Indonesia. Did you forget this date sir? (Hari ini adalah hari ulang tahun istri Bapak di Indonesia. Apa Bapak lupa dengan tanggal ini?)” Ucap Nita dengan sangat cepat agar ucapannya tidak dapat dipotong lagi.


Edward berpikir sejenak dan langsung bangkit seperti mendengar seorang musuh akan datang menghadangnya.


“Yeah. I know, sorry. Akhiri panggilan ini sekarang.” Sambil bangkit dengan secepat kilat dari duduknya dan berdiri sambil mengusap-usap layar handphonenya.


“Yes sir, good morning sir and thank you." Ucap Nita sambil memutuskan.


“Kok bisa lupa aku, aku harus telepon Nia sekarang. Yah ampun. Oh my God, no. Why? Oh bodoh sekali diriku. Ternyata yang tadi telepon pagi-pagi adalah Nia.” Ucapnya dalam hati setelah melihat bahwa ternyata yang meneleponnya adalah Nia.


“Hallo!! Sudah puas kamu tidurnya?” Suara kesal itu memecahkan gendang telinga Edward.


“Sorry sis. I just got up. I don't know you were the one calling me on the morning, sorry. What’s wrong?”


“Aku nggak suka deh. Terlalu mementingkan tidur daripada misi kamu sendiri.”


“Yaah. Maaf. Kenapa memangnya?”


“Kamu tau hari ini hari apa?”


“Ardila birthday!”


“Good. Aku punya permintaan dan ini harus yah.”

__ADS_1


“Apa?”


(…)


“I can I can.” Ucap Edward.


“Yeah good. I hope is that.”


“Okeh bye”


“Bye brother.”


Kembali dengan seorang wanita yang sudah menganggap dirinya sebagai seorang janda. Saat pagi yang sangat cerah itu, bibi Wulan, Ariel, Ardila dan pekerja-pekerja yang ada di rumah Ariel dan Ardila sedang ramai dengan menghiasi sebuah dekorasi untuk merayakan hari ulang tahunnya. Awalnya bibi Wulan berniat untuk melaksanakan acara itu di hotel yang mewah, namun Ardila menolaknya. Baginya rumahnya adalah yang terbaik bagi dirinya.


Tak lama Uslin dan Tante Nia tiba. Ariel dengan Ardila tampak bingung siapa yang Uslin bawakan ini? Bahkan mukanya sangat asing di mata mereka. Tentu saja, meski Nia adalah saudara sepupu Edward namun mereka tidak pernah bertemu dan berkenalan. Beriringan dengan itu, Uslin memperkenalkan tante Nia sebagai temannya bibi Wulan yang kemarin mereka temui lalu memberitahukan bahwa tante Nia adalah orang yang biasa Uslin kerja. Saat itu bibi Wulan sedang kembali ke dalam untuk mandi.


“Kamu bawah siapa sayang?” Tanya Ardila. Ariel pun menengok ke arah yang sama yaitu arah di mana Uslin dan tante Nia.


“Oh. Ini tante Nia. Kebetulan kemarin itu jadwal aku kerja di rumahnya Tante Nia dan nggak sengaja ternyata bibi Wulan datang berkunjung ke rumahnya tante Nia dan ternyata mereka teman waktu SMA tante.” Jelas Uslin dengan yakin.


“Iyah aku, Aku Nia, temannya Wulan.” Jawab Nia sambil membalas tindakan Ardila dengan sangat baik.


“Sayang. Kabar kamu gimana?” Sambil memeluk Uslin dan mencium pipi kiri dan kanan milik Uslin. Seakan ia benar-benar senang dengan Uslin.


“Aku baik kok Tante, Tante juga nggak apa-apa kan?”


“iyah Tante fine aja kok sayang." Tersenyum tulus menghadap Uslin.


“Pantas saja Edward sangat merindukanmu Ardila. Kamu aja ke gini orangnya. Bahkan orang asing seperti aku aja kamu welcome banget sama seperti kamu melihat seorang yang hari-hari bersama kamu. Aku memang orang baru, tapi dari garis senyum kamu hari ini aku bisa melihat ketulusan hati kamu itu benar-benar baik. Edward, sesaat lagi kalian bertemu.” Bisik- bisik haru Tante Nia dalam hatinya dan memandang Ardila dengan penuh kekaguman.


“Mama doang nih yang ditanya kabarnya? Aku nggak gitu?”

__ADS_1


“Kamu juga baik kok aku liatnya, hhh.” Sambil tertawa mengejek Ariel yang mengharapkan agar mendapatkan pertanyaan yang sama dengan mamanya dari Uslin.


Tiba-tiba Ardi datang dengan kehebohannya sendiri.


“Selamat siang!” Teriaknya sambil terburu-buru memarkirkan motornya. “Bro sorry gua telat. Gua baru liat kalender ternyata tante hari ini ulang tahun, Tan maaf yah.” Ucapannya terbata-bata seperti orang yang baru saja dikejar seekor anjing.


“Iyah nggak apa-apa kok. Lagian nggak telat kok, baru jam segini.” Ucap Ardila sambil tersenyum.


“Nggak usah datang aja lo sekalian!” Ketus Ariel.


“Bro ko jahat banget sih sama gua. Haa… Kak nona boleh kenal ko?” Ucap Aldi dengan genit menghadap Uslin. Aldi sudah tahu bahwa Uslin adalah orang NTT, Indonesia bagian timur. Ia tahu di saat Ariel sendiri mengatakannya. Sehingga ia mencoba bertanya dengan logat timur. Belum sempat menggerakkan bibir untuk mengucapkan sepatah kata dan bahkan belum sempat menggerakkan tangan untuk membalas jabat dengan Aldi. Ariel sudah mencegatnya terlebih dahulu.


“Eh. Lo liat kan tuh pagar tingginya gimana?” Sambil menatap Aldi dengan rada tidak menyukai kegenitan Aldi. Lebih tepatnya cemburu.


“Tinggi banget bro.” Dengan sedikit gugup.


“Lo tau kan. Lo ngulang lagi gua pindahin tempat lo berdiri ke sana.” Tegas Ariel sambil menunjuk ke arah pagar.


“Ya elah bro. Ke gitu amat lo. Gua kan cuman mau kenalan.” Debat Aldi.


“Mau benar?” Ancam Ariel.


“Eh eh. Nggak dong. Hhhh. Sorry bro. Tidak jadi lagi kak nona, maaf ee Beta punya kawan ini sedang jatuh cinta pada pandangan pertama, hahaih.” Sambil mengeluarkan lidahnya untuk mengejek Ariel di depan mamanya dan langsung lari menuju bagian dekorasi yang sedang mereka hiasi untuk melanjutkannya agar lebih bagus.


“Benar-benar lo yah." Berbalik dan melihat Uslin dan mamanya secara bergantian dan menunduk malu dan lari menyusul Aldi.


“Ada-ada aja deh, hhh.” Ucap Ardila sambil melihat lelucon anaknya yang sudah benar-benar dewasa sekarang.


“Maaf yah. Mereka itu memang begitu, nggak pernah akur,” jelas Ardila.


“Iyah nggak apa-apa. Namanya dunia mereka, mau gimana lagi, hhh.” Ucap Nia sambil tertawa kecil. Sementara Uslin kembali senyum dan lucu dengan tingkah Ariel dan Aldi.

__ADS_1


“Yuk. Masuk dulu. Kita minum dulu deh di dalam,” ajak Ardila. Nia dan Uslin pun mengangguk dan mengikuti Ardila dari belakang.


Selanjutnya…


__ADS_2