Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 20 “Aku Butuh Bantuan Kamu”


__ADS_3

“Loh. Kok? Benar ini saudara aku. Ardila?? Kayanya aku udah ingat deh siapa Ardila itu. Waktu itu saudara aku nitip pesan lewat surat ke aku, bentar yah aku ngambil kertasnya.” Nia masuk ke kamar dan mengambil sebuah kertas yang sudah hampir dua puluh empat tahun di simpan dan tidak pernah di buka lagi oleh Nia. Bahkan umur Ariel sekarang sudah dua puluh empat tahun lebih. Bukannya tidak mau buka. Tetapi, karena memang sepertinya Nia terlalu sibuk. Bahkan bukan hanya itu saja, melainkan juga karena ia tidak lebih banyak waktu di Indonesia. Dia cenderung menghabiskan waktu di Australia dengan menyelesaikan kuliahnya hingga S2. Hingga kelupaan dengan surat itu yang berisi permintaan saudaranya.


“Ini nih kertasnya nih, kita baca dulu isinya."


“Nia, ini yang tulis aku, Edward. Aku mau minta tolong sama kamu, tolong bantu aku cari tahu keberadaan istri aku, namanya Ardila. Kita udah punya anak, namanya Ariel. Umurnya sekitar hampir satu tahun. Kalau udah ketemu, kamu kabarin aku, beritahu dia kalau aku punya penjelasan tentang semuanya yang terjadi, makasih yah.” Mereka berdua membaca isi surat itu. Surat itu diberikan Edward lewat pembantunya Nia. Namun saat itu Nia tidak di rumah.


“Tuh kan tante, tadi aku filingnya gitu loh.” Ucap Uslin.


“Oh my God. Sumpah aku lupa banget sama ini.”


“Ya ampun Nia kamu kok gitu sih, permintaan saudara kamu loh, Nia” Kesal Wulan.


“Nggak Lan. You know me? Aku nggak terlalu banyak waktu di Indonesia, bagaimana aku nggak lupa." Jelas Nia dengan sedih dan hampir menangis merasa bersalah pada saudara sepupunya yang sangat baik itu. Bahkan anak-anaknya dirawat seperti anak kandung. Kehidupan mereka dijamin tanpa batas. Bahkan selama hampir tiga tahun anaknya yang pertama menggalang studi di Australia bersama Edward, saudaranya itu, belum pernah sekali pun mengeluh. Bukan hanya itu, anak kedua dan ketiga dari Nia pun yang masih bersekolah juga tidak pernah memberi tahu pengeluhan atau ketidaknyamanan mereka.


“Oh my God. Wah ini serius nggak sih?” Ucap Nia dengan masih tak percaya.


“Aku juga pikirnya halusinasi kita tinggi banget deh.” Ucap Wulan ambil memukul pipinya. “Eh nggak benaran.” Yakin Wulan saat ia merasakan sakitnya tamparan yang dilayangkan tangannya sendiri ke pipi kirinya. “Nggak nggak nggak. Ternyata bukan halusinasi loh. Astaga ini benaran??” Teriak Wulan sangat kencang dengan bahagia yang benar-benar tak terbayangkan.


“Really??? Edwaaard Tuhan sudah mengirimkan jawaban untuk harapan kamu selama ini saudaraku, sumpah aku senang banget Wulan.” Nia langsung berteriak kegirangan. Benar-benar kebahagiaan mereka tidak bisa ditebak lagi seberapa bahagia. Mereka seperti menemui sebuah jalan untuk mendapatkan harta karung. Bahkan Wulan pun sampai menangis dengan kenyataan yang mereka dapatkan.

__ADS_1


“Gimana pun aku butuh bantuan kamu sekarang.” Mohon Wulan pada Nia.


“I too. Kamu tau kenapa? Saudara aku itu udah berkorban banyak banget buat aku, untuk kehidupan aku di Australia selama S2 aku berlangsung juga anak-anak aku.” Jelas saja Nia juga butuh bantuan dan bekerja sama dengan Wulan. Apa lagi mereka mempunya misi yang sama dan untuk sebuah satu rumah tangga. Meski pun hanya mereka beda orang. Nia untuk saudaranya dan Wulan untuk kakaknya. Tetapi hal itu sangatlah penting.


Uslin sesaat ikut merasakan kebahagiaan yang kedua wanita paru baya itu rasakan. Bukan hanya itu, ia juga perlahan tersenyum membayangkan bagaimana rasanya sebagai seorang Ariel yang sedikit lagi akan bertemu dengan ayahnya. Di sisi lain ia pun tak bisa tidak sedih, ia rindu dengan orang tuanya yang jauh darinya. Yaitu di NTT (Nusa Tenggara Timur).


“Tante, Bibi, aku boleh nanya sesuatu nggak sih?” Tutur Uslin dengan ramah.


“Dek mau tanya apa?” Ucap Nia.


“Of course my cute, tentu dong sayang." Seru Bibi Wulan dengan sangat lembut dan langsung bangun dan pindah duduk dekat Uslin.


“Nah. Itu juga sih, kira-kira apa yah?” Ucap Nia.


Sekejap mereka terdiam dan hening dalam ruang tengah rumah Nia.


“Sepertinya ini merupakan hal yang diselidiki terlebih dahulu, karena yang kakak ceritakan sepertinya Edward yang memegang titik kesalahan. Tapi, katanya Edward punya alasannya. Gimana yah caranya? Pasti ada sesuatu di balik masalah ini.” Bisik Wulan dalam hati sambil bertanya-tanya bagaimana cara menyelidiki semua ini.


“Lalu kamu punya rencana nggak sih, Ni?” Tanya Wulan ke Nia.

__ADS_1


“Kalau aku sih serasa ingin mencoba buat ngomong dulu ke saudara aku, gimana ceritanya dulu." Jelas Nia dengan memberi tahu idenya.


“Ahm. Iya tante kalau menurut aku juga begitu. Sepertinya kita perlu tau dulu gimana kejadiannya. Takutnya mereka udah ketemu lalu ada kontroversi lagi. Siapa tau kan ada sesuatu mungkin yang menyebabkan tante Ardila sama saudara tante itu mengalami masalah hingga seperti ini.” Usul Uslin dengan berusaha menjelaskan usulannya kepada tante Nia dan bibi Wulan.


“Itu sih menurut aku ide bagus yah, tadinya juga aku punya rencana gitu.” Ucap bibi Wulan merespon gagasan yang dikeluarkan Uslin.


“Mungkin yang utama itu kita cari taunya ke saudaranya tante aja deh. Maaf yah tante yah. Bukan aku bermaksud apa-apa, hanya saja tadi itu sebelum ke sini, bibi Wulan ceritain ke aku gimana yang diceritain sama tante Ardila ke bibi Wulan. Dan dari sisi pandang aku, kelihatannya tante Ardila itu termasuk sisi korban. Jadi mungkin saja sesuatu yang yang baru yang kita dapat dan semoga bisa dikatakan sebagai jalan keluar gitu.” Jelas Uslin.


“Iya sih.” Respon tante Nia sambil menganggukkan kepala mengiyakan ide Uslin.


“Siapa tau kan ada sebabnya yang mungkin tante Ardila nggak tau gitu kan, Tan? Bi?” lanjut Uslin.


“Iya sayang. Karna itu juga makanya aku ngajak my cute untuk bantuin aku." Tutur Wulan.


“Iyah aku dengar dari ceritanya bibi tadi yah, aku merasa ada sesuatu yang mungkin tante Ardila nggak tau. Yah mungkin saja kan itu diketahui hanya oleh saudaranya tante aja, sebagai suaminya tante Ardila.” Jelas Uslin lagi.


“Iya sayang. Bibi juga merasa gitu. Apalagi setelah baca surat tadi tuh, bibi semakin yakin kalau ada sesuatu yang tersembunyi dari kakak aku.” Tutur Wulan.


Mereka terus menyusun rencana bagaimana caranya untuk menghubungi si Edward saudaranya Nia itu. Dari mulai perusahaannya berkembang Edward menjadi orang yang super sibuk. Bahkan sulit dihubungi. Mereka bertiga mengumpulkan ide-ide dari isi kepala mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

__ADS_1


Selanjutnya…


__ADS_2