
Tinggalkan jejak jempolnya yah🤗🥰
Uslin masuk dan setelah Uslin sudah duduk dengan nyaman Ariel menutup pintu mobilnya dan berbalik masuk lewat pintu kanan dan duduk dengan santai. Ariel menyalakan mesin mobilnya lalu melaju pergi ke rumahnya.
Sambil mengemudi.
Uslin duduk di muka tepat di samping Ariel. Uslin duduk santai sambil mengoperasikan handphonenya. Ariel yang sedang menyetir mobil terlihat canggung. Tak ada yang membuka pembicaraan.
Setelah sekian lama hening, Ariel mengajak Uslin berbicara.
“Menurut kamu kita enaknya jalan ke mana?”
“Yaa, emang tadinya kamu niat ke mana?”
“Aku maunya ke pantai aja."
“Kenapa emang di sana?”
“Ini kan masih pagi juga, menurut aku sih kita enakan di sana. Duduk sambil ngopi-ngopi gitu. Soalnya kata teman aku di sana pagi-pagi gini ramai tuh.”
“Yaa udah ke sana aja kalau gitu.”
“Iyah. Udah lama juga mama aku mau jalan-jalan tapi akunya sibuk terus.”
“Hah? Sama mama kamu?”
“Iyah. Mama aku, kenapa emang?”
“Yaa, nggak apa-apa sih. Tapi serius nih aku nggak enak loh.”
“Nggak apa-apa, santai aja. Orang ini mama juga kok yang rencanain.”
“Emang mama kamu kenal aku?”
“Hm, nggak tau yah, hhh.”
“Aku serius kali Ril.”
“Nggak kenal, baru kenal nama doang.”
“Kenal dari mana?”
“Jadi gini…”
Ariel menceritakan kembali peristiwa di mana Uslin menjadi seorang tukang kuli bangunan saat ia tak punya uang untuk membayar kos dan ia menceritakan semua itu ke mamanya seusai dia kembali dari rumah Uslin semalam. Semalam saat dia sampai rumah mamanya belum tidur menunggu anak laki-lakinya pulang rumah. Saat itu Ariel menceritakan semuanya itu.
Saat itulah mamanya mengetahui siapa Uslin dan siapa wanita yang pernah Ariel meminta bantuan mamanya mencarikan rumah kecil dan sederhana itu untuk Uslin. Bukannya mereka tak mau untuk membelikan rumah gede dan mewah. Tapi, karena Ariel tahu bahwa Uslin pasti akan menolaknya. Dan meski pun rumah sederhana itu, tetap Uslin akan menolaknya kalau saja Uslin tahu rumah itu dibeli oleh Ariel untuknya.
Karena itulah maka Ariel meminta bantuan mamanya untuk bekerja sama. Mereka membayar pemborong yang ada di tempat Uslin bekerja waktu itu dan meminta pemborong itu untuk merahasiakan tujuan mereka. Tetapi karena niat Ariel yang mulia. Pemborong itu tidak menerima uang pemberian ariel dan meminta Ariel untuk membelikan makanan saja untuk semua orang-orang di sana ikut merasakan rezekinya. Ariel dan mamanya pun menuruti kemauan pemborong itu. Karena memang keluarga mereka memang keluarga yang suka berbagi.
__ADS_1
“Seriusan Pak. Ini rumahnya buat saya?” tanyanya.
“Iyah neng, neng selama ini bekerja secara maksimal. Tapi uang gaji neng saya kurangin yah.” Kata Pak pemborong itu.
Meski sebenarnya gajinya memang hanya segitu. Juga rumah itu bukan miliknya. Tetapi dibeli Ariel pada orang lain pula. Tetapi karena permintaan Ariel ia pun menurutinya.
“Nggak enak deh.”
“Santai ajalah.”
...
Ariel membuka obrolan lagi saat mereka dalam mobil.
“BTW udah siap belum?”
“Aku nggak pede. Ada mama kamu lagi aku minder.” Ucap Uslin malu dan sedikit merasa minder. Karena sebentar lagi dia akan bertemu mama Ariel yang notabene bukanlah orang biasa.
“What?? Ahhh. Nggak perlu gitu. Mama aku orangnya welcome kok. Sama semua orang tuh dia santai-santai aja. Jadi aman aja.”
“Tapi… Gimana kalau misalkan aku nggak bisa buat mama kamu welcome sama aku.”
“Mau tau nggak gimana caranya buat mama welcome sama kamu?”
“Gimana emang?” t6anya Uslin penasaran.
“Cukup jadi gadis yang selama ini aku kenal dan cukup jadi diri kamu yang santai dan pede yang selama ini terukir dalam hari-hari aku.”
“Em. Jelek banget sih!!”
“Yang benar Ril?”
“Iyah benar. Benar-benar nggak bisa aku bayangkan.”
“Apanya?” Bertanya dengan sedikit merasa bingung dan malu.
“Benar-benar nggak bisa ketebak sih.”
Uslin diam dan tidak tau mau berkata apa. Karena sejujurnya dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berdandan. Awalnya dia berharap akan mendapatkan ucapan yang membuatnya berhasil dengan tampilannya hari ini. Tetapi malah berbalik dengan harapannya.
“Seberapa besar persentase kecantikan kamu hari ini, Hhhh”
“OMG… Serius nih...” Uslin menarik napas lega dan berbisik dalam hatinya.
Sesampai di rumah Ariel, mama Ariel sudah duduk di ruang tamu dengan wajah yang sudah amat cantik dengan riasan indah di wajahnya.
“Udah pulang?” Ucap mama Ariel.
“Iyah ma. Em mama udah siap nih.”
__ADS_1
“Udah dong.”
Di saat bersamaan Uslin masuk dengan dituntun bibi Wulan. Bibinya Ariel.
“Loh bibi di sini?”
“Iyah sayang. Tadi baru sampai?”
“Loh. Oh my God. Sini Bibi hug keponakan dulu, hhm.” Ucap Ariel sambil berjalan dengan tangan terbuka dan langsung mengalungkan tangannya di leher bibinya.
“Jadi tadi juga mama kaget, loh kok bibi ke sini nggak bilang-bilang gitu kan kata mama trus bibi bilang aku mau kasih surprise sih sebenarnya hanya failed karna Arielnya nggak ada.”
“Ohh. So sweet. Thanks yah Bi, maaf nggak bisa penuhin rencana Bibi.”
“Iyah nggak apa-apa.”
Uslin merasa malu karena di sana terlihat elegan semua. Mulai dari aksesoris kaki hingga kepala. Ia malah minder lagi karena ia hanya mengenakan sebuah celana jeans dan sedikit sobek di lututnya dan sebuah baju lengan panjang motif jeans sesuai dengan aura tamboy. Bahkan kepalanya pun hanya ada rambut hitam indahnya saja tanpa sebuah aksesoris pun di sana.
“Hai. Oh my God. I’m sorry. Kamu kelupaan sayang. Kamu Uslin kan?”
Uslin pun kaget saat namanya disebut. Uslin langsung kontan merespon mama Ariel dengan langsung memegang dan mencium tangan wanita di depannya itu.
“Hai tante, maaf aku mengganggu.”
“Nggak apa-apa sayang.” Melihat respon yang mulia yang dilakukan Uslin. Hati mama Ariel benar-benar tersentuh. Karena sesungguhnya dia ingin sekali punya anak perempuan. Bibinya pun ikut merasakan hal yang sama dengan mama Ariel. Di mana Uslin bukan hanya mencium tangan mama Ariel tetapi tangannya juga dicium.
“Wah. Anak ini benar-benar cantik dan sikapnya pun luar biasa sekali. “ Ucap bibi Wulan dan mama Ariel dalam hati mereka. Sambil tersenyum mamanya melingkarkan tangannya di leher Uslin sambil mencium pipi kiri dan pipi kanan Uslin. Hal yang sama dilakukan bibi Wulan.
“Wah. Awalnya aku kira mereka seperti orang kaya lainnya. Tapi ternyata benar apa kata Ariel mamanya welcome banget. Bukan hanya mamanya aja, bibinya pun baik banget.” Ucapnya dalam hati.
“Bibi ikut?” Tanya Ariel.
“Emm. Nggak apa-apa nih emang? Kan ini momen kalian.”
“Ahhh Bibiku sayang. Dengarin keponakan yah. Sekalinya datang, sekali itu juga harus bikin aku tertawa dan senang. Okey.”
“Ohh. Hhm hug Bibi dong. I love you so much sayang.” Ucap Bibi Wulan. Dengan tawa bahagia mereka semua berpelukan. Terkecuali Uslin. Ia malu, oleh karena itu ia berdiri sedikit jarak dari mereka bertiga.
“Ya Tuhan. Romantik banget keluarga ini. Ariel yang selama ini kelihatan tegas ternyata lembut banget sama keluarganya.” Bisik Uslin dalam hatinya dengan penuh rasa kagum dan haru. Tanpa sadar dia meneteskan air mata. Saking terasa sekali kebahagiaan orang-orang yang di depannya tanpa di sadari sama sekali ia pun tenggelam ke dalam rasa haru itu. Ketika ia sadar ia sedang menangis, ia menunduk dan berpura-pura menoleh ke belakang dan menghapus air matanya dengan jemari halusnya. Ketika ia berbalik terlihat seorang kokoh berdiri tepat di depannya dengan tangan terbuka. Uslin kaget. Perlahan Uslin menaikan tatapannya ke arah indra penglihatan orang itu. Tatapan yang di luapkan lewat sepasang bola mata indah orang itu benar-benar sangat adem dan hangat. Dan perlahan berjalan menuju Uslin dan memeluknya dengan erat. Hangat, sangat hangat. Kehangatan itu membuat Uslin tenggelam dalam kenyamanan. Kelihatannya orang itu benar-benar paham dengan suasana Uslin saat ini. Di mana dia jauh dari keluarga. Hidup sendiri dan mandiri dengan susah payah. Uslin membalas pelukan itu. Kembali Uslin mengalirkan semua perasaannya. Entah rasa rindu pada orang tuanya atau pun masa lalunya. Siapa tau kan, seorang wanita diam-diam dan terlihat kuat seperti Uslin memiliki kisah masa lalu yang mungkin menyakitkan?
“Ohh. So sweet. Sayang bibi sudah bilang sama kamu. Sayangi semua wanita itu seperti kamu menyayangi mama kamu. Jangan pernah bedakan wanita. Karena sesungguhnya wanita itu satu rasa. Hanya saja berbeda pada mental. Ada yang kuat ada yang lemah.” Nasehat Bibi Wulan untuk Ariel. Ariel tersenyum haru.
“Sayang. Kamu tidak salah pilih orang. Nak, dengarin bibi yah. Ariel ini orang baik, berbakti, pekerja keras, penyayang. Ketika kamu butuh apa-apa jangan sungkam untuk memberitahunya, bibi benar-benar kagum sama kamu. Kamu benar-benar gadis kuat. Dengan semua yang terjadi pada masa-masa hidup kamu. Benar-benar, ah, oh my God. Your life is very very historical. I love and I like your life. Bibi terharu sayang.” Ucap bibi Wulan sambil menangis harus dan langsung memeluk Uslin. Uslin sendiri kaget dan sangat malu dengan perkataan bibi Wulan. Bagaimana tidak kehidupan Uslin tidak langsung tembus pandang oleh Bibi Wulan. Bibi Wulan adalah seorang profesor psikologi lulusan Amerika. Tentu saja dia bisa membaca kehidupan Uslin. Bahkan seluruh dunia pun dia bisa baca kehidupan orang-orang meski pun hanya dengan tatapan mata.
“No, no, no. Kamu orang baik. Jangan pernah merasa seperti itu. Buang jauh-jauh perasaan itu. Bibi benar-benar nggak bisa berkata dengan perjalanan hidup kamu sayang. Bibi, kalau misalkan bibi yang ada pada posisi kamu mungkin bibi nggak kuat.”
“Terima kasih Bi.” Dengan suara rendah dan sedihnya Uslin berkata.
Mama Ariel dan Ariel saling berpelukan dan memandang Uslin dan bibi Wulan yang sedang berbincang. Mereka berdua langsung memahami apa yang mereka bicarakan. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan bibi Wulan itu benar-benar membuat bibi Wulan tersentuh. Bagaimana tidak, mereka tahu siapa bibi Wulan mereka.
__ADS_1
Selanjutnya…