Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 7 Peduli Dalam Diam


__ADS_3

“Gua kan harusnya bawa mobil.”


Ia memutar balik motornya dan memarkirkannya dengan rapi dan beralih menaiki mobil pribadinya. Ia memang bukan hanya tampan, cool, melainkan juga dia adalah seorang pria yang pekerja keras, pintar, bijak dalam menyikapi masalah. Sehingga tak ada keraguan untuk orang-orang sekitar menjulukinya sebagai pria tajir.


Semua apapun yang di milikinya sejak ia menduduki kelas dua SMP murni hasil kerja kerasnya sendiri. Ia mengikuti banyak sekali pertandingan. Pria itu mempunyai hobi olahraga. Ia banyak sekali memenangkan piala-piala berupa emas, medali, sertifikat dan juga uang tunai.


Setelah tiba di sebuah pertokoan. Ia berdiri di depan toko itu lalu meraih handphonenya dari dalam saku. Mengotak atik layar handphonenya lalu menelepon seseorang.


“Hallo! Oh udah yah. Oh iya untuk judul-judulnya Bapak tulis nggak? Oh. Okeh Pak. Makasih Pak." Setelah menutup teleponnya ia kembali memasangkan handphonenya ke telinganya seperti sedang menelepon.


“Bro! Gimana yang tadi? Udah lo cek belum? Oh. Ok ok. Ntar lo whatsapp ke gua yah. Am, okeh, kalo lo nggak sibuk. Boleh, boleh. Thanks yah bro.”


...


“Sorry bro. Tadi macet banget.” Seseorang datang menghampirinya. Seorang pria. Pria itu bernama Aldi. Ia adalah orang yang ditelepon Ariel tadi dia adalah sahabat Ariel dari kelas satu SMP. Karena mereka berjanjian lewat telepon untuk bertemu, sehingga Aldi datang menemuinya. Mereka sering nongkrong bersama. Aldi juga tak kalah saing ketika dilihat dari ketampanan. Pria itu juga memiliki tubuh yang berotot, mereka berdua sama-sama pemuda multitalent. Sama-sama memiliki hobi yang sama, yaitu berolahraga.


“Nggak apa-apa. Lo bawain semua kan?”


“Iyah, tadi gua juga bersihin tuh.”


“Okeh. Thanks. Lo mau temani gua nggak?”


“Hm. Okeh. Kebetulan gua juga nggak ngapa-ngapain.”


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam toko itu. Aldi membuka pintu dan menyuruh Ariel untuk masuk terlebih dahulu dan ia menyusul dari belakang.


“Mbak!”


“Iyah Mas?” Sahut seorang wanita.


“Bawakan saya sesuai semua ini." Sambil menyorong sehelai kertas kecil bercoret tinta seperti ada beberapa kalimat.


“Baik Mas, sebentar.”


“Sutt, sutt,”


“Apa?” Tanya Ariel.


“Cantik banget."


“Lo nggak panas kan?”


“Nggak!"


“Gila lo yah?”


“Banget-banget,” sambil senyam-senyum tak jelas.


“Apaan sih?” Ariel yang sedang sibuk memesan beberapa barang pada pelayan yang ada di sana dan menyesuaikan dengan beberapa benda yang di pegangannya. Semua orang yang ada di sana tak terlalu banyak gerak gerik. Baik pelayan maupun Aldi sahabatnya. Yang terlihat sibuk hanyalah Ariel. “Nggak jelas lo tau nggak.” Lanjut Ariel dengan kesal.

__ADS_1


“Jelas kok.” Ucapnya lagi dengan sangat tak merasa bahwa tingkahnya membuat Ariel tak mengerti dan sesungguhnya membuat Ariel kesal.


Karena penasaran Ariel membalikkan mukanya menoleh ke arah di mana tadinya Aldi berdiri. Namun pada saat Ariel mendapatinya, Aldi tak lagi berdiri melainkan sedang duduk jongkok dan menongkah dagunya. Matanya terlihat tidak fokus pada Ariel melainkan terkekeh pada pelayan yang sedang berbincang dengan Ariel. Ariel kembalikan penglihatannya mengarah pada pelayan cantik yang berdiri tepat di depannya, terpampang ekspresi yang sama. Senyam-senyum. Mata berlarian ke atas bawah, tak menentu.


Sekitar tiga puluh detik Ariel menyaksikan aksi aneh sahabatnya dan wanita pelayan itu.


Bum…


Karena kesal Ariel menjatuhkannya sebuah kotak berisi potongan-potongan kertas yang terletak di sudut meja yang berada di depan pelayan dan Ariel. Ariel sudah berdiri di sana. Yang sebenarnya yang melayani pembeli adalah pelayan. Tapi yang ada malah sebaliknya, Ariel sebagai pembeli yang sibuk.


Hal itu membuat Aldi jatuh dan tergeletak di lantai. Kepalanya terbentur di lemari yang berada di belakangnya. Karena mereka di tokoh buku dan mereka berada di tengah-tengah lemari yang dipenuhi buku-buku yang hendak dijual. Sehingga Aldi tak mendapatkan keluasan untuk menghindar.


“Mbak hitung. Total berapa?” Kesal Ariel dengan dahinya berkerut.


Ia tak memperdulikan Aldi yang jatuh hingga kepala terbentur. Ia sibuk membayar dan membereskan buku-buku yang dibelinya.


Pelayan itu pun terlihat tak enak dan menahan malu dengan Ariel. Dan bukan saja Ariel yang ikut melihat kejadian itu melainkan terdapat banyak sekali orang-orang yang datang mengunjungi dan membeli buku-buku untuk bahan bacaan di sana. Bahkan ada yang sudah melihat kejadiannya seperti apa sebelum Ariel melihat mereka.


Tak lama kemudian pelayan itu datang dan memberikan beberapa tas yang berisi buku-buku yang dibeli Ariel dan mengembalikan kartu kredit milik Ariel.


Ariel berjalan keluar tanpa menghiraukan sahabatnya.


“Eh, Ril. Udah selesai lo. Nungguin gua dong.” Teriaknya memanggil Ariel. Meski Ariel terus berjalan tanpa memberi respon sepatah kata pun. “Semangat yah cantik.” Sambungnya lagi menghadap pelayan itu. Pelayan itu terlihat salah tingkah.


“Woih. Lo main kabur kabur aja.”


“Urusan.” Kesal Ariel. Ia memasukkan semua tas-tas itu ke dalam bagasi mobilnya. Lalu masuk ke dalam dan menyalakan mesin mobilnya.


Ariel menginjak gas mobilnya perlahan sehingga mobilnya berjalan. Aldi hampir terjatuh dan ia ditertawakan oleh orang-orang yang ada di sana.


Piiip… Pip. Pip. Piiiiip…


Ariel menekan klakson mobilnya berulang-ulang kali sehingga membuat telinga Aldi hampir pecah.


“Mau masuk atau gua tinggalin?”


“Eh, Eh, sabar bro." Ucapnya sambil cepat-cepat membuka pintu mobil dan masuk. Aldi duduk di muka di samping Ariel yang sedang menyetir.


Ariel memang paham soal cinta dan wanita. Tetapi Ariel adalah tipe pria yang punya komitmen dan prinsipnya tersendiri untuk cintanya. Berbeda dengan Aldi, ia memang terkadang terlihat tegas namun tidak memiliki tujuan yang tepat untuk cintanya. Bisa dibilang bahwa Aldi adalah pria mata keranjang. Karena setiap dia menemui wanita-wanita cantik pastinya dia akan genit dan menggoda mereka.


“Bro, mau ke mana kita?”


“Mau tau aja.”


“Yakali kan ke mana gitu, yang ada...”


“Perempuan?”


“Ha,am. Mantup banget, hhhh.” Seloroh Aldi.

__ADS_1


“Otak lo tu isinya perempuan aja."


"Gue laki-laki normal bro."


"Terserah lo. Nggak penting buat gue."


Matanya tak tenang. Kepalanya menoleh ke kiri ke kanan. Ia memutar musik lewat speaker mobil Ariel. Kemudian ia menekan lama pada tombol volume sehingga suara musiknya seakan membuat mobil meledak.


“Aldi, pelan-pelan.” Ucap Ariel sambil fokus mengemudi. Namun, karena Aldi tak mendengar. Aldi tetap heboh bergoyang, memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan dan mengangkat tangannya seakan dia lagi di panggung besar. Aldi sudah berumur dua puluh lima tahun. Namun ia tetap lupa umur ketika sudah bertemu dengan hal-hal yang membuatnya antusias bergerak.


Kali ini Aldi benar-benar membuat Ariel kesal. Ariel menekan tombol volume bagian mines untuk mengurangkan volume musik itu.


Ariel orangnya tidak banyak bicara ketika sedang ngobrol dengan teman-teman sebatang dengannya. Namun dia tetap tegas dalam bertindak.


“Lo mau turun atau nurut sama gua?”


“Sorry lah bro.” Sambil menepuk bahu Ariel dan melontarkan tawa kelakarnya.


“Kita ke mana sih sebenarnya?”


“Ke sana."


“Gua tau bro ke sana. Emang kita mengarah ke sana kan sekarang.”


“Katanya tau.”


“Maksud gua sebenarnya tujuannya itu bro.”


“Ke sana.”


“Ke rumah teman? Pacar?”


Mendengar pertanyaan Aldi membuat Ariel tak nyaman. Ia tak berkata apa-apa ia hanya melihat Aldi dengan mata ekor dan menelan air ludah.


“Benaran pacar nih? Siapa sih dia? Rumahnya di mana?”


“Huf.” Ariel menarik napas panjang dan menggaruk alis kanannya menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya tetap memegang stir mobil.


“Lo bro, ditanyain diam melulu. Ntar kesambet lo."


“Urusan.”


“Tuh buku-buku banyak banget untuk siapa sih?”


Ariel tetap tak menjawab, ia memalingkan kepala dan melihat ke luar kaca mobil.


“Broo, bro. Lo kebanyakan diam deh.”


“Lo bisa diam nggak, nanya mulu ke mak tiri lo tau nggak.” kesal Ariel.

__ADS_1


Selanjutnya…


__ADS_2