
“What? Kok buram? Loh, loh, loh kenapa ini nggak berfungsi sih? Apa yang salah? Bukannya tadi pagi dia udah keluar yah? Ada yang aneh! Hum! Okey nggak apa-apa.” Ucap wanita sombong itu. Namanya Riana yang memiliki kedudukan paling tinggi dalam perusahaan yang Edward kerja. Riana adalah mantan kekasih Edward. Ia meninggalkan Edward ketika dia mendapatkan laki-laki Eropa yang kaya raya. Tak lama mereka bercerai, sebelumnya mereka telah memiliki seorang anak laki-laki.
Handphone Riana berdering.
“Ouh. Hallo! What happened?”
“Fuck you."
Telepon di tutup sebelah pihak. Hal itu membuat Riana semakin marah. Rasanya ia ingin memakan orang saat ini.
“Okeh. No problem brother. Kamu liat aja nanti.” Ucap jahat mulut wanita pedas itu.
Whatsapp masuk.
“Hari ini saya resain dari tempat Anda.” pesan Ariel.
“What? Dia pikir semudah itu?” Lalu menekan untuk menelpon Edward. Edward merespon.
“Kamu pikir mudah untuk lepas tanggung jawab? Hum? Kamu sudah tanda tangan kontrak!”
“I don’t care. Asal anda tau dengan keputusan anda, hidup saya berantakan.”
“Ouh. Sangat tidak baik dengarnya. Turut prihatin yah. But, I’m happy you know.”
“Anda adalah perempuan yang tidak tau diri."
“Ahh. Up to you my husband. Oh no, ahm calon aku, HHH.” Sambil tertawa jahat.
“Jangan pernah berharap.” Edward menutup telepon.
“HHH. Kamu liat nanti aja, kamu kan jatuh dalam pelukan aku.”
“Ah, si bos memang tidak pernah merasa malu yah.” Ucap karyawan yang kebetulan lewat ruangannya. Ruangannya tidak di tutup. Riana tak merasa bahwa banyak karyawan yang melihat apa yang dilakukannya. Selama ini para pekerja di sana mengira bahwa Edwardlah yang menjadi perusak rumah tangga Riana. Namun setelah melihat adegan di depan mata mereka, akhirnya mereka paham yang sebenarnya. Sebelum Ariel mengirim pesan whatsapp ke Riana. Edward terlebih dahulu memberitahu semua karyawan di sana. Karena Edward juga lelah di pandang sebagai perusak dalam hubungan Riana selama ini.
__ADS_1
“Kenapa kalian semua di sini?” teriak Riana dengan nada membentak.
Mulut karyawan itu berkomat-kamit seperti sedang mengomel.
“Pergi kalian!”
“Maaf Bu, saya mengundurkan diri hari ini.” Kata salah seorang karyawan.
“Saya juga Bu. Bisa-bisa suami saya juga direbut, his.”
“Saya juga Bu. Saya capek bekerja untuk Ibu, nggak taunya ibu ternyata pelakor.” Diikuti yang lainnya. Separuhnya lagi menghilang tanpa memberitahu Riana. Apalagi karyawan Riana lebih banyak wanita. Tentu saja mereka ikut mendalami rasa ketidakadilan yang Ardila rasakan.
Entah angin apa dan atau mungkin karma yang berlaku pada Riana sehingga semua karyawannya keluar tak tersisa. Perusahaannya adalah perusahaan yang lumayan besar dan memiliki beberapa cabang. Ternyata jumlahnya tak dianggap ketika sebuah karma menimpanya oleh karena ulahnya sendiri. Setiap hari wartawan penuh di depan kantor Riana. Berita-berita di TV menyebar luas. Tetapi tidak satu berita pun yang sempat di dengar oleh Ardila oleh karena kesibukannya. Dan akhirnya ia kembali menjadi rakyat biasa. Tidak ada satu pun orang yang menghargainya lagi.
“Ke mana aku harus cari kamu Ardila?”
Edward menelponnya berulang-ulang kali namun tidak mendapatkan jawaban. Bahkan media sosialnya sudah tidak ada jejaknya. Ia ingin pergi mencari namun tidak memiliki modal untuk pergi. Semua mobil dan fasilitas lainnya selain rumahnya adalah atas nama Riana. Karena ia benar-benar membutuhkan pekerjaan biaya waktu Ariel lahir. Dan meminta bantuan Riana. Mereka sepakat agar setelah anaknya lahir Edward harus menjadi suaminya. Tidak ada pilihan.
Keluarga Ariel pun mengalami masalah setelah mereka menikah. Terkadang Ardila pun di pandang sebagai seorang pembawa sial untuk keluarga mereka. Namun ayah Edward yang selalu membela Edward. Oleh karena itu, setelah ibu Edward meninggal rumah itu menjadi warisan untuknya. Yang ia punya hanyalah rumah. Tidak mungkin ia menjualnya. Itu adalah titipan ayahnya. Edward memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Edward memulai bisnis baru setelah ia berada di Australia beberapa bulan. Bisnisnya mulai berkembang dan mulai terkenal. Beritanya mulai viral. Tanpa sengaja, saat Ardila sedang duduk bermain dengan Ariel di ruang tengah rumah orang tuanya ia menonton TV dan tenyata itu adalah Edward. Ia sangat terkejut. Ternyata Edward sudah meninggalkan Indonesia. Hal itu membuatnya berpikir bahwa Edward tidak mengingatnya lagi.
Saat itu Ariel berumur sekitar lima tahun dua bulan. Cara bicaranya sudah sangat lancar dan sangat pandai dan taat pada perintahnya. Ariel melihat TV lalu berkata “Wow.. Begitu mereka kaya yah, mom?” tanyanya.
“Iyah sayang, mudah-mudahan kamu juga nanti ke gitu yah.”
“Ahh.” Ariel tertawa lucu. Dia tidak mengerti maksud mamanya dan juga tidak tahu apa yang dipikiran mamanya. Namanya dia anak kecil.
“Semenjak kamu tau kalau dia nggak di Indonesia lagi, kamu putus harapan?”
“Yaah. Gitu deh. Mengingat waktu itu juga aku sempat masuk rumah sakit jiwa gara-gara stres. Aku nggak dikasih uang belanja. Padahal anak aku udah umur dua bulan loh.”
“OMG. Kamu nggak pernah ngomong loh sama aku tentang hal ini.”
“Iyah sih. Itu nggak lama sih. Nggak sampe dua minggu. Saat aku udah ditenangin sama dokter. Dalam pikiran aku itu anak aku terus. Jadi lama kelamaan aku jadi yah, perlahan membaik gitu. Aku berusaha untuk nggak kepikiran lagi.”
__ADS_1
“Selama itu uang belanja kamu dari mana?”
“Waktu aku masih remaja kan aku sering nabung. Jadi waktu ada masalah itu, saat kepepet aku pake itu buat kebutuhan aku dan anak aku."
“Tapi dia nggak pernah pergi buat cari kamu di rumah mama sama papa?”
“Nggak. Karna mungkin juga dia nggak tau. Kan aku nikah dulu kan papa sama mama belum pindah ke Indonesia.”
“Oh benar juga sih.”
“Iyah. Atau mungkin karna memang dia nggak niat gitu? Kan aku nggak tau.”
“Menarik juga sih, dia di Australia sekarang?”
“Mungkin? Aku juga nggak tau.”
“Okeh nggak apa-apa. Kamu udah sukses besarin anak kamu. Anak kamu sukses ngebahagiain kamu. So, l don’t want to look you sad, okey?”
“Emang aku terlihat sedih gitu?”
“Yes. I’am your sister. I know you.”
Ardila hanya tertawa kekeh.
“Eh. Ngomong-ngomong my bie and my cute udah nyampe belum yah? Coba callling mereka.” Perintah Wulan.
“Bentar." Jawab Ardila sambil mengeser-geser layar handphone miliknya. Tak lama tanda terhubung berbunyi.
“Mama telpon?” Ariel mengangkat telepon mamanya.
“Hallo Mah? Mama nggak apa-apa kan?” tanya Ariel seperti orang panik dan memang kenyataannya dia sedang benar-benar panik. Bagaimana tidak? Mengingat waktu ia pergi mamanya marah. Juga Ariel teringat dengan riwayat gangguan jiwa mamanya.
Selanjutnya...
__ADS_1