
19.00
Angka itu tertata nyata pada layar handphone Ariel. Begitu juga dengan yang lainnya. Uslin juga sudah kembali ke rumahnya untuk bersiap-siap mengikuti acara. Karena Ariel yang mengantarnya pulang, maka Uslin tidak bisa bersiap sendiri bahkan tidak bisa berdandan di rumah. Ariel mengajaknya ke salon.
Uslin memakai gaun berwarna biru langit serta paduan hils dengan berketinggian sedang berwarna biru langit bening. Sangat cocok dan serasi dengan kulit putih Uslin. Sebuah kalung bermata U, inisial namanya sendiri dikalungkan di leher Uslin. Sungguh manis dan cantik.
Ariel memakai jas ala mafia. Tinggi, sepatu hitam dipadukan dengan dasi berwarna putih.
Di bawah tenda acara.
Semua orang berkumpul di sana. Ada yang duduk, ada yang bercerita sambil berdiri, ada juga yang berjalan-jalan menikmati halaman rumah Ardila yang luas. Tamu yang ada di sana adalah semua partner bisnis butik Ardila dan juga rekan-rekan mahasiswa serta rekan-rekan kerja yang menjadi karyawan di kantor Ariel. Namanya seorang pengusaha, pastinya ia adalah seorang yang berpengaruh.
Ardila sedang duduk di atas panggung dengan didampingi oleh adik perempuannya, Wulan. Mereka menggunakan baju couple sama-sama berwarna putih kebiruan. Hils tinggi menambah daya pikat mereka. Mereka duduk sambil ngobrol-ngobrol santai. Sambil memalingkan kepala ke kiri ke kanan untuk melihat dan menyapa para tamu mereka.
Ariel dan Uslin tiba di rumah. Mereka keluar dari mobil dan melangkah masuk. Mereka di sapa oleh banyak orang. Namun, tak lain sapaan mereka hanya ditujukan pada Ariel, karena mereka tidak kenal siap wanita yang sedang di samping Ariel itu. Namun, ada pula yang mengira bahwa Uslin adalah pasangan Ariel. Sebagian besar yang beranggapan bahwa Uslin adalah pasangan Ariel itu adalah karyawan-karyawannya. Bagaimana mereka tidak mengira demikian? Mereka seperti pasangan yang sangat serasi. Selain kaya Ariel juga tampan, begitu pun dengan Uslin, selain cantik terlihat seperti seorang wanita papan atas juga jika dilihat dengan penampilannya hari ini. Meski sebenarnya Uslin bukanlah siapa-siapa.
Seiring berjalannya waktu sesaat lagi akan dimulai...
Di depan hotel...
Tempat penginapan Edward...
Seorang lelaki berdiri dengan mengenakan sebuah jas mahal dan berkualitas, berwarna putih, berdasi hitam dan sepatu hitam. Sebuah kacamata hitam mewah terpajang nyata di atas bidang mata lelaki itu.
“Siapkan saya satu mobil serta sopir dan pengawal!” Perintah Edward tegas.
“Baik pak.” Sahut petugas itu. Petugas hotel langsung berlari keluar, menuju sebuah ruangan. Di sana ia sedang berbincang dengan seorang petugas perempuan, sepertinya ia adalah seorang yang bertugas untuk melayani tamu yang keluar masuk menggunakan jasa transportasi hotel.
Tak lama, petugas itu keluar dengan membawakan sebuah kertas, lalu meminta Edward untuk menandatanganinya. Edward langsung menerima pena yang disodorkan oleh petugas itu dan mencoretnya dalam waktu dua detik.
Sebuah mobil melaju perlahan ke arah Edward berdiri. Lalu petugas itu membuka pintu mobil itu lalu mempersilahkan Edward untuk masuk.
“Silakan masuk Pak.” Ucapnya sambil tertunduk hormat.
“Terimakasih! Tidak perlu tunduk, saya bukan Tuhan yang harus Anda hormati, hm.” Ucap Edward lalu tersenyum kecil. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk sambil mengoperasikan handphonenya.
“Antar saya ke tempat ini!” Sambil menyodorkan selembar kertas kecil seperti tulisan alamat yang diangkatnya dari dalam kantung jasnya.
__ADS_1
“Baik Bapak.” Sahut sopir itu.
Mobil mulai melaju perlahan keluar dari
halaman hotel. Diikuti oleh sebuah mobil hitam dengan empat orang lelaki besar dan berjas hitam pula. Mereka adalah pengawal Edward.
“Haii... Maaf yah aku telat.” Ucap Nia dan berjalan memeluk Wulan dan Ardila lalu memeluk Uslin dan bersalaman dengan Ariel dan Ardi.
“Iyah nggak apa-apa. Lagian pestanya juga belum mulai kok.” Ucap Ardila sambil memasang senyum manisnya.
“Iyah. Nggak apa-apa kok.” Ucap Wulan.
“Duduk yuk.” Ajak Ardila. Mereka duduk lalu melingkari sebuah meja kecil di depan mereka. Uslin pun ikut diajak oleh Ardila.
Ardi dan Ariel berjalan sedikit jauh dari Ardila, Nia, Wulan dan Uslin. Mereka duduk di bawah lopo kecil yang mereka siapkan untuk menunggu tamu-tamu lainnya.
“Jam berapa baru mulai bro?”
“Delapan.”
“Jam berapa nih sekarang?” Sambil melihat jam tangannya. “Oh. Lima belas menit lagi.”
“Eh bro. BTW gimana tuh hubungan lo sama si cantik?”
Ariel diam saja tanpa merespon.
“Bro gua lagi nanya.”
“Apa?”
“Maksud gua. Lo ada hubungan sama si cantik?”
“Nggak.”
“Lo suka yah sama dia?”
“Nggak.”
__ADS_1
“Bro, bro. Lo nggak usah pura-pura. Gua tau kok lo punya perasaan kan dengan cewek itu?”
“Nggak.”
Menggeleng kepala. “Ya udah. Kalo gitu gua aja yang suka sama dia.”
Matanya tiba-tiba melotot tajam ke arah Ardi. “Coba lo ulangi lagi!!”
“Tuh kan. Nggak pernah salah gua.”
Matanya masih melotot dan tiba-tiba kembali adem karena mungkin merasa malu dengan kecurigaan Ardi.
“Bro. Kita sebagai laki-laki yang merasa diri sejati. Nggak perlu gengsi untuk mengutarakan apa yang kita rasa. Gua tanya sama lo sekali lagi yah, lo suka kan sama dia?”
Diam sebentar dan menghela napas. “Gua nggak tau.”
“Bro. Lo nggak pernah bohong sama gua. Gua sahabat Lo. Tanpa lo jujur juga gua tau.” Di mata Ardi sahabatnya adalah orang yang tidak pernah menyimpan rahasia. Segalanya yang dialaminya, dibukakan kepada Ardi. Mereka sama-sama saling mendukung satu sama lain.
“Gua takut.” Jawabnya singkat.
“Bro, gua benci sama lo yang sekarang. Kenapa sih lo lebih memilih untuk menggantungkan diri lo sendiri?”
“Maksud lo apaan?”
“Kenapa gua ngomong ke gitu? Karena lo itu pengecut. Nggak memikirkan kebahagiaan lo sendiri.”
“Maksud lo apaan sih?”
“Broo, bro. Lo tuh udah dewasa belum sih? Peka dong sama apa kata hati lo. Lo diamin perasaan lo terus. Sampai kapan sih lo diam aja melihat bunga yang lo ingini mekar hingga layu? Sementara dia butuh air supaya dia segar kembali.” Aldi terlihat sangat kecewa dengan sahabatnya. Bagaimana tidak Ariel sekarang terlihat seperti seorang pengecut. Memendamkan perasaannya sendiri karena rasa takut.
“Trus mau Lo gua gimana?” Tanyanya dengan tenang.
“Terserah lo deh. Dia cewek yang selama hampir empat tahun ini lo cerita kan sama gua? Iyah kan bro? Saat ini dia udah dekat sama lo. Kenapa lo masih diam.”
“Melihat dia senyum sudah cukup untuk gua.”
“Hah? Lo sama sekali nggak berniat untuk perjuangin apa yang sudah lo tanam dari lo mengenal lawan jenis? Bukankah dulu kata lo nggak akan pernah peduli dengan perempuan selain keluarga lo? Trus sekarang apa? Lo masih mau diam aja?” Ardi terus comel. Di saat Ariel merasa bosan ia bangun lalu jalan ke tempat lain.
__ADS_1
Selanjutnya...