Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 28 We are One in God


__ADS_3

Semakin dekat orang itu dengan Ardila semakin kuat Ariel menggenggam tangan Uslin. Uslin pun merasa tak enak jika melepaskan. Apalagi melihat keadaan saat ini dan bahkan ketika Uslin meronta untuk melepaskannya sudah pasti tidak bisa. Tangan Ariel persis tangan seorang atlet, kuat dan kekar.


Bibi Wulan naik ke atas panggung. Nia pun begitu.


“Kakak.” Sambil memutar badan kakaknya dan membelakangi Edward. “Kakak buka kain itu.”


Ardila pun tersenyum dan membuka kain itu. Saat melihatnya kain itu, ia langsung meramasnya dan membuangnya. Seolah dia kenal dan menyimpan suatu kepahitan dengan kain itu. Bagaimana tidak? Kain itu adalah tanda persatuan mereka sah secara adat. Kain itu mereka beli bersama. Tanpa di sangka oleh mereka berdua akan jadi seperti itu keadaan rumah tangga mereka. Ariel terkejut dan semua tamu undangan pun terkejut. Uslin, Wulan dan Nia terus meneteskan air mata. Sementara Edward tertunduk. Perlahan ia meneteskan air mata juga. Namun, tak ada yang melihat. Ia muncul seperti sosok misterius. Menggunakan topeng. Sulit untuk dikenali. Perlahan air bening dari kedua sudut matanya mengalir, terselip kesedihan dibalik topeng misterius itu.


Dada Ariel semakin kuatir. Ia ingin bangun, namun tidak mungkin dia membantah apa yang dikatakan Uslin. Karena itu artinya ia tidak percaya dengan apa kata Uslin. Ia hanya duduk, menggenggam tangan Uslin dengan erat sambil melongo penasaran ke atas panggung.


“Sisters. This is the meaning of all my words earlier. (Kakak, inilah maksud dari semua kata-kataku tadi).” Ucapnya sambil berjalan perlahan dan memeluk kakaknya.


“Ardila. Dia kakak sepupu aku. Dan.. dia punya sesuatu to tell. The reason for everything. (Dia punya sesuatu untuk diceritakan. Alasan dari semuanya).”


Ardila adalah orang yang tenang. Bahkan ia pun tidak sepenuhnya percaya dengan semua yang terjadi pada masa lalunya. Edward yang dikenalinya selama puluhan tahun. Berubah drastis hanya pada setengah tahun. Hanya seujung kuku jika dibandingkan dengan lamanya mereka mengenal satu sama lain. Ia menangis. Sakit itu ada dalam hatinya. Siapa pun pasti akan menangis ketika bertemu dengan situasi seperti saat ini.


Di tengah itu, Ria, Angel dan Anggi sama sekali tidak peduli dengan pesta itu. Mereka lebih tidak tenang melihat adegan Ariel dan Uslin. Uslin tidak mengetahui bahwa Ria pun sudah di sana. Bahkan berdiri tepat di belakangnya.


Edward tertunduk lesu. Sedih, kecewa pada diri sendiri, rasa bersalah pada Ardila dan semua orang. Ia melepaskan topengnya secara perlahan. Semua orang terkejut saat melihatnya. Sebagian besar mengenalinya sebagai mantan suami Ardila namun sebagiannya lagi mengenalinya sebagai seorang pengusaha besar di Australia.

__ADS_1


Para tamu banyak yang berkata “Oh. Dia...”


Ada juga yang bertanya “apa hubungannya dengan dia?”


Bahkan ada yang menebak-nebak “apa jangan-jangan itu suaminya?”


Ariel tetap tak berkata-kata. Meski pun ada rasa di hatinya. Apakah ini ayahku? Tak menemui jawaban.


Air matanya sungguh membasahi pipinya. Ia memang lelaki tegas tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ia tak akan menangis. Apalagi tentang rasa, cinta dan kesatuan rumah tangga.


“Maaf di atas maaf. Segalanya seperti angin lalu bagi kita. Saya bajingan. Saya pengecut. Saya laki-laki biadab. Tidak punya tanggung jawab. Tapi...” Berjalan mendekati Ardila dan memegang bahunya. “Sesungguhnya kamu tau saya ini seperti apa. Saya ini siapa. Bertahun-tahun kita lawan semuanya. Saya tinggalkan semua yang harusnya menjadi milik saya demi kita. Apakah kamu percaya begitu saja dengan apa yang tiba-tiba terbalik dalam sekejap? Saya rasa kamu tidak sepenuhnya percaya. Hm?” Ia berjalan dengan lesu dengan sigap ia memeluk Ardila. Ardila dengan bimbang tak tahu harus bagaimana. Berdiri lesu tanpa pikir. Ardila perlahan menetes air mata. Mengalir hingga jatuh.


“Saya memang lelaki yang tidak bertanggung jawab. Tapi bagaimana pun saya tidak lupa rumah saya. Kamu.. kamu adalah rumah saya Ardila.”


“Kalau memang aku rumah kamu. Selama ini kamu ke mana? Bertahun-tahun aku tunggu kehadiran kamu. Kalau kamu tidak lupa dengan rumah kamu sendiri kenapa kamu menghilang? Apa itu yang kamu bilang aku adalah rumah kamu.” Berteriak sambil menangis.


Benar. Apa yang aku rasa. Dia ayahku. Dia papa. Dari mana dia?


Ariel masih betah dengan genggamannya. Tak ia lepas. Air matanya mengalir turun hingga jatuh di tangan Uslin. Uslin pun merasakan hal itu. Ia perlahan melepaskan genggaman Ariel pada tangannya. Mengusap lembut pipinya dan mengusap air mata yang mengalir. Ia pindah lagi ke samping Ariel. Mengambil beberapa lembar tisu dari meja kecil di depan mereka lalu mengelap semua deraian yang membasahi pipi Ariel.

__ADS_1


Edward berdiri dengan diam. Menerima semua pukulan yang dilayangkan Ardila. Dadanya menjadi sasaran pukulan Ardila. Ia siap menerima semua itu, asal Ardila tetap bersamanya.


Di saat Ardila benar-benar tidak bisa marah. Ia mengingatkan semua hal-hal yang pernah mereka lewati.


Seseorang memeluknya dari belakang. Seorang wanita seumuran dengannya.


“Ini salah aku. Bukan salah Edward. Aku yang sudah menjadi perusak rumah tangga kalian. Aku yang salah. Marah sama aku asal jangan ke Edward. Edward nggak salah Ardila.” Ucap Riana, seorang yang pernah menjadi bos Edward di dua puluh dua tahun lalu.


Ardila diam tak bisa berkata-kata. Edward mendekatinya dan memeluknya. Ardila masih tak mampu dengan semuanya. Hatinya sudah sangat hancur, kecewa dan juga sangat sakit hati.


“Sepenuhnya ini salah aku Ardila. Tidak sedikit pun ada kesalahan Edward.” Ardila perlahan luluh dan mulai percaya. Ardila pun tahu bahwa sesungguhnya Riana itu adalah mantan yang masih mengejar Edward. Bahkan saat mereka sudah menyiapkan segala hal untuk menikah. Namun, Riana tetap saja mengejar Edward.


“Di saat kamu mau lahiran. Katanya ekonomi kalian menipis. Dengan ego aku, aku memilih untuk memanfaatkan keadaan itu untuk aku merebut Edward. Aku yang memberi kalian pinjaman waktu itu. Bukan karena Edward naik gaji. Semua yang Edward lakukan. Tindakan-tindakan kasar Edward selama itu akalan aku semuanya.” Jelas Riana.


Dengan semua itu, tentu saja itu memudahkan bagi Ardila untuk luluh dan percaya. Ia membalas pelukan Edward. Mereka berdamai.


Tiba-tiba beberapa orang di antaranya sopir pribadi Ardila dan sekuriti di rumah Ardila datang membawa dua buah kue besar. Satunya bertulisan HAPPY BIRTHDAY ARDILA dengan sebuah lilin dengan angka empat puluh dan satunya lagi bertulisan We are One in God (Kita Satu dalam Tuhan).


Mereka meminta maaf atas semua kejadian yang tamu undangan lihat. Mereka jelaskan semuanya. Tanpa tersisa. Sehingga banyak yang pulang dengn memetik sisi positif dari apa yang mereka dengan dari cerita Edward.

__ADS_1


“Anak kita mana?” Ucapnya dengan tangis yang masih sangat dalam.


Selanjutnya...


__ADS_2