
Aku butuh dukungannya 🤗🤗🤗
Doakan aku yah❤️ I love you My viewer ❤️❤️
Mereka mengatur dan menata rapi semua arah. Terlihat sangat elegan, meskipun dengan bahan yang minimalis. Melihat semuanya Uslin ikut merasakan kebahagiaan yang Ariel rasa saat ini.
Tepat jam 10.00 semuanya sudah selesai. Sebentar lagi mereka akan pergi ke tokoh kue untuk mencari kue ulang tahun.
“Akhirnya kelar deh.” Ucap Wulan dengan nada lega. Ardila membalasnya dengan anggukan dan senyum. Begitu pula dengan Nia.
“Bi, kita beli kuenya di mana nih?” Tanya Ariel sambil jalan mendekati bibinya dan memeluknya dari belakang.
“Take it easy my bie. Nanti kita cari sama-sama. Ehm. Kalau menurut Ariel bagusnya di mana?” Tanya Wulan dengan tenang.
Nia dan Uslin tidak mau ikut dalam percakapan mereka. Mereka hanya menyaksikan percakapan mereka.
Tak lama handphone Nia berbunyi. Seperti ada telepon dari seseorang. Nia mengedipkan matanya sambil melihat ke arah Wulan. Kedipnya seperti mata orang yang kemasukan debu. Mengedipkan matanya berkali-kali dan seperti sedang menahan peri dan memutar-mutar bola matanya. Uslin berjalan merapikan semua hiasan yang diikat bergandengan dengan balon-balon yang lumayan besar. Ariel dengan Aldi pun kembali dengan merapikan meja-meja yang ada. Sisa Ardila, Wulan dan Nia yang masih berdiri di tempat semula. Setelah memutar-mutar bola matanya seperti itu, kemudian Nia meminta izin untuk menerima telepon.
“Aku angkat telepon sebentar dulu yah.” Ucap Nia.
“Oh. Iyah Iyah. Silakan.” Ucap Wulan dan Ardila bersamaan.
Nia pun bergegas keluar dan mencari tempat yang sedikit menjauh dari Ardila dan Wulan. Dengan tujuan agar apa yang diperbincangkan olehnya dengan pihak yang meneleponnya tidak mereka dengar.
Uslin dan Wulan sesaat saling menatap satu sama lain. Seperti merasa tahu siapa yang menelepon Nia. Namun, keduanya hanya sebatas saling melihat tanpa mengeluarkan kata-kata apa pun atau apa yang ada pada isi kepala mereka. Semuanya kembali pada aktivitas masing-masing sambil menunggu Nia selesai menelpon.
Sesaat Ariel jalan menghampiri mama dengan bibinya.
“Ma, Bi. Gimana kalau kita beli bahannya aja. Kita bikin kuenya di rumah aja. Aku juga udah pengen banget ngerasain kue buatan bibi lagi. Udah lama banget juga. Terakhir tuh kan waktu aku masih kelas tiga SMP.
“Ide yang bagus. Benar tuh Lan. Aku udah lama banget loh nggak pernah kamu bikinin kue. Ucap Ardila dengan nada memohon.
“Ehm. Boleh juga. Supaya kita rayainnya malam aja gitu kan seru tuh. Belum lagi kan proses buat kuenya lama kan.” Ucap Wulan menyetujui dan menjelaskan.
__ADS_1
Uslin berdiri sendiri di bagian pojok ruang itu. Tertunduk lesu. Seperti seorang wanita yang malang, sepi. Ada apa? Bukankah di tengah sana mereka lagi merayakan sebuah kebahagiaan?
“Sayang. Liat tuh.” Ucap Wulan sambil menunjuk ke suatu tempat. Gerakan Wulan diikuti oleh penglihatan Ardila dan Ariel.
“Samperin dong.” Ucap Ardila memerintahkan Ariel.
Baru melangkahkan dua langkah.
“Eh. Kamu namanya siapa sih?” Ucap pria kekar dan genit yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya.
“Aku.. Oh namaku Uslin.” Sahut Uslin dengan senyum.
Senyumnya benar-benar membuat Aldi tak berdaya. Jantungnya seakan ingin terlepas dari rongga dadanya. Namun seketika jantungnya benar-benar meloncat.
Bugh...
Suara yang sangat keras dan lantang memecahkan ruangan itu. Suara itu berasal dari sebuah meja yang dipukul Ariel. Suara itu menyebabkan Aldi terangkat dengan lompatannya sendiri ke atas dan Ardila dan Wulan pun ikut merasakan hal yang sama.
“AHHH. Mental Lo segitu doang bro.” Ucap Ariel sambil tertawa lucu mengejek Aldi.
“Hm.” Ketus Ariel dengan nada sini. Melotot tajam sambil mencakar kedua tangannya di pinggang. Aldi perlahan mundur dan lari ke belakang. Tak lain tempatnya. Yaitu di kamar Ariel, seperti biasanya. Aldi akan masuk dan memainkan game di komputer milik Ariel. Ia sudah mengerti dengan maksud dari mata Ariel. Sehingga tak perlu lama-lama lagi ia di sana. Karena ketika ia masih gerakan lambat maka sesuatu yang akan menggoncangkan jiwa dan mentalnya.
“Aku kaget tau.” Ucap Uslin. Sambil memegang dadanya.
“Maaf.” Sedikit sinis. "Wajarlah namanya orang cemburu." Ucap Ariel dalam hati.
“Kamu lapar nggak?”
“Nggak.”
“Kalau kamu lapar nggak apa-apa. Aku lapar, aku mau makan dan kamu harus makan.” Paksa Ariel.
“Aku kan nggak lapar. Kenapa harus gitu.”
__ADS_1
Bibi Wulan dan Ardila mendengar percakapan mereka. Keduanya jalan ke arah mereka berdua.
“Yah udah kita makan bareng aja yuk.” Ajak Ardila. Wulan pun mengangguk.
“Boleh tuh Ma.” Setuju Ariel.
Di tengah itu, Nia datang.
“Gimana? Acaranya itu sekarang atau nanti?” Tanya Nia.
“Rencananya malam aja, soalnya tadi Ariel pengen Bibinya yang bikinin kuenya.” Jelas Ardila.
“Oh gitu bagus deh. Biar ada kesannya juga. Tapi ngomong-ngomong aku ada urusan sebentar, aku izin pergi dulu yah.” Izin Nia sambil melihat ke arah Wulan dan mengedipkan matanya namun dengan penekanan.
“Oh. Gitu. Kita makan dulu boleh?” Tanya Ardila. Kebetulan mereka sepakat akan makan bersama. Namun, Nia tiba-tiba memiliki urusan mendadak. Jadinya mereka makanannya hanya berempat. Berlima dengan Aldi.
“Aduh. Maaf banget yah. Ardila, Wulan, soalnya ada sesuatu yang harus aku urus dengan cepat.” Ucap Nia dengan terburu-buru.
“Yah udah kalau gitu. Kamu cepat-cepat deh biar nggak telat nanganin urusannya.” Perintah Wulan.
“Iyah aku jalan yah. Shalom.”
“Shalom, hati-hati.” Ucap Wulan dan Ardila bersamaan.
“Kita masuk makan dulu yuk.” Ajak Ardila sambil berjalan menuju ruang tengah yaitu ruang makan keluarga Ariel. Diikuti oleh Wulan, Uslin dan Ariel dari belakang Uslin.
Setelah sampai di meja makan, Wulan menyuruh Uslin untuk duduk dan Ariel mengikuti mamanya ke dapur. Uslin merasa tidak enak sehingga ia pun ikut bangun ke dapur dan membantu Ardila mengangkat makanan. Sementara Bibi Wulan masih pergi ke kamarnya sebentar untuk mengecek handphonenya.
“Sayang. Nggak usah kamu tunggu sana aja. Biar tante sama Ariel yang bawain. Tenang aja sayang. Ariel memang laki-laki hanya geriknya dalam mengurus makan minum juga nggak kalah jagonya kok, hmhm.”
“Aku...” Ucap Ariel pede.
Semua hidangan mereka sudah susun dengan rapi di atas meja makan. Kursi-kursi pun sudah rapi. Uslin duduk di salah satu kursi samping. Ardila sebagai kepala keluarga duduk di kursi yang ada di bagian ujung meja. Di samping Uslin masih terdapat satu kursi kosong, Ariel memiliki untuk menempati kursi itu. Sementara Bibi Wulan duduk di kursi yang berhadapan dengan Ariel dan Uslin. Uslin dengan cepat membagikan piring-piring itu kepada semua orang termasuk Ariel. Karena memang itulah kebiasaannya saat mereka makan dengan keluarganya di kampung. Kebiasaan itu menurutnya sangat berwibawa. Karena itu, karakter itu tetap dibawanya ke mana-mana. Baginya menanamkan kepribadian yang berkarakter baik itu adalah sebuah kewajiban anak pemudi sepertinya.
__ADS_1
Selanjutnya...