Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 9 Perhatian


__ADS_3

“Bro, lo lama banget sih?”


“Udah bangun?”


“Ya udahlah Bro yakali gua ngomong sama lo dalam keadaan tidur.”


“Masih ngantuk? Tidur lagi aja jalannya masih jauh kok.”


“Hm. Gua tidur bukan karna ngantuk. Tapi karna gua sepi sendirian di mobil dari tadi.”


“Emang selama ini lo nggak sendirian.”


“Yah. Kan ini beda bro, hhh.”


“Bedanya di mana?”


“Pahamlah pastinya, hhh.”


“Lo mau diam atau status lo gua ganti jadi anak di pinggir jalan."


“Harus gitu emang, HHH.” Sambil tertawa. “Eh, ngomong-ngomong tuh cewek tadi cantik juga tuh.”


“Stop yah” Sambil melotot tajam.


“Sorry bro, sorry.” Ucapnya sambil senyum-senyum sebagai tanda minta maaf dan juga sebagai cara untuk menurunkan emosi Ariel. “Lo kok tumben-tumbenan aku kamuan, sejak kapan tuh?”


Ariel pura-pura tak mendengar, ia memfokuskan perhatian pada jalan dan mengemudi.


“Diam teruus, hhh. Gua curiga ni ama lo bro.”


“Curiga apaan sih?”


“Lo kok kaya beda-beda aneh gitu dah.”


“Agak rada-rada lo kayanya yah.”


“Posesif banget lo ama gua tiap kali gua sebut tuh cewek.”


“Jangan nora deh.”


...


Matahari perlahan menghilang. Suasana rumah perlahan mulai gelap dan sunyi. Hanya ada suara berisik kendaraan yang berlalu lalang, karena posisi rumah tidak jauh dari jalan umum.


Tampak sangat hening. Tak ada siapa yang ingin disapa dan tak ada mulut yang bisa diajak bicara. Sendirian memandang pojok-pojok rumah.


Ia termangu tanpa kata di ruang tamu. Perihal rindu ia rasakan untuk orang-orang yang ketika bersama tak pernah ada kesunyian. Orang tuanya.


Tut… tut… tut…


“Nggak aktif.”


Berkali-Kali namun tetap mendapat hasil yang sama. Ia terus mengoperasikan handphonenya untuk menelpon seseorang, tetap persis sebelumnya.


Karena tak ada yang bisa temani malamnya, ia pergi ke kamar dan meraih buku-buku yang dibeli Ariel dan menyusunnya dengan rapi di rak buku. Ia melihat cover dari masing-masing buku itu. Ia memilih salah satu dari buku-buku itu untuk ia baca. Sekaligus menjawab tugas yang diberikan oleh dosennya.


Ia memang pribadi yang pandai belajar. Setiap malamnya ia harus membaca buku. Ia tidak akan tidur sebelum jam sepuluh. Meski pun di atas jam sepuluh, ketika sebelumnya ia sibuk dengan kegiatan lain. Tetap ia akan menyisipkan waktu istirahatnya untuk membaca. Sehingga, oleh karena niatnya yang antusias itu ia berhasil mendapatkan beasiswa.


Beban untuk orang tuanya berkurang saat ia memasuki semester dua. Ia sangat senang saat namanya disebut sebagai penerima beasiswa.


Di samping itu, ia merasa bangga pada diri sendiri. Ada orang tua yang sedikit lega karena beban sudah berkurang. Ada juga teman yang menganggap bahwa ia tak pantas kuliah. Karena hanya mengharapkan subsidi dari pemerintah.


Namun ia tak pernah putus asa. Ia tak mau menghiraukan itu semua. Baginya memiliki gelar sarjana adalah target utamanya dalam pendidikan. Meski hanya S1 itu tak ngaruh bagi semangatnya.


Drrrt…

__ADS_1


Sementara membaca handphonenya bergetar. Ia mengangkat lalu melihat siapa yang kirimkan dia pesan tengah malam.


“Ariel?” Saat ia membacanya, ia membaca sebuah nama kontak yaitu Ariel. “Perlu apa dia malam-malam gini? Pake voice note lagi.” Ucapnya.


“Jam segini kok masih online?” Suara itu terdengar saat ia menekan tombol play yang ada di pesan itu.


“Centang biru kok nggak di balas,”


Drrrt… drrrt… drrrt…


Belum sempat mengetik tiba-tiba Ariel video call.


Ia menjawab dan mengarahkan pandangan ke kamera sehingga wajahnya terekam dengan jelas.


“Belum tidur kamu?”


“Belum.”


“Kenapa belum? Masih ngapain?”


“Baca buku.”


“Jam segini masih baca? Jangan paksain otak sampai larut malam begini. Ntar sakit lagi.”


“Nggak apa-apa, aman-aman aja kok, baru mau jam sepuluh doang.”


“Sekarang iyah, besok belum tentu kan? Emang jam sepuluh belum malam? l“


“Bagi aku sih belum, hhh.”


“Udah makan belum?”


“Udah."


“Benaran, tunjukin piringnya.” Ucapnya seraya tak percaya.


“Nggak usah ngeles, tunjukin piringnya aja, cepatan."


“Nggak perlu lah.”


“Nggak usah pura-pura. Kamu ke rumah teman dari jam berapa sekarang jam berapa.” Ucapannya terkesan marah.


“Seriusan Riil, nggak boong.” Ucapnya berusaha meyakinkan Ariel.


“Nggak ada alasan tunggu aku di rumahmu sekarang.”


“Udah malam Ril. Mau ngapain malam-malam ke gini?”


“Kalau untuk kamu jam sepuluh belum malam, kenapa buat aku nggak?”


“Yaah, nggak usah.”


Tut… Ariel mengakhiri video call.


“Nih orang. Benar-benar keras kepala. Udah dibilang nggak usah juga masih aja.” Ucapnya sambil berjalan menuju sebuah cermin yang dipasangnya di dinding. Ia melihat wajahnya di sana dan merapikan rambutnya.


“Maa… Mama…”


“Iyah sayang.”


“Mama di mana?”


“Kamar.”


Ariel berjalan menuju kamar mamanya. Ia mendapati mamanya sedang menjahit baju. Baju itu adalah bajunya sendiri, karena ada sedikit sobekan di bagian lengan.

__ADS_1


Bukannya mereka tak mampu beli, apa lagi sekarang mamanya sudah berhasil membuka butik. Tetapi merasa sayang ketika di buang.


“Hm mah. Tuh nasi di meja kenapa masih utuh gitu?”


“Bentar, ini bentar lagi mau selesai kok.”


“Nggak, sekarang mama makan dulu, ini biar Ariel yang beresin.”


“Bentar lagi”


“Nggak. Nggak ada bentar-bentar."


Ariel mengambil baju itu dari mamanya lalu meminta mamanya untuk pergi makan. Karena Ariel sudah di sana dan mamanya juga tahu bahwa Ariel adalah anak yang suka memaksa. Apa lagi ini untuk kebaikan dan kesehatan mamanya. Akhirnya mamanya menurut dan pergi untuk makan malam.


“Mah, aku bawain ini untuk teman aku yah. Kasian dia belum makan.”


“Teman siapa? Aldi?”


“Bukan Mah. Ada lagi.”


“Kok malam-malam, kenapa nggak ajak dia makan di rumah aja?”


“Perempuan Mah. Masa malam-malam bagadang ke luar.”


“Hah? Perempuan? Yang mana orangnya?”


“Hum. Mama.”


“Yang mana? Mama pengen tau.” Mamanya terlihat sangat kepo. Terlihat dari nada suaranya terkesan seperti benar-benar ingin tahu.


“Iyah ntar Ariel kenalin,”


“Janji yah, mama pengen liat orang seperti apa.”


“Ya udah aku pergi dulu mah takut telat. Kasian dia nunggu.”


“Nggak makan dulu?”


“Biar ntar aku makan di sana aja temani dia makan. Aku jalan dulu.” Sambil mencium tangan dan kening mamanya.


“Iyah kamu hati-hati. Bawa mobil aja biar nggak masuk angin.”


“Nggak ntar lama. Anak laki-laki mama, anaknya kuat."


Sambil berjalan dengan langkah panjang menuju ke luar dan diikuti mamanya. Mamanya berdiri di teras sambil memantau anak laki-lakinya berjalan menuju motornya.


“Ya udah, pelan-pelan.” ucap mamanya seraya melambaikan tangan pada anaknya. “Jangan ngebut-ngebut." Sambung mamanya.


Karena jalanan tak terlalu banyak kendaraan. Ia melaju dengan kecepatan maksimal. Sehingga tak perlu waktu lama ia sudah tiba di depan rumah Uslin.


“Di mana yah orangnya?” Ia mengambil handphonenya dan menelpon Uslin dengan panggilan biasa.


“Aku udah di luar nih, bukain pintu dong.”


“Bentar yah.”


Uslin berjalan keluar dari kamarnya dan menuju ke pintu depan. Lalu keluar menemui Ariel yang masih di luar pagar.


“Nekat banget sih, orang bilang nggak usah juga.”


“Buka dulu nih pintunya, jangan comel mulu, aku dingin.”


“Salah sendiri, siapa suruh keras kepala.” sambil membuka pintu pagar. “Masuk.”


“Thanks.”

__ADS_1


Selanjutnya…


__ADS_2