
“Ah. Ternyata semuanya sudah di sini aja yah, hum yang hari ini ada pendampingnya lupa sama adiknya sendiri yah.” Sindir Bibi Wulan.
“Ya ampun nggak gitu lagi.”
“Iya deh kita paham kok.” Ledek Bibi Wulan.
Ariel sama papanya hanya diam sambil tersenyum kecil melihat kedua kakak beradik itu berkelahi.
“Mari sarapan dulu.” Ucap Edward pada Bibi Wulan.
Bibi Wulan mengangguk dan berjalan menuju kursi dekat Ariel lalu duduk dan langsung mulai sarapan.
“Sayang kamu ada kelas hari ini?” Tanya Bibi Wulan pada Ariel.
“Iya Bi ntar kayanya aku ada mau ke kampus buat konsultasi skripsi sama dosen pembimbing aku.” Jawab Ariel.
“Oh gitu yah. Oh iya jam berapa?”
“Habis ini aku langsung jalan Bi. Soalnya harus on time.”
“Oh gitu.”
“Kenapa emang Bi?”
__ADS_1
“Nak. Kamu sudah semester akhir aja. Bahkan papa nggak tau gimana perjuangan kamu saat latihan jalan dan perkembangan kamu lainnya. Gimana rasanya di saat kamu belajar bicara lalu memanggil mama tanpa panggilan papa. Maafkan papa sekali lagi nak.” Bisik Edward dalam hatinya dengan berat hati ia berusaha menerima kenyataan. Bahwa ia adalah seorang kepala keluarga yang tidak bisa menuntun anak dari awal hingga akhir. Melainkan ia hanya datang di saat anaknya sudah tumbuh dewasa.
“Papa kenapa? Kok ngelamun.” Tanya Ariel pada papanya.
“Hah? Papa nggak apa-apa kok. Perasaan kamu aja kali papa ngelamun.”
“Ah masa sih?”
“Benaran papa nggak apa-apa.”
“Eh bentar kenapa emang Bi?” Tanya Ariel.
“Nggak. Sebenarnya Bibi mau minta kamu temanin Bibi. Bibi mau pamit.”
“Pamit? Belum juga berapa hari udah pamit aja Bi.” Ucap Ariel dengan berat hati.
“Iya benar. Bibi ada urusan yang harus selesaikan dulu di sana sayang.”
“Urusan apa? Perusahaan? Or?” Tanya Edward.
“Iya ada meeting penting sama partner baru dalam perusahaan aku dan aku harus hadir di sana.” Jelas Wulan.
“Ya udah kalo gitu aku cancel konsultasi aja dulu aku temani Bibi dulu aja ke bandara.”
__ADS_1
“Nggak apa-apa emang sayang? Takutnya dosennya marah lagi.”
“Nggak apa-apa Bi nanti aku bilang kok.”
“Ya udah sarapannya cepat sayang. Habis itu kita siap-siap antarin Bibi ke Bandara.” Ucap Ardila.
“Iya mam.”
Mereka pun semuanya sarapan pagi hingga selesai dan mulailah bersiap-siap untuk pergi mengantarkan Wulan ke bandara untuk terbang kembali ke Amerika. Tak lama setelah mereka selesai siap-siap semuanya berdiri di depan di teras depan. Wulan keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah koper pakaian. Ariel mengambilnya dan memasuki koper itu ke dalam bagasi mobil. Ariel menyetir mobil itu dan Bibi Wulan duduk di depan bersama Ariel. Sementara Edward dan istrinya di tengah. Mereka berangkat ke bandara.
Setelah tiba-tiba di bandara mereka langsung check-in dan lain-lain hingga menunggu waktu untuk terbang. Setelah saatnya untuk Bibi Wulan harus masuk ke dalam pesawat mereka mengantarkannya. Mereka semua saling memeluk dan berpamitan satu sama lain. Pesawat sudah siap untuk terbang mereka berdiri lalu melambaikan tangan mereka.
Bibi Wulan kali ini pulang dengan sedikit hal baik yang telah dilakukannya. Ia senang kakak perempuannya telah menemukan kebahagiaannya lagi. Kakak perempuannya telah bertemu kembali dengan suaminya dan berkumpul lagi bersama. Meskipun ia harus pulang mendadak seperti ini tetapi ia sangat puas dengan apa yang telah terjadi dan dilewatinya beberapa hari ini. Meski sebentar tetapi membawa kesan yang positif dan membawa kebahagiaan.
Ariel beserta kedua orang tuanya pulang ke rumah mereka. Tak lama di rumah Ariel langsung siap-siap untuk bertemu dengan dosennya. Ia menyerahkan dokumen skripsi miliknya kepada dosennya. Dosen menerima dokumen tersebut lalu membacanya lembar per lembar hingga pada lembar terakhir. Dokumen tebal sekitar lima puluh delapan halaman tersebut membuat dosen itu membacanya dengan penuh perhatian. Tak lama ia tersenyum lalu mengatakan sesuatu kepada Ariel dan menyuruh Ariel untuk pulang.
Ariel sangat bahagia dan sangat senang karena sesaat lagi statusnya sebagai mahasiswa akan selesai. Sesaat ia akan memegang gelar sarjana. Ia bangga dengan dirinya sendiri, masih mudah tetapi sudah memiliki banyak usaha yang cukup menghasilkan. Bukan hanya dirinya sendiri yang bangga namun kedua orang tuanya pun ikut bangga melihat anaknya yang sebentar lagi akan wisuda. Terlebih-lebih Edward, ia baru saja hadir dalam kehidupan anaknya. Ia sudah langsung menjumpai kesuksesan yang sangat tinggi menurutnya dalam kehidupan dan umur anaknya yang masih sangat mudah. Bahkan di saat ia masih kuliah saja ia sudah mampu membangun perusahaan dengan modal-modal dari hasil ia mengikuti lomba-lomba.
Edward sebagai papanya kembali merasa sedih di balik kebahagiaan yang mereka alami. Edward merasa gagal menjadi papa yang terbaik buat anak satu-satunya. Anak semata wayang yang mereka tunggu-tunggu dari sejak mereka menjalin hubungan hingga berumah tangga. Dan akhirnya Edward hanya jadi seorang lelaki yang memiliki status sebagai kepala keluarga namun tanggung jawabnya tak dapat ia penuhi. Edward berusaha untuk menutupi semua yang telah perbuat dengan ia melakukan yang terbaik kali ini untuk anaknya. Bukan berarti ia akan membayar semuanya kesalahannya dengan kebaikannya sekali ini tetapi setidaknya ada hal baik yang diperbuatnya untuk anak laki-laki semata wayangnya itu.
Ia pergi sendirian berkeliling mencari segala suatu hal dan barang-barang apa saja yang akan dipakai anaknya di saat acara wisuda nanti. Ia berbelanja dengan santai tanpa memikirkan pengeluaran lagi. Tentu saja, saat ini kehidupannya lebih baik dari sebelumnya bahkan sangat baik dan terpenuhi. Dulu ia hanya bisa bergantung pada Riana ketika ia memerlukan uang. Tetapi sekarang ia memiliki tabungan sendiri sehingga ia dapat bergerak pada ruang yang luas. Ia dapat memenuhi segala kebutuhannya dengan uang milik dan hasil sendiri. Ia mendekor sebuah hotel dengan mewah dan tentu saja biayanya tidak minim. Bukan hanya biaya sewa hotelnya saja yang harus ditanggung tetapi juga ia harus membayar tenaga-tenaga yang terlibat dalam proses pendekoran tersebut.
Karena acaranya akan langsung dilakukan dan dirayakan tiga hari ke depan maka semua hal telah dipersiapkan oleh Edward untuk hari spesial anaknya.
__ADS_1
Hari semakin mepet. Namun, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal tersebut. Bahkan Ardila sendiri pun tidak mengetahui hal itu. Meskipun ia adalah istri daripada Edward sendiri. Hal itu dirahasiakan oleh Edward untuk membuat anaknya terkejut dengan kejutan dari papanya. Lebih tepatnya Edward mau mencoba membuktikan apakah anaknya benar-benar tak lagi menyimpan sedikit amarah untuknya. Ia ingin melihat anaknya bahagia dengan apa yang telah dilakukannya. Tak lupa pun untuk ia terus berdoa dalam segala hal yang telah dilakukannya. Ia berharap semuanya dapat berjalan dengan baik dan hasilnya sesuai harapan.
Selanjutnya...