Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 25 Make something


__ADS_3

semakin meningkat level penasarannya 🤗


Nia pulang kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, handphonenya kembali berdering.


Kriing... Kriing...


“Hallo? Di mana kamu?” Tanya Nia dengan lembut dengan nada semangatnya.


“Aku di jalan. You're at home (kamu sudah di rumah?)” Tanya orang itu lewat telepon.


“Udah sampai. Do you remember the location of my house? (Kamu masih ingat lokasi rumah aku?)”


“Masih kok.”


“Ya udah. Hati-hati yah.”


Nada akhir panggilan berbunyi. Nia membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya.


Pukul 11.00.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Nia. Di atasnya bertuliskan taxi. Mobil itu diparkiran di pinggir jalan raya depan rumah Nia. Seorang lelaki berumuran empat puluh tahun turun dari dalam taxi itu. Berdiri, lalu berjalan menuju rumah Nia. Nia pun keluar dan memeluk lelaki itu seperti sangat rindu. Sehingga memeluknya dengan melepaskan kerinduannya.


“My brother. I very very Miss you.”


“Kamu pikir kamu saja? Hm?”


Lelaki itu adalah Edward. Akhirnya setelah hampir kurang lebih dua puluh dua tahun Edward kembali ke Indonesia. Sangat senang bisa kembali ke tempat di mana cinta mereka bersatu dan berbahagia. Namun, sudah dua puluhan tahun mereka tidak pernah saling menyapa. Meskipun umurnya sudah lumayan. Namun, raut wajahnya tetap seperti anak remaja. Meskipun sedikit keriput, tetap saja kekar, tampan dan sangat cool.


Mereka masuk ke dalam. Edward duduk di sebuah sofa dan Nia pergi ke belakang untuk mengambil minum dan sarapan.


Perjalanan dari Australia ke Jakarta kurang lebih 7 jam. Waktu yang lumayan lama. Tentu saja melelahkan. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa yang empuk di rumah Nia. Tak lama, Nia datang dengan membawa sarapan untuk saudaranya, Edward.


...


Di rumah Ariel, sedang bersiap-siap untuk pergi ke mall. Untuk membeli semua bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue ulang tahun Ardila.


“Gas sekarang nih kita?” Tanya Aldi dengan semangat.

__ADS_1


“Ya iyalah acaranya ini hari masa besok jalannya.” Balas Ariel judes.


“Okeh bro. Eh bentar bro gue ambilin jaket gue dulu, ntar masuk angin dong gue kalau nggak pake jaket.“ Ucap Aldi sambil tertawa kecil.


“Dasar banci lo.” Kelakar Ariel.


Bibi Wulan dan Ardila tertawa lucu melihat tingkah kedua orang bujang itu. Uslin pun ikut lucu dengan kelakuan yang konyol antara Ariel dan Aldi.


Semua telah memasuki mobil. Ariel dan Aldi di depan. Ariel mengemudi. Sementara Bibi Wulan, Ardila dan Uslin di tengah. Uslin berada di tengah-tengah Bibi Wulan dan Ardila.


“Sampe deh kita.” Kata Bibi Wulan.


“Yuk masuk.” Ajak Ardila sambil menggandeng tangan Uslin dan tangan Bibi Wulan dan masuk bergandengan. Ariel dan Aldi pun keluar. Seperti biasa, bujang genit itu tidak akan pernah berhenti menggoda cewek-cewek yang ada di depan mall. Jika tidak maka dia akan mengedipkan matanya ketika cewek cantik di sana melihat ke arahnya.


“Terus. Pulang lo tinggal.” Ketus Ariel kesal dengan kelakuan temannya.


Tiba di mall. Semuanya masuk. Ariel dan Aldi langsung mengangkat keranjang dorong yang akan menyimpan semua barang belanjaan mereka. Uslin pun berjalan mengikuti mereka. Mereka memasukkan semua apa yang ingin mereka belanjakan ke dalam keranjang itu. Ariel dan Aldi mendorongnya hingga mereka selesai berbelanja.


Ardila merupakan tipe wanita yang suka jajan. Dalam perjalanan ia selalu mengunyah makanan dan ngemil jajan lainnya. Adapun Uslin dan Bibi Wulan ikut ngemil.


Pukul 12.36.


Sudah lumayan siang. Semuanya sudah kembali ke dalam mobil dan siap mengemudi untuk pulang. Ariel tetap membawa mobil dengan sangat kontrol. Sepi seperti apa pun jalanan. Ia tetap ingat bahwa ia tak sendiri. Melainkan banyak nyawa mengikutinya dari belakang.


...


Tiba di rumah.


“Sampai ke rumah lagi...” Kata Bibi Wulan dengan senyum yang terukir.


“Waktunya Bibi bekerja...” Balas Ariel lalu tersenyum.


Mereka memulai pekerjaan mereka. Semuanya ikut membantu Bibi Wulan. Selain Ardila.


“Kamu sekarang istirahat aja. Biar aku sama my bestie yang kerjakan yah. Hmhm.” Ucap Wulan kepada Ardila. “Hari ini dari sekarang adalah hari kami. Jadi kamu harus istirahat dulu sebelum semuanya dimulai.” Kelakar Bibi Wulan kepada kakak perempuannya itu.


“Tapi kan. Mana mungkin aku biarin kalian kerja sendiri.” Sahut Ardila dengan merasa tidak enak dengan semuanya.

__ADS_1


“Aman Tante.” Kata Aldi.


“Nggak apa-apa Tan. Tante harus istirahat.” Ucap Uslin pula.


“Benar Ma. Mama ambil waktu dulu aja deh. Di sini ada super Hero Mama. Jadi pastinya semua aman.” Tambah Ariel sambil mengecup kening mamanya dan menggiring mamanya ke dalam kamar.


...


“Siap deh... Sayang kamu taruh di kulkas yah.”


“Okeh Bi.”


“Sayang pelan-pelan. Jangan sampai miring yah. Ntar rusak.” Peringatan Bibi Wulan.


“Aman Bibi sayang.”


Kue ulang tahun untuk Ardila telah siap.


“Kamu sama kamu ke kamar buat istirahat. Bibi sama my cute want to do something. Okeh.”


“Something?” Tanya Ariel.


“Yes. Something. Ini rahasia perempuan. Nggak boleh loh.”


“Iyah deh. Eh Kambing hitam dengar nggak?” Ucap Ariel sambil menghadap ke arah Aldi.


Aldi kemudian menoleh ke kiri lagi mengikuti gerakan Ariel, lalu berkata “Eh kelinci putih Lo dengar nggak?” Ucapnya sambil tertawa dan mencubit telinga boneka kelinci yang disimpan di rak kecil di bagian sudut dapur sebagai pajangan.


“Menyahut aja lo. Lo mau tuh mulut gue pindahin ke tulang belakang?” Kesal Ariel lagi.


“Coba aja kalo emang Lo bisa bro.” Nantang Aldi. “Bibi aku ke kamarnya my bro dulu yah. Eh kelinci masuk nggak lo. Lo dengar nggak?” Kelakar Aldi sambil memukul kecil pada boneka kelinci yang lebih besar yang berada di dekat boneka kelinci yang kecil dan berlari menuju kamar Ariel. Ucapan itu mengundang emosi Ariel. Karena itu benar-benar ejekan.


“Benar-benar lo yah.” Sambil mengejar Aldi yang tengah berlari.


Uslin dan Bibi Wulan pun melanjutkan pekerjaan mereka yang dirahasiakan itu. Mereka sibuk dengan mondar mandir menyelesaikan misi rahasia mereka. Tanpa seorang pun melihat mereka. Bahkan Ardila sendiri pun tidak mengetahuinya. Dikarenakan Ardila sedang mereka pinta untuk beristirahat. Lalu dengan kedua orang bujang judes dan jahil itu pun tidak mengetahui apa yang akan mereka kerjakan. Mereka sibuk dengan game di dalam kamar sementara Bibi Wulan dan Uslin sedang ramai dengan tujuan mereka.


Selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2