Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 36 Pelukan di balik puluhan mata


__ADS_3

Air mata masih terus membanjiri pipi lucu milik gadis itu. Hal itu membuat sang pria tak sanggup melihatnya terus menangis. Ia memeluknya dan berbisik di telinganya.


“Berhentilah menangis. Aku nggak akan bertanya seperti ini lagi.” Ucap Ariel sambil memeluknya erat. Uslin pun mengangguk dan perlahan mencoba untuk berhenti mengeluarkan air mata. Pelukan Ariel yang hangat itu berhasil membuatnya kembali tenang dan berhenti menangis.


“Hari bahagia aku, aku nggak mau lihat orang yang aku sayang satu orang pun menangis karena hal lain. Maaf jika pertanyaanku membuatmu sedih.”


“Ikut aku sekarang juga.”


“Tapi Ril, aku nggak pantas...”


“Kata siapa? Ria? Sudahlah berhenti mendengarkan ocehan nenek lampir itu. Dia sama sekali nggak ada hubungannya sama kita.”


“Aku nggak pantas...”


“Nggak pantas apa lagi Lin?”


“Aku hanya wanita miskin dan nggak pantas buat dekat sama kamu.”


“Jangan dengar kata...” ucapannya terhenti karena Uslin langsung memotongnya.

__ADS_1


“Kamu bisa bilang begitu tapi kamu nggak pernah rasa apa yang aku rasa. Aku sadar aku wanita hina nggak selevel sama kalian. Tapi aku ini juga manusia apa aku harus terus menerus di bawah kalian? Bahkan untuk kuliah saja aku harus dengar apa kata kalian. Kalian kenapa tidak punya moral, aku juga ingin seperti kalian. Apa itu salah?” Teriak Uslin mengeluarkan semua rasa sakitnya sambil menjambak rambut sendiri. “Hah? Itu juga salah?” Lanjutnya dengan teriakan.


Mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh Uslin, semua mata tertuju kepadanya. Ada menganggukkan kepala menyetujui apa pernyataan Uslin. Bahkan mereka tahu betul apa yang sudah dialami Uslin selama berhadapan dengan senior Ria dan teman-temannya.


Di tengah teriakan Uslin Ariel tengah melotot ke arah seseorang yang berdiri di balik pohon bagian samping kantin. Sepertinya orang itu menguping keadaan yang sedang terjadi. Siapa lagi kalau bukan Ria si biang masalah itu. Ria berdiri sambil melihat Uslin yang sedang marah. Namun, saat Ariel tahu siapa yang sedang menguping itu ia sigap memeluk gadisnya dengan lembut. Tetapi tatapan matanya seperti seekor singa yang akan menerkam mangsa. Ria tampak takut dengan tatapan Ariel. Ia mulai mundur perlahan dan lari. Tetapi aksinya gagal karena ia di tangkap oleh dua orang mahasiswa semester atas yang merupakan tetangga Uslin. Mereka baru saja selesai praktik sehingga mereka baru lagi hadir di kampus. Kedua orang wanita bertubuh langsing dan rambut berurai itu memegang kedua tangan Ria. Pegangan mereka membuat Ria berontak melepaskan diri. Namun mereka tak peduli, mereka menariknya dan membawanya dekat Ariel dan Uslin. Bukan hanya mendekatkan jarak mereka bahkan mereka berdua mendorongnya hingga tersungkur di tanah.


“Apa sih kalian?” Teriak Ria sambil berusaha untuk berdiri. Tetapi kedua perempuan itu kembali mendorongnya. Keadaan Ria yang sedang berlutut di depannya. Membuat Uslin merasa bersalah dan hendak membungkuk untuk menarik Ria berdiri. Kedua perempuan itu menggelengkan kepala.


“Heh, Ria apa sih salahnya sama Lo? Dia gadis ramah dan sebaik ini Lo masih saja jahat sama dia.” Ucap Endang salah satu dari kedua perempuan yang menyeret Ria tadi.


“Tahu Lo. Gue jadi nggak ngerti sama jalan pikiran Lo.” Lanjut Yuni sahabat Endang.


“Ril. Sudahlah Ril, aku sudah capek dengan semua ini. Biarkan saja aku sendiri Ril, please lepasin aku.” Namun tidak ada yang peduli dengan permohonannya. Tangan besar pria itu terus memeluknya. Melihat tangan Ariel yang merangkul utuh tubuh kecil Uslin membuat Ria panas hati. Karena itu ia lari dengan kesal dan marah. Sementara kedua perempuan yang merupakan tetangga Uslin berjalan menuju kelas mereka tanpa menegur Uslin dan Ariel. Karena kedua wanita itu tahu apa yang harus mereka lakukan.


Kedua insan itu masih bersatu dalam pelukan di balik puluhan pasang mata yang ada di sana. Tanpa pikir panjang, Ariel menggendong wanitanya lalu berjalan dengan tegak ke dalam gedung. Uslin pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia terpaksa diam saja dalam gendongan Ariel.


“Loh sayang ini kenapa? Apa yang salah Ril? Ada yang sakit nggak? Yang mana yang sakit?” Panik Ardila sambil melemparkan pertanyaan sebanyak yang ia angkat dari apa yang bergerak dalam memorinya.


“Sayang ngomong pelan-pelan semua pada liatin kita loh itu.” Ucap Edward sambil mengelus lembut di bahu istrinya. Edward terkejut bersamaan dengan orang-orang yang berada di ruang tunggu itu saat mendengarkan ucapan Ardila yang tidak ada titik koma.

__ADS_1


“Maaf Pak, Bu. Ini kenapa sayang? Kamu sakit sayang?” Tanyanya lagi, namun dengan suara yang pelan dan paniknya tetap belum hilang.


“Iya mam sakit.” Jawab Ariel dengan tegas sementara Uslin masih dalam pelukan dan gendongannya.


“Apa yang sakit hm?”


“Hatinya yang patah!”


“Hah? Maksudnya sayang? Hm mama ngerti nih. Pasti gara-gara si Ria itu kan?” Setelah bertanya tiba-tiba Ardila langsung paham. Tentu saja, karena Ardila masih baik-baik saja sehingga ingatannya belum berkurang sedikit pun juga. Hanya Ria saja yang menghampirinya dengan kelembutan palsu di tempat parkir tadi.


“Mau siapa lagi mam!”


Di tengah perbincangan mereka Uslin memberontak ingin turun. Ariel pun menuruti kemauannya dengan menurunkan gadisnya dan berdiri sendiri. Ardila memeluknya tanpa pikir-pikir. Tak hanya memeluknya saja, Ardila pun meminta Uslin untuk jangan pernah peduli dengan wanita munafik yang bernama Ria.


“Sayang masih sedih?” Tanya Ardila dengan lembut, Uslin hanya menganggukkan kepalanya petanda ia mengiyakan pertanyaan Ardila.


“Sudah yah jangan sedih lagi. Tante minta kamu jangan pernah dengar kata-kata si perempuan munafik itu. Tante sendiri sudah nggak ada rasa suka sedikit pun dengannya. Jadi tante tegaskan kamu nggak perlu dengar kata-kata busuk yang keluar dari mulutnya.”


“Aku sih nggak apa-apa tante kalau misalkan aku yang dihina, direndahkan dan lain-lain. Tapi kenapa harus dibawa-bawa dengan background keluarga aku. Iya benar aku ini berasal dari keluarga yang nggak mampu, yang miskin. Tapi apa harus orang tua aku dilibatkan dalam persoalan hidup aku. Mereka nggak tahu apa-apa, mereka harusnya hidup tenang-tenang di kampung aku tante. Itu alasannya kenapa aku harus ikuti kata-katanya dia. Aku nggak mau mereka harus dibawa-bawa tante.” Jelas Uslin dengan terbata-bata karena ia berkata sambil menangis. Tentu saja ia sangat sakit hati. Siapa pun orangnya tentu tidak ingin orang tuanya harus dibawa-bawa dalam masalah yang dialaminya. Walaupun hinaan yang datang itu memang berdasarkan fakta yang ada. Tetapi tak layak ketika orang tua yang harus menjadi korban. Tetapi pada dasarnya mereka tidak tahu menahu mengenai hal apa pun, walaupun itu anaknya sendiri.

__ADS_1


Selanjutnya...


__ADS_2