
Don't forget to like and follow aku yah ❤️❤️ And happy reading guys ❤️
“Aku takut kamu yang dulu itu reapper lagi gitu loh, aku khawatir dengan keadaan kamu tau nggak?”
“Nggak apa-apa. Aku yakin aku sekarang udah aman sih. Dalam pikiran aku tuh hanya untuk masa depan anak aku.”
“Memang harus itu yang kamu lakukan. Namanya anak yah kita harus didik mereka ke jalan yang benar. Bagaimana pun juga kan kita yang sudah mengerti tentang tangga dan segalanya. Apalagi tentang persoalan sayang menyayangi.”
“Ehm. Coba deh ceritain, aa why do you no want to listen your boy tentang menawarkan gitu?”
“Jadi gini, sih…”
Dua puluh satu tahun lalu…
“Maa. Bikinin aku teh hangat.” Ucap seorang lelaki rada sombong yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Lelaki itu bernama Edward. Dia adalah suami Ardila, ayah kandung Ariel.
“Iyah pah. Bentar.” Balas Ardila dari dalam kamar dengan terburu-buru. Tak lama ia datang dengan membawa the hangat itu dan meletakkannya di atas meja. Meja itu terletak tepat di depan Edward.
__ADS_1
“Ini pah. Tehnya.”
Edward lalu mengangkat sedikit kepalanya dan melihat ke arah tempat teh itu diletakkan, yaitu di atas meja. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyahut Ardila. Setelah melihat reaksi Edward, tak lama Ardila mengingat bahwa dia lalai dan membiarkan sesuatu yang ada di dalam kamar.
“Oh. Aku ke kamar dulu pah, Ariel sendirian di dalam.” Sambil berbalik badan dan kembali ke dalam kamar.
Saat ia mendekat pintu kamar terdengar suara tangisan bayi. Ternyata Ariel terjatuh dari tempat tidurnya. Tentu saja Ariel akan jatuh. Tempat tidurnya pun sangat kecil. Jadi tidak leluasa untuk membiarkan bayi sendirian di sana. Bahkan pemalang bagian pinggir ranjang itu pun tidak ada. Saat itu Ariel sudah berumur hampir satu tahun. Ariel belum bisa berdiri seperti anak-anak lain pada umumnya. Mungkin karena dia kekurangan asupan gizi. Bagaimana tidak? Bahkan ia terlihat tidak terlalu terawat. Di mana Edward, suaminya tidak mengizinkan Ardila mengambil pembantu untuk membantunya mengurus rumah. Semua pekerjaan rumah harus ia urus tepat waktu, kalau tidak sudah pasti akan ada permasalahan lagi dalam rumah. Bahkan sulit untuknya mengambil waktu untuk istirahat. Karena setiap hari dia hanya menghabiskan waktu dengan membereskan keadaan rumah.
“Oh my God!!” Sambil berlari dan ternyata menemukan Ariel terbaring di lantai dan menangis. Secepat kilat Ardila mengangkat dan merangkul anaknya ke dalam pelukannya dan meminta maaf sambil menangis.
“Maafin mama sayang, mama benar-benar lalai.” Ardila sangat merasa bersalah. Oleh karena itu ia menetapkan tujuan hidupnya untuk anaknya untuk membimbingnya ke jalan yang menurutnya baik.
“Eh. Ardila. Kamu jadi istri nggak becus banget sih. Itu anak berisik banget tau nggak?”
“Pah? Kamu kenapa begini? Ini anak kita Pah? Kenapa kamu nggak pernah perhatian sama anak kamu sendiri?”
“Pah?” Penuh tanda tanya dalam benak Ardila. Kenapa suaminya tiba-tiba berubah? Padahal sebelum mereka punya anak, Edward terlihat sangat romantis dan merupakan suami perhatian menurut Ardila. Itulah alasan Ardila untuk menikahinya di masa lalu. Namun seiring dengan berjalannya waktu selang Ardila lahiran. Tiba-tiba sikap Edward berubah drastis.
__ADS_1
Tujuan Ardila menemuinya adalah untuk meminta agar mengantarnya ke rumah sakit untuk cek keadaan Ariel. Namun belum mengeluarkan kata-kata saja Edward sudah langsung membentaknya. Itu membuatnya merasa bahwa ia tidak akan berhasil meskipun dengan memohon.
Ardila berjalan sendiri ke rumah sakit. Di sana Ardila mendaftar anaknya untuk cek kesehatan. Tak lama kemudian dokter memanggilnya dan ketika hasilnya keluar ternyata anaknya baik-baik saja. Meskipun kecelakaan yang menimpa anaknya sebelum itu bukanlah hal yang aman bagi anak kecil seusia Ariel.
Ketika pulang Ardila meminta uang belanja. Ternyata Edward malah lebih dari biasanya. Hari ini Edward sama sekali tidak memberinya uang belanja lagi. Mulai saat itu Ardila memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua beberapa hari sebelum ia mendapatkan pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan anaknya.
Ia pergi diam-diam saat Edward pergi kerja dan mengganti nomor telepon dan media sosialnya di tutup.
Pada sore hari ketika Edward pulang kerja. Ia mengetuk pintu berkali-kali tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Sesaat ketika dia tidak sengaja kesal dan menendang karpet yang ada di depan pintu itu. Kelihatan sebuah surat yang tertulis “Pah. Maaf kalau aku nggak bisa jadi apa yang kamu mau. Aku nggak tau salah aku apa? Kapan aku pernah berselisih dengan kamu? Tapi sejujurnya hati ini sakit pah. Kalau memang kamu tidak menyukai kehadian Ariel. Biarkan aku merawatnya sendiri saja pah. Karena perubahan kamu sangat terlihat ketika Ariel sudah ada dalam pelukan kita. Bahkan senyuman pun tak pernah aku jumpai di bibir kamu selama hampir sepuluh bulan terakhir ini. Maafin aku pah. Ini darah daging aku. Aku nggak mau biarin dia menderita apalagi dia harus menanggung rasa lapar setiap harinya.” Dan di ujung kanan surat itu tertulis Ardila.
“Tuhan.” Seru Edward dalam hatinya sambil menangis. Seorang lelaki yang selama ini dianggap angkuh dan sombong ternyata bisa juga meneteskan air mata.
“Ardila maafin aku.” Sambil menangis dan duduk jongkok sambil mengangkat dahinya dan terus menangis. Penuh ketulusan sepertinya. Matanya bergerak sedikit, terlihat ujung kunci di bawah karpet itu pula. Kunci itu ada kunci semua pintu dalam rumah itu. Lelaki berumur dua puluh tahun itu kemudian masuk ke dalam rumah. Saat ia hendak membuka pintu dengan wajah sedih tiba-tiba menarik kembali pintu itu. Kemudian seolah mengatur suasana mukanya agar terlihat biasa-biasa saja seperti seorang Edward yang membenci Ardila. Tingkahnya seolah agar tidak ada yang curiga.
Dari sore itu hingga tengah malam ia hanya membolak-balik badannya di atas ranjang. Kesepian menyelimutinya sejak Ariel lahir. Saat itu dengan penuh amarah ia keluar dari kamar dan menatap tajam ke sebuah titik kecil berwarna hitam di pojok loteng rumahnya. Tepat di ruang tamu. Benda itu adalah cctv yang di pasang oleh Riana atas dasar kesepakatan dengan Edward.
Dan menunjuk penuh kebencian pada benda itu. Tak lama ia mengambil sebuah pisau lalu melemparkan benda itu. Hingga pecah dan tidak berfungsi. Ia berteriak memanggil istrinya dan anaknya. Tidak ada suara yang membalasnya dan suara tangis rewel anaknya pun tidak dia dengar. Sangat kacau pikirannya saat itu. Ia mengangkat telepon genggamnya dan mengotak atik. Seperti sedang menelpon seseorang. Seperti tidak ada tanggapan. Ia melemparkan sebuah guci mahal yang ada di hadapannya ke arah tembok. Guci itu pecah dan terhitung jumlah pecahannya.
__ADS_1
Selanjutnya...