
“Ayo pulang.“ Ajak Uslin dengan raut wajah yang masih tersipu malu karena kejadian konyol yang baru saja terjadi di antara mereka.
“Emang mau pulang sama aku? Kenapa tadi pergi? Kan aku sudah ada di sana kenapa masih lari?"
“Nggak paham banget sih. Kamu nggak ngerti perasaan aku. Aku marah tapi aku takut. Kak Ria itu senior.“
“Nggak ada senior junior. Semua sama. Dianya aja yang sombong.” Kata Ariel.
Memang benar. Di mata Ariel semua mahasiswa itu sama. Ariel tidak melihat siapa pun dari tingkat pendidikannya atau pun ekonomi. Melainkan dari sifat dan kedewasaannya.
“Memang benar kata Ariel. Buktinya Ariel juga sama-sama senior dengan kak Ria. Malahan lebih hebat Ariel dibanding kak Ria tapi dia nggak seperti kak Ria.” Bisik Uslin dalam hatinya. Seperti Uslin mulai mengagumi Ariel.
“Kok diem? Jadi perempuan itu nggak boleh lemah. Masa iya sih? Seorang Uslin yang sebenarnya kuat, kerja jadi kuli bangunan bisa. Aduk campuran bisa. Kenapa jadi lemah hanya karena seorang perempuan resek kaya Ria.”
Uslin terdiam dan memikirkan kalimat yang di ucapkan Ariel barusan. Uslin tak tahu harus bersikap seperti apa. Ketika dia berani melawan Ria, kemungkinan besar dia langsung di DO dari kampus. Secara, rektor kampus itu adalah pamannya Ria. Orang tuanya Ria adalah pemilik perusahaan terbesar dan sangat terkenal. Karena itulah sehingga membuat Uslin tak berani bertindak lebih.
“Kita pulang aja."
Karena sudah lumayan lama mereka berdiri di sana. Muka putih Uslin memerah. Uslin hanya mengenakan baju kemeja berkerak, berlengan setengah. Sehingga bajunya hanya menutup batas sikunya. Jari-jarinya terlihat memar karena terbakar sinar matahari. Uslin memang bukan keturunan orang berkulit putih. Tetapi kulitnya terang. Melihat hal itu, Ariel Membuka jaketnya dan memakaikannya pada Uslin.
“Nggak usah pulang aja” Ucap Uslin
“Nggak! Pake! Baju kamu basah. Di sebelah situ ada mall. Ayo..“ berjalan menuju motor.
“Ke mana? Mall?”
“Ganti baju kamu.” Memakai helmnya dan naik ke atas motor.
Pada saat helm sudah ia pakai. Ariel tiba-tiba ingat bahwa dia hanya membawa sebuah helm? Bagaimana dengan Uslin? Ariel turun kembali dari motornya dan memakaikan helm itu pada Uslin dan menarik tangan Uslin lalu jalan menuju motor. Di saat yang sama Uslin bingung.
“Kamu nggak ada helm?”
“Aku aman."
“Ke mall. Aku nggak punya cukup uang. Tapi nggak mungkin aku bilang.” Uslin berbisik dalam hati.
“Ntar kelamaan masuk angin. Naik.” Perintah Ariel.
Uslin masih terus berdiri dan memikirkan hal yang sama.
“Mau naik sendiri atau aku gendong?”
“Ya... Ya udah deh.” Dengan terpaksa Uslin naik ke atas motor.
Pada saat ingin menyeberang. Uslin memberanikan diri untuk jujur bahwa ia tak punya uang.
“Ril. Aku, aku nggak punya uang." ucap Uslin ragu-ragu.
“Emang siapa yang suruh kamu bayar?“
“Kamu?”
“Iyah lah. Emang siapa yang ajakin?”
__ADS_1
“Kamu serius?”
“Emang kapan aku pernah bercanda?”
Uslin diam mendengarkan kata-kata itu. Ia merenung tentang ketulusan Ariel padanya.
“Duh. Kok keras banget sih?” Uslin terlihat kesusahan saat membuka kancing helm. Ariel masih diam dan melihat Uslin berusaha membuka kancing helm itu. Ariel juga terkadang suka malu ketika ia terlalu dekat dengan gadis yang ia sukai. Ariel ingin membantu. Namun, niatnya diberhentikan oleh rasa malunya. Karena Uslin menarik tali pengikat terlalu keras sehingga kulit jari manisnya tergores oleh pinggir kaca helm. Hal itu membuat Ariel panik. Ariel berjalan dengan jantung yang berdetak tak karuan ke arah Uslin dan membantu membukanya.
“Kamu sih. Cuman nyebrang doang pake helm segala.”
“Utamakan keselamatan. Bukan susahnya. Kalau misalkan kenapa-kenapa di jalan tadi emang kamu jamin bakal baik-baik aja. Kamu yakin nggak akan ada apa-apa sama kamu?”
“Ya ampun Ril. Comel mulu ke mak tiri tau nggak.”
“Yang penting tujuan aku untuk peduli sama kamu.”
“Bucin banget sih.”
“Nggak apa-apa bucin, yang penting aku tulusnya nggak pernah minta patungan.”
“Hm. Iyah deh.” mata Uslin terarah ke pintu mall. Ingin masuk tapi malu.
“Yuk!” jantungnya berdebar tak karuan. Ariel berusaha agar ia tidak gugup. Dia memegang tangan Uslin dengan lembut dan masuk ke mall. Karena Uslin adalah gadis cuek. Sehingga pada saat Ariel memegang tangannya ia tetap berjalan santai. Padahal Ariel sengaja berbuat demikian agar Uslin mau menggandeng tangannya. Namun Uslin sama sekali tak ada kepekaan. Ia melangkah dengan santai seperti lelaki dan menjadikan Ariel wanitanya. Ariel yang menggandeng tangannya.
Semua orang dalam mall tampak bingung terheran-heran. Biasanya pasangan-pasangan kalau masuk mall dengan keharmonisan dan romantis juga dandan yang rapi. Para wanita yang menggandeng tangan lelaki mereka. Tapi ini kok malah sebaliknya. Wanitanya yang di gandeng. Sudah begitu yang tampilannya berantakan juga wanitanya.
“Itu pacarnya yah? Kok kusut banget.” Kata seorang pelayan dalam mall. Uslin hanya melotot santai. Karena ia sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu. Tetapi Ariel yang dahinya jadi berkerut-kerut dan lirikannya pun tajam sekali. Ariel menggaruk hidungnya padahal sebenarnya tidak gatal.
“Maaf Pak. Maaf.”
“Baik pak. Mari Mbak.” Pelayan itu mempersilakan Uslin mengikutinya ke ruang ganti.
“Aa Mbak. Yang itu juga yah!” Ariel menunjuk ke patung yang dikenakan dress berwarna hijau daun. Di mana dress itu adalah dress yang membuat Uslin terpanah.
“Oh iyah. Baik Pak.”
Pelayan itu berjalan sambil menunjuk jalan kepada Uslin untuk menuju ruang ganti. Ketika Ariel melihat mereka pergi ke sana. Ariel mengikuti mereka. Mbak pelayan itu menarik kain pembatas pada ruang ganti itu dan menyuruh Uslin masuk. Ariel pun berjalan menuju Uslin.
“Eh, maaf Pak. Ini ruang ganti.” Jelas Mbak pelayan.
“Mau ikut juga kamu? Mau ngapain? Bantuin?“ ujar Uslin sambil tertawa ejek dan menggigit bibir bawanya.
Ariel jadi malu. Entah karena ia tidak fokus atau mungkin Ariel lupa bahwa itu adalah ruang ganti.
“Silakan Mbak.” Kata Mbak pelayan.
Baju-baju itu sudah dihantarkan oleh Mbak pelayan ke dalam ruang ganti. Tinggal Uslin mencobanya satu per satu. Karena Uslin tidak tahu bahwa dress yang disukainya tadi juga dibawa pelayan. Uslin kaget ketika melihatnya. Karena ia menyukainya, maka Uslin memutuskan untuk mencoba dress itu terlebih dahulu. Setelah mencobanya Uslin keluar.
“Gimaa Ril? Ini cocok nggak?”
Dengan malu-malu Uslin menanyakan itu. Dress itu berwarna hijau dan berlengan pendek. Sedikit seksi di bagian dada dan perutnya. Kembang di bagian bawanya. Sehingga sangat seimbang dengan dengan tubuh langsing Uslin. Sebenarnya Uslin tak menyukai dress. Apa lagi yang ada manik-maniknya. Karena Uslin sering merasa ribet.
Sudah sekitar lima menit Uslin berdiri tepat di depan Ariel. Ariel masih senyam-senyum sendiri tanpa sepatah kata pun. Matanya terlihat sangat terpanah. Matanya naik turun naik turun memperhatikan Uslin yang mengenakan dress cantik itu.
__ADS_1
“Tuhan... Cantik banget ciptaan-Mu ini!” Ucapnya dengan lembut dan matanya belum berkedip sama sekali selama Uslin berdiri di sana. Uslin terlihat tak paham dengan tingkah aneh dari Ariel. Uslin menoleh ke arah Mbak pelayan berada dan alisnya diangkat sebelah. Seolah mempertanyakan sesuatu. Mbak pelayan hanya menggelengkan kepalanya, mengangkat bahunya lalu menahan sebentar dan melepaskan dengan perlahan.
“Aril... Aril..." Uslin mendekati Ariel dan menepuk bahunya. “Pegal nih."
“Hah? Eh, cantik kok cantik.” karena kaget sekaligus panik, Ariel menjawab tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan Uslin.
“Ril. Maksud aku bajunya udah seimbang dengan badan aku atau belum? Kok malah cantik? Emang aku cantik?“
“Em. Itu, iyah udah, udah kok. Udah pas.” Dengan gerogi sekali Ariel berkata.
“Mana-mana yang mau dibeli pak?”
“Semuanya aja Mbak.
"Diborong Pak? Nggak dicobain lagi pak?”
“Nggak usah Mbak. Udah pasti cocok kok.”
Mbak pelayan membungkus semua baju-baju itu. Mereka diarahkan ke kasir untuk melakukan pembayaran. Uslin tambah heran. Kenapa semuanya?
“Dengan ini yah." menunjuk ke lemari, yang terdapat beberapa rak yang diletakkan sepatu-sepatu berkualitas dan mewah.
“Untuk siapa itu?”
“Kamu!” jawabnya dengan kaku.
“Tapi aku nggak biasa pake gituan.”
“Nanti juga biasa!" Ariel menarik napas pendek panjang. Ariel tak mau melihat Uslin. Pura-pura memilih-milih sepatu. Ariel malu karena sudah ngelamun di depan mata Uslin sendiri.
“Yang mana aja pak? Karena di sini ada banyak mereknya dan stoknya sisa satu dari masing-masing pak.”
“Ya udah, semuanya aja,”
“Wah, sultan benaran ini mah." Bisik mbak pelayan itu.
“Aril, ini mahal loh.”
“Kelihatannya nggak seberapa? Ini saya bayar pake kartu aja Mbak."
“Iyah pak. Baik. Tunggu yah. Kami proses dulu.”
“Iyah."
“Yah ampuuun Mbak. Cepatan dong. Jantung gue udah mau copot nih." Ariel berbisik-bisik dalam hatinya. Ariel berusaha agar jangan sampai mata mereka berdua bertatap. Sangat tak mampu lagi ia menahan perasaan yang membuat hatinya berdebar-debar. Ariel mondar mandir ke sini ke sana, dengan maksud agar bisa mengurangi rasa groginya. Namun tetap tak berhasil.
Di balik itu, Ariel kembali melihat pada barang belanjaannya yang sekitar belasan tas itu. Bingung. Ariel menggigit bibir bawahnya dan menggelengkan kepala. Sesaat dia meniup angin kencang-kencang dalam mulutnya, membuat pipinya kembung. Menggaruk kepala belakangnya. Sesaat lagi menatap barang belanjaan tadi. Saat itu Uslin sedang pergi dengan mbak pelayan itu untuk mencoba beberapa sepatu yang terlihat kebesaran dan kekecilan. Sehingga butuh percobaan.
“Gimana caranya gue bawah barang sebanyak ini? Malah gue bawa motor lagi.” Ucapnya. Sementara berdiri dan Uslin datang.
“Ehm, kamu tunggu sini sebentar yah. Aku ke toilet dulu. Nggak lama.”
“Yah udah. Iyah.”
__ADS_1
Ariel berlari ke suatu tempat. Mencari tempat yang tersembunyi dari penglihatan Uslin. Ariel berdiri di samping sebuah lemari yang berisi mainan anak-anak. Menyalakan handphonenya lalu memasangnya ke telinga.
Selanjutnya...