Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 37 Paman Kedua Ria


__ADS_3

“Iya sayang. Tante ngerti perasaan kamu, tapi sudah yah tante nggak mau lihat kamu sedih terus-terusan. Kalau misalkan besok lusa dia ganggu kamu lagi tante sendiri yang akan bicara yah sayang. So, never be sad because of it again, okeh?”


“Iya tante makasih sudah mengerti aku.”


“Iya sayang sama-sama.”


Pada saat mereka sedang berbicara ternyata sedari tadi Ariel tak di sana. Ariel sedang pergi karena dipanggil oleh dosen pembimbingnya.


Ariel mengetuk pintu dan seseorang membukanya dari dalam. Seorang dosen muda yang merupakan satu tim dengan dosen pembimbingnya.


“Selamat pagi Ibu.”


“Iya pagi.” Jawab dosen muda itu dan langsung segera keluar.


“Permisi Pak. Bapak memanggil saya?”


“Yah masuk.” Ariel pun mengangguk dan masuk dan segera duduk di sebuah kursi yang bersebelahan meja dengan dosen pembimbingnya. Tatapan dosen pembimbingnya itu membuat Ariel tak mengerti apa maksudnya.


“Ada apa Bapak?”


“Kamu masih berani bertanya seperti itu pada saya?”


“Apa maksudnya Bapak? Sejujurnya saya tidak tahu apa tujuan saya dipanggil ke sini Bapak. Maka itu, sehingga saya bertanya Bapak.” Jawab Ariel dengan santai dan sedikit pun tak merasa bersalah. Karena memang pada dasarnya Ariel tak tahu apa kesalahannya dan bahkan ia sama sekali tak merasa ia melakukan kesalahan.


“Apaan sih maksudnya.” Gumam Ariel dalam hatinya. Sikap dingin dosen pembimbingnya saat ini membuat Ariel terheran-heran. Tentu saja, terakhir mereka bertemu adalah saat Ariel pergi mengonsultasikan dokumen skripsinya untuk yang terakhir kalinya. Saat itu suasana terlihat baik-baik saja.


“Perlihatkan semua kesalahanmu hari ini. Kamu sama sekali tak tahu berterima kasih kepada saya.”


“Maaf Bapak. Saya benar-benar tak paham apa yang Bapak maksudkan. Bisakah Bapak untuk langsung berterus terang saja?”


“Berani kamu minta terus terang?”

__ADS_1


“Lalu dari mana saya bisa tahu kesalahan saya Bapak?”


“Lihat ini!!” Ucap dosen pembimbingnya dengan sangat marah tetapi suaranya dipelankan. Karena ia takut akan ada ke berisikan di ruangannya dan membuat dosen lain curiga bahwa ada apa-apa di dalam. Sambil membanting beberapa lembar kertas yang memuat beberapa gambar. Barang itu seperti sebuah kertas HVS lalu diprint.


“Kamu paham sekarang?”


“Oh. Saya tahu Bapak adalah paman kedua Ria. Lalu apa yang salah dengan ini Bapak?”


Dosen pembimbingnya menatap Ariel dengan sangat tajam. Lalu tak lama mereka seperti sedang berbicara namun seperti bisik-bisik saja.


“Baiklah, jika sudah selesai saya permisi Bapak.”


“Duduklah di sana, hari ini juga kau akan resmi jadi alumni. Nikmati kebebasanmu, HHH.”


“Saya permisi Bapak.”


Semua sudah duduk di ruangan yang sudah disediakan untuk semua pada orang tua dan para mahasiswa yang akan wisuda.


Mendengar perkataan MC tersebut semua mahasiswa saling memandang satu dengan yang lain. Beberapa ingin maju untuk berbicara namun mereka merasa gugup sehingga mengurungkan niat mereka dan tetap duduk. Sehingga tanpa melihat ke kiri dan kanan Ariel dengan yakin berdiri dan perlahan melangkah ke depan. Ariel berdiri di atas panggung yang sedikit tinggi sehingga mata para hadirin melihat secara jelas wujud nyata seorang mahasiswa yang sedang berdiri di depan.


“Sial! Untuk apa anak itu di sana?” Gumam dosen pembimbing Ariel dalam hatinya dengan raut wajah yang sedikit panik dan gelisah.


“Selamat pagi semuanya. Yang terhormat dan yang paling saya hormati seluruh Bapak dan Ibu dosen yang ada di Universitas ini. Terutama kepada dosen pembimbing saya hormati, terimakasih untuk semua hal yang sangat berharga bagi saya. Ada beberapa hal yang sangat spesial untuk saya sampaikan kepada dosen yang sudah menjadi seorang dosen pembimbing saya dan juga untuk diperdengarkan kepada kita semua yang hadir saat ini.” Ucap Ariel dengan tenang dan senyuman manisnya tidak hilang dari bibir merahnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu ia mengedipkan mata kepada seseorang yang berpakaian serba hitam dan memakai masker hitam pula. Orang itu tinggi besar dan tegap. Ia berdiri di samping seseorang pemandu layar selama acara berlangsung. Orang itu pun menganggukkan kepalanya dan perlahan sebuah suara muncul dengan lantang dari semua pengeras suara yang ada. Suara itu memperdengarkan dua orang laki-laki yang sedang berbicara.


“Jangan kamu pikir saya memberikan kamu kelulusan hanya karena tulisan kamu yang kamu rasa berkualitas itu? Kamu pikir saat ini menilai sesuatu dengan kejujuran itu akan menguntungkan saya? Tidak, kamu tahu itu?”


“Lalu apa maksud Bapak sebenarnya?”


“Selama ini saya telah melihat kualitas kerja dan mutu tulisan kamu memang sangat luar biasa. Yaa, dengan tulisan kamu yang bermutu itu mungkin bisa saja saya akan memberikan yang terbaik untuk kamu. Mengingat bahwa selama ini nama kamu adalah nama sangat tidak asing di kepala dosen-dosen. Tapi kamu harus tahu dulu nak, dalam dunia saat ini tidak ada lagi hal yang gratis.”


“Iya Bapak, saya tahu itu. Lalu apa saya harus membayarnya? Bukannya tugas saya hanya membayar uang registrasi dan lain-lain. Selama saya menjadi seorang mahasiswa baru kali ini saya mendengar suara tentang tidak ada yang gratis. Apa maksudnya Bapak?”

__ADS_1


“Kam...”


“Oh, saya mengerti. Apa saya harus menyerahkan beberapa kertas berwarna merah ini kepada Bapak?”


“Hm. Kamu sangat pandai membaca pikiran saya. Tidak cukup sekian, tanda tangan saya sangat mahal jika hanya dibandingkan dengan uang dua juta ini.”


“Berapa yang Bapak mau? Katakan saja jangan sungkan. Karena saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan berharga seperti ini.”


“Mampukah kamu memberikan saya sebanyak lima juta saja?”


“Oh itu tidak seberapa bagi saya Bapak.”


“Wow. Baguslah kau sangat mengerti.”


“Sudah cukup Bapak?”


“Oh. Jangan pernah merasa bahwa ini adalah akhirnya nak. Kamu sudah lihat ini? Ria adalah keponakan saya satu-satunya. Dia meminta saya agar kamu harus mencalonkan diri sebagai calon suaminya dan jadikan hal ini menjadi syarat utama untuk kamu lulus dan mendapatkan tanda tangan saya. Tapi, kamu tahu saya orangnya sangat mencintai uang. Bayarkan saya hal itu dengan uang maka masalahmu dengan Ria biar saya yang tangani.”


“Seperti itu rupanya Bapak. Baiklah jangan ragu jika Bapak hanya membutuhkan uang. Katakan saya seberapa banyak yang harus saya bayar untuk menutupi aib Bapak dan keponakan Bapak?”


“Karena ini merupakan hal berat untuk saya hadapi. Apa lagi hal ini akan melibatkan saudara saya di dalamnya. Maka ini mungkin akan lebih mahal, dua puluh juta? Dil (deal)?”


“Baiklah, saya tidak banyak memegang uang cash Bapak. Apakah saya boleh untuk meminta nomor rekening Bapak?”


“Tentu! Catat ini.”


“Transfer telah berhasil Bapak.”


“Baiklah, kau sungguh anak yang pengertian, HHH.”


“Saya permisi Bapak.”

__ADS_1


__ADS_2