
“Syukurlah kamu baik-baik aja.”
Gadis itu mengangguk.
Matanya terpanah pada wajah cantik gadis itu.
“Tuhan izinkan aku untuk mencintainya. Meski pun dengan sederhana. Aku ingin memilikinya. Meski pun hanya sebatas melihatnya. Ada untuknya. Itu adalah hal paling berharga buat aku. Aku bisa melihat matanya masih terbuka sampai hari ini. Itu adalah kesempatan paling bernilai untuk aku. Meski pun mencintai dan mengaguminya hanya dalam diam. Namun, bagiku itu sangat berarti Tuhan. Terima kasih untuk kesempatannya Tuhan.” Serunya dalam hati dengan penuh ketulusan.
“Ril, maaf yah.”
“Untuk apa?” Ucapnya ramah. Dengan tatapan yang masih menatap manis pada keindahan yang terpampang nyata di depan matanya. Ia melontarkan sebuah senyum manis.
“Yaa. Udah mencari aku dengan susah payah. Gara-gara aku kamu sampe kamu pingsan ke gini. Maaf yah!”
“Kata siapa itu salah kamu? Emang aku bilang ke gitu tadi?”
“Emang sih nggak, tapi."
“Udah. Aku pingsan bukan karna kamu, tapi karna semalam aku nggak makan."
“Kamu nggak makan? Kenapa emang?” ucapnya sambil mengambil tisu dari dalam tasnya untuk menyeka keringat yang ada di kening dan pipi pria itu.
“Nggak aku hanya nggak mood aja untuk makan semalam.” Pria tersenyum. “Makasih.” Ucapnya hangat.
“Ehm. Makan yuk.” Ajaknya.
“Duh. Jam berapa lagi baru aku kerja. Mana dia belum makan juga, ya udah deh. Kasian juga dia.” Bisik Ariel dalam hati.
“Mau nggak?”
“Ayo."
Mereka pun berjalan menuju sebuah restauran yang tadi didatangi Ariel sendiri. Kali ini Ariel memegang tangan Uslin, sehingga tak ada alasan untuk uslin tak mengikutinya.
Uslin merupakan gadis yang pemalu soal makan-makan. Uslin memang lapar bahkan bisa di bilang sangat lapar. Tapi ia tak mau Ariel melihatnya terkesan lapar.
Karena Ariel benar-benar lapar, maka dari itu Ariel makan dengan sangat lahap. Uslin diam melihat Ariel yang begitu lahap makannya.
“Sorry, sorry. Aku lapar banget.”
“Iyah. Nggak apa-apa. Lanjut aja."
“Eh, kamu juga makan dong.”
“Iyah, ntar aku makan kok."
Ariel mengangguk.
“hhm, Ril pelan-pelan, belepotan kan jadinya, hhh” Ucap Uslin lembut sambil menarik selembar tisu dari dalam kotaknya, menyeka minyak yang belepotan di bagian bibir bawa Ariel, yang sedikit lagi mengalir ke bagian dagunya.
__ADS_1
Matanya seketika melongo dengan sedikit merasa malu. Uslin memutarkan bola matanya. Tingkah konyol Uslin itu membuat Ariel tersenyum sembari memendam rasa malu dan juga terasa sedang berenang dalam dunia cinta mereka. Ariel terlihat baper.
“Ehm." Ujar Ariel.
“Udah bersih, lanjut makan, hmhm.” Ucap Uslin dengan sangat lembut.
“Makasih." Ujarnya.
Ucapan itu pun hampir tak bisa keluar dari mulutnya. Bukan saja itu, melainkan untuk menelan nasi yang sedang di kunyah pun terasa sesak di tenggorokannya.
Uslin meraih sendok dan garpunya dan mulai makan.
“Mudah-mudahan aku masih bisa dapat kerja jam begini.” Bisiknya dalam hati.
Pada saat makan Uslin terus kepikiran soal buku-bukunya. Bagaimana caranya supaya bisa cepat pulang dan kerja.
Mereka pun akhirnya selesai makan. Ariel menahan taxi lagi dan mengantarkan Uslin ke rumah.
🌹
“Istirahat yah!”
“Iyah, makasih Ril.”
“Masuk!" Ucap Ariel sambil pergi membukakan pintu pagar untuk Uslin. Uslin berjalan masuk dan menutup pintu pagar. Ariel terus memantaunya hingga Uslin sudah benar-benar sampai di rumahnya.
“Bye.” Sambil melambaikan tangan pada Uslin yang sudah berdiri di teras rumahnya.
Waktu pada jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Itu membuatnya seperti orang panik. Secepat kilat ia berlari ke kamar untuk ganti.
Setelah ia keluar kamar pun masih dengan kecepatan langkah yang sama, yaitu ia berlari. Ia mengunci pintu dan berlari menuju ke arah barat dari rumahnya.
Setelah ia berlari dalam waktu tujuh menit, ia tiba disebuah rumah bertembok hijau, rumah itu memiliki tiga lantai. Setiba di sana, ia berjumpa dengan seorang sekuriti berseragam putih, Uslin menyapanya dengan hangat dan sekuriti itu pun kembali menyapa dengan ramah. Seperti mereka sudah tak lagi asing.
Tok… tok… tok…
Uslin mengetok pintu rumah berlantai tiga itu. Lalu seorang wanita putih, cantik dan bersih keluar dan menemui Uslin.
“Eh, kamu Dek.”
“Iyah, tante saya. Saya minta maaf karna tadi terlambat. Ada urusan sebentar tadi.”
“Oh, gitu. Nggak apa-apa, yuk masuk." Ajak tante itu, Uslin pun turut padanya.
“Ini semua yah Dek. Ingat di pisahkan yah. Yang berwarna lain sama yang warna putih.”
“Iyah tante." Ucapnya sambil menganggukkan kepala.
Pemilik rumah itu adalah pengusaha besar. Pembantunya sedang mudik. Sehingga tak ada orang yang membereskan rumah. Ia meminta Uslin untuk mencucikan baju-bajunya dan dibayar. Untuk menyapu dan mengepel Uslin tidak menerima tawaran tante itu. Karena rumahnya harus dibersihkan pagi dan sore. Oleh karena itu, Uslin menolaknya. Disebabkan juga karena ia harus kuliah dan kerja tugas. Tidak mungkin ia mengutamakan kuliahnya dari pada tanggung jawabnya dan tidak mungkin juga untuk Uslin melakukan sebaliknya.
__ADS_1
Ariel pun tiba di rumahnya. Ia memarkir motor sportnya di garansi rumah mewahnya. Ia baru masuk ke ruang tamu, sepupu-sepupunya sedang sibuk mencoba baju cantik sambil bertanya satu sama lain, apakah baju itu yang mereka kenakan masing-masing sudah cocok atau belum. Ariel memutar balik dan menemui sopir pribadi mamanya yang tadi diperintahkan Ariel untuk mengambil barang-barang belanjaannya.
“Pak, ikut saya!" Ketusnya.
“Iyah Mas.”
Ariel berjalan kembali menuju ruang tamu itu dan menunjukkan apa yang ada di sana.
“Ada apa Mas?” Tanya Pak sopir itu.
“Kenapa tuh barang-barang semua ada di sini?”
“Oh itu, Mas. Tadi waktu saya tiba di rumah, neng Arni, neng Marla dan neng Indah sudah di sini Mas.”
“Lalu?”
“Yaa mereka langsung mengambil semuanya dan mencoba satu per satu Mas."
“Emang siapa yang suruh bawah ke sini?”
“Memang nggak ada Mas. Tapi kan tadi Mas hanya perintahkan saya untuk mengambil barang-barangnya saja Mas. Nggak di beri tahu tempat tujuannya.”
Ariel terdiam dan memikirkan kalimat yang di ucapkan Pak sopir itu. Ia merasa bahwa benar, itu juga kesalahannya.
Ia kembali mendapati motornya dan menaikinya.
“Loh? Ril mau kemana kamu?” Tanya tante Ardila, mamanya Ariel.
“Nggak ke mana-mana Mah.”
“Kamu baru pulang kok pergi lagi?”
“Bentar doang Mah, nggak lama.”
Mereka berdua memang sangat dekat. Sehingga obrolan mereka pun seperti anak-anak yang usianya sebatang. Tidak perlu harus dengan bahasa yang terkesan wajib menghormati, tetapi justru mereka berdua menggunakan bahasa seadanya.
“Duh, anak bujang memang aneh-aneh aja, nggak betah di rumah." Ucap mamanya
“Jalan Mah." Teriak Ariel saat tiba di pintu pagar.
“Iyah. Hati-hati.”
Tante Ardila berbalik ingin masuk tiba-tiba suara motor Ariel pun terdengar kembali.
“Kok balik?”
Ariel turun dari motornya dan mencium tangan mamanya.
“Maaf Mah, aku pergi dulu.”
__ADS_1
“Dadaa." Ucap lembut tante Ardila sambil melambaikan tangan pada anaknya.
Selanjutnya…