
“Ya udah. Keberatan nggak mau cerita?”
“Em. Jadi waktu itu kita udah punya hubungan kurang lebih hampir tiga tahun. Aku nggak tahu tiba-tiba aja pesan masuk ke aku katanya mau akhiri hubungan.
Tiga tahun lalu…
“Sayang.” Pesan whatsapp masuk.
“Iyah sayang.”
“Aku mau ketemu boleh nggak?”
“Ketemu di mana?”
“Rumah kamu aja, boleh nggak?”
“Iyah boleh.”
“Aku jalan sekarang.”
“Hati-hati”
“Bye.”
Pesan whatsapp masuk.
“Sayang. Aku di depan.”
“Bentar yah.”
“Okeh.”
Uslin keluar dan menemui seseorang di luar. Di sana sudah berdiri seorang lelaki tampan dan badan tinggi, bagus seperti seorang atlet. Namanya Leon. Sekitaran berumur dua puluh tahun. Umurnya dua tahun lebih tua dari Uslin. Uslin masih berumur delapan belas tahun. Ia berdiri di luar pagar menunggu Uslin membuka pintu. Tak lama Uslin pun keluar dan membuka pintu dan menemuinya. Uslin mengajaknya masuk. Mereka pun masuk. Tidak seperti biasanya, Leon sama sekali tidak menunjukkan sikap biasanya. Ketika bertemu ia akan peluk Uslin terlebih dahulu. Tetapi kali ini tidak. Sama sekali tidak ada tindakan untuk memperlakukan Uslin sebagai kekasihnya. Padahal beberapa hari lalu mereka masih bersama-sama dan keadaan aman-aman saja. Tetapi tidak tau mengapa Leon tiba-tiba berubah.
“Ada perlu apa memangnya sayang?”
“Aku mau ngomong penting.”
“Apa itu sayang?”
Uslin pun tetap ngobrol seperti biasa aja, meski pun sebenarnya rasa kesal Uslin dengan sikap dingin Leon yang tiba-tiba itu. Dan juga sudah beberapa hari Leon pun hilang kabar. Tidak pernah telepon ataupun whatsapp dirinya.
__ADS_1
“Aku mau kita putus.”
Uslin terdiam sebentar. Dan tidak sampai satu menit Uslin diam. Uslin pun langsung merespon apa yang Leon katakan. Dan perlahan menyadari dan memahami bahwa inilah maksud dari sikap dinginnya hari ini dan juga kabarnya yang hilang sudah berhari-hari setelah mereka bertemu dan tidur bersama.
“Ya udah kalau memang itu mau kamu." Berat sekali untuk Uslin mengatakan hal itu. Wajahnya tiba-tiba seperti sangat panas. Benar-benar seperti disirami arang. Bahkan hatinya bingung apa harus marah atau kecewa. Dengan satu niat Uslin putuskan untuk mengikuti apa mau Leon.
“Makasih. Aku pergi yah." Tak lama Leon langsung pulang setelah mengatakan keperluannya ke rumah Uslin.
“Iyah. Hati-hati."
Seketika tangisnya pecah setelah ia benar-benar melihat lelaki yang diperjuangkannya selama hampir tiga tahun melintas seperti angin lalu dihadapannya. Entah mereka sama-sama memperjuangkan atau tidak. Uslin pun tidak bisa memastikan. Dan Uslin pun tidak bisa membandingkan sikap Leon yang dulu dengan Leon yang hari ini memutuskan tali perjuangan mereka. Bahkan pun Uslin benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan. Perbuatan apa yang ia buat untuk cara Leon yang seperti ini terhadapnya. Apa harus membalasnya ataukah diam dan terima kenyataan.
“Apa salah aku?” Pertanyaan inilah yang terus muncul dalam benaknya. Dan akhirnya Uslin pun berusaha untuk memutuskan sesuatu.
“Ikhlas. Okeh aku ikhlas.” Ini adalah kata terakhirnya untuk hubungannya dengan Leon. Tanpa banyak kata Uslin berhenti menangis. Berusaha untuk meringankan semua keberatan yang dia rasakan dalam hatinya. Nomor kontak Leon dihapus dari handphonenya. Media sosialnya di blokir. Dan Uslin benar-benar berniat untuk berhenti mengingat semua kejadian yang pernah terjadi pada mereka.
Setelah menceritakan semuanya, Uslin hampir saja meneteskan air mata. Tetapi dengan hatinya yang telah berjuang tabah selama ini hampir dua tahun. Mereka memutuskan hubungan mereka di awal Uslin masuk perguruan tinggi. Saat ini Uslin sudah semester enam. Saat itu Uslin terlihat santai tetapi Ariel bisa melihat dari matanya bahwa ia masih mengharapkan lelaki itu dan masih belum sepenuhnya ikhlas untuk melepasnya pergi.
Setelah mendengar semua itu, Ariel tidak menunjukkan rasa haru atau pun turut prihatin. Tetapi ia malah diam. Dalam hatinya benar-benar merasakan apa perasaan Uslin. Namun karena selama ini juga ia menyukai Uslin dari sejak Uslin masuk perguruan tinggi. Semua background Uslin sudah ia ketahui. Hanya saja dia ingin tahu apakah Uslin akan berusaha menyembunyikan masa lalunya terhadapnya atau sebaliknya. Namun ternyata Uslin sama sekali tidak berniat untuk membelakangi semua yang telah terjadi. Dan ia pun ternyata tak ada keraguan untuk menceritakan semuanya.
“Maaf yah.”
“Nggak apa-apa kok. Santai aja Ril."
“Banget. Kaya tenang aja di sini.”
“Ehm. Boleh bicara nggak?”
“Ngomong aja Ril.”
“Liat ke laut!"
“hm?”
“Liat ke laut!”
“Kenapa?”
“Percaya nggak sih kalau misalkan angin di pinggir pantai itu menenangkan pikiran.”
“Percaya banget dong. Udah biasa aku mencari ketenangan di pinggir laut seperti ini.”
__ADS_1
“Hanya satu sih yang aku mau bilang, bagi aku, kamu wanita hebat, kuat, tangguh. Pertahanan itu. Jangan pernah minder hanya karna satu hal. Jangan takut untuk memulai sesuatu hal yang kamu inginkan tetapi jangan pernah mau mengalami luka dengan hal yang sama. Aku percaya kamu bisa.”
“Thanks.” Ucapnya sambil tersenyum.
Ariel menoleh ke arah mama dengan bibi Wulan, jarak mereka sangat jauh. Bahkan untuk melihat mereka pun mungkin tidak bisa mengenal satu sama lain. Karena jarak antara mereka yang terlalu jauh. Ariel melihat Uslin terlihat seperti masih sangat sedih. Masih sangat larut dengan sakit hati di masa lalunya.
“Sini, bangun!”
“Ngapain?” Dengan suara rendah dan sedihnya Uslin bertanya.
“Hug me. Tenangkan diri kamu. Kapan pun kamu butuh sandaran. Bahu dan dada ini stay untuk kamu." Berkata sambil merangkul Uslin dan menyandarkan kepalanya di atas dada bidangnya. Memeluk Uslin dengan sangat erat. Uslin sebenarnya tidak ingin berpelukan di depan orang banyak. Tetapi Ariel yang spontan memeluknya ia tidak bisa menolak. Uslin mencoba untuk kembali membalas pelukan Ariel untuk yang kedua. Benar-benar membuat Uslin tenang dan sangat nyaman.
Ingin sekali Uslin menangis. Namun ketabahan hatinya itu benar-benar kuat dan tegar. Ia berusaha keras untuk tenang dan rileks.
Orang-orang sekitar melihat mereka. Tetapi Ariel sangat santai dengan menikmati kenyamanan dengan mendekap kepala mungil gadisnya dalam pelukannya. Benar-benar serasa sedang dalam cinta yang sesungguhnya.
“Ril. Makasih banyak yah. Kamu mau dengar aku. Maaf kalau mungkin cerita aku kurang baik.”
“Iyah. Untuk aku kamu penting.”
Dari momen pelukan mereka beberapa menit berlalu. Dada Ariel sangat santai. Perlahan-lahan dadanya benar-benar tidak dalam zona aman. Semakin lama detak jantungnya semakin kencang. Seperti ia benar-benar capek dikejar musuh. Ariel perlahan melepas pelukannya. Karena Ariel takut ketahuan bahwa dadanya tidak bisa menahan detakkan.
“Gimana tenang?”
“Iyah. Mkasih yah.” Sambil menatapnya dengan mata penuh rasa terima kasih.
“Sama-sama.”
Uslin mengangguk.
“Kita ke sana yuk.”
“Nggak usah deh. Aku di sini aja.”
Selepas mereka ngobrol. Ardila dan bibi Wulan sudah kembali.
“Hm. Enak yah udaranya?”
“Wah. Enak banget sayang.”
“Pulang yuk…” Ajak Ardila. Semua mengangguk dan pergi menuju mobil. Ariel tidak melepas genggamannya pada tangan Uslin sampai tiba mobil. Ariel membuka pintu mobil untuk Uslin masuk dan untuk mama dan bibinya.
__ADS_1
Selanjutnya...