Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 27 Ardila you are in My Soul Forever


__ADS_3

19.55


Pembawa acara adalah mempersilahkan Ardila untuk berdiri sendirian di panggung. Dengan mata di tutup dengan sebuah selendang putih. Ardila berdiri di bawah tenda bersama dengan para tamu. Serta Nia dan Uslin pun di sana. Tak lama Ariel dan Aldi pun datang dan berdiri dengan mereka. Ariel mengambil posisi tepat di samping Uslin.


Wulan mengambil sebuah mic yang mereka sediakan lalu mulai berbicara.


“Ardila. You are my sister. And now, I have something for you. And I hope, this is the answer to your previous prayers. (Ardila. Kamu adalah kakakku. Dan sekarang, ada sesuatu yang aku punya untukmu. Dan aku harap, ini adalah jawaban dari doa-doa kamu sebelumnya).” Ucap Wulan sambil meteskan air mata. Dengan haru ia memikirkan kata-katanya kembali. Apakah kata-kata itu membuat Ardila penasaran atau tidak.


“Iyah. Ardila. Aku hanya seorang teman dari adik kamu. Sebenarnya aku bukan siapa-siapa jika kamu melihat posisi aku. Tapi aku juga mungkin bagian dari kamu.” Air mata daripada Nia dan Wulan semakin banyak keluar.


Ardila, Ariel, Ardi, serta semua para tamu bingung dengan semuanya. Semuanya bertanya-tanya, apa maksud di balik kata-kata mereka ini? Tentu saja mereka tidak tahu. Karena yang mengetahui semua ini hanya Uslin, Wulan dan Nia.


Para tamu tercengang. Entah mereka ikut menangis, namun bimbang atas dasar apa mereka harus menangis ataukah mereka harus tertawa, tetapi atas dasar apa pula?


“Kakak. Maafin semuanya yang terjadi pada aku dan kamu juga. Maafin semua yang sudah aku lakukan tanpa seizin kamu. Aku melakukan ini semua bukan karena aku lancang, tetapi segala hal sudah aku cari. Kamu juga pasti akan paham, bahwa, sebuah pohon tidak akan rubu ketika akarnya masih tertanam dengan kuat. Karna itu kakak, aku sudah menggembur semua tanah. Sehingga misi aku, misi Nia dan misi kamu, dan misi kita semua yang ada di sini.”


Ariel tampak tak mengerti sama sekali. Bukan hanya Ariel, masih seperti semula, saat Wulan mulai bicara, para tamu serta seisi ruangan di bawah tenda itu tercengang tak mengerti apa-apa.


“Bi, maksudnya apa sih?” Ariel semakin penasaran. Tidak seperti Ardila, kalem, diam, tenang menunggu semua jawaban itu.


Wulan tidak menjawab semua itu, tiba-tiba sebuah layar di belakang Ardila menyalah. Cahaya itu dipantulkan dari sebuah in focus yang ada di sana.


...Ardilla.

__ADS_1


...


...You are in my soul forever.


...


Tulisan itu menambah kebimbangan dan keheranan yang begitu dalam bagi semua isi tenda. Namun berbeda dengan Wulan, Nia dan Uslin. Mereka terlihat seperti menangis haru dengan semua kata-kata Wulan.


“Kamu bisa jelasin, apa maksud dari semua ini?” Tanya Ariel menghadap Uslin. Jawaban yang sama. Ariel tetap hanya mendapatkan sebuah senyuman.


“Sabar yah. Nanti kamu akan tau Ril.” Ucap Uslin sambil menghapus air matanya.


“Bi, apa sih maksudnya semua ini?” Kembali bertanya kepada Bibi Wulan. Tetap sama. Jawabannya hanya sebuah senyum haru.


Ariel pun tambah tidak mengerti lagi.


Seorang lelaki berjas putih berdasi hitam mewah datang mengusap-usap air mata sambil menahan tangis. Namun, lelaki itu tidak seorang pun melihatnya sebelum itu. Mereka bekerja sama dengan sekuriti dan sopir pribadi Ardila untuk membantu memberi jalan pada Edward untuk masuk lewat pintu belakang. Sehingga saat itu tidak ada seorang pun yang mengetahui kedatangannya. Ariel sempat heran, bagaimana dia bisa keluar dari dalam rumah? Sedangkan jejak ia masuk pun tidak mereka lihat.


Ariel tidak tahu siapa orang itu. Lalu mengapa dia berjalan menuju ke arah mamanya? Sedangkan semua orang hanya terdiam. Bahkan Bibi Wulan pun hanya diam dan menangis sambil melihat orang asing itu mendekati mamanya. Ariel bertanya-tanya dalam hatinya? Apa yang ada di balik semua ini?


Semakin dekat jarak antara orang asing itu dengan Ardila. Ariel bangun dari duduknya dan ingin untuk mencegat orang itu. Karena ia tak ingin orang itu mendekati mamanya.


“Eh, Ril, Ril, Ril.” Sambil menarik Ariel. “Duduk dulu, okeh.” Ucap Uslin lembut sambil melihat ke mata Ariel dengan kesan menenangkan dan meyakinkan Ariel.

__ADS_1


“Duduk gimana? Itu siapa?” Balas Ariel. Bibi Wulan hanya melihat ke arah Uslin seakan memberi isyarat untuk menenangkan Ariel.


Uslin memegang kedua lengan berbodi milik Ariel. Lalu mengusapnya pelan.


“Kamu dengar aku. Percaya sama aku yah.” Ariel pun luluh. Ia kembali duduk di kursi yang diduduki sebelumnya.


Uslin tetap berdiri. Namun Uslin pindah posisi tidak lagi di samping Ariel tapi di belakang Ariel. Karena mereka berada di barisan kursi paling depan. Uslin sengaja mengambil posisi lain agar semuanya bisa Ariel lihat dengan jelas.


Uslin berdiri sambil memeluk leher Ariel dari belakang. Sesaat Uslin mengusap rambut atas Ariel dan juga memegang kedua rahang Ariel dan mengusap lembut pipi Ariel dengan ibu jarinya. Sementara keempat jari kiri dan kanannya berada di bagian leher Ariel. Bukan tujuan genit, tapi hanya untuk menenangkan Ariel.


Di tengah itu. Ada dua orang perempuan duduk di belakang Uslin. Terdengar seperti bisik-bisik kurang baik. Uslin menoleh ke belakang, ternyata dua orang itu adalah teman sekelasnya Ria. Si senior sombong itu. Mereka sedang bermain handphone mereka masing-masing saat Uslin melihat keberadaan mereka.


“Hallo! lo di mana sih? Cek WhatsApp sekarang.” Ketus si wanita berponi itu. Namanya Angel.


“Iyah. Cepatan ke sini, lo mau si Ariel direbut sama si junior nggak tau diri itu.”


Ria sedang berdandan secantiknya di dalam kamar. Tiba-tiba raut wajahnya kesal dan melemparkan handphonenya ke atas ranjang.


“What??” Kekesalannya benar-benar memuncak. Ia membanting semua alat-alat make up miliknya ke lantai. Sehingga semuanya berantakan.


“Dasar junior nggak tau diri. Nggak tau malu yah tuh anak. Apa karna gua terlalu baik yah sama dia?” Ia mencibir.


“Ini nggak bisa dibiarin lagi. Makin hari makin ngelunjak tuh anak.” Sambil berlari dan memanggil sopirnya dan langsung menyuruh sopirnya untuk ke rumah Ariel.

__ADS_1


Ria tiba di rumah Ariel. Acara sedang berlangsung. Ia menerobos masuk dan mencari kedua sahabatnya. Angel dan Anggi. Matanya melongo saat melihat adegan yang sangat membuat tubuhnya gemetar dan juga menanggung emosi. Uslin masih tetap berdiri pada posisi yang sama merangkul leher Ariel dari belakang. Namun kali ini Ariel sedang memegang erat kedua tangan Uslin.


Selanjutnya…


__ADS_2