
Seusai kelas, Uslin langsung buru-buru keluar. Karena takut Ariel datang menjemputnya terlebih dahulu. Karena buru-buru beberapa buah buku yang di pegang Uslin pun terjatuh. Karena ia memegang buku-buku itu tidak dengan rapi melainkan berantakan. Uslin menunduk dengan tujuan mengambil buku-bukunya untuk di bawa pulang. Namun belum sempat ia menyentuh buku-buku yang terjatuh tadi, sepasang kaki yang memakai sepatu mewah dengan harga puluhan juta menginjak-injak buku milik Uslin yang berserakan di lantai. Di bawah dasar sepatu mewah itu, terdapat cokelat basah. Sehingga mengotori buku-buku Uslin. Uslin bingung!? Siapa yang menginjak-injak bukunya.
Pada saat yang sama bagian kepalanya terasa sangat dingin. Uslin meraba kepalanya dan ternyata Uslin disirami minuman fanta. Uslin sangat kesal. Uslin bangun dan berdiri. Uslin melihat wajah orang yang melakukan hal yang tidak senonoh padanya.
“Kak. Kenapa sih? Aku salah apa?“ Tanya Uslin kesal dan sangat marah. Ingin sekali ia membalasnya namun ia tak berani bertindak lebih. Karena wanita yang ada di depannya adalah seorang mahasiswi senior yang mempunyai geng. Nama geng mereka adalah adalah ‘squad gadis-gadis kece'. Dari nama gengnya saja sudah kelihatan bahwa geng itu adalah geng yang sombong. Banyak dari mahasiswi-mahasiswi di kampus itu yang takut pada geng itu. Apa lagi berani mendekati Ariel. Pria tampan yang diincar oleh Ria untuk menjadi kekasihnya.
“Kenapa? Itu pantas untuk junior tolol kaya lo." Ketus gadis bernama Ria, senior sombong itu.
“Emang aku salah apa kak?” Tanya Uslin sambil meneteskan air mata. Karena sudah tak tahan lagi dengan kelakuan senior sombong itu. Uslin berlari keluar dengan mengusap air mata yang mengalir deras di pipinya. Bagaimana dia tidak sedih? Buku itu baru saja ia beli dengan harga yang tinggi ketika di ukur dengan kemampuan ekonomi keluarga Uslin. Di balik kesedihannya, Uslin juga merasa bingung dari mana lagi ia bisa mendapatkan uang untuk dapat membeli ganti buku-buku itu. Tidak mungkin Uslin meminta kepada orang tuanya lagi. Karena Uslin yakin bahwa orang tuanya akan sedih dan kepikiran.
Saking kecewanya, Uslin berlari tanpa melihat siapa saja yang di samping kiri kanannya. Sehingga ia menabrak seseorang yang berada di depan pintu kelasnya. Uslin terjatuh. Karena rasa kecewanya terhadap keadaan saat itu dan pada senior sombong itu. Uslin memilih untuk duduk tergeletak di lantai.
“Kenapa aku nggak di kunci aja dalam ruangan ini. Kalau memang gue tidak di izinkan keluar. Aku nggak ada salah. Kenapa kalian harus jahat sama aku?" Teriak Uslin. Belum di sadari bahwa yang ia tabrak adalah Ariel. Ariel maju beberapa langkah dan melihat siapa yang membuat Uslin sampai basah kuyup dan menangis seperti itu.
“Lo lagi? Hah? Lo lagi? Kelihatannya lo nyesak banget ngeliat orang bahagia?“ Ketus Ariel dan melangkah menuju Ria, senior sombong itu. Seberapa banyak langkah Ariel maju mendekatinya, Ria pun mundur mengikuti kecepatan langkah Ariel agar dapat menjauh. Karena ketakutan Ria mengangkat langkah lebih cepat dari pada langkah Ariel.
Prak... Prak... Bum...
Suara itu meledak dalam ruangan kelas itu. Karena kesal pada Ria, Ariel memukuli beberapa meja yang ada di sekitarnya. Ariel juga menendang sebuah lemari berisi banyak buku. Sehingga pada saat jatuh ke lantai, bunyi terdengar sangat keras. Seakan-akan ada tawuran.
__ADS_1
“Sudah gue bilang sama lo berkali-kali. Lo itu perempuan. Gue diam bukan karena gue mau orang yang gue sayang lo gangguin terus. Tapi gue menghargai lo sebagai perempuan.” Kata-kata itu keluar dari bibir Ariel sendiri. Sehingga membuat mereka yang berada dalam ruangan itu ikut menyaksikan kejadian itu juga ikut merasa takut pada sosok tegas Ariel. Hampir sembilan puluh persen dari mereka semua berpihak pada Ariel. Sisanya adalah anggota geng Ria. Karena memang Ria bukan hanya mengganggu satu atau dua orang melainkan banyak sekali. Apa lagi gadis-gadis yang berasal dari keluarga yang minim secara ekonomi dan lemah akan mental.
“Hah? Dia di sini? Orang yang gue sayang? Apa itu aku? Apa benar itu dia?“ Tanya Uslin dalam hatinya.
“Gue lakuin ini semua, gue menindas mereka semua, gue meneror mereka semua, itu semua karena lo. Supaya mereka nggak kecentilan sama lo, nggak dekat-dekat sama lo.” Teriak Ria.
“Ria. Gue bosen yah. Gue nggak suka sama lo. Nggak perlu lo maksain gue. Sekarang lo keluar, gue nggak mau liat muka lo di sini.” Pria tegas itu tampak sangat marah.
“Nggak.” namun Ria membantah perintahnya. Juga karena Ria adalah gadis yang tidak tahu malu. Dia akan lakukan hal semacam apa pun untuk mewujudkan keinginannya. Ria adalah tipe gadis yang egois.
“Nggak keluar? Nggak apa-apa. Jangan salahkan siapa-siapa jika lo terluka." Ancam Ariel terhadap Ria. Namun, itu hanyalah sebuah ancaman semata karena Ariel sangat menghargai derajat perempuan.
“Ya udah. Terserah! Gue pergi. Tapi satu hal yang harus lo ingat, jangan gue liat satu kali lagi untuk ke depan. Lo akan benar-benar gue ladeni. Paham lo? “ Tegas Ariel.
Ketika Ariel menoleh ke belakang. Uslin sudah tak lagi ada di sana. Meskipun mereka sudah sepakat untuk pulangnya diantar Ariel.
“Ke mana dia pergi?" tanya Ariel pada beberapa orang teman mahasiswanya yang berdiri di muka pintu kelas itu.
“Ke sana!“ Menunjuk ke arah luar pagar.
__ADS_1
Ariel secepatnya berlari ke sana. Setelah sampai di pintu gerbang. Baru saja Uslin menahan sebuah angkot berwarna biru kehijauan dan menaikinya. Ariel kemudian memutar balik dan menuju ke tempat parkir. Tempat motornya berada. Ariel menyalahkan motor sportnya dan menancap gas motor itu dengan kecepatan maksimal. Tak butuh waktu lama, Ariel berhasil melihat belakang angkot yang dinaiki Uslin. Ariel menyalip beberapa mobil dan kendaraan bermotor lainnya yang sejajar dan separuh tidak jauh dari belakang angkot itu. Ariel melambaikan tangan pada sopir itu. Ingin memberhentikan angkot itu. Ariel kembali memacu gas motornya sehingga melewati dan berhenti tepat di depan angkot. Sopir angkot itu tampak bingung.
“Maaf Pak, itu ada pacar saya di sana.”
“Oh. Gitu dah! Kirain apa. Nggak apa-apa. Monggo mas.” Kata Pak sopir dan Uslin pun turun. Angkot melaju pergi.
“Kenapa pergi? Bukannya tadi bilang aku anterin.”
“Kamu pikir mudah. Aku disiram minuman. Buku aku diinjak-injak. Emang menurut kamu itu enak. Aku nggak niat dekati kamu. Aku lagi yang disalahkan.”
Ariel langsung melayangkan kedua tangan berbodi miliknya dan memeluk Uslin dengan erat. Uslin kembali menangis dan menyandarkan kepalanya di dada Ariel. Pria yang tubuh kekar dan tinggi itu merangkul Uslin dengan hangat dan membelai rambutnya. Karena Uslin memejamkan matanya. Uslin tak tahu siapa saja yang ada di sana. Ia terbawa lupa bahwa mereka ada di jalan setapak, pinggir jalanan besar.
Sesaat Uslin membuka mata dan melongo. Ariel belum melepaskan lingkaran tangannya yang melingkari tubuh Uslin. Ariel memang sangat mencintai Uslin. Tak tahu mengapa ia selalu tak berani ngucapinnya. Setiap kali Ariel ingin mengutarakan perasaannya, sering saja ada masalah dan persoalan lain yang terjadi. Meskipun selalu tak sempat, Ariel selalu menganggap bahwa itu hanya sebuah perasaan yang tertunda untuk disampaikan. Tetapi Ariel tak pernah punya niat sedikit pun untuk menjauh dari Uslin. Ariel tetap dengan tulus peduli pada Uslin. Jalanan sangat ramai. Bagaimana tidak? Itu saja jam 13.00 siang. Jam di mana jam-jam seperti itu anak sekolah keluar sekolah, dan pegawai-pegawai keluar kantor. Tentu saja ramai.
“Kita di sini?”
“Iyah. Kita di sini.” Jawab Ariel dan melepaskan pelukannya sambil tersenyum kekeh dan menatap mata Uslin dan melemparkan sebuah senyuman. Ariel seakan sangat senang dan terlena karena mendengarkan sebuah kata yang keluar dari mulut Uslin. Kata kita. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Uslin kembali melongo dan tersenyum malu dan memukul pelan jidatnya berkali-kali. Uslin menundukkan mukanya karena merasa malu pada orang-orang yang menyaksikan momen mereka. Berdua-duaan, berpelukan di pinggir jalan.
Selanjutnya...
__ADS_1