Aku Sempurna Di Matanya

Aku Sempurna Di Matanya
Bab 29 Bertemu Kembali


__ADS_3

Air mata Ardila turun semakin deras. Rasa haru, rasa sedih dan juga rasa bahagia disertai dengan rasa bangga pada suaminya. Yang telah rela memendam seluruh perasaan sakitnya demi perasaan istrinya. Saat Edward bertanya perihal anak mereka, saat itulah Ardila tak sanggup menahan semuanya. Ia meluapkan seluruh perasaan yang selama ini dibungkam dalam hatinya. Ia menangis sekuat mungkin. Hal itu membuat Edward sangat merasa bersalah.


“Kalau saya boleh jujur. Saya membenci diri saya selama ini dan selamanya. Saya laki-laki brengsek dan tidak tau diri. Saya lupa tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga. Saya bahkan menyimpan hal yang sangat membuat kamu sakit.” Ucap Edward dengan linangan air mata.


Sesungguhnya Ardila menangis bukanlah karena ia merasakan sakit hati karena perbuatan Edward. Melainkan ia juga merasa bersalah tak mampu menjadi istri yang dapat membantu suaminya. Saat dimana Edward tak memiliki apa-apa dan membutuhkan dana untuk biaya rumah sakit di saat Ariel lahir. Ia sama sekali tidak mengetahui apa yang ada dalam pikiran suaminya.


“Aku minta maaf. Aku merasa saat itu kamu tidak membutuhkan apa pun.” Ucap Ardila.


“Saya yang salah. Saya tidak pernah cerita dan beritahu kamu semuanya. Saya tertutup dengan rasa takut saya. Saya takut kamu akan marah ketika saya beritahu bahwa saya tidak punya uang saat itu. Karena kamu tau sendiri, saat kita menikah banyak tekanan dalam keluarga kita terkhususnya kepada kamu. Keluarga saya menghina kamu. Itulah alasan kenapa saya meminta untuk kita pindah ke rumah peninggalan Ayah untuk saya juga saya tidak mengambil satu sen pun dari apa yang dimiliki keluarga saya demi keselamatan kamu.”


“Maafkan aku.” Seru Ardila sambil menunduk untuk berlutut di kaki suaminya. Edward secepatnya mengangkat bahu istrinya dan memeluknya.


“Bukan salah kamu. Okeh. Saya yang harusnya minta maaf. Harapan saya satu-satunya dari dulu hingga saat ini adalah bisa berdamai dengan kamu dan juga berdamai dengan keadaan yang pernah hilang dari hidup saya. Jika saya berhasil hari ini maka semuanya telah tersedia kembali untuk saya dan bagi kita. Maafkan saya, sayang.” Dekapan Edward yang begitu dalam dan tulus membuat Ardila kembali pada kisah asmaranya yang sejati.


Di tengah itu, Edward kembali teringat dengan buah hatinya, darah dagingnya yang ditinggalkannya selama dua puluhan tahun.

__ADS_1


“Papa...” Panggil Ariel dengan suara rendah sambil berlari berlutut di depan ayahnya hingga mencium sepatu mewah ayahnya. Ayahnya tak tega hingga ikut menunduk dan mencium kepala anaknya. Ia merasa bersalah karena kehadirannya membuat orang tuanya kesulitan.


“Maafkan papa nak.” Ucap Ayahnya. Tangis mereka pecah.


Ariel memang sangat membenci sosok ayahnya. Dimana ia adalah kepala keluarga, seorang ayah yang pergi meninggalkan anaknya tanpa alasan. Lari dari tanggung jawab. Namun, di saat Ariel melihat nyata di depannya apa yang sebenarnya. Ia mengetahui seluruh yang tersembunyi di balik kejadian yang terkesan membawa rasa untuk ia membenci ayahnya. Saat itulah Ariel kembali tak sanggup melihat segala hal yang telah dilakukan ayahnya. Meskipun menyakiti mamanya, tetapi semuanya dilakukan demi kebaikannya dan juga mamanya.


Ayahnya terus menerus merasa bersalah. Baik pada dirinya sendiri juga pada istrinya, anaknya serta semua rumpun keluarga yang ada.


“Papa. Aku minta maaf. Aku sering berprasangka buruk untuk semua ini. Tapi, ternyata pengorbanan papa begini untuk aku sama mama, makasih banget papa “ Ucap Ariel dengan linangan air mata.


Kejadian berlangsung hingga larut malam. Mereka semua merayakan ulang tahunnya Ardila dengan momen terindah yang mereka terima dari kehendak Tuhan. Tentu saja, jika Tuhan tidak berkehendak mungkin saja mereka tidak bertemu dengan orang-orang yang menjadi fasilitas untuk skenario Tuhan.


Ariel berdiri lama dengan keluarga barunya. Di atas panggung Nia, Ardila, Edward, Ariel dan Wulan. Mereka tertawa riah bersama dan saling memeluk satu sama lain. Sementara Uslin berdiri sendiri dengan penonton lainnya di bawah tenda. Tak lain, Uslin pasti saja sedang berlinang air mata tanpa ada yang menghapusnya. Ia sedang memiringkan kepalanya tanpa sandaran. Ia berusaha untuk melapangkan dada. Melihat cinta yang tulus yang didapatkan dan diterima Ardila dari Edward sangat langkah. Apalagi di zaman dunia semaju dan sepopuler ini. Tentu sangat tak mudah untuk menemukan kekasih yang seperti itu.


“Aku hanya manusia, aku nggak amnesia makanya aku nggak bisa lupa. Apa harus hati aku hangat dan percaya saja, padahal hanya janji palsu. Maafkan aku Tuhan, selalu lagi mengeluh. Kenapa aku selalu tak bisa menangkis memori aku untuk hal itu.” Bisik Uslin dalam hatinya sambil menangis. Ia mengingatkan kisah masa lalunya. Mengingat kembali hal-hal yang pernah ia rasakan. Meskipun rasa itu hanya sekedar menghampirinya dan bertahan sesaat lalu pergi.

__ADS_1


“Maaf...” Sebuah tangan kekar dan hangat datang menghangatkan tubuh Uslin saat ia sedang menunduk dan memejamkan matanya. Ia terpejam karena ia ingin menghilangkan perasaan yang kembali berputar dalam memorinya. Pelukan itu memang selalu hadir di saat dingin menghampiri Uslin. Seperti halnya matahari ia tahu kapan ia harus terbit dan menghangatkan tubuh di pagi hari.


“Jangan nangis lagi, aku di sini.” Kata itu kembali membuat air matanya deras tertumpah. Tak sanggup lagi menahan semuanya. Ia menangis untuk meluapkan segala rasa yang pernah ia tangiskan selama waktu berlalu di antaranya dan masa lalunya.


“Udah.” Ucapnya lembut sambil mengangkat kepalanya Uslin yang tertunduk dan bersembunyi di balik dada bidangnya. “Jangan gini lagi, hhm. Senyum yang aku mau bukan tangisan.” Sambil mengusap lembut di pipi Uslin untuk mengusap air mata yang mengalir.


Mata Uslin terarah ke penglihatan Ariel. Tergambar jelas lukisan sedih yang terukir di wajah Uslin. Secantik apapun dia saat itu, tetap saja raut wajah itu tak bisa berbohong.


Ia menggenggam erat tangan Uslin dan berjalan menuju salah satu meja kosong yang belum ditempati tamu. Mereka duduk di sana dan makan.


“Aku mau liat kamu macam gaun yang kamu pakai. Tetap mewah. Tidak perlu harus berbintang, senyum kamu aja udah cukup mewah buat aku.”


Uslin mengangguk. Tangannya terus digenggam erat oleh Ariel. Ariel perlahan melepaskannya dan mengajaknya makan. Ria dan kedua temannya yang resek itu terus memantau dari belakang. Rasa ingin mencabik Uslin adalah hal paling utama dalam benak Ria. Sementara kedua temannya mengompori Ria. Mereka terus melihat apa saja yang dilakukan Ariel dan Uslin dari kejauhan. Mereka tak berani mendekat karena takut Ariel melihat mereka. Sehingga mereka harus memiliki sebuah pemikiran agar bisa memilih posisi yang terhindar dari jangkauan penglihatan Ariel maupun Uslin.


Selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2