Aku tak pantas untuk mu

Aku tak pantas untuk mu
chapter 23


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Arya tiba di satu buah rumah yang sudah tidak terpakai lagi. Namun rumah tersebut masih bagus, jika kembali dicat dengan warna yang lebih bagus. Rumah besar dengan halaman luas tak kalah jauh berbeda dengan rumah milik kedua orang tua Arya.


Bedanya rumah yang saat ini didatangi oleh Arya, memiliki pohon yang besar dan terdapat pondok sederhana di atasnya.


"Tuan! Ini rumah milik siapa? " Tanya fasyin saat sudah turun dari mobil.


"Rumah lama milik mama. Sebelum pindah kerumah yang sekarang. Dulu kita semua tinggal disini. Dan diatas pohon sana adalah rumah rumahan milikku ketika aku masih kecil. Dulu ketika aku kena marah oleh mama. Maka aku akan lari kedalam rumah pohon ini. " Jawab Arya menerawang jauh kemasa lalu.


"Lalu kenapa rumah ini di tinggal begitu saja tuan? " Tanya fasyin.


"Entah lah aku juga tidak tau. Ayo kita naik keatas sana. " Ajak Arya pada fasyin.


"Tapi tuan saya.? "


"Tenang lah. Aku akan menggendong mu sampai keatas dengan selamat. " Jawab Arya seolah paham dengan kekhawatiran fasyin.


"Baiklah kalo begitu. Tapi tuan juga harus berhati hati. " Peringat fasyin yang dibalas anggukan kepala oleh Arya


Arya menuntun fasyin dengan pelan dan mulai menggendongnya. "Hati hati tuan! " Ucap fasyin ketika Arya hampir saja terpeleset.


Hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima menit. Arya dan fasyin sudah sampai diatas rumah pohon tersebut. Meskipun sudah malam, tapi fasyin masih dapat melihat keindahan kota bandung dimalam hari.


Lalu lintas yang masih padat dengan kendaraan yang berlalu lalang. Arya melihat fasyin yang setia memandangi jalanan kota bandung, tersenyum senang dibuatnya.


Arya masih belum menyangka jika sekarang ini, fasyin telah resmi menjadi tunangan nya. Padahal beberapa hari yang lalu fasyin sempat menolak dirinya. Entah mimpi apa Arya hari ini sehingga bisa memiliki fasyin. Hanya tinggal selangkah lagi, dan fasyin akan seutuhnya menjadi miliknya.


Arya mendekat lalu memeluk fasyin dari belakang. Tangannya ia lingkarkan ke perut fasyin yang buncit, sambil sesekali mengusapnya dengan pelan.


"Tu-tuan! Apa yang anda lakukan. " Ucap fasyin gugup


Bagaimana tidak gugup. Jika posisi mereka kali ini benar benar begitu intim. Dan ini adalah hal pertama bagi fasyin dipeluk oleh seorang pria.


"Tidak ada. Aku hanya ingin memeluk mu seperti ini. " Ucap Arya sambil mencium wangi coklat dirambut fasyin.


"Tapi tuan__"


"Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan tuan? Saat ini kau adalah calon istriku. Dan aku calon suami mu. " Ucap Arya membalikkan tubuh fasyin hingga saat ini keduanya saling berhadapan.


"Jika saya tidak memanggil anda dengan sebutan tuan. Lalu apa? " Jawab fasyin bingung.

__ADS_1


Meski gugup! Tapi fasyin berusaha agar tidak terlihat gugup sama sekali didepan Arya. Fasyin berada di dekat Arya maka fasyin selalu merasakan debaran debaran aneh dijantungnya . Seakan bertalu talu dengan kencangnya.


"Kau boleh memanggilku apa saja. Asalkan jangan tuan. Dan satu lagi? Berbicaralah seperti biasanya, jangan formal seperti itu. Aku tidak suka" Kata Arya menatap lekat fasyin.


Dag!


Dig!


Dug!


Jantung keduanya semakin bertalu semakin kencang. Saat kedua netra mereka bertemu. Fasyin merasa malu ditatap oleh Arya tanpa berkedip sama sekali.


Wajah fasyin memanas seperti kepiting rebus. Ia ingin menutupi menggunakan tangannya namun Arya mencegahnya.


Arya justru memeluk fasyin sambil tersenyum. " Untuk apa kau tutupi wajah cantik mu itu? " Ucap Arya


"Sa-saya malu tuan! " Jawab fasyin kembali berbicara formal


"Kenapa masih memanggil ku dengan sebutan seperti itu. Bukan kah sudah aku katakan, berhenti berbicara formal. " Rajuk Arya membuang muka


Fasyin bingung harus seperti apa? Ini adalah kali pertamanya berinteraksi dengan pria. Jadi wajar jika ia bingung, karna tidak mengerti harus bagaimana.


"Tapi tuan, eh maksud ku. Aku harus berbicara seperti apa? " Tanya fasyin


Blusshh!


Melihat senyum Arya seperti itu. Lagi lagi membuat fasyin salah tingkah. Oh ayolah! kenapa dirinya gampang sekali baper? Hanya karna senyum seperti itu saja sudah membuatnya salah tingkah seperti ini.


Apakah ini yang dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta? Fasyin benar benar tidak mengerti.


"Apa aku harus memanggil mu dengan panggilan seperti itu? " Tanya fasyin


Arya mengangguk. " Sebenarnya tidak juga? Jika kau ingin memanggil ku ayah. Hubby. Honey. Atau papa. Boleh boleh saja. "


Fasyin tersenyum. Mana mungkin ia akan memanggil Arya dengan panggilan seperti itu.


"Tapi! Bagaimana dengan panggilan kakak saja? Terdengar lebih sopan bukan? Secara umur kita terpaut jauh beberapa tahun. "


"Tidak! Aku bukan kakak mu nia. Jadi aku tidak sudi di panggil dengan sebutan seperti itu. "

__ADS_1


"Hm! Yasudah mas aja gimana? "


Arya tampak berpikir. Seperti nya tidak menjadi masalah jika fasyin memanggil dirinya dengan sebutan mas. Toh banyak juga orang orang diluaran sana yang memakai nama panggilan seperti itu.


"Terdengar lebih baik dari pada kakak. Baiklah aku suka dengan panggilan itu. " Ucap Arya tersenyum


Fasyin akhirnya bernafas dengan lega. Setidaknya dengan panggilan seperti itu. Masih dapat didengar dengan baik oleh dirinya sendiri.


"Ini pakailah jaz ku. Aku tau sedari tadi kau menahan dingin bukan? Udara malam tidak cocok untuk wanita hamil seperti dirimu. " Ucap Arya memberikan jaz nya.


Sementara fasyin hanya bisa membatin. "Sudah tau tidak bagus. Bukannya dari tadi nawarin jaz, malah baru sekarang. "


"Tidak usah meledek ku. Sebenarnya sedaritadi, aku hanya menunggu mu yang memintanya. Tapi karna kau sedari tadi hanya diam. Yasudah aku langsung saja memberinya. "


Fasyin tersedak air ludah nya sendiri. Bagaimana bisa Arya tau dengan yang ia katakan? Apakah dirinya cenayang? Pikir fasyin


"Aku bukan cenayang nia. Aku adalah calon suami mu. " Ucap Arya lagi yang membuat fasyin menoleh padanya.


Tuhkan. Baru saja dikatakan Arya cenayang apa bukan. Dan lagi lagi Arya dapat menebak pikiran fasyin.


"Hahaha! Tidak usah kau pikirkan. Ini sudah larut malam. Ayo kita masuk saja kedalam. " Ajak arya dan diikuti oleh fasyin.


Arya membuka pintu dari rumah tersebut dan menyalakan lampu. Fasyin dibuat takjub dengan isi dari rumah pohon itu.


Lampu tumbler dengan warna ungu dan putih menghiasi sekeliling rumah tersebut. Satu meja bundar kecil dan bantal untuk alas duduknya. Ada juga kasur dan lengkap dengan selimut dan gulingnya.


"Kamu suka? " Tanya Arya pada fasyin.


Fasyin mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari sudut rumah tersebut. " Suka banget mas! Kalo dilihat dari dalam begini, seperti nya rumah ini dirawat dengan baik. Bahkan nggak semua rumah pohon diginiin. "


"Kamu benar. Aku sengaja merawat dan memberikan rumah ini lampu. Agar suatu saat nanti aku bisa kesini dan menikmati ketenangan disini. Bukan hanya ini. disini juga ada radio kamu bisa mendengarkan musik kalo kamu bosan! " Arya memberi tau


"Memang nya kamu nggak sadar? Dari kita  naik pohon tadi, sudah dikelilingi lampu tumbler ini. " Sambung Arya lagi


Kening fasyin berkerut. " Masa sih mas? "


"Iya. Kalo nggak percaya cek aja diluar. " Jawab Arya.


Fasyin pun kembali keluar dan memperhatikan pohon tersebut. Benar saja, bukan hanya Ranting dan dahan, tapi dedaunan nya juga dikelilingi lampu tumbler. Fasyin benar benar dibuat kagum.

__ADS_1


Bagaimana bisa ia tidak menyadari hal itu. Fasyin pun kembali masuk kedalam dan duduk dikasur yang telah tersedia disana.


Arya juga ikut duduk. Dan menyetel musik untuk menghilangkan rasa bosan mereka. Tanpa mereka sadari mereka bernyanyi bersama sambil diiringi tawa bahagia dari keduanya..


__ADS_2