
"papa gevandra, pah." ucap indri kaget melihat putra keduanya itu tergantung bebas di atas sana
tomi sendiri masih syok dengan pemandangan yang ia lihat ini. kenapa anaknya bertingkah nekat dan juga bodoh seperti ini. bener bener tidak habis pikir bagi tomi.
"pah! kenapa papa malah diam aja disana, ayo cepat turun kan gevandra, pah." ucap indri menangis histeris
tomi yang mendengar tangisan dari istrinya pun tersadar dan dengan segera menaiki kasur, untuk membuka ikatan tali yang terikat dengan kuat dibaling baling kipas tersebut.
"Aduh pah, kenapa lama banget sih. Buruan dong. Nggak kesian liat wajah anaknya yang udah membiru gitu. " Jawab indri kesal.
Kesal karna tomi lama sekali hanya untuk membuka ikatan seperti itu. "Iya mah, ini kuat banget. Tolong cari gunting atau apa gitu yang bisa dipake untuk buka ikatan ini. "
Indri pun dengan segera lari, dan mencari benda yang diperlukan. Setelah dapat Indri langsung saja menyerahkannya pada tomi.
Setelah berusaha keras. Akhirnya ikatan nya itupun terputus, dan tomi langsung saja merebahkan tubuh gevandra dan memeriksanya.
"Pah, gimana? Apa Gevandra masih bernafas. " Ucap Indri risau
Tomi menghembuskan nafas gasar sembari menggeleng. "Gevandra udah nggak ada mah. " Jawabnya pelan
Deg!
Nafas Indri rasanya tercekat ditenggorokan nya. Apa tadi kata suami nya? Gevandra udah nggak ada. Dunia Indri seraya berhenti mendengar penuturan suaminya.
"Ti-tidak pah! Papa pasti bercandakan. Nggak mungkin gevandra ninggalin kita. Cepat telpon dokter pah, atau kita langsung saja bawa ke rumah sakit, ayo pah. " Ajak Indri kekeuh
Dirinya masih belum terima jika gevandra dikatakan telah tiada. "Mah cukup! Gevandra benar benar sudah nggak ada. " Jawab Tomi
Sebenarnya dirinya juga merasa sedih dan hancur. Tapi dirinya harus tegar Agar tak membuat Indri semakin histeris.
"Ini pasti gara gara, wanita miskin itu! Pokoknya mama nggak bisa tinggal diam. Mama harus temui wanita miskin itu. Gara gara dia gevandra jadi seperti ini. " Gumam Indri dengan tangan yang terkepal, lalu pergi dari sana tanpa menghirau Tomi yang sedari tadi memanggilnya
Bukannya mengurusi sang anak, dirinya justru pergi menemui orang lain. Mau tak mau pun Tomi yang mengurus semuanya, dibantu oleh para pekerja yang ada di rumahnya.
Sebelum itu Tomi sudah menghubungi lolita, putri pertamanya yang sedang melanjutkan pendidikan nya di negara Korea.
__ADS_1
**
**
"Nia, ayo makan dulu nak. " Panggil mega menghampiri Arya dan juga fasyin.
Karna jam yang menunjukan makan siang mega pun menemui fasyin dan juga Arya, agar bisa makan bersama. Meski sudah telat, karna adanya rapat mendadak tadi.
"Astaga! Aku sampai lupa, kalo kita belum makan siang. " Gumam Arya menepuk jidatnya
"Yasudah ayo, daddy kamu juga udah nunggu itu. " Ucap mega Arya dan fasyin pun langsung saja mengikuti mega menuju ruang makan.
Namun saat mereka tiba disana, tiba tiba saja ada suara gaduh dari luar. "Ada apa itu bik? Siapa yang datang? " Tanya mega dengan alis yang bertaut dalam.
"Itu nyonya. Kayanya dari suara nya, yang datang itu nyonya Indri. " Jawab bik yem
Mega menajamkan pendengarannya, ternyata benar jika itu adalah Indri. "Bibi kembali saja kebelakang! Dia biar menjadi urusanku. " Ujar mega dengan nada datarnya
Bik yem menuruti dengan patuh, lalu mengundurkan diri seraya membukuk sopan. Sementara mega sendiri melangkahkan kakinya kedepan, diikuti oleh Arya, bramantyo, dan juga fasyin.
Pintu terbuka dengan lebar, dan terlihatlah Indri dengan penampilan yang begitu kacau. Rambut berantakan. Pakaian yang tidak rapi. Mega mengernyit heran kenapa penampilan Indri seperti ini, selalunya pasti berpenampilan rapi dan juga anggun.
"Ada apa dengan mu Indri? Kenapa kau seperti ini. " Tanya mega bingung.
"Aku seperti ini gara gara dia mbak. Gara gara wanita miskin itu, anak ku jadi meninggal. " Tunjuk Indri menggebu gebu pada fasyin.
Mereka semua mengkerutkan alis pertanda bingung. Apa ini? Siapa yang meninggal. "Tunggu dulu Indri. Kau tenanglah, dulu. Siapa yang meninggal" Tanya mega tak paham begitupun dengan yang lainnya
"Ya! Gevandra sudah meninggal, karna menggantung diri dikamarnya. Dan itu semua gara gara wanita miskin itu. Dengan lancang nya dia menuduh putraku menghamilinya. " Ucap Indri marah
Baik mega maupun yang lainnya terkejut dengan penuturan yang Indri katakan. Yang mengatakan jika gevandra bunuh diri dengan cara menggantung dirinya sendiri. Namun fokus Arya tidak disitu, melainkan perkataan Indri yang menghina fasyin. Arya paling tidak suka jika ada orang lain menjelek jelekan calon istrinya, baik itu berasal dari keluarga nya sendiri.
Sedangkan fasyin hanya bisa diam dengan kebingungan. Anaknya sendiri yang gantung dirinya, tapi kenapa malah menyalahkan diri nya. Entahlah fasyin benar benar bingung dengan jalan pikiran wanita paruh baya yang berada di hadapan nya ini.
"Jangan pernah gunakan mulut Anda, untuk mengatakan hal yang tidak tidak pada calon istriku. " Ujar Arya dengan nada datar
__ADS_1
"Calon istri? Kau masih menganggap wanita hina dan pembunuh ini calon istri mu Arya! Benar benar membuat nama keluarga malu saja. Kau memperistri wanita pembunuh seperti dia. " Jawab Indri kalut
Arya menggeram dan mengepalkan tangannya. Jika yang di hadapannya ini bukan wanita, mungkin Arya sudah menghajar habis habisan Wajah dari lawan bicaranya saat ini.
Plak!
Satu tamparan mendarat diwajah Indri dengan sempurna! Bahkan tercetak dengan jelas lima jari mega diwajah putih mulus Indri.
"Bukan kah sudah aku katakan, Jaga bicara mu! menantuku bukan wanita seperti yang kau katakan. Dia hamil juga karna ulah anakmu yang tidak bertanggung jawab itu! Dan lagi. dia meninggal karna menggantung dirinya sendiri, bukan karna calon menantuku. Disini yang menjadi korban adalah calon menantuku. Jadi dia tidak bersalah sama sekali. Dan juga, anak mu lah yang sudah membuat malu nama keluarga Dwipangga bukan calon menantuku. Kau camkan itu baik baik Indri! "Sarkas mega dengan ber api api
Arya tersenyum miring, melihat Indri ditampar keras oleh ibunya sendiri. Dan bramantyo diam menikmati pertunjukan ini tanpa adanya niat untuk membuka suara. Tanpa dirinya membuka suara pun mega sudah ada untuk membela fasyin. Sedangkan fasyin sendiri merasa terharu karna mega membela dengan baik. Benar benar calon mertua idaman.
Banyak diluar sana, para calon ataupun mertua yang tidak suka jika anaknya menikah dengan wanita yang hamil diluar nikah. Jangankan untuk itu, mungkin memiliki calon menantu yang sudah tidak virgin sebelum menikah. Pasti akan sulit diterima. Karna mereka beranggapan jika wanita yang seperti itu bukanlah wanita yang baik baik.
Tapi lihat lah ini. Mega justru kebalikannya dari wanita wanita yang ada diluaran sana. Sementara Indri sendiri dibuat syok akibat tamparan panas pada pipinya yang ia dapatkan dari mega sang kakak ipar. Ini adalah kali pertama bagi dirinya melihat mega semarah ini dan dengan gampangnya melayangkan tamparan keras pada dirinya. Karna selama ini mega tidak pernah terlihat semarah ini, bahkan dengan gampangnya menampar.
Hanya untuk membela, wanita miskin itu. Benar benar Indri tidak habis pikir, karna terlanjur kadung kesal dan perih dengan pipinya, ditampar oleh mega. Dirinya pun pergi dari sana dengan perasaan yang masih marah. Tapi sebelum benar benar pergi dari sana, Indri melayangkan tatapan penuh permusuhan pada fasyin. Ia berjanji tidak akan membiarkan fasyin hidup tenang setelah membuat putra keduanya meninggal.
Sepeninggalan Indri semua yang ada disana menarik nafas dengan lega. "Dasar manusia aneh. Anaknya sendiri yang memilih untuk mengakhiri hidupnya, kenapa malah orang lain yang disalahkan. Sinting! " Cibir mega tidak suka
Tapi ia sedikit merasa lega, karna sudah menampar Indri begitu keras. Semenjak Indri menikah dengan Tomi. Bagi mega Indri adalah pengaruh buruk untuk Tomi, karna Tomi selama menikah dengan nya menjadi anak yang pembangkang dan juga keras kepala.
Sering melawan dan juga memiliki sifat serakah. Yang mungkin saja, ia dapatkan dari Indri yang memang adalah perempuan matre.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Daddy lapar mending kita lanjutkan saja makan siang yang sempat tertunda ini. Kasian nia mom. Lagi hamil besar begitu, nggak baik nunda makan lama lama. " Jawab bramantyo
Arya dan juga mega menepuk jidatnya. Mereka sampai melupakan makan siangnya. Semua gara gara si nenek lampir itu yang asal tuduh orang sembarangan.
"Astaga! Mommy sampe lupa. Ya sudah ayo kita lanjutkan makan siangnya" Rangkul mega pada tangan fasyin.
"Tapi bu. Kita nggak pergi ngelayat ke rumahnya tante Indri? " Tanya fasyin
"Alah nggak perlu! Biarin aja mereka, kita nggak perlu ngelayat ngelayat segala. Biarkan saja mereka berpikir apa tentang kita, yang jelas jangan ambil pusing. Mungkin terkesan jahat ya, tapi juga ini salahnya sendiri. Mommy juga masih gedeg sama masalah tadi. " Jawab mega bodo amat.
Fasyin hanya diam dan menurut saja,meski selera makannya sudah hilang karna masalah tadi. Toh menolakpun dirinya tidak akan mampu. Pasti akan selalu dipaksa dan dipaksa
__ADS_1