
****
"Tadi saat dirumah. Beberapa anggota kepolisian datang dan memberikan mama surat penangkapan kalian berdua. Mama kecewa dengan kalian, mama kira anak yang mama banggakan bisa mama andalkan. Tapi apa? Kalian justru membuat mama harus kembali menelan kekecewaan! Yang semula kalian bekerja sebagai pria bayaran, lalu sekarang kalian harus melakukan kasus penculikan anak. Bukan hanya itu saja. Ternyata dibalik kesengsaraan yang nia hadapi selama ini, itu adalah ulah kalian. Kalian dengan sengaja menjebak nia hingga nia hamil dan diusir oleh papanya sendiri dari rumah. Dan itu semua gara gara rencana kalian, apa yang sebenarnya kalian inginkan? Dan mengapa kalian melakukan Ini. "Lirih ziah panjang lebar dengan air mata yang sudah tak tahan lagi ia bendung.
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh ziah tentu membuat rehan dan juga bayu terkejut bukan main. Dari mana mamanya ini tau tentang masalah yang mereka lakukan selama ini.
"Ti-tidak ma, itu tidak benar sama sekali. Siapa yang sudah dengan berani memfitnah kami ma. " Elak rehan dengan wajah yang dibuat seyakin mungkin
Ziah menatap putrany dengan mata yang memicing curiga, mencari kebohongan dimata sang anak. Rehan yang memang tidak pandai dalam menyembunyikan sesuatu terlihat jelas dari gerak gerik matanya yang terus saja bergerak gelisah.
"Kau tidak bisa membohongi mama mu ini rehan! Katakan dengan mama, apa yang kalian inginkan hingga kalian melakukan hal yang membuat kalian menjadi rugi sendiri seperti ini. " Ucap ziah kembali mengulangi kata yang sama.
Rehan dan bayu masih diam tak berniat membuka suara sedikitpun. Mereka juga bingung ingin berkata seperti apa!! Apa iya mereka harus mengatakan jika mereka melakukan hal itu hanya karna merasa iri pada Fasyin selama ini.
"Jawab mama rehan! " Tuntut ziah meminta penjelasan
"Fine! Kita melakukan itu semua karna merasa iri pada anak pembawa sial itu mah, mama selalu memberikan perhatian lebih dengan nya. Mama juga selalu membanding bandingkan kita dengannya. Kita nggak suka itu, yang anak mama itu kita bukan dia. Makanya kita melakukan hal seperti itu dengannya. Lagian, kenapa anak pembawa sial itu sekarang malah hidupnya semakin enak sih. Seharusnya dia itu nggak pantas bahagia, dia itu cuma pantas menderita. Dia cuma anak pembawa sial yang_"
Braak!
Ziah menggebrak meja dengan kuat membuat rehan dan bayu terlonjak karna kaget. Mereka kaget karna melihat ziah menggebrak meja dengan sangat kuat.
"Ada apa ini! Dimohon untuk tidak membuat keributan bu, " Ucap penjaga wanita mendekat saat mendengar suara gaduh
__ADS_1
"Baik bu, saya tidak akan mengulanginya lagi. " Jawab ziah sopan
"Baiklah. Waktu besuk hanya tersisa 10menit lagi. " Ucap penjaga wanita itu lalu pergi dari sana, sedangkan ziah hanya mengangguk pelan
"Mulut kalian itu benar benar tidak pernah dididik sama sekali! Apa ini yang mama ajarkan dengan kalian? Tak seharusnya kalian merasa iri pada nia. Dan asal kalian tau, nia bukanlah anak pembawa sial. Ingat itu baik baik rehan, bayu! Dan juga, apa yang kalian iri kan dari nia, haa? Seharusnya nia lah yang merasa iri dengan kalian. Karna apa? Karna kalian mendapatkan kasih sayang dari ayah nya, ayah kandungnya. Kalian juga selalu diberi uang yang cukup, hidup dengan bergelimang harta. Kalian bersekolah di sekolahan termahal dan ternama. Setiap hari kalian dapat makan enak. Sedangkan nia? Apa yang dia dapatkan ha? Apakah nia hidup senang seperti kalian? Jawabannya tidak! Lalu apakah nia mendapatkan kasih sayang dari ayahnya? Jawabannya tidak lagi! Lalu apakah nia mendapatkan uang belanja dari ayahnya? Tentu tidak! Apakah nia juga bersekolah sama seperti kalian? Lagi, jawabannya tidak! Nia tidak pernah bersekolah sekalipun, selain bik surti yang mengajarkannya,itupun hanya dengan buku bekas milik kalian. Terus, apakah nia makan dengan baik dan enak? Lagi kata tidaklah yang pantas diucapkan! Nia sama sekali tidak pernah makan enak, selain tahu dan tempe saja setiap harinya. Sedangkan kalian? Kalian hanya anak tirinya tapi kalian diperlakukan layaknya seperti anak kandung. Lalu dari itu semua apa yang kalian iri kan dari nia? Apa salah mama berbuat baik padanya dan menyayanginya? Apa coba yang kalian iri kan. Gunakanlah otak untuk berpikir. Jangan kedepankan ego dan pikiran pendek kalian itu. Lihat apa akibat ulah dari yang kalian buat? Maaf mama tidak bisa bantu sama sekali, tapi mama akan sering datang kesini untuk berkunjung melihat kalian. Dan sekarang nikmatilah masa hukuman kalian ini. "Ucap ziah panjang lebar pada kedua anak nya itu
Ziah bangkit dari duduknya lalu beranjak meninggalkan sepasang kakak beradik itu. Mereka terdiam dengan pikiran masing masing, namun tak ayal mereka juga membenarkan semua kalimat yang dilontarkan oleh ziah tadi pada mereka.
Sambil terus berjalan menuju dimana sel mereka berada, rehan dan bayu tak henti hentinya memikirkan semua kalimat yang dilontarkan oleh sang mama. Benar apa yang dikatakan oleh sang mama. Apa yang seharusnya mereka iri kan? Bukankah semua sudah adil mereka dapatkan? Sementara Fasyin? Jauh berbanding terbalik dari mereka yang statusnya hanyalah anak tiri saja.
Tak ingin memikirkan hal itu berlarut larut membuat mereka pusing,lebih baik tidur saja. Karna memikirkan hal yang tadi diucapkan oleh ziah sang mama, mereka hanya bisa mendesah frustasi!! Entahlah jika membahas soal Fasyin selalu membuat mereka menjadi muak sendiri. Namun entahlah!! "Mending gue tidur dari pada mikirin omongan mama tentang gadis itu. " Ujar rehan yang langsung memejamkan matanya
Sementara itu dilain tempat lebih tepatnya di sekolahan SMA Negeri seluruh pasang mata menatap kagum pada seorang gadis yang datang dengan mobil mewah pengeluaran terbaru. Eh gadis? Affah iyaa? Hihi
Ada sedikit rasa iri pada dirinya. Sebab apa? Sebab ia sudah meminta sang ayah untuk dibelikan mobil seperti yang sesil pakai saat ini, namun jawaban yang diberikan dari sang ayah justru membuatnya kecewa.
Kecewa karna sang ayah mengatakan nya nanti dan selalu nanti. Tapi hingga saat ini tak juga kunjung sang ayah memberikannya mobil yang ia minta.
"Hebat. Pasti orang tua lo sayang banget ya sama lo, buktinya langsung dibeliin. " Ucap zahra juga ikut memuji
"Oh iya dong, gue beli nya semalem dan baru dianter malam tadi. Gimana? Keren kan. " Sombong sesil dengan dagu yang terangkat
"Enak bener, ajakin kita ke Mall boleh nih kayanya. Apalagi nyobain mobil baru. " Ujar zahra dengan alis yang naik turun
__ADS_1
"Ck. Iya iya, yuk masuk, " Ajak sesil kepada dua sahabatnya itu.
Mereka pun berjalan menuju kelasnya tak memperdulikan tatapan seluruh murid yang mengagumi sesil.
***
Selama perjalanan ziah hanya memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong, Selain sudah tidak memiliki uang untuk naik angkot. Ziah terpaksa memilih untuk berjalan kaki. Pikiran jauh memikirkan kedua putranya yang mencekam didalam penjara. Apalagi mengingat wajah kedua putranya yang memelas minta ingin segera dilepaskan
Ziah ingin sekali membebaskan kedua putranya itu, namun jika dipikir pikir lagi. Mereka memang pantas mendekam disana dan Fasyin sudah memilih jalan yang benar. Baru saja ziah tiba dirumah, lagi lagi diri nya harus mendengarkan ocehan tak berkesudahan dari suaminya itu.
"Dari mana saja kau? Suami pulang bukannya berada dirumah tapi kau malah keluyuran tidak jelas. Siapkan aku makanan, aku lapar! " Titahnya dengan nada yang membentak
"Lapar? Apa mas bilang lapar? Memangnya mas ada memberiku uang untuk berbelanja? Nggak ada kan? Jadi makan saja angin tidak perlu meminta makanan padaku. Pergi malam dan baru pulang pagi dijam yang hampir siang seperti ini, dan pulang pulang meminta makan. Makan saja tempat perjudian mu itu sampai kenyang mas! Tidak perlu meminta makan lagi pada istrimu ini, bukankah tempat judi mu itu adalah istri baru mu sekarang? Kau menghabiskan uang kesana tanpa memikirkan anak dan istrimu yang masih berada dirumah ini. Lalu sekarang dengan gampangnya kamu meminta makan pada ku? Pikir mas, pikir, "jawab ziah kesal dengan kelakuan suami itu.
Memiliki uang bukannya memberikannya pada istri malah dihambur hamburkan dengan bermain judi dan juga mabok mabokan yang tidak jelas itu.
Plakk!
Satu buah tamparan ziah dapatkan dari suaminya. Ini adalah kali pertamanya Diki berani bermain tangan padanya. Ziah menatap suaminya dengan pandangan tak percaya sambil sesekali meringis merasakan perih pada pipinya.
"Itu tamparan karna kau berani mebantahku. Sudah tugasnya seorang istri itu melayani suaminya, terutama soal makanan. Tapi kau malah dengan lancangnya mengatakan hal itu pada ku. " Desis Diki emosi
Ziah diam dengan mata yang berkaca kaca. Ziah memilih pergi dan mengabaikan teriakan suaminya yang terus memanggil namanya. Dirinya lelah dengan keadaan yang ia alami ini. Dari kedua putranya yang masuk penjara lalu sekarang suaminya yang sudah dengan beraninya bermain tangan dengannya. Entahlah ziah benar benar ingin mengakhiri hidupnya saja jika terus terusan bertahan dengan keadaan seperti ini.
__ADS_1