
~*~
^masih seputar dengan flashback on^
"Kalian tunggulah disini. Daddy akan segera kembali. " Ucapnya tanpa mendengarkan jawaban dari Arya dan juga mommy mega.
Sepeninggal nya daddy bramantyo, Arya dan juga mommy mega saling lirik satu sama lain. "Kemana daddy mu Arya? " Tanya mega pada sang putra
Arya menghela nafas lelah, "jika mommy bertanya padaku, lalu aku harus bertanya dengan siapa? Bukankah sedari tadi aku berada disini? " Ucapnya sedikit kesal
Mommy mega diam tanpa menjawab pertanyaan sang putra lagi. Keduanya sama sama diam dengan pikiran masing masing. Jika mommy mega sangat penasaran dengan Sipengirim pesan, maka lain halnya dengan Arya yang sudah pasti memikirkan jika perginya sang daddy ada sangkut pautnya dengan musibah yang menimpa dirinya.
Karna Arya berpikir jika musibah yang tengah ia alami ini pasti ada sangkut pautnya dengan salah satu rekan bisnis yang bekerja sama dengannya. Ya, Arya yakin akan hal itu. Karna sebelum dirinya memutuskan untuk pulang kerumah.
Arya menyempatkan diri untuk menghadiri meeting. Namun meeting itu tidaklah berjalan lama karna dokumen yang Arya baca, ada sebuah kejanggalan yang membuat Arya tidak jadi menandatangani kontrak kerja samanya, dan juga Arya membatalkannya begitu saja.
Tentu hal itu membuat rekan bisnisnya menjadi marah dan tidak Terima jika kontraknya dibatalkan begitu saja tanpa persetujuan darinya.
"Maaf, tapi saya tidak bisa untuk menerima kerja sama ini. " Ucap Arya dengan nada datarnya
"Kenapa? Bukankah sebelumnya anda sudah menyetujui nya? Lalu kenapa anda berubah pikiran secepat itu? " Tanya pria paruh baya yang bernama willi itu
"Ya, itu memang benar. Tapi sebelumnya dokumen yang saya baca dan yang saya lihat tidak seperti ini. Lalu kenapa semua dari isi surat ini memiliki banyak sekali Perubahan nya? Apa kau ingin mencoba menipuku dengan mengambil setengah keuntungannya sedangkan aku hanya mendapatkan seperempat nya saja. Apa kau kira aku ini hanya anak yang bodoh yang bisa menerima semuanya begitu saja? Heh, anda boleh menilai saya dari umur. Tapi anda tidak bisa membodohi saya, "ucap Arya tegas
Melihat itu tentu willi marah dengan tangan yang terkepal erat di kedua sisi tangannya. " Aku tidak peduli. Pokoknya kau harus mau menerima kerja sama ini tuan Arya yang terhormat, "jawab willi dengan menekan kan kata terhormat dikalimat akhirnya
" Oke. Saya akan menerima nya,"ucap Arya yang membuat senyum dari pria itu muncul namun setelah mendengar kelanjutannya senyum yang tadinya terukir dengan sempurna mendadak hilang begitu saja. "Jika kau masih ingin melanjutkan kerja sama ini, bagi hasil harus dibagi dua. Alias sama rata bagaimana? "
"Tidak bisa begitu. Kesepakatan itu semua sudah tertulis didalam dokumen ini. Jadi tidak ada keputusan yang berubah, " Jawabnya dengan nada sedikit kesal
"Yayaya, baiklah jika seperti itu. Kerja sama Ini saya batalkan. Dan silahkan keluar dari ruangan saya, " Usir Arya secara halus
Mendengar itu tentu membuat willi semakin marah. Sebelum dirinya benar benar keluar dari ruangan itu willi sempat memberikan sumpah serapah pada Arya.
"Cih! Sombong sekali anda. Lihat saja, akan ku pastikan suatu saat nanti perusahaan mu ini akan hancur hingga tak menyisakan sedikitpun. Ingat baik baik pesanku Ini. Cepat atau lambat kau akan benar benar hancur atas kesombongan yang kau miliki ini. Sudah untung aku mau bekerja sama denganmu, tapi kau? Dengan angkuhnya menolak. " Ucap willi dengan tatapan sinis
Arya terkekeh kecil dengan penuturan pria tua yang berada dihapannya ini. "Apa kau yakin dengan ucapan mu barusan? Apa kau lupa siapa aku? Silahkan saja,aku sama sekali tidak takut akan sumpah serapah mu itu. Bagiku itu sama sekali tidak berarti, silahkan keluar dari ruangan saya, " Ucap Arya tak kalah sengit
Brakkk!
Willi tak lagi menjawab ucapan Arya, dirinya memilih untuk keluar dari ruangan tersebut dan membanting pintu sekuat tenaga hingga membuat beberapa karyawan lagi terlonjak kaget.
Arya? Ia hanya cuek saja. Dan mengemasi seluruh peralatan nya. Dan bergegas untuk segera pulang,
__ADS_1
Sementara itu willi yang masih gondok hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk. Gagal sudah rencana nya untuk bekerja sama di perusahaan grup AR tersebut. Dirinya mengira seorang anak kecil seperti Arya akan dengan mudah untuk dikelabui, namun sayang. Expetasinya tak sesuai harapan yang ia inginkan.
Sebelum menuju kantor Arya, willi memang sudah menghubungi asisten pribadinya yaitu Edwin. Untuk memberi tau soal kerja sama mereka. Namun yang willi kirimkan hanya dokumen palsu dengan keuntungan besar yang akan Arya dapatkan.
Dirinya sempat berpikir jika Arya tidak akan memeriksa ulang dokumen itu dan langsung menandatangani nya saja. Akan tetapi Arya justru membaca ulang semua isi dari dokumen itu, yang membuat Arya tidak ingin sama sekali bekerja sama dengannya.
Meskipun Arya sudah menawarkan diri untuk membagi hasil dengan sama rata. Itu tak membuat willi setuju untuk pendapat yang Arya katakan. Willi yang memang memiliki ambius yang besar tentu akan menolaknya bukan?
Semua lamunan itu buyar ketika melihat Arya keluar dan menuju mobilnya. Pikiran jahat langsung kedalam otaknya. Dengan cepat willi memerintahkan beberapa anggota perampok untuk menghajar dan membuat Arya mati. Willi rasa hal itu saja pasti akan sangat cukup untuk membalas kesombongan yang Arya tunjukan padanya.
Dan dari situ lah sepuluh anggota perampok dengan badan besar mencegah Arya dan mengeroyok nya hingga Arya benar benar sudah tidak sadarkan diri lagi.
Sementara itu saat ini bramantyo sudah berada dirumah sang pelaku. Dan kebetulan sekali saat pintu terbuka membuat pria itu gugup bukan main. Siapa yang tidak kenal dengan seorang bramantyo Dwipangga
~*~
Ting!
Tong!
Ceklek!
"Maaf, tuan. Mencari siapa? " Ucap seorang maid
"Oh, sebentar tuan. Akan saya panggilkan, "ucap maid tersebut dan kembali masuk kedalam.
"Lho, tuan bramantyo bukan? Tumben sekali anda berkunjung kerumah milik saya yang sederhana ini" Ucap willi ber'basa basi
Bramantyo hanya menatap datar pria yang sudah dengan lancangnya mencelakai putranya. Tanpa aba aba bramantyo mengkode kedua anak buahnya untuk mencekal kedua tangan willi.
"Hei.. Apa apaan ini! Lepaskan tangan saya, " Ucap wili memberontak
"Bawa dia, " Titah bramantyo tak terbantahkan
"Siap tuan. " Jawab kompak kedua bodyguard tersebut
Mereka menyeret willi membawanya menuju mobil. Tanpa menghiraukan willi yang terus saja minta dilepaskan.
"Sialan! Lepaskan saya, apa salah saya hingga kalian membawa saya seperti ini!" Teriak willi namun tak digubris sama sekali oleh kedua bodyguard tersebut
Bugh!
Salah satu dari bodyguard itu memukul tengkuk leher willi hingga sang empunya pingsan tak sadarkan diri. Sesampainya dimobil kedua bodyguard itu mengikat tangan dan juga kaki wili. Tak lupa mulutnya juga diberi lakban.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menyusul mobil bramantyo yang sudah jalan terlebih dahulu. Hingga beberapa menit di perjalanan mobil mereka pun tiba di salah satu rumah yang letaknya cukup terpencil dan teramat sangat sunyi.
"Ikat dikursi, lalu siram dengan air es" Ucap bramantyo.
Salah satu dari bodyguard itu mengikat wili dikursi dengan sangat erat. Lalu melepaskan lakban yang berada di mulut willi.
Byur!
Uhuk!
Uhuk!
Wili terbatuk batuk akibat siraman air yang masuk melalui hidungnya. "Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak, " Bramantyo berujar dengan nada datarnya
Willi yang mengatur nafasnya perlahan lahan mulai mengumpulkan kesadaran nya. Ia menatap kesekitar dan berhenti pada satu orang yang menatap nya dengan pandangan datar.
"Bastard! Lepaskan aku! Kenapa kau membawa ku kemari haa! " Umpat wili kesal
Bugh!
Bramantyo memberikan satu pukulan telak pada willi hingga sudut bibir dari pria itu mengeluarkan darah. "Kau masih bertanya, mengapa aku membawamu kemari? Dan kau juga masih belum menyadari apa kesalahan mu! Hebat! " Ucap bramantyo tertawa sumbang
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, sialan! "
Bramantyo menghentikan tawanya, lalu kembali menatap willi dengan tatapan datar. "Baiklah, jika kau memang lupa. Aku akan mengingatkan nya kembali. " Ucap bramantyo memberi kode pada salah satu anak buahnya
Salah satu dari anak buahnya maju. Dan memperlihatkan rekaman CCTV dimana orang orang suruhan willi menghajar Arya membabi buta. Dan setelah arya tumbang, mereka pergi begitu saja menyusul willi yang tertawa dengan puas melihat kejadian itu. Disana juga terlihat jelas bahwa willi memberikan amplop yang sangat tebal sekali. Sudah jelas itu adalah uang bukan?.
Willi yang melihat semua dari rekaman itu membelalakan mata dengan sempurna. "Sial! Kenapa aku tidak tau kalau jalan itu ternyata memiliki CCTV, "batin willi
" Bagaimana, apa kau ingat dengan kejadian itu, "ucap bramantyo
Willi hanya diam. Tak lagi berkutik, jika sudah seperti ini dirinya tak dapat lagi mengelak. Dan dapat dipastikan ini adalah hari terakhirnya hidup.
" Sayang sekali, aku tidak ingin mengotori tanganku hanya untuk menghabisi sampah seperti mu. Jadi semua itu kuserahkan pada anak buahku. Kalian! Habisi sibrengsek satu ini, jangan berikan dia ampun! Jika perlu jangan biarkan dia hidup, "ucap bramantyo dengan seringaian jahat di wajahnya
" Dengan senang hati tuan! "Jawab para anak buahnya kompak
Setelah mengatakan hal itu. Bramantyo keluar dari sana tanpa menghiraukan teriakan willi yang meminta ampun padanya. Bagi bramantyo tidak akan ada ampun untuk orang yang sudah dengan beraninya menyentuh putra kesayangan nya.
~*~
Flashback off
__ADS_1