Aku tak pantas untuk mu

Aku tak pantas untuk mu
chapter 37


__ADS_3

"Kamu dari mana Arya? " Tanya mega ketika melihat Arya baru masuk


"Dari luar mom, Arya harus segera pergi, mendadak ada urusan kantor. " Ucap Arya


"Oh yaudah sana. Nia biar sama mommy aja disini, lagian ada bik surti juga kok. " Jawab mommy mega


"Makasi mom, sayang aku pergi dulu sebentar. Kamu tinggal sama mommy dan bik surti dulu disini ya, nggak papa kan? " Ucap Arya sambil mencium puncak kepala fasyin


"Nggak papa mas. Lama juga nggak papa kok, " Jawab fasyin sedikit malu


Bagaimana tidak malu? Bisa bisanya Arya mencium dirinya didepan orang tuanya dan juga bik surti. Mungkin jika hanya berdua tak apa, bukan malah didepan orang tua seperti ini


Sedangkan Arya tau jika fasyin saat ini tengah menahan malu akibatnya ulahnya. Dapat dilihat dari pipinya yang merah merona, namun Arya tak menanggapi nya selain pura pura tidak tau.


"Yaudah kalo gitu aku pergi dulu ya, mom bik. " Pamit Arya yang dibalas anggukan kepala oleh mereka


"Hati hati ya, ntar pulangnya mommy titip jus alvokado boleh? " Tanya mommy mega


"Boleh dong. Kamu dan bibi mau titip apa? " Tanya Arya pada fasyin


Fasyin berpikir sejenak. "Apa, selesai melahirkan sudah boleh minum sesuatu bu? " Tanya fasyin pada mega


Mega diam sambil melirik bik surti. Seakan paham bik surti pun menjelaskan. "Sudah boleh nduk. Makan ataupun minum apapun itu boleh. Karna ini sudah lewat dari beberapa jam/ sudah satu hari dari kamu melahirkan. " Jelas bik surti yang dibalas anggukan kepala oleh fasyin


"Aku mau air kelapa muda aja deh mas. Udah lama nggak minum itu! " Jawab fasyin sekenanya


"Bibi mau pesan makan atau minum apa? " Tawar Arya


"Bibi teh hijau, atau teh jahe saja tuan. " Jawab bik surti


"Baiklah. Aku akan pulang sebelum jam makan siang. " Jawab Arya sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Sepeninggal nya Arya fasyin dan yang lainnya pun lanjut berbincang. "Sejak melahirkan, nia belum ada lihat anak nia bu, " Ucap nya


"Oh anak kamu ya. Masih ada diruangan inkubator kok. Kenapa apa kamu mau melihatnya? " Tanya mega


"Boleh bu. Tapi kalo bisa biar nia aja yang kesana. Nggak papa liat dari jauh dulu. " Ucap fasyin


"Kalo kamu mau gendong juga nggak papa kok. "Ujar mommy mega


" Nggak usah bu. Nia cuma mau liat dari jauh aja dulu. Nia masih ragu mau gendong apalagi anak nia prematur bu, " Jawab fasyin


Sejujurnya jauh dilubuk hatinya ingin sekali menggendong anaknya itu. Akan tetapi fasyin takut terjadi sesuatu pada anaknya nanti. Biarlah dulu saat ini diruang inkubator dirinya akan berani gendong saat ia sudah keluar dari rumah sakit saja.


"Yasudah ayo. " Ajak mommy mega


Bik surti dengan sigap membawakan kursi roda dan membantu fasyin untuk duduk dengan perlahan.


**


**


Sementara ditempat lain saat ini Arya sudah tiba ditempat sipemilik mobil yang waktu itu menabrak fasyin. Sebelum nya mereka sudah datang terlebih dahulu ke toko obat dimana fasyin kecelakaan.


Dan juga sudah memeriksa plat dari mobil itu dan melacaknya. Akan tetapi justru mobil itu hanya mobil sewaan saja.


"Lo yakin ini tempat nya? " Tanya Arya pada Edwin


Edwin mengangguk. "Dilihat dari maps iya, kita turun dulu biar kita cek. " Jawab Edwin


Mereka pun turun dari mobil dan melihat ketempat rental yang lumayan ramai. "Ramai bener nih, tempat rental? Nggak bisa beli mobil apa gimana? Sampe relain buat ngerental, " Ucap Edwin yang hanya ditanggapi Arya dengan memutar bola matanya


"Diem lo, berisik! " Tegur Arya sedangkan Edwin hanya mendengus saja


Dimana lagi letak salahnya kali ini? Sudah jelas dirinya berbicara fakta. Untuk apa mereka membuang uang hanya untuk merental mobil, yang paling hanya bisa dipakai beberapa jam kedepan atau satu hari saja.


Bukan kah lebih bagus menggunakan mobil sendiri  lebih puas menggunakannya. Dan hanya membuang uang untuk mengisi bensin.


"Permisi? " Ucap Edwin membuka suara


Seorang pria paruh baya yang mereka tebak berusia 30 sampai 35 itupun menoleh. "Iya? Mau rental mobil tuan? " Tanyanya


"Bukan pak. Kedatangan kita kemari untuk menanyakan mobil ini? Apakah ini mobil rental milik bapak? " Tanya Edwin menyodorkan ponsel miliknya

__ADS_1


"Ah, iya. Ini mobil rental milik saya tuan. Tapi mobil itu tidak ada disini, pagi tadi saya baru saja mengantarkannya ke bengkel. Memangnya ada apa ya tuan? " Tanya pria paruh baya itu


Edwin, Arya saling lirik satu sama lainnya. "Kenapa dibawa Ke bengkel pak? Memangnya mobilnya kenapa? " Tanya Edwin


"Mobil itu lecet dibagian depannya tuan. Kata si penyewa dirinya tidak sengaja menabrak kan mobil itu ke pagar rumahnya. " Jawab si pria paruh baya


"Maaf, jika boleh tau. Siapa si penyewa itu pak? Maksud saya ciri dirinya, apakah bapak masih mengenali atau mengingat wajah si penyewa mobil itu? " Ucap Edwin


Pria paruh baya itu berpikir sejenak mencoba mengingatnya kembali. "Oh iya saya ingat tuan. Dia seorang wanita cantik. Postur tubuhnya oke, persis seorang model. Rambutnya tidak terlalu panjang. " Terang bapak paruh baya itu


Arya yang sedari tadi hanya diam saja dan menyimak semua kalimat yang dilontarkan oleh pria paruh baya yang ada dihadapan nya itu.


Dirinya seperti mengenali postur tubuh dan ciri ciri setiap yang dijelaskan oleh pria paruh baya itu.


"Namanya? " Tanya Arya membuka suara


"Namanya saya lupa. Tapi seperti nya saya memiliki KTP wanita itu, karna saat dirinya mengembalikan mobil saya seperti tergesa gesa sekali. " Ucap pria itu


"Tunggu disini sebentar tuan! Akan saya ambilkan KTP nya" Lanjut si pria paruh baya tersebut


Arya dan Edwin mengangguk sembari terus berdiri memperhatikan semua jenis mobil yang disewakan.


"Nah ini dia tuan, KTP nya. " Ucap pria itu memberikan KTP tersebut pada Arya


Arya menerima nya dan terkejut saat melihat foto dari wanita itu. Hal yang sama juga terjadi pada Edwin. Dirinya tak mengira bahwa dalang dibalik kecelakaan fasyin adalah wanita yang begitu ia kenali.


Pantas saja selama berminggu minggu ini wanita itu tidak terlihat sama sekali. Biasanya selalu ada seperti jelangkung yang tiba tiba datang, dan pergi begitu saja.


"Terima kasih atas infonya. Saya akan membawa KTP ini. " Ujar Arya


"Tapi tuan! KTP itu_"


"Tenang saja. Saya adalah teman dari wanita ini, jadi anda tidak perlu khawatir. Saya sendiri yang mengembalikan KTP ini, itulah kenapa saya dan teman saya datang kemari. " Ucap Arya berbohong di akhir kalimatnya


Sang pria paruh baya itu pun percaya tanpa menaruh curiga sedikitpun. "Baiklah tuan. Kalo begitu tuan saja yang mengembalikannya, "


"Baiklah! Kita permisi. " Ucap Arya dengan wajah datar sedari tadi


Si pria paruh baya itu mengangguk dan kembali melanjutkan memantau tempat nya.


Ia pun melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meskipun Arya tidak memberi taunya, tapi Edwin paham kemana kali ini tujuan mereka.


Beberapa menit diperjalanan. Mereka pun tiba dirumah sipelaku.


Ting!


Tong!


Arya menekan bell dengan tak sabarnya. Benar benar sudah tidak sabar ingin mencaci maki wanita yang sudah membuat calon istrinya diambang kematian. Untung saja Tuhan masih berbaik hati, dan kembali menyembuhkan perempuan yang teramat ia sayangi selamat.


Namun, jika tidak! Maka Arya tidak akan bisa hidup tanpa perempuan yang telah ia kasihi itu,


Ting!


Tong!


Lagi! Bell berbunyi berulang ulang kali membuat si empunya merasakan risih karna suara dari bell rumahnya.


"Duh siapa sih, siang siang begini bertamu. Nggak tau orang lagi istirahat apa, " Gumam si wanita itu ketus


Ia pun beranjak dari kasur empuk miliknya dan bergegas turun kebawah. "Ck. Gini banget sih, rasanya di tinggal sama pembantu. Apa apa kudu sendiri! "


Ting!


Tong!


"Ya ampun, ini orang nggak sabaran banget sih? Iyaaa sebentaarrr! Teriak wanita tersebut


" Awas aja kalo cuma pengemis, yang datang minta sumbangan. Bakal gue maki habis habisan tuh orang. "


Ceklek!


"Apa sih? Nggak tau kalo orang lain isti.. Eh Arya? Edwin? Tumben kalian kesini. Sorry ya, gue kira tadi pengemis yang biasa minta sumbangan itu yang datang! " Ujar si wanita tersebut

__ADS_1


"Nggak usah basa basi! Sekarang jelasin ke gua, ke gue kenapa lo nabrak nia. " Ucap Arya dengan nada datar dan tegas


Wanita itu terdiam dan terkejut. Dari mana Arya tau jika dirinyalah yang sudah membuat fasyin celaka.


"Jawab Naura! Kenapa lo diam? Jelaskan sekarang juga sama gue. " Bentak Arya dengan nada tinggi hingga membuat Naura terkejut dan memejamkan matanya.


Ya. Wanita yang sudah menabrak fasyin dengan sengaja adalah Naura. Dirinya waktu itu tak sengaja melewati jalan tempat apartemen milik Arya. Namun saat mobilnya singgah di mini market yang letak nya berseberangan dengan toko obat.


Membuat dirinya melihat fasyin yang baru sajak masuk kedalam toko itu. Entah pikiran dari mana yang memintanya untuk menabrak fasyin.


Naura pun dengan segera menelpon temannya dan meminta agar teman nya itu memberi nomor mobil rentalan. Setelah dapat, tak butuh waktu lama. Naura memakai mobil sewa dan sebagai jaminannya ia memberikan KTP miliknya.


Sedangkan mobil miliknya sendiri, ia serahkan kepada si pemilik rentalan mobil untuk membawanya kembali ke rumah miliknya. Dengan memberi uang lebih untuk biaya ongkos pulang si pemilik rentalan mobil tersebut.


Sang perental yang memang tidak tau apa apa. Tentu menurut saja, karna baginya yang terpenting saat ini hanya uang saja. Terlebih lagi Naura memberikannya harga yang lebih.


Setelah menunggu beberapa saat. Fasyin keluar dari toko obat tersebut. Naura yang melihatnya tentu tak ingin membuang waktu. Ia menancapkan gas dengan kecepatan tinggi dan dengan sengaja menabrak fasyin.


Setelah aksinya berjalan. Dirinya tersenyum senang dan pergi dari sana seolah tak terjadi apa apa.


"Jawab Naura! " Bentak Arya lagi


Geram sekali rasanya melihat tingkah perempuan yang sedang berada dihadapan nya ini. Edwin hanya diam dan menyaksikan nya saja.


Karna ini bukanlah wilayahnya untuk membuka suara. Ia hanya akan bertindak ketika Arya sudah memberinya perintah. Sejujurnya Edwin juga geram dengan Naura yang sudah bertindak sejauh ini. Meski dirinya bukan kekasih dari fasyin, tapi ia juga marah karna ia sudah menganggap fasyin seperti adiknya sendiri.


"Gu-gue nggak tau apa apa Arya! Kenapa lo malah nuduh gue? Beberapa hari ini gue sibuk dengan pekerjaan. Mana gue tau kalo nia kecelakaan. " Ucap Naura sedikit gugup


Ia harus bisa berusaha terlihat tenang agar Arya tak mencurigai dirinya.


"Lo udah nggak bisa ngelak lagi! Semua bukti tertuju di diri lo, gue cuma perlu jawaban, atas dasar apa lo dengan sengaja nya menabrak nia! " Ucap Arya pada Naura


"Udah gue bilang, bukan gue pelakunya Arya! Kenapa lo kekeh banget kalo gue yang salah. " Jawab Naura


"Oh jadi lo nggak mau jujur? Oke, gue akan buat lo jujur sekarang ini juga! Edwin, lakukan. " Perintah Arya pada Edwin


Edwin yang paham dengan sigap menggendong Naura seperti karung beras. Lalu melemparkannya dengan kasar di sofa yang berada diruang tamu.


Dengan cekatan Edwin mengikat kaki dan tangan Naura yang sudah ia bawa sedari tadi. Ia tau hal ini akan terjadi, itu sebabnya ia sudah menyediakan tali untuk melakukan yang seperti saat ini.


"Mau ngapain lo! Udah gue bilang bukan gue pelakunya. " Ucap Naura yang masih tak mengakuinya.


"Diam! Ini bukti karna lo sudah bersalah di sini. Lalu, apalagi yang mau lo dustakan Naura! " Sentak Arya melemparkan KTP milik Naura


Mata Naura membola melihat itu. Bagaimana bisa ia lupa dengan barang penting itu. "****! Pantes udah gue cari kemana kemana, ternyata tertinggal ditempat rental mobil itu. Kalo sudah begini gue yakin, gue nggak akan bisa selamat! " Batin Naura 


Keringat sebiji jagung keluar membasahi cantik wajahnya. Mendadak wajahnya pucat pasih dan gemetaran. Ia tau, jika Arya sudah marah maka tak akan bisa mengelaknya lagi.


"Masih mau ngelak lo, haa! Katakan dengan gue sekarang juga. Kenapa lo nabrak nia, apa dia sudah membuat salah? sampai lo lakuin hal seperti ini. Lo tau nggak, akibat perbuatan lo itu. Nia hampir saja meninggal begitupun dengan bayinya. Kenapa lo selalu ikut campur dengan urusan gue? Kenapa setiap ada wanita yang dekat dengan gue, pasti akan ada aja tingkah konyol lo itu. " Ucap Arya panjang lebar


"Apa? Hampir? Itu tandanya si pembantu itu masih hidup? Ah, bresek! Kenapa pake masih hidup segala, sih? Kalo sudah gini, mau nggak mau gue harus mengakui segalanya. "Batin Naura lagi


" Lo mau tau alasan gue apa? Baiklah, gue akan beri tau sekarang ini juga. Itu semua gue lakuin karna gue suka sama lo Arya! Gue nggak rela kalo ada perempuan lain yang dekat dengan lo. Itulah kenapa gue seperti ini, dan untuk pembantu lo itu? Kenapa lo malah melamar dia? Lo tau sendiri kalo dia bukanlah wanita yang baik. Lihat saja, dia bahkan hamil sebelum menikah. Apa perempuan seperti itu yang pantas menjadi calon istri seorang Arya Dwipangga, haa! "Ucap Naura menggebu gebu


Arya semakin geram mendengar penuturan Naura. Ia tidak suka jika ada seseorang yang mengatakan jika fasyin bukanlah wanita baik baik.


" Tau apa lo tentang nia haa? Lo bahkan nggak tau apa apa tentangnnya, jadi berhenti berbicara seperti itu tentang nia. "Ucap Arya


" Kenapa gue harus berhenti? Bukankah memang itu faktanya. Kalo dia itu bukanlah_"kalimat Naura terhenti saat Arya memotong nya dengan cepat


"Berhenti berbicara seperti itu lagi. Sekali saja lo kembali mengatakan jika nia bukanlah wanita baik, maka akan gue pastikan, hari ini dan seterusnya lo nggak akan bisa berbicara lagi. " Ucap Arya mengeluarkan pisau lipat miliknya, yang selalu ia bawa kemana saja.


Naura tergagap melihat Arya mengeluarkan pisau dari saku celananya. Nyali yang semua menggebu-gebu perlahan menciut.


"Ma-mau ngapain lo? Jangan mendekat Arya, " Ucap naura takut.


Namun Arya sama sekali tidak menggubrisnya. Ia justru semakin maju sambil terus menyodorkan pisau lipat kesayangan nya


Sreek!


"Aakhh" Ringis Naura  saat benda kecil nan runcing itu menyentuh pipi mulusnya.


"Ini hanya hukuman kecil, untuk lo karna  lo udah dengan beraninya menyentuh wanita gue. Camkan ini baik baik nyonya Naura adiyaksa. Ini hanya hukuman kecil untuk lo! Tapi jika sekali lagi, lo berbuat diluar batas, maka akan gue pastikan. Lo tidak akan bisa melihat matahari lagi pada esoknya. " Ucap Arya tersenyum smirk

__ADS_1


Deg!


Naura menggigil mendengar kalimat akhir yang Arya ucapkan, jantungnya bahkan berdegup kencang saat ini. Sementara Arya sudah pergi begitu saja bersama Edwin, meninggal kan Naura yang masih terikat dengan sempurna.


__ADS_2