
Sementara saat ini Arya dan juga Edwin sudah tiba di bangkok. Dengan perjalanan yang tidak banyak memakan waktu itu karna Arya menggunakan jet pribadi.
Arya turun dengan gagahnya didampingi oleh beberapa para pengawal yang mengikuti langkahnya dari belakang. Arya tiba di satu buah mansion megah dan mewah, yang bahkan melebihi rumah utama milik kedua orang tuanya.
Ya, mansion yang berada di Bangkok saat ini adalah milik Arya sendiri hasil dari jerih payahnya selama ini. Bukan hanya di Bangkok. Tapi beberapa negara dan Asia masing masing Arya sudha memiliki beberapa mansion disetiap tempatnya.
Mengingat bahwa dirinya sering sekali bepergian ntah itu mengurus soal pekerjaan ataupun tengah menghadapi masalah seperti ini. Itu semua agar ia tiba tidak perlu lagi sibuk mencari penginapan apapun itu.
Dan sebagai pembisnis muda diusianya yang menginjak 27 tahun saat ini. Tak menutup kemungkinan bahwa ia tidak memiliki musuh sama sekali. Pasti akan banyak orang yang mengincar dirinya mengingat Arya adalah saingan terberat mereka.
Siapa yang tidak mau menjalin hubungan kerja sama dengan pengusaha muda yang sukses diusianya? Tentu semua orang mau, dan banyak sekali yang berpacu untuk menawarkan kerja sama dengan Arya.
Selain akan mendapatkan untung yang jauh lebih besar. Mereka juga pasti akan ikutan kecipratan hokinya, namun untuk bekerja sama dengan Arya bukanlah suatu hal mudah seperti dengan cara mengajaknya bekerja sama dan Arya akan langsung menyetujui begitu saja? Oh tentu tidak! Arya akan memeriksa lebih lanjut lagi apakah mereka yang ingin bekerja sama dengannya bisa disebut pantas atau tidak.
Jika pantas Arya tidak akan segan untuk menerima kerja samanya asalnya sama sama saling menguntungkan. Namun jika orang tersebut sama sekali tidak pantas dan akan menyebabkan salah satu dari mereka rugi besar. Arya tak akan segan untuk memaki orang tersebut dengan sarkas nya yang pedas.
Itulah mengapa banyak sekali saingan musuh yang Arya hadapi selama beberapa tahun ini. Banyak diantara mereka yang merasakan sakit hati akibat perkataan Arya yang terlalu mencelos hingga membuat mereka tersinggung.
Namun meski begitu. Tak ada satupun orang yang tau jika Arya bukan hanya berkecimpung didunia perbisnisan melainkan, di sisi lain Arya adalah seorang pemimpin sekaligus Ketua MAFIA yang bernama Black Hold. Yaitu adalah mafia yang kejam nomor satu seAsia, banyak dari mereka yang sesama para MAFIA tak ingin mencari masalah pada komplotan Black Hold yang dipimpin langsung oleh Arya.
Jika mereka mencari masalah dengan komplotan Black Hold maka dapat dipastikan detik itu juga mereka akan kehilangan kekuasaannya termasuk nyawa. Mencari masalah dengan kelompok Black Hold sama saja dengan mengantar nyawa dengan cuma cuma.
Terpantau sejauh ini dunia gelap atau MAFIA tidak memiliki masalah apapun itu terhadap para mafia kelas kakap lainnya.
Namun jika kalian berpikir MAFIA yang dipimpin oleh Arya adalah MAFIA yang menjual barang haram, obat obatan terlarang atau mencuri berbagai macam senjata api, maka jawabannya adalah salah. Karna MAFIA yang dipimpin langsung oleh Arya adalah MAFIA yang bisa dikatakan jauh dari hal tersebut.
__ADS_1
Para Black Hold tidak akan menganggu siapapun terkecuali ketika mereka sudah diganggu terlebih dahulu.
"Semua siap. " Ucap Edwin membuka suara
Brakk!
Brakk!
Semua bergerak dengan kompak seraya berkata. "Siap, kami siap melakukan tugas. " Ucap seorang mafios yang memiliki tubuh paling besar dari yang lainnya
"Baiklah. Kita berangkat sekarang, " Titah Arya dingin
Semua berjalan menuju mobil masing masing untuk menuju ketempat persembunyian Tomi dan juga indri sang istri.
Mereka hanya membawa sekitar tiga mobil. Yaitu mobil Lamborghini milik Arya dan juga satu buah mobil Jeep di depan mengawal, dan satu buah mobil Jeep berada dideretan paling akhir. Sementata mobil yang ditumpangi Arya berada ditengah mobil Jeep.
Mengapa Arya tak banyak membawa pengawal? Karna arya yakin jika Tomi sang paman tidak akan mengira ini semua kejahatan nya terbongkar secepat ini. Mengingat bahwa Tomi adalah tipe orang yang gampang sekali ceroboh.
Benar saja dugaan Arya. Rumah yang saat ini berada tepat di hadapan nya begitu sunyi tanpa adanya seorang penjaga satupun.
"Cih! Dasar bodoh! " Gumam Arya seraya meludah
"Lo benar. Gue kira akan banyak sekali penjaga yang mengelilingi kediaman mereka, tapi ini apa? Lihatlah.. Tak ada satu orang pun yang menjaga kediaman mereka. Jangankan para penjaga security saja tidak ada. " Decih Edwin
"Ah, tidak seru sekali. Padahal gue pengen banget berolahraga malam seperti ini. Tapi semua tak sesuai expetasiku. Udah Susah susah gue bawa anak buah ternyata hasilnya malah nihil. " Cebik Edwin kesal
__ADS_1
Ya dirinya kesal. Sudah lama sekali dirinya tidak turun dan menghajar orang orang yang bertindak hal bodoh seperti ini. Saat mengetahui Tomi kabur dengan membawa uang senilai milyaran rupiah. Membuat Edwin semangat untuk menyelidiki kasus ini.
Bayang bayang perkelahian sengit dan saling tumpah menumpahkan darah terus saja menari menari dikepalanya. Ketika sampai di titik di mana ia sudah siap ingin perang, hasilnya justru nihil
"Sabar! Kalo gitu masuk berdua saja. Biarkan para anak buah ini berjaga disini, " Ucap Arya yang jalan terlebih dahulu
Edwin hanya mengingati Arya dari belakang. Namun sebelum itu Edwin sudah memerintahkan para anak buah mereka agar berjaga diluar saja. Dan para mafios pun mengangguk mengerti.
Arya masuk kehalaman dari mansion tersebut seraya menatap dengan hati hati. Siapa tau saja rumah yang terlihat sepi justru banyak sekali memiliki jebakan. Itulah mengapa harus waspada.
Setelah dipastikan aman. Dengan perlahan namun pasti Arya langsung menendang pintu dengan sangat keras
Brakk!
Pintu terbuka dengan lebar membuat Tomi dan juga Indri terlonjak karna kaget. Mereka yang tengah asik berada diruang tamu dibuat terkejut dengan suara dobrakan pintu. Saat melihat siapa pelakunya mata mereka justru membola dengan sempurna.
"Ar-aryaa." Ucap Tomi gugup
Arya menatap sepasang suami-istri itu dengan pandangan tak minat sama sekali. "Ya ini aku. Kenapa? Kalian kaget , hmm. Mengapa kalian pergi berlibur tanpa membawaku? " Tanya Arya yang duduk diatas meja dengan santainya.
Tomi dan juga indri sudah terdiam bak seorang patung sama sekali tidak bergerak. Arya yang melihat dari ekor matanya hanya bisa menyunpah serapahi pria yang soalnya ini adalah pamannya sendiri.
"Kenapa kalian diam? Apa kedatangan ku disini tak membuat kalian senang? " Tanya Arya polos, ekhem pura pura polos
"Ti-tidak. Bukan begitu. Paman hanya terkejut saja mengapa kau datang secara mendadak seperti ini Arya? Mengapa kau tidak menelpon paman dulu agar paman bisa menjemputmu di bandara. " Ucap Tomi gugup dan berusaha agar tetap tenang.
__ADS_1
"Apa aku harus menelpon terlebih dahulu, sebelum aku bertemu dengan paman ku ini? Aku memang sengaja tidak menelponmu terlebih dahulu agar aku bisa memberi kejutan. Dan sekarang aku sudah berada dihadapan mu. Apa kau tak ingin mengatakan sesuatu? " Tanya Arya pada Tomi
Tomi hanya diam. Apakah Arya mengetahui jika dirinya sudah membawa kabur uang perusahaan dan dengan beraninya pula menjual beberapa berkas penting pada seorang musuh. Tapi bagaimana bisa Arya tau? Seharusnya Arya tidak akan tau akan hal ini bukan, mengingat bahwa Arya tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki di kantor cabang miliknya.