
"Kau mau pulang? " Tanya Arya menatap fasyin
"Hmm! Yaa. Aku ingin pulang dan segera mandi. " Jawab fasyin mengangguk cepat
"Oke! Baiklah. Kita pulang sekarang, " Ucap Arya membereskan sisa makanan mereka
Saat hendak berdiri. Tiba tiba saja ponselnya bergetar "sebentar! Aku angkat telpon dulu. " Ucap Arya yang dibalas anggukan kepala oleh fasyin
Arya melirik, ponsel nya yang ternyata Edwin lah yang menelponnya.
"Ya ada apa? " Ucap Arya setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Apaa! Kau serius? " Tanya Arya kaget.
"Ya! Baiklah aku akan segera kesana. " Ucap Arya yang langsung mematikan sambungan tersebut sepihak.
Sementara fasyin hanya diam dengan alis yang berkerut. Dirinya merasa heran, kenapa Arya menerima telpon berteriak seperti itu.
"Ada apa? Kenapa mas teriak teriak seperti itu? " Tanya fasyin dengan wajah bingung
Arya diam. Apakah ia harus mengatakan hal yang baru saja ia dengar atau memilih untuk menyimpannya sendiri?
"Mas!, " Panggil fasyin lagi ketika Arya tak menyahuti ucapan nya
"Ah iya? Kenapa? " Tanya Arya tersadar
"Mas nggak papa? Kenapa keliatan nya seperti, ada sesuatu hal yang besar? " Ucap fasyin mendekat
"Aku? Ah nggak papa! Hanya masalah kantor saja. Apa kita jadi pulang? " Kata Arya mengalihkan pembicaraan
"Tentu! Kita akan pulang. Tapi... Apa mas benar benar tidak apa apa? Yakin hanya masalah kantor saja? "
"Iya. Hanya masalah kantor jadi.. Bukan masalah yang besar. Sekarang lebih baik kita pulang. " Ajak Arya yang dibalas anggukan kepala oleh fasyin.
Meski merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh Arya. Tapi fasyin mencoba menepis pikiran itu. Mungkin memang hanya masalah kantor saja. Karna setau fasyin kalo pekerjaan kantor itu memang pasti akan ada masalahnya. Contohnya saja Diki sang ayah. Jika sudah terkena masalah kantor, saat pulang kerumah pasti akan marah marah tidak jelas.
**
**
__ADS_1
"Mas! Ini kan bukan jalan menuju rumah ku?" Tanya fasyin ketika melihat berbeda dengan jalan yang biasa menuju rumahnya
"Bukan kah tadi saat dirumah pohon, aku sudah mengatakannya? " Tanya Arya yang masih fokus dengan stir kemudinya
Sementara fasyin hanya ber oh ria saja. Ia pikir Arya akan memberikan apartemen itu sekitar beberapa hari lagi. Tapi ternyata fasyin salah. Kalo orang kaya memang beda ya.
Beberapa menit diperjalanan. Arya dan fasyin pun tiba di apartemen milik Arya. "Mampir dulu mas? " Tawar fasyin
"Nggak. Lain kali aja, karna aku masih ada urusan dikantor. "Jawab Arya menggeleng cepat
" Yaudah! Hati hati mas. " Ucap fasyin mencium punggung tangan Arya
Arya membalasnya dengan mencium kening fasyin dengan lembut. "Dah mas. " Ucap fasyin melambaikan tangan pada Arya.
Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara fasyin menarik nafas lelah setelah kepergian Arya.
Fasyin memandangi apartemen itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak lama bik surti pun keluar dan menghampiri fasyin.
"Sendiri aja nduk? Tuan Arya mana? " Tanya nya
"Balik ke kantor bi. Katanya ada urusan. "Jawab fasyin lesu
"Kamu kenapa nduk? Kok kaya lagi banyak pikiran gitu? " Tanya bik surti pada akhirnya
Fasyin menghela nafasnya dengan kasar! Sambil terus berjalan masuk kedalam apartemen milik Arya itu.
"Kenapa nduk? Coba cerita sama bibi. " Kata bik surti lagi
Fasyin mendudukan bokongnya disofa empuk yang tersedia di apartemen tersebut
"Ngga papa bik. Nia cuma ngerasa nggak enak aja sama mas Arya. Nia belum jadi istrinya, tapi mas Arya udah ngasih sebanyak ini. Bahkan mas Arya sampe mau biaya'in persalinan nia nanti bi, apa nggak berlebihan coba!" Ucap fasyin mengatakan sesuatu yang memang sudah ia rasakan sedari tadi
"Oalah! Jadi karna itu toh nduk. " Bik surti pun ikut duduk disebelah fasyin sambil mengusap pundak fasyin dengan pelan
"Menurut bibi itu hal yang wajar kok nduk. Itu namanya tuan Arya benar benar serius sama kamu, dan bisa bertanggung jawab. Jarang lho ada laki laki yang mau menerima kondisi pasangannya, ya mohon maaf nduk bibi ngomong seperti ini. Contohnya seperti kondisi kamu sekarang ini. Bahkan tuan Arya menerima dengan lapang dada anak yang dikandung oleh kamu. Apalagi ini semua, permintaan nya tuan sendiri kan? Seharusnya kamu bersyukur dan Terima kasih sama tuan Arya. Karna tuan Arya mau menanggung semuanya walaupun kamu itu belum jadi istrinya. Semoga aja ini jalan menuju kamu bahagia nduk. Apa kamu tidak lelah hidup dengan penderitaan yang terus diberikan oleh papa mu? " Ucap bik surti panjang lebar membuat fasyin jadi diam dan membenarkan setiap ucapan bik surti.
**
**
__ADS_1
"Apa kau yakin dengan ucapann yang tadi kau katakan saat ditelpon? " Tanya Arya dengan wajah datar dan dingin.
Bahkan atmosfer diruangan itu saja, membuat Edwin sulit untuk bernafas.
"Benar lah. Gue nggak mungkin bohong, untuk tugas yang lo suruh gue pantau ya! " Jawab Edwin jujur
Beberapa bulan yang lalu Arya memang ada menugaskan Edwin untuk menyelidiki semua tentang fasyin. Namun karna sibuknya bekerja, membuat Edwin tidak sempat dan baru akhir akhir ini kembali menyelidiki semuanya.
"Bajingan! Berani sekali dia melakukan ini semua pada nia. " Ucap Arya marah. Tangannya sudah terkepal kuat dengan rahang yang mengeras.
"Ini bukan real kemauan dia aja ya. Ternyata dibalik kejadian yang menimpa fasyin adalah perbuatan kakak dan adik tirinya. " Terang Edwin. Arya menatap Edwin dengan mata tajam nya.
"Apa yang meraka lakukan! " Tanya Arya penasaran
"Dari CCTV yang gue selidiki dikediaman fasyin. Ini semua udah direncanakan oleh kedua kakak dan adik nya. Lo bisa cek ulang rekaman CCTV ini. " Ucap Edwin menyerahkan iPad nya yang selalu ia bawa kemana mana.
Arya menerimanya, dan melihat seluruh video tersebut. Bukan hanya video tersebut, tetapi juga video dimana Diki menyiksa fasyin hingga hampir membunuhnya.
"Brengsek! Tarik semua dana yang sudah kita berikan pada perusahaan Diki sialan itu. Dan buat perusahaan nya menjadi bangkrut. " Ucap Arya murka
"Lo yakin bakal lakuin itu? Lo lupa kalo Diki itu bokap kandungnya fasyin? " Tanya Edwin. Pasalnya jika Arya nekat melakukan itu, jika fasyin mengetahui nya maka dapat dipastikan hubungan Arya dan fasyin juga akan berakhir.
"Lakukan saja perintahku. Urusan nia biar jadi urusan gue. " Ucap Arya teriak membuat Edwin menutup mulutnya rapat rapat.
Jika Arya sudah semarah ini. Siapapun tidak akan berani membantahnya. " Ba-baik. Gue lakukan sekarang juga. " Ucap Edwin yang langsung pamit undurkan diri.
Edwin merasa sulit sekali bernafas didalam ruangan tersebut. Bahkan dirinya juga berkeringat padahal ruangan Arya memiliki AC tapi tetap saja tidak berpengaruh padanya.
Arya duduk di bangku kebesarannya. Ia mengutak atik telpon genggam nya dan mulai menghubungi seseorang.
"Kumpulkan semua keluarga dirumah hari ini juga. Seluruh nya harus hadir, jangan sampai ada yang tidak hadir. Jika ada di antaranya yang tidak hadir. Maka tanggung sendiri akibatnya. " Ucap Arya mematikan sambungan secara sepihak.
"Ada apa dengan anak ini? Kenapa tiba tiba sekali? " Gumam mega heran
" Ada apa mom? Siapa yang menelpon? " Tanya bramantyo
"Arya dad! Dia nyuruh kita buat ngumpulin semua keluarga hari ini juga. Katanya kalo sampe ada yang nggak hadir, tanggung sendiri akibatnya. " Ucap mega memberi tau
"Arya bilang begitu? Pasti ada sesuatu yang membuat Arya jadi mengumpulkan seluruh keluarga. Ya sudah, kalo gitu kumpulin seluruh keluarga sesuai perintah Arya mom. Ingat jangan sampai ada yang tertinggal satupun. " Peringat bramantyo yang dibalas anggukan kepala oleh mega..
__ADS_1