Aku tak pantas untuk mu

Aku tak pantas untuk mu
chapter48


__ADS_3

Dipusat perbelanjaan saat ini tengah ada dua orang gadis sedang menikmati waktu luang mereka untuk berbelanja. dengan masih memakai seragam sekolah mereka mengelilingi Mall itu dengan senyum yang merekah.


"Lo butuh apa lagi git?" tanya zahra pada gita


Gita melihat beberapa paperbag yang berada ditangannya. "Hmm.. gue butuh hoodie ra, kita nyari hoodie dulu yuk setelahnya baru kita makan," ajak gita pada zahra


"Oke, ayuk." mereka pun berjalan menuju toko pakaian dan mencari barang yang mereka inginkan. kalian masih ingat pada zahra dan gita bukan? jika kalian  berpikir bahwa mereka adalah sahabat dari sesil maka jawabannya benar.


Mengapa sesil tidak ikut bersama mereka? jawabannya adalah sesil sedang tidak bisa dan mengatakan bahwa dirinya tengah ada urusan itulah mengapa tidak bisa ikut dengan mereka.


Setelah beberapa menit berkeliling dan mendapatkan apa yang mereka inginkan zahra dan juga gita menuju kasir dan membayar barang belanja'an mereka.


"Terima kasih, Dan datang kembali kakak." ucap penjaga kasir ramah dan dibalas anggukan kepala oleh zahra dan juga gita.


"Makan apa kita? Jepang, Korea, Chinese food, Atau ala ala barat gitu?" Tanya zahra


"Gue hari ini pengen makan sushi, jadi keresto jepang aja deh," Ajaknya


"Oke," jawab zahra dan merekapun melangkahkan kaki menuju restoran jepang dan memesan makanan apa yang mereka inginkan.


Setelah menunggu beberapa menitpun, makanan dan juga minuman yang mereka pesan tiba dan memakannya dengan tenang dan khidmat.


"Sayang banget ya, sesil nggak ikut sama kita. "Gita berujar sambil membersihkan sisa makanan yang menempel pada mulutnya


"Iya. padahalkan dia paling suka sama makanan jepang," Jawab zahra pada gita.


namun matanya menangkap sosok wanita yang duduk membelakangi mereka. Zahra merasa amat sangat familiar dengan wanita yang berada tak jauh dari mereka.


"Ra, lo ngeliatin apa sih? Kok Celingukan gitu, " Heran Gita

__ADS_1


Gita pun ikut melihat kemana arah mata zahra namun Gita sama sekali tidak melihat apapun hal aneh yang membuat zahra melihat dengan serius seperti itu.


"Zahra! " Sentak Gita memegang bahu zahra


Zahra terkejut dan linglung. "Eh, i-iya. Kenapa? " Tanyanya


"Huft! Lo kenapa sih, ngeliatin apa? Kaya ada sesuatu yang bikin lo curiga gitu, " Heran Gita pada zahra


"O-oh, itu lo liat nggak cewe yang pake baju warna soft itu? Yang membelakangi kita, gue kaya familiar banget tau sama postur tubuhnya. " Tunjuk zahra dengan tangannya


Gita pun mengikuti kemana arah tangan zahra dan memang Gita juga cukup familiar dengan gestur tubuh itu. "Eh iya ya. Kaya sesil bukan sih? Tapi itu sama siapa? Kok kaya om om, " Kata Gita menatap serius


"Nah kan. Gue juga mikirnya itu sesil, apa kita samperin aja kali ya? " Tanya zahra


"Boleh deh. Kalo emang bener itu sesil kelewatan nggak sih? Kita ngajakin dia ke mall tapi dia bilang nggak bisa, eh tau taunya malah disini juga. Mana sama om - om lagi kalo bokapnya kan nggak mungkin. Gue tau gimana postur tubuh bokapnya meski cuma ketemu beberapa kali doang. " Ujar Gita yang diangguki oleh zahra


Karna dari pakaian yang dikenakannya sama persis dengan pemberian ibunya tepat dihari pernikahan mereka yang memasuki 25 tahun.


Puk!


Deg!


Gita dengan berani memegang pundak wanita itu hingga sang empunya terkejut dan menoleh kebelakang. Tak lama kedua mata mereka membola sempurna ketika melihat wajah wanita dan juga om -om yang mereka maksud.


"Se- sesil, A-ayah! Ap- apa yang kalian lakukan ditempat ini? Ke- kenapa kalian berdua'an disini. Dan ap- apa maksud ini semua? Kenapa banyak sekali kado dimeja ini. " Ucap Gita terbata bata dengan mata yang sudah berkaca kaca


Gita begitu syok dengan apa yang ia lihat saat ini. Belum lagi sahabat nya bersama sang ayah berdua'an dan banyak sekali kado. Berbagai pikiran buruk melintas begitu saja diotaknya. Zahra? Jangan ditanya dia juga terkejut dengan mata yang melotot dan juga tangan yang berada dimulutnya.


"Gi- Gita. Apa yang kalian lakukan disini? " Tanya sesil dengan wajah dan nada yang gugup

__ADS_1


Ya, wanita yang mereka duga ternyata memang benar itu adalah sesil. Meski awalnya sempat ragu dengan cara penampilan yang dikenakan oleh sesil. Meski postur tubuh sangat dikenali, tapi mereka menepis pikiran itu dan berharap bahwa wanita itu bukanlah sahabat mereka sesil.


Namun pikiran itu memang benar adanya ketika melihat secara langsung. " Ayah, bisa kau jelaskan ini maksudnya apa? "Pinta Gita meminta penjelasan pada sang ayah dan mengabaikan perkataan sesil


"A- ayah bisa jelaskan ini semua Gita. Ayo kita pulang biar ayah jelaskan dirumah saja. " Pinta burhan pada Gita


"Enggak! Kenapa harus pulang? Apa ayah nggak bisa berbicara disini saja? Apa ibu tau dengan kelakuan ayah? Tapi tunggu, sesil kenapa pakaian lo kaya tante tante seperti ini, jangan bilang kalo lo. " Ucap gita menatap tak percaya sahabat nya


"Gita, gue bisa jelasin, ini nggak__"


"Apa? Lo mau nyangkal kalo lo bukan selingkuhan bokap gue begitu? Gila! Gue benar benar nggak nyangka ternyata sahabat gue selama ini menjadi simpanan bokap sahabat nya sendiri. Gue yakin lo pasti ngejalang bukan? Ohoo gue tau, jangan jangan mobil mercy yang lo pamerkan beberapa hari lalu itu adalah hasil ngejual tubuh lo ke bokap gue kan. "


"Gita! Jaga bicara mu! " Sentak burhan dengan nada tinggi


"Apaa! Benarkan yang aku katakan. Ayah selama ini bermain api dibelakang ibu, aku bakal aduin ini semua ke ibu. Dan lo!  Gue akan bikin lo malu dan gue bakal bikin perhitungan sama lo! " Ancam Gita menunjuk sesil yang tak dapat berkutik sama sekali


Gita pergi dari sana dengan emosi yang memuncah tanpa menghiraukan panggilan dari sang ayah. Kini yang tertinggal hanyalah zahra dengan kondisi yang masih terkejut.


"Zahra, gue bisa jelasin ini semua. " Pinta sesil memohon pada zahra


"Gila ya lo sil. Lo tega ngelakuin ini semua sama sahabat lo sendiri, dan yang lebih parahnya lagi kenapa harus bokapnya Gita sil, kenapa! Gue masih nggak nyangka lo benar benar keterlaluan, " Ucap zahra pergi dan menyusul Gita yang sudah menjauh.


"Om bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang. " Ujar sesil pada burhan


"Maaf itu akan menjadi urusanmu sendiri. Saya akan pergi dan menyusul anak saya, " Jawab burhan dan pergi begitu saja.


"Duh gawat. Kenapa pake acara ketahuan segala sih, kalo kita benar benar mempermalukan gue gimana dong!" Gumamnya pada diri sendiri


"Nggak, ini nggak bisa dibiarin. Gue nggak bisa biarin Gita mempermalukan gue, gue harus cegah itu. " Gumamnya lagi dan pergi menyusul Gita setelah ia membayar makanan yang dia pesan.

__ADS_1


__ADS_2