
Selesai makan malam tadi. Edwin langsung tertidur dikasur kecil yang tersedia didalam ruangan tempat fasyin berada. Sedangkan Arya tertidur satu ranjang dengan fasyin.
Karna ruangan fasyin yang VVIP jadi fasilitas yang tersedia tentu saja lengkap, jadi mereka tidak perlu memikirkan harus tidur dimana lagi.
Sedangkan edwin memilih untuk tidak pulang, karna jaga jaga siapa tau Arya atau fasyin membutuhkan sesuatu saat tengah malam tiba. Selain edwin siapa lagi yang harus diandalkan bukan? Sementara hanya ada mereka saja yang berada dirumah sakit.
**
**
Sementara ditempat lain saat ini seorang wanita tengah bersiap untuk berangkat kerja. Kegiatan ini sudah ia lakukan setiap harinya.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki menggema menuruni anak tangga dengan perlahan. Ziah yang memang belum tidur tentu mendengar suara langkah kaki itu.
"Mau kemana kamu? " Tanyanya
"Apasih mah, kaya nggak tau kebiasaan aku aja! " Jawab sesil dengan ketus
Ya. Wanita itu adalah sesil. Dirinya sudah bersiap untuk berangkat seperti biasanya. Awalnya dirinya sempat kaget melihat ibunya masih berada diruang tamu menonton televisi. Namun karna sudah terlanjur mau tidak mau dirinya harus berpapasan dengan sang ibu.
Rumah yang ditempati oleh ziah dan yang lainnya memang tidak besar seperti rumah orang kaya pada umumnya. Namun rumah mereka juga bertingkat satu meski seluruh rumah itu terbangun dari papan.
"Kenapa harus bekerja itu? Kamu kan masih bisa bekerja dengan cara lain yang halal nggak harus bekerja di tempat malam seperti itu sesil! Sekarang masuk kembali kekamar mu cepat!! " Ucap ziah marah
"Nggak ya mah! Mama apa apaan sih! Sesil itu kerja buat menuhin kebutuhan sesil. Memangnya mama bisa menuhin kebutuhan sesil kaya dulu lagi? Nggak kan, jadi untuk apa mama nyuruh sesil berenti kerja segala! " Bantah sesil dengan suara lantangnya
"Berani kamu menjawab sesil! Pokoknya nggak ada ya, cepat kamu masuk kekamar mu sekarang! " Ziah semakin marah saja dengan kelakuan sesil ini
"Kalo sesil bilang nggak, berarti ya nggak mah! Paham nggak sih. " Jawabnya keras kepala
"Kenapa memangnya? Apa nggak ada pekerjaan lain yang harus kamu lakukan selain pekerjaan haram ini, haah! " Sentak ziah
"Nggak ada!! Cuma pekerjaan ini yang bisa menghasilkan uang dengan banyak dan cepat! Kalo sesil berenti dengan pekerjaan sesil yang sekarang. Lalu gimana dengan kebutuhan sesil mah? Sesil itu perlu belanja barang barang baru setiap harinya, sesil malu kalo sampai teman teman sesil tau kalo hidup kita sekarang itu susah mah. Sesil maluu! " Ucapnya dengan nada yang semakin tinggi
"Kenapa harus malu? Seharusnya kamu itu bersyukur dengan kondisi kita yang sekarang! Meskipun kita hidup sederhana dirumah yang sederhana pula, setidaknya kita masih bisa berlindung dari hujan ketika turun. Diluaran sana justru banyak orang yang nggak punya tempat tinggal sama sekali. " Ceramah ziah panjang lebar
Namun yang namanya sesil tetaplah sesil. Dirinya hanya mendengarkan dengan telinga kanan keluar telinga kiri. Benar benar tidak menyimak apa yang dikatakan oleh mamanya.
"Udah selesai ceramah nya? Udah ya taksi online sesil udah sampe, sesil berangkat dulu! " Jawabnya dan langsung melengos begitu saja tanpa menghiraukan ziah yang terus memanggil namanya.
"Hais anak itu benar benar keterlaluan! Kenapa susah sekali untuk diberi tau, semoga kamu cepat sadar nak. Mama cuma nggak mau kalo sampai terjadi sesuatu denganmu. " Gumam ziah mengusap wajahnya dengan kasar
Dirinya sudah pusing menghadapi tingkah laku dari suaminya dan juga anak anaknya. Semenjak kehidupan mereka jatuh miskin entah kenapa semuanya memilih jalan sesat.
Diki yang terlilit hutang dimana mana. Kedua putranya yang berhenti sekolah dan memilih bekerja sebagai pria simpanan istri orang. Dan sesil yang bekerja di club malam dengan menjadi pemuas nafsu pria tua hanya demi uang.
Ziah berharap agar suami dan juga anak anaknya cepat sadar dengan semua kelakuan nya itu. Entah dosa apa yang ziah lakukan dimasa lalu hingga membuat anak anaknya menjadi seperti ini.
**
**
Keesokan paginya fasyin terbangun dari tidurnya karna merasakan sesuatu benda berat yang menindih pinggang nya. Fasyin dengan perlahan membuka mata nya menyesuaikan cahaya yang masuk sedikit menyilaukan matanya.
Saat matanya terbuka sempurna, ternyata tangan Arya lah yang memeluknya posesif. Fasyin tersenyum kala melihat wajah tenang milik Arya. Benar benar tampan sekali!
Tak dapat dipungkiri jika pahatan wajah Arya benar benar sempurna fasyin benar benar merasa meruntung karna telah memilikinya. Apalagi dengan perlakuannya yang benar benar membuat fasyin terharu dan bahagia.
Sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Yaitu kebahagiaan yang sesungguhnya, selama bertahun-tahun hidup dengan tangisan tertahan dan juga sakit hati ketika sang ayah tidak menganggap nya ada. Bahkan berulang-ulang kali berniat untuk membunuhnya.
__ADS_1
untung saja bik surti dengan sigap membantunya dan merawatnya hingga ia sebesar sekarang, mengingat hal itu membuat fasyin jadi berpikir.
Pokoknya fasyin harus menjadi orang tua yang sebaik mungkin untuk anaknya, fasyin tidak ingin jika kelak anaknya akan merasakan hal yang sama seperti yang ia alami selama ini. Terlebih lagi anaknya lahir tanpa seorang ayah, atau anak hamil diluar nikah.
Pokoknya fasyin harus benar benar menjaga itu semua. Fasyin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
"Kau sudah bangun? " Gumam Arya dengan suara seraknya namun matanya masih setia untuk terpejam
"Iya. Aku baru saja bangun, dan aku ingin kekamar mandi, " Jawab fasyin
Mendengar fasyin ingin kekamar mandi membuat Arya langsung membuka matanya. "Yasudah. Ayo aku bantu" Tawar Arya
Fasyin Sama sekali tidak menolak nya. Karna memang kondisi tubuhnya yang masih lemah, membuat fasyin tidak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri.
Arya bangun dan menggendong tubuh fasyin membawanya kekamar mandi dan mendudukannya di closet.
"Panggil aku jika sudah selesai. " Ucap Arya yang dibalas anggukan kepala oleh fasyin
Arya pun keluar dan menunggu didepan pintu. Fasyin yang memang sudah tidak tahan lagi langsung saja melepaskan hajatnya. Setelah selesai fasyin berdiri dengan pelan dan membasuh tangan serta wajahnya.
"Mas aku sudah selesai. " Teriak fasyin dari dalam
Sejujurnya dirinya malu pada Arya. Namun apalah daya, jika tidak meminta bantuan dari Arya tentu dirinya tidak akan kuat berdiri lama lama.
"Sudah? " Tanya Arya yang dibalas anggukan kepala lagi oleh fasyin.
Arya kembali menggendong fasyin dan membawanya ke tempat semula. "Tunggu disini. Jangan melakukan apapun tanpa aku. " Ucap Arya
"Iya."
Arya pun meninggalkan fasyin dan menuju kamar mandi. Sementara fasyin melirik kesamping dan melihat edwin masih tidur dengan Nyenyaknya
Hingga tak lama Arya keluar dengan badan yang sudah segar. Ternyata Arya mandi didalam sana.
"Kamu mandi mas? " Tanya fasyin mengkerutkan alis
Kemarin saat edwin membeli makanan untuk mereka. Edwin sempat diperintahkan Arya untuk membawakannya baju ganti agar paginya dirinya bisa mandi dan berganti pakaian.
Arya memutuskan untuk melakukan itu semua dirumah sakit. Ia sama sekali tidak bisa meninggalkan fasyin lama lama. Soal pekerjaan kantor? Ia akan lakukan dirumah sakit saja begitupun dengan edwin. Yang jelas dirinya tidak akan meninggalkan fasyin meski hanya untuk beberapa jam kedepan.
"Kamu lapar? " Tanya Arya mendekat.
"Belum mas, nanti saja. " Ucap fasyin menggeleng
"Baiklah. Jika butuh sesuatu panggil aku. " Jawab Arya yang dibalas anggukan kepala oleh fasyin
Arya mendekat dimana edwin tidur dan membangunkan nya. "Win bangun. Lo letakin laptop dimana? Gue mau ngecek pekerjaan. "
Edwin menggeliat dan membuka matanya dengan perlahan. Sejenak ia duduk untuk mengumpulkan nyawanya.
"Udah pagi ya? " Jawabnya dengan wajah bantal
"Masih malem. Ya udah lah, buruan dimana laptop. " Ulang Arya lagi
"Oh. Gue tarok dimobil. Sekalian ambilin laptop gue ya. " Ucap edwin
Arya tak menjawab lagi dan langsung saja keluar menuju mobilnya. Sepeninggal nya Arya justru edwin kembali ingin tidur akan tetapi tidak jadi ia lakukan karna fasyin bersuara
"Bangun kak, ini tuh udah siang. Udah jam 9 pagi masa mau tidur lagi" Ucap fasyin
"Iyakah? " Tanya edwin yang dibalas anggukan kepala oleh fasyin
"Iya. Bawa cuci muka atau mandi dulu kak biar segar, " Ucap fasyin
"Iya iya. " Jawab edwin dan langsung menuju kamar mandi dengan mata yang masih setia terpejam
__ADS_1
Fasyin hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah edwin yang hampir sama seperti Arya.
"Loh edwin mana? " Tanya Arya ketika tak melihat edwin dikasurnya
"Aku suruh mandi kak. Biar segar badannya." Jawab fasyin yang ditanggapi oh ria saja dari Arya
"Kalo gitu. Aku kerja dulu, kamu kalo butuh sesuatu panggil aku ya. " Ucap Arya
"Iya mas. Kamu kenapa nggak kekantor aja? Kenapa malah kerja disini? " Tanya fasyin heran
"Nggak papa, pengen aja. Mau dikantor ataupun disini sama aja menurutku. " Jawab Arya
"Oh yasudah. Mas kerja aja, nanti kalo aku butuh sesuatu aku panggil kok. " Ucap fasyin
Arya hanya mengangguk saja, lalu menuju sofa dan mulai bergelung dipekerjaannya
Fasyin memandangi wajah arya yang tengah serius bekerja. Wajah Arya yang serius semakin menambah level Ketampanannya dari yang biasanya.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat Arya bekerja seserius ini. Beberapa saat berlalu edwin telah selesai dengan mandinya, dan bergabung bersama Arya untuk melakukan pekerjaan nya.
Ceklek!
"Pagi sayang. " Sapa mommy mega
"Nduk." Ucap bik surti
"Lho, ibu? Bibi? Kok bisa barengan" Kaget fasyin
"Iya sayang. Mommy yang jemput bibi biar sekalian jengukin kamu. " Ucap mega
"Oh gitu. Bibi udah sembuh ya? " Tanya fasyin
"Sudah nduk! Maafin bibi ya karna kamu membeli obat buat bibi kamu harus seperti ini. " Lirih bik surti
"Nggak apa apa bik. Ini nggak sengaja kok, nia juga salah karna nggak hati hati. " Jawab fasyin mengelus pelan tangan bik surti yang sudah keriput
"Udah udah nggak usah dibahas lagi. Toh sekarang nia udah nggak apa apa kan. " Ucap mommy mega
"Oh iya. Ini mommy bawain makanan buat kamu. Kamu pasti belum sarapan kan? " Tanya mommy mega yang dibalas gelengan kepala oleh fasyin
"Pas dong. Ini mommy bawain kamu bubur ayam. Kata bibi selain tempe bacem, kamu juga suka sama bubur ayam. " Ucap mommy mega menyodorkan satu mangkok bubur ayam yang panas
"Wah harum sekali. Kenapa ibu repot repot segala sih bu. " Ucap fasyin
"Nggak repot sama sekali sayang. Yuk dimakan dulu. Arya edwin sini nak, kita makan sama sama. " Ajak mega pada semua.
Arya dan edwin pun mendekat. "Wah tante bawa bubur ayam ya. Udah lama edwin nggak makan ini. " Ucap edwin sudah tak sabaran
"Iya. Tante masak ini karna nia suka sama bubur ayam, yaudah yuk kita sarapan dulu. " Ajak mommy mega
Mereka pun mulai makan dengan lahap dan tenang. Namun Arya dan fasyin hanya menggunakan satu mangkok berdua. Biar romantis katanya.
Selesai dengan acara sarapan pagi mereka. Arya mengajak edwin untuk keluar ruangan itu karna ada sesuatu yang harus dibahas oleh Arya.
"Gimana? Udah ada titik terang tentang si pelaku yang sudah menabrak nia? " Tanya Arya serius
Kini wajahnya berubah menjadi datar. Tidak seperti saat Arya bersama fasyin ataupun keluarganya.
"Sudah. Gue udah cek rekaman CCTV dari sebrang toko obat itu. Yang terlihat dari CCTV itu mobil itu memang sudah lama parkir disana, sampai fasyin keluar dan mobil itu langsung melaju begitu saja, sampai menabrak fasyin. " Jawab edwin tak kalah serius
Mendengar penuturan edwin Arya mengepalkan kedua tangannya. Rahang nya mengeras dan matanya memerah menandakan jika diri nya sedang marah saat ini.
"Sialan! Kita harus cari siapa orang yang udah dengan beraninya melakukan ini. " Tegas Arya
"Nanti siang gue akan kesana lagi. Karena waktu itu gue nggak sempat untuk melihat plat mobilnya. Karena fokus gue cuma sama mobil itu doang. " Jawab edwin
__ADS_1
"Baiklah kalo gitu. Gue ikut, nia biar gue titip sama mommy atau bik surti. Rasanya gue benar benar nggak sabar buat nemuin siapa pelaku nya. " Gumam Arya dengan pandangan lurus kedepan.