
"Udah mas! Aku udah kenyang. " Jawab fasyin
"Nanggung! Ini masih ada sedikit lagi lho, " Jawab Arya.
Fasyin sudah sadar sekitar beberapa jam lalu. Tentu hal itu membuat Arya dan yang lainnya juga ikut senang. Namun karna hari yang semakin malam. Hanya ada Arya dan juga fasyin diruangan itu.
Mommy mega dan juga daddy bramantyo sudah pulang terlebih dahulu. Dan Edwin pergi keluar mencari makan untuk dirinya dan juga Arya.
Dan Arya juga telah menceritakan semuanya pada fasyin. Bahwa dirinya mendapatkan donor darah dari teman SMA nya dulu. Dan bik surti juga telah mengetahui bahwa fasyin sudah melahirkan.
Awalnya dirinya sempat terkejut karna fasyin yang melahirkan karna kecelakaan. Terlebih lagi bayi nya harus terlahir prematur, tapi Edwin langsung memberitahu bahwa fasyin tidak apa apa dan juga bayinya selamat. Bik surti pun akhirnya bisa bernafas lega,mendengar fasyin selamat begitupun dengan bayinya. Meski rasa khawatir itu masih ada direlung hatinya.
Dirinya juga berjanji, besok akan kerumah sakit untuk melihat keadaan fasyin dan juga anaknya.
"Tapi aku beneran udah kenyang mas. Aku udah nggak kuat lagi. " Ucap fasyin memelas karna Arya terus saja memaksanya untuk menghabiskan makanan itu.
Arya menarik nafasnya dengan pelan. "Aku mohon nia! Ini demi kebaikan mu. Kau harus makan dengan banyak, agar kondisi mu cepat pulih. Terlebih lagi anak mu sekarang sudah lahir kau harus bekerja extra bukan? " Arya mencoba memberi pengertian.
Fasyin terdiam sejenak. Benar apa yang Arya katakan dengannya. Kenapa ia bisa lupa bahwa dirinya baru saja melahirkan. Belum satu hari ia menjadi seorang ibu tapi sudah lupa akan hal itu. Benar benar tidak habis pikir. Fasyin menepuk jidatnya sendiri.
"Hehe. Aku lupa, baiklah aku akan menghabiskan makanan ini. " Cengir fasyin merasa tak bersalah.
Arya hanya diam sambil menahan gemas pada fasyin. Dirinya pun menarik pelan hidung fasyin lalu kembali menyuapi fasyin.
"Minumlah dulu. Lalu minum obat ini. " Ucap Arya memberikan segelas air dan juga obat.
Fasyin menerimanya lalu meminumnya. Setelah selesai fasyin kembali memberikannya pada Arya, dan Arya langsung ia letakan di meja yang tak jauh dari sana.
"Gimana? Kenyang? " Tanya Arya duduk di tepi ranjang sambil mengusap pelan tangan fasyin.
Entahlah! Rasanya Arya benar benar tidak bisa jika harus melepaskan tangan fasyin, barang sebentar saja.
"Kenyang! Pake banget malah. " Jawab fasyin tersenyum.
Arya juga ikut tersenyum sehari mengusap pelan puncak kepala fasyin. "Terima kasih. " Ucapnya tiba tiba yang membuat fasyin mengerutkan kedua alisnya
"Terima kasih? Terima kasih untuk apa mas! " Tanya fasyin paham.
__ADS_1
"Iya. Terima kasih, karna sudah melahirkan putri cantik untukku. Meski bukan anakku, tapi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Apa kau tau? Selama operasi mu berjalan. Aku benar benar merasakan debaran jantung yang begitu kuat. Aku mencemaskan mu dan juga anak kita. Apalagi saat anak kita lahir dan menangis, aku juga ikut menangis karna senang mendengarkan nya. Sampai aku berpikir apakah ini rasanya disaat seorang suami yang menunggu istrinya melahirkan anak. "Ucap Arya dengan mata yang berbinar.
Karna memang itu yang ia rasakan. Sementara fasyin hatinya menghangat kala mendengar Arya mengatakan kata anak menjadi anak ku. Bahkan ia juga menganggap anak itu sebagai anaknya sendiri. Fasyin terharu dengan Arya yang mau menerimanya dan juga anaknya.
"Kenapa mata mu berkaca kaca? Apa ada yang sakit? Tunggulah disini aku akan memanggil dokter. " Ucap Arya beranjak dari duduk nya.
Namun langkahnya terhenti saat tangan nya dipegang oleh fasyin. "Kenapa? " Tanya Arya kembali duduk
Fasyin menggeleng. "Duduk lah disini temani aku. Tidak ada yang sakit dari tubuhku. Aku hanya terharu karna mas sudah mau berlapang hati untuk menerimaku dan juga anak ku. Bahkan mas sendiri menganggapnya seperti anak kandung. Aku juga mau ucapin Terima kasih atas kebaikan hati mu mas. " Ucap fasyin dengan derai'an air mata yang jatuh begitu derasnya.
Arya yang melihat fasyin menjatuhkan air mata langsung saja membawanya kedalam dekapannya dengan pelan sambil terus menghujami puncak kepala fasyin dengan ciuman.
"Berhenti menangis nia. Aku tidak suka melihatmu menangis seperti ini. Dan kau juga tidak perlu berterima kasih pada ku. Aku memilih mu atas kemauan ku dan berarti aku juga harus menerima dirimu dan anakmu. " Ucap Arya menatap lekat wajahnya fasyin.
"Tapi bagaimana jika orang lain ber_"
"Aku tidak peduli dengan pikiran orang lain nia! Yang menjalani semuanya adalah kita. Dan yang memilih mu adalah aku. Itu sudah menjadi konsekuensi diriku. Biarlah orang lain berkata apa tentang diriku. Aku sama sekali tidak perduli. Jangan kau pikirkan omongan orang lain yang sama sekali tidak berguna itu. Lebih baik kita fokus dengan diri kita saja. Apa kau mengerti?" Ujar Arya menangkup kedua pipi fasyin.
Fasyin mengangguk dengan pelan. Arya dengan perlahan namun pasti mulai mengikis jarak diantara mereka, fasyin juga mulai memejamkan matanya. Disaat bibir mereka hendak bersentuhan tiba tiba pintu terbuka begitu saja.
Ceklek!
"Ups! Sorry, hehe! Gu-gue nggak liat beneran, deh! " Ucap Edwin mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"****** lo! Kenapa lo datang disaat yang tidak tepat. " Ucap Arya memberikan tatapan tajam miliknya.
Sedangkan Edwin hanya mampu menelan ludah dengan kasar sembari tersenyum bodoh. "Sorry! Lagian lo ngapain mesra mesraan dirumah sakit. Nggak bisa nunggu dirumah aja kenapa. " Sungut Edwin sambil mendudukan bokongnya disofa.
"Diem deh lo! Makanya cari bini sana, biar nggak gangguin orang mulu. " Ketus Arya masih dengan nada kesal
"Bini.. Bini.. Mata lo pe'ang. Kalian itu belum nikah, ingat woi ingat! Lagian udah tau nia masih sakit, main nyosor bae lo udah kaya bebek. " Jawab Edwin juga ikutan kesal.
"Ah berisikk! Ngapain lo disini? Mana masuk nggak ketuk pintu lagi. "Ucap Arya
"Lo pikun apa gimana sih? Tadi lo yang nyuruh buat beli makanan. Sekarang gue udah beli malah lo omelin, heran gue! Dasar bucin! Kalo udah sama perempuan aja, mendadak pikun. " Cibir Edwin dengan nada pelan di akhir kalimatnya.
"Oh! " Hanya itu yang keluar dari mulut Arya. Sementara Edwin hanya mendengus sebal saja.
__ADS_1
Edwin mendelik mendengar jawaban singkat Dari Arya. Sungguh dirinya ingin sekali menghajar bos alias sahabatnya itu. Namun? Ah sudahlah, Dari pada memikirkan itu. Lebih baik dirinya makan saja terlebih dahulu. Dirinya sudah kelaparan sedari tadi. Entah mimpi apa Edwin harus mengalami apes seperti ini.
Tadi saat dirinya tengah mengantri untuk membeli makanan. Tiba tiba saja ada seorang ibu ibu dan juga bocah yang memotong antrian nya.
Tentu Edwin tak Terima. Sudah hampir satu jam dirinya mengantri, kini malah diserobot oleh ibu ibu dan juga seorang anak kecil.
Flash back on!
"Hey bu! Kau sudah menyerobot antrianku. Seharusnya kau berdiri dibelakang ku, bukan malah dihadapan ku. " Tegur Edwin dengan sopan
Ibu ibu itu menoleh dan melirik Edwin dari atas hingga bawah. "Kamu kan masih muda! Apa salah nya harus mengantri lebih lama lagi? Lagian saya ini sudah tua, mana kuat untuk berdiri terlalu lama! " Jawab ibu itu dengan nada songong.
Edwin hanya mencebik kesal. Jika saja yang dihadapan ini bukan seorang wanita, mungkin Edwin sudah menghajarnya habis habisan.
"Tapi bu. _" Ucapan Edwin terpotong saat ibu itu menyelanya dengan cepat.
"Udah lah. Nggak ada tapi tapian, mengalah saja apa susahnya sih? " Gerutunya pelan
Edwin hanya bisa menghela nafas dengan pelan sambil mengusap dadanya dengan sabar. "Sabar Edwin! Ingat yang dihadapan lo ini adalah emak emak. Lo nggak akan bisa menang kalo udah ngelawan emak emak. " Edwin membatin.
Tanpa sadar dirinya sedari tadi tengah diperhatikan oleh bocah lelaki, sekitaran umur tiga tahun. Edwin menatap bocah itu dengan pandangan heran.
"Ngapain ni bocah mandangin gue? Oh apa gue tampan kali ya? Tentu saja itu. Bocah saja tau jika wajahku ini tampan. Anak kecil memang tidak bisa berbohong. "Arya membatin lagi sambil tersenyum simpul
Namun senyum itu sirna, kala matanya melihat bocah itu memberikannya jari tengah sambil menjulurkan lidahnya. Edwin mendengus sebal melihat tingkah bocah itu. Entah belajar dari mana dia hingga paham dengan jari tengah seperti itu.
Flash back off!
Ah, mengingat kejadian itu kembali membuat Edwin kesal sendiri. Ada ada saja memang, tapi ya mau bagaimana lagi? Namanya juga emak emak.
Edwin hanya makan dengan memasang wajah masamnya tanpa sadar jika Arya terheran heran dengan tingkahnya itu.
"Ngapa muka lo? " Tegur Arya yang sedari tadi memperhatikan raut wajah Edwin yang kesal.
"Nggak papa! " Jawab Edwin cuek
"Aneh lo! "Kata Arya menyuap makanan Kemulutnya
__ADS_1
Edwin berdecak dengan lidahnya. " Diem deh lo! Gue laper, jangan ajak gue bicara! "Edwin menjawab dengan nada ketus
Arya hanya mengkerutkan alisnya bingung. Apakah dirinya marah karna hal tadi? Tapi mana mungkin. Dirinya dan Edwin sering kali bercanda jadi mana mungkin hanya karba masalah tadi Edwin Harus marah.