
“Hahh ….”
Entah sudah berapa kali Edwin menghela nafasnya. Masih terbayang bagaimana sadisnya perlakuan Arya kepada Tomi dan Indri.
Bahkan siapapun yang melihat sosok Arya yang sedang memberikan balasan kepada Tomi dan Indri, sudah dipastikan mereka akan lari terbirit-birit karena ketakutan setengah mati.
“Kayaknya lo terlalu kejam deh tadi,” ucap Edwin menyampaikan pemikirannya sejak tadi.
Arya menatap gelas yang masih terisi dengan kopi miliknya. Dia sama sekali tidak mengindahkan perkataan Edwin dan hanya fokus menatap pemandangan dari luar kaca café.
Saat ini Arya dan Edwin sedang berada di salah satu café terkenal di Bangkok. Setelah membalaskan apa yang diperbuat Tomi dan Indri, Arya berniat untuk bersantai sejenak di café dan tentu saja Edwin akan mengikutinya karena siapa tahu nanti Arya malah menyebabkan masalah ketika suasana hatinya yang sedang buruk itu.
“Arya,” panggil Edwin karena sejak tadi Arya malah mengabaikan perkataannya. Padahal Edwin sudah serius membicaraknnya dengan Arya.
Arya akhirnya pun menoleh ke arah Edwin dan menaikkan sebelah alisnya. “Apa?”
“Gue tahu lo pasti denger apa yang gue bilang tadi,” ucap Edwin yang memang tidak berniat mengulangi perkatannya untuk yang kedua kalinya.
“Hmm kejam dari mana? Gue cuma balasin hal yang sepadan dengan apa yang mereka lakuin ke gue. Apa salahnya? Bukankah itu hal wajar, kenapa lo malah ngerasa kasihan gitu ke mereka? Lo sekarang berpihak ke para penghianat itu?”
Arya memang tidak memedulikan apa yang terjadi kepada Tomi dan Indri. Menurutnya apa yang dilakukannya sudah benar adanya.
Edwin menghela nafas pasrah. Mau dibilang seperti apapun, Arya tetap akan mengikut kata hatinya sendiri. Bahkan Arya tidak akan mendengarkan apa yang dikatakan orang lain.
“Jadi lo tetap akan biarin mereka di sana?” tanya Edwin masih membahas topik yang sama.
Arya menganggukkan kepalanya. Tatapannya berubah tajam dan terselip amarah dari sorot matanya yang memandang lurus keluar kaca café. “Iya, gue nggak bakal biarin mereka berbuat sesukanya lagi. Mereka bakal rasain sakitnya disiksa sampai mereka sendiri nanti yang minta gue habisi karena udah nggak sanggup hidup lagi.”
Perkataan Arya membuat Edwin sedikit bergidik ngeri. Bagaimana bisa seseorang mengatakan hal sekejam itu dengan wajah yang datar. Namun jika itu keluar dari mulut Arya sendiri maka Edwin tidak akan merasa heran. Seorang ketua mafia seperti Arya tidak akan ragu menghabisi nyawa seseorang jika orang tersebut membuat masalah kepada Arya, seperti apa yang telah dilakukan Tomi dan Indri.
“Jadi lo mau ngelakuin apa setelah ini?” Edwin mengambil cangkir yang berisi kopi miliknya dan menengguknya sedikit. “Lo pasti nggak bakal biarin rahasia perusahaan yang udah kesebar itu gitu aja, kan?”
Arya mengepalkan tangannya. Memikirkan apa yang telah dilakukan Tomi dan Indri membuat darahnya semakin mendidih. Auranya bahkan terasa begitu mengerikan untuk didekati orang lain.
“Gue bakal bungkam orang-orang yang udah tahu rahasia perusahaan. Siapapun itu. tapi untuk sekarang gue bakal puas-puasin sakitin mereka berdua yang udah macam-macam sama gue.” Arya langsung meneguk habis kopinya hingga hanya tersisa cangkir kosong saja.
Edwin hanya terdiam. Dia tetap akan mengikuti apa yang akan dilakukan Arya selanjutnya. Dia yakin apapun itu keputusaan Arya, maka itu demi kebaikan perusahaan dan organisasi mafiosnya.
Tap! Tap!
Bruk!
“Arya!”
Suara melengking itu membuat Edwin menolehkan kepalanya ke arah Naura yang tiba-tiba saja mengalungkan tangannya ke leher Arya dari belakang. Dia kembali menghela nafas malas karena setelah ini Arya akan kembali mengamuk karena kesal.
Naura mengabaikan tatapan dari Edwin dan malah mengeratkan pelukannya di leher Arya. “Arya, gue kangen deh sama lo,” bisik Naura tepat di telinga Arya. Dia dapat melihat wajah datar Arya dari samping, wajah yang selalu membuatnya jatuh hati semakin dalam kepada sosok Arya.
Plak!
Arya menepis tangan Naura yang berada di lehernya hingga terlepas sepenuhnya. “Jangan ganggu gue,” ucap Arya dingin.
Dia sejak tadi merasa risih dengan tingkah Naura. Bahkan Naura berani-beraninya memeluknya padahal sudah tahu Arya memiliki tunangan.
Naura memansang wajah cemberutnya. Dia memilih duduk di kursi yang bersebelahan dengan Arya. “Lo nggak kangen sama gue? Padahal waktu gue nggak segaja lihat lo di sini gue seneng banget,” ungkap Naura yang memang jujur apa adanya.
Edwin terlihat santai memandang ke arah dua sahabatnya itu. “Emang lo di sini ngapain?” tanyanya karena Arya terlihat semakin jengkel dengan tingkah Naura.
Edwin ingin membuat Naura tidak menatap ke arah Arya lagi sebelum Arya benar-benar akan marah dan suasana hatinya semakin memburuk.
Naura terpancing dengan pertanyaan dari Edwin. Sekarang dia menopang dagunya dan menatap ke arah Edwin. “Gue ada kerajaan di sini jadi kebetulan gue lewat dan ngelihat kalian berdua di café ini. Kayaknya kita emang jodoh, ya, Arya.” Naura lagi-lagi menatap ke arah Arya.
Edwin mengangguk paham. Dia memang mengerti pekerjaan Naura sebagai model sehingga tidak heran jika Naura berada di luar negeri untuk melakukan pemotretan apapun itu.
“Ngomong-ngomong, kalian kenapa ada di sini? Bahkan nggak ngabarin gue,” ucap Naura.
__ADS_1
“Bukan urusan lo,” jawab Arya jutek.
Naura kembali memasang wajah cemberutnya karena jawaban singkat dari Arya. “Ya udah deh kalau nggak mau kasih tahu. Tapi setelah ini kalian mau ke mana? Gimana kalau kita jalan-jalan sama-sama?”
Naura bertanya kepada Edwin dan Arya namun tatapannya tetap tertuju pada Arya. Dia sebenarnya hanya ingin mengajak Arya saja berjalan dengannya tapi karena Edwin ada di sana mau tidak mau Naura juga menawarkannya.
Edwin tentu peka dengan sikap Naura itu. Dia memilih diam saja karena dia tahu setelah ini Arya yang akan menyelesaikan perbincangan dengan Naura.
“Kami sibuk.” Arya lagi-lagi memberikan jawaban yang singkat. Bahkan sejak tadi dia tidak memandang ke arah Naura dan hanya memalingkan wajahnya ke arah ponselnya.
Naura tetap tidak menyerah meskipun sikap Arya menunjukkan dia begitu risih. Dia menanyakan beberapa hal lagi seperti di mana keduanya tinggal atau apa yang akan mereka lakukan besok harinya.
Bahkan sekarang tangan Naura mulai mengait pada lengan kekar Arya. Dia mendekatkan tubuhnya pada Arya dengan sengaja.
Plak!
“Jangan ganggu gue lagi. Lo bikin risih tahu nggak.” Arya bangkit berdiri dan berjalan keluar dari café meninggalkan Naura dan Edwin yang masih duduk di sana.
Edwin hanya menghela nafasnya dan bangkit berdiri namun sebelum benar benar beranjak Edwin bergumam, “lebih baik mulai sekarang lo jangan ganggu Arya lagi. Lo tau tau kan kalo Arya sudah bertunangan, peringatan yang waktu itu masih kurang!"
Dia juga melangkah keluar dari café hingga akhirnya hanya tertinggal Naura seorang diri di café itu.
Naura menatap kepergian dua sahabatnya itu dengan tatapan kesal. Padahal dia meluangkan waktunya untuk menghampiri Arya dengan sengaja namun sekarang dia malah ditinggalkan begitu saja.
Naura merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Arya. “Hahh … gue harus tetap tenang. Gue nggak bakal nyerah meskipun diperlakuin kayak gini,” ucap Naura menenangkan dirinya.
Naura menopang dagunya dan menatap ke luar café dari kaca café itu. “Gue harus bisa deketin Arya selagi ada di sini. Ini kesempatan bagus buat gue.”
Senyuman licik terukir di wajahnya. Dia akan menyusun rencana pendekatannya dengan Arya di Bangkok ini. Jika rencananya berjalan lancar maka dia hanya perlu menunggu hingga Arya dan Fasyin memutuskan pertunangan mereka.
“Arya itu milik gue jadi sampai kapanpun itu, gue yang lebih layak untuk Arya.”
***
Setelah dari café tadi, Arya dan Edwin pun kembali ke tempat di mana Tomi dan Indri disekap bersama.
“Iya, king. Kami sudah membersihkan semuanya,” jawab salah satu mafios yang bertugas dalam menjaga ruangan tersebut agar Tomi maupun Indri tidak melarikan diri.
Namun sebenarnya Tomi maupun Indri sudah tidak punya tenaga untuk melarikan diri jadi percuma saja memasang penjaga di depan ruangan. Hanya saja Arya tidak ingin mengambil resiko jika Tomi dan Indri malah kabur darinya.
“Bagus, buka pintunya sekarang,” ucap Arya setelah memasang sarung tangan hitam ke tangannya.
Ceklek!
Pintu ruangan itu pun terbuka. Arya melangkah masuk dan dikuti oleh Edwin yang selalu berada di belakangnya.
Edwin meringis ngeri ketika melihat raut wajah Tomi maupun Indri yang sudah hampir tidak berbentuk lagi. Luka lebam atau luka gores di wajah mereka terlihat begitu menyakitkan.
Namun itu bukan urusan penting untuk Arya. Dia malah merasa itu belum sepadan dengan apa yang telah dilakukan Tomi dan Indri kepadanya.
“Oh ternyata kalian nggak tidur,” ucap Arya duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Tomi dan Indri.
Tomi dan Indri bersujud di hadapan Arya. Tangan mereka yang masih terikat di belakang punggung membuat mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka berdua hanya menundukkan kepala dengan rasa takut yang semakin menjadi-jadi ketika melihat Arya yang duduk di kursi yang ada di depan mereka.
“K-Kami minta maaf, Arya. Kami mohon jangan lakuin apapun lagi pada kami,” ucap Tomi memberanikan dirinya. Dia masih tidak ingin mati di tangan Arya.
“I-Itu benar, Arya. Kita masih keluarga, kan? Aunty mohon lepasin aunty, Arya,” mohon Indri dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.
“Pfft.” Arya menutup mulut dengan sebelah tangannya. Dia menatap pemandangan lucu di depannya itu dengan tatapan merendahkan. “Keluarga? Siapa? Kita? Hahaha omong kosong apa yang kalian katakan!”
Deg!
Indri dan Tomi menelan ludah susah payah. Perkataan Arya terdengar begitu mencekam dan membuat mereka bergetar ketakutan. Mereka merasa telah salah berkata hingga membuat Arya menjadi semakin marah pada mereka.
Bibir Indri dan Tomi bergetar karena rasa takut kepada Arya. Mereka tidak ingin disakiti lagi oleh Arya bahkan sekarang tubuh mereka sudah sulit untuk digerakkan lagi.
__ADS_1
“M-Maafkan kami … aunty mohon, Arya. Maafkan kami dan bebaskan kami.” Indri menjatuhkan keningnya ke lantai ruangan yang kasar hingga membuat keningnya tergores namun dia tidak peduli. Bahkan jika bersujud di hadapan Arya sekarang dapat menyelematkan dirinya maka Indri akan melakukannya.
Tomi juga melakukan hal yang sama dengan Indri. “K-Kami bersalah! Kami menyesal, Arya!” teriaknya dengan nada putus asa.
Bukannya merasa kasihan kepada Tomi dan Indri, Arya malah merasa belum puas. Dia ingin lebih melihat betapa sakitnya Tomi dan Indri.
Arya bangkit dari duduknya hingga membuat suara kursi yang bergesekan dengan lantai bergema di dalam ruangan itu.
Tomi dan Indri tersentak kaget dan mendongakkan kepala mereka. sekarang Arya berdiri tepat di hadapan mereka.
Arya tiba-tiba berjongkok. Dia menatap luka di wajah dan paha milik Indri. Dengan kejamnya, Arya menekan luka di paha Indri hingga membuat darah segar merembes keluar dari luka yang belum lama diobati itu.
“Argh!!” Indri berteriak kesakitan. Bahkan air matanya semakin banyak mengalir.
Arya bangkit berdiri dan sekarang posisinya berada di hadapan Tomi. Tanpa belas kasihan, dia menendang wajah Tomi hingga membuat tubuh Tomi terpental menyentuh dinding dengan sangat keras.
“Bersalah? Menyesal? Kalian pikir dengan mengtatakan itu semuanya akan kembali seperti dulu? Jangan bercanda!” ucap Arya penuh penekanan.
Tangan Arya terkepal erat. Dia menarik tangan Indri ke belakang dengan paksa hingga membuat Indri mau tidak mau mendongakkan kepalanya. Tatapannya yang nanar menatap ke arah Arya yang sedang menatap tajam padanya.
“Siapa yang kau anggap keluarga, hm?”
Plak!
Arya menampar keras pipi Indri yang sudah memerah. Sudut bibir Indri bahkan mengeluarkan sedikit darah karena robek akibat tamparan keras dari Arya itu.
Belum puas dengan itu, Arya juga menendang kuat perut Indri hingga membuat Indri terbatuk-batuk dan mengeluarkan sedikti darah dari mulutnya.
“Ini akibatnya kalau kalian berani main-main denganku. Jangan harap kalian akan aku lepaskan setelah ini. Kalian terlalu sayang untuk dilepaskan sebelum aku benar-benar menghabisi ke tulang-tulang kalian,” ucap Arya dengan tatapan tajam penuh sorot amarahnya.
“Uhuk! Uhuk!” Indri masih terbatuk kesakitan karena perutnya ditendang dengan begitu keras. Dia mulai menyesali perkataannya kepada Arya.
“A-Arya … Paman mohon, j-jangan sakiti kami lagi,” lirih Tomi susah payah.
Benturan keras punggungnya ke dinding tadi masih terasa begitu sakit. Bahkan untuknya bangkit saja terasa begitu sulit.
Arya yang awalnya fokus kepada Indri, sekarang dia mengalihkan pandangannya ke arah tubuh Tomi yang terbaring di atas lantai kasar itu.
Dia berjalan mendekati Tomi dan bejongkok tepat di samping tubuh Tomi. “Apa menurut Paman aku bakal nurutin perkataanmu begitu aja?”
Arya mendekatkan tangannya ke pipi Tomi. Ditekannya luka kebiruan di wajah Tomi itu hingga membuat Tomi meringis kesakitan. “Ini bahkan belum cukup buat kalian, Paman.”
Arya mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan bersiap untuk memberikan tamparan keras ke pipi Tomi.
Tomi bahkan sudah menutup matanya, bersiap meneriam tamparan keras dari Arya untuknya.
Drrtt ….
Tangan Arya terhenti. Dia bangkit berdiri dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Wajah yang awalnya datar, sekarang terukir senyum kecil di sana ketika melihat nama Fasyin yang tertera di layar ponselnya.
“Kalian selamat untuk sekarang.” Arya berjalan pergi meninggalkan Tomi dan Indri.
Dia pun langsung mengangkat panggilan dari tunangannya itu. “Halo, ada apa, hm? Kamu udah kangen sama aku?” tanya Arya kepada Fasyin di seberang sana.
Terdengar kekehan pelan dari Fasyin yang membuat senyum di wajah Arya semakin terlihat jelas. “Hmm aku memang kangen sama kamu mas, Arya. Gimana keadaan kamu di sana?”
Arya melirik ke arah pintu ruangan Tomi dan Indri disekap. “Aku baik-baik aja. Kamu di sana juga nggak ada masalah, kan? Bagaimana baby balqis? Apa dia rewel”
“Iya, aku bahkan lagi istirahat sekarang. Baby balqis nggak rewel sama sekali kok. Kamu kapan pulang?” tanya Fasyin. Dia terdengar sudah merindukan tunangannya itu.
Kali ini Arya yang tertawa pelan. “Nggak lama lagi, Nia. Kamu udah sekangen itu sama aku? Atau kamu cuma ingin oleh-oleh dari aku?”
“Hmm kayaknya dua-duanya deh. Tapi mungkin pengen yang kedua,” jawab Fasyin sengaja menjahili Arya.
Arya terhibur hanya karena berbincang dengan Fasyin. Padahal belum lama tadi suasana hatinya memburuk namun hanya karena mendengar candaan kecil dan suara dari Fasyin, dia sudah merasa jauh lebih baik.
__ADS_1
“baiklah. Nanti aku akan membelikan banyak oleh oleh untuk mu, dan juga baby balqis”