
Setelah membawa fasyin pergi dari rumah milik Arya, disini lah mereka sekarang. Tengah menikmati pemandangan sejuk yang berada di halaman belakang rumah milik Arya.
Mereka duduk Digazebo yang memang sudah tersedia disana. Cukup lama mereka diam dengan pikiran Masing-masing. Arya sengaja membiarkan fasyin menangis sepuasnya, agar ia bisa menumpahkan keseluruhan rasa sedihnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik? " Tanya Arya sambil menyodorkan selembar tissu
Fasyin mengangguk, lalu mengambil tissu yang diberikan oleh Arya. Sejujurnya fasyin benar benar masih syok akan kejadian yang ia lihat hari ini. Benar benar tidak habis pikir dengan kelakuan Gevandra.
Tapi ada satu pertanyaan yang sedari tadi berada didalam pikirannya. Fasyin pun memandang Arya yang berada dihadapan nya.
"Mas. Apa aku boleh bertanya sesuatu? " Tanya fasyin
Arya menoleh lalu memperbaiki cara duduknya, agar lebih leluasa menatap fasyin. "Tentu! Kau boleh menanyakan apapun itu. "
"Emm! Kapan mas menyelidiki ini semua? " Tanya fasyin menatap Arya dengan serius meski dirinya sesekali terisak kecil.
"Sudah lama. Dan baru hari ini aku membongkar semuanya. Kenapa? " Ucap Arya
"Nggak papa. Aku cuma mau bilang Terima kasih sama mas, Terima kasih karna telah membantuku mencari tau semua kebenaran ini. Berkat mas aku jadi tau siapa ayah dari bayi yang aku kandung ini. " Jawab fasyin sendu
"Tidak perlu berterima kasih sayang. Aku melakukan ini semua demi dirimu. Aku hanya tidak ingin kau memikirkan masalah yang menimpamu ini. " Jawab Arya tulus.
"Tapi tetap saja mas. Mengenai hukuman, apa mas benar benar ingin menghukum nya? " Tanya fasyin menatap Arya
"Tentu saja. Aku akan memberikannya hukuman sebelum nanti aku akan membawanya kekantor polisi. " Jawab Arya tak kalah serius
Fasyin terdiam. Kira kira hukuman apa yang akan Arya berikan pada gevandra? Apakah akan sekejam seperti mafia mafia di flim, yang sering ia tonton? Atau bagaimana? Apa jangan jangan lebih kejam dari itu? Pikiran fasyin mulai melalang buana jauh.
Arya yang melihat wajah fasyin seolah tengah berpikiran, mengkerut kan alisnya pertanda bingung.
"Hei.. Ada apa dengan mu? Kenapa kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu? " Tanya Arya menatap fasyin.
"Emm. Apa mas Arya akan menghukum nya seperti yang ada didunia Permafiaan? " Ucap fasyin
Arya langsung merubah mimik wajahnya. Kenapa fasyin menanyakan hal seperti itu? Apakah fasyin memiliki rasa pada gevandra, karena dia adalah ayah dari anak yang tengah dirinya kandung.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, apa kau memiliki rasa dengan nya. " Ucap Arya dengan nada ketus. Dapat didengar dengan jelas oleh fasyin jika Arya saat ini tidak suka dengan jawaban yang fasyin lontarkan.
Fasyin jadi merasa bersalah. "Bukan begitu mas. Aku sama sekali nggak ada punya rasa sama gevandra. Aku cuma, "
"Terus, kalo nggak punya rasa sama dia kenapa kamu malah nanyain hukuman apa yang akan aku berikan? Itu sama aja namanya, kalo kamu itu punya rasa dengan nya. Kamu khawatir kalo aku ngasih hukuman yang berat ke dia gitu? Kenapa? Apa karna dia ayah dari anak yang kamu kandung. Begitu? " Cerocos Arya cepat memotong kalimat fasyin.
Fasyin yang melihat Arya seperti itu tersenyum kecil dibuatnya. Sejenak ia melupakan rasa sedihnya.
"Hahahaha! Kamu kenapa sih mas? Cemburu ya? Hahaha, makanya dengerin dulu kalo aku ngomong. Jangan asal main potong aja, " Jawab fasyin dengan masih tertawa
Arya mendengus kesal. Kesal dengan dirinya sendiri kenapa cepat sekali emosinya memuncak. Padahal fasyin hanya berbicara seperti itu, tapi dirinya malah memotong dengan cepat ucapan fasyin.
**
**
__ADS_1
"Pah! Kita harus gimana pah, mama nggak mau kalo sampe gevandra dihukum dan masuk penjara. " Ucap Indri
Selesai pembicaraan dikediaman rumah Arya tadi. Tomi Indri dan juga yang lainnya memutuskan untuk pulang. Dan sekarang Tomi dan juga Indri bingung harus berbuat apa. Disatu sisi mereka tidak ingin jika gevandra, putra satu satu nya dikeluarga mereka masuk penjara. Sementara disisi lainnya. Mereka juga cemas akan hukuman apa yang akan Arya berikan pada anak mereka.
Biasanya, hukuman yang Arya berikan selalu diluar nalar dan membuat siapa saja yang menyaksikan ataupun merasakan lebih baik memilih mati, ketimbang harus disiksa seperti itu.
"Papa juga pusing mah. Mama kira papa nggak mikirin ini masalah ini apa? Ini juga salah mama tau! " Ucap Tomi mendudukan bokongnya disofa
"Lho? Kenapa jadi mama yang salah? Mamakan nggak tau apa apa sama masalah ini. " Jawab Indri yang tak suka jika dirinya dituduh.
"Kenapa mama nggak Terima begitu? Bukannya waktu itu, papa udah ngelarang gevandra agar nggak pergi ke pesta ulang tahun adik teman nya itu. Tapi mama sendiri yang maksa buat izinin gevandra pergi kan. Kalo malam itu mama nurut, sama apa yang papa bilang. Udah pasti kejadian seperti ini nggak akan terjadi. " Sarkas Tomi membuat Indri terdiam
Waktu itu Indri memang kekeuh memaksa tomi agar membiarkan gevandra keluar dan ngumpul bersama teman temannya.
Karna menurut Indri tak ada salahnya jika gevandra keluar dan bertemu teman temannya. Hitung hitung kembali mengakrabkan diri karna telah lama memutuskan untuk melanjutkan sekolah keluar negeri, yaitu ke Korea menyusul kakak nya yang bernama lolita.
Karna bujukan dan juga paksaan dari sang istri, akhirnya Tomi pun mengizinkan gevandra untuk keluar. Sedangkan Indri hanya bisa terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan oleh suaminya itu.
Jika saja dirinya tau waktu itu, jika akan adanya kejadian seperti ini. Tentu Indri juga tidak akan membiarkan anaknya keluar rumah, namun apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur.
**
**
"Kenapa gue bisa segoblok ini, sih? " Gumam gevandra pada dirinya sendiri
Saat ini dirinya tengah berada dikamar. Ia mendengarkan jelas perdebatan antara kedua orang tuanya. Dirinya merasa benar benar telah menjadi anak yang tidak berguna, sama sekali.
Tapi lihatlah sekarang? Bukannya menjadi kebanggaan keluarga dirinya malah membuat keluarga nya kecewa dan juga malu! Bukan hanya keluarga nya saja, tapi seluruh keluarga besarnya
"Lo benar benar bodoh gevandra. "
"Udah tau, lo itu nggak bisa minum minuman yang beralkohol tapi lo tetep aja minum. Sekarang lihat? Karna ulah diri lo sendiri keluarga jadi menanggung malu. " Gevandra mengucapkan semua kalimat itu dengan pandangan lurus, namun ada kekosongan didalamnya.
Ditambah lagi dengan pikirannya yang teringat akan perkataan Arya, yang mengatakan akan menghukum dirinya sebelum diserahkan kepada pihak kepolisian.
Memikirkan hukuman yang Arya katakan membuat gevandra merasakan ngeri dan juga membuat bulu kuduk nya merinding. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kejamnya Arya menyiksa dirinya nanti!
Pasti akan sangat sakit sekali. Tapi memikirkan hal itu gevandra tiba tiba memiliki ide dikepalanya. Mungkin dengan cara ini ia tidak akan merasakan sakit yang begitu ngeri dan juga, dinginnya sell tahanan.
Gevandra celingak celinguk mencari sesuatu. Disaat benda yang ia cari ketemu, dirinya tersenyum miring lalu dengan segera menarik satu kursi dan meletakkan nya diatas kasur.
Lalu ia mengambil tali rapia, dan mengikatnya dengan erat diatas baling baling kipas di kamar nya. Kamar gevandra memang memiliki AC, tapi gevandra lebih sering tidur menggunakan kipas angin, karna menurut nya itu lebih berasa ketimbang AC.
Itulah mengapa kamarnya memiliki kipas angin yang gede tepat diatas kasurnya. Setelah selesai dengan urusan ikat mengikat. Gevandra pun langsung saja mengalungkan tali itu kelehernya.
"Maafin gue, semuanya! Terutama untuk lo nia. Tolong jaga anak kita sebaik mungkin. Dan kak Arya! Jadilah ayah untuk anak ku. Tolong jaga dia sebaik mungkin. " Kalimat akhir yang gevandra ucapkan sebelum dirinya menggantung dirinya.
Gedebum!
Suara kursi jatuh ke lantai dengan keras, membuat Tomi dan juga Indri terlonjak kaget.
__ADS_1
"Pah, suara apa itu?. " Tanya Indri
"Nggak tau mah, tapi seperti nya suara itu berasal dari kamarnya gevandra. " Jawab Tomi yang memang terdengar jelas dari arah kamar sang anak
"Perasaan mama, jadi nggak enak pah. Ayo kita lihat kesana. " Ajak Indri yang dibalas anggukan kepala oleh Tomi.
Mereka berdua pun akhirnya menuju lantai atas dimana kamar sang putra berada.
Tok!
Tok!
Tok!
"Gevandra! Buka pintunya nak. Apa kamu baik baik aja? " Tanya Indri
Dirinya terus saja mengetuk pintu, namun tak ada jawaban apapun itu dari dalam. Bahkan pintunya saja terkunci.
"Pah! Nggak ada jawaban, lebih baik sekarang papa dobrak saja pintu ini. " Ucap Indri semakin cemas
"Mama mundur! Biar papa dobrak pintu ini. " Jawab Tomi dan indripun langsung mundur kebelakang beberapa langkah.
Dug!
Dug!
Dug!
Tiga kali percobaan namun gagal, pintu tak kunjung juga terbuka. Percobaan keempat akhirnya pintu terbuka,
Braak!
Mereka masuk, dan langsung saja disuguhkan dengan pemandangan yang sulit sekali mereka percaya. Mata sepasang suami-istri itu membulat sempurna ketika melihat anak mereka yang tergantung bebas diatas sana.
"Gevandraaaaa! " Teriak mereka berdua
**
**
"Terus, kalo kamu nggak ada rasa sama dia kenapa kamu bilang seperti itu. " Ucap Arya masih dengan nada kesalnya.
"Maksud aku itu, kenapa harus diberi hukuman. Apa nggak bisa langsung kamu jebloskan aja kepenjara mas. Aku cuma kasihan aja, udah kamu hukum lalu kamu masukin kepenjara. Menurut ku lebih baik langsung saja dimasukan ke penjara, agar gevandra tidak terlalu tersiksa mas. Apalagi dia itu sepupu kamu, "ucap fasyin memberi tau Arya dengan ucapannya yang sempat Arya potong tadi.
Arya diam! Apakah ia harus menuruti fasyin untuk langsung menjebloskan nya saja, tanpa adanya siksaan dari dirinya terlebih dahulu?
"Hmm! Nanti aku pikirkan. " Jawab Arya pada akhirnya
Fasyin tersenyum lalu memeluk Arya dengan pelan, yang dibalas langsung oleh Arya.
"Entahlah nia! Tapi aku rasa, dia harus diberi hukuman terlebih dahulu agar merasakan jera. " Gumam Arya dalam hati.
__ADS_1