
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka hingga membuat orang yang berada di dalamnya menoleh.
"Lama banget, sih Arya! Ini udah lewat dari jam makan siang tau, mana pesanan mommy? " Ucap mommy mega menggerutu
Bagaimana tidak? Arya tadi sudah berjanji bahwa akan pulang sebelum jam makan siang. Tapi lihat lah sekarang? Sudah lewat satu jam dari jam makan siang, yang Arya janjikan kepadanya.
"Sorry mommy! Tadi ngantri dulu beliin pesanan mommy. " Ujar Arya berbohong
Mega memicing'kan mata penuh selidik, mencari kebohongan dari gelagat Sang putra sulungnya itu. Namun karena Arya yang bertingkah biasa saja membuat mega mempercayainya.
"Gitu ya? Yaudah mana pesanan mommy. " Ucap mommy mega mengadahkan tangan.
"Nih, ambil. " Jawab Arya menyodorkan beberapa kantong plastik
Mega menerimanya dan melihat. "Ck. Apa yang dititipkan ya memang itu yang dibeli, dasar pria yang tidak peka. " Cibir mommy mega mengerucutkan bibir
Kening Arya mengkerut. "Kenapa mom! Arya salah beli ya? Bukannya mommy memang titip jus alvokado, lalu dimana salahnya? " Tanya dengan heran
"Nggak ada yang salah. Semua benar, tapi seharusnya kamu itu peka sedikit sebagai cowok. Mentang mentang mommy cuma titip jus, terus yang kamu beli ya cuma jus tok. Beliin yang lainnya kek, nasi padang atau cemilan apa gitu yang bisa dimakan. " Sewot mommy mega memarahi Sang putra
"Astaga! Arya mana tau mom. Mommy kan tadi nggak bilang, mommy cuma titip jus aja kok. Yaudah sekarang mommy mau makan apa? " Tanya Arya bersungguh-sungguh
"Nggak perlu! Mommy kesel sama kamu. Edwin, tolong beliin tante makanan ya. Sekalian buat bik surti juga. Terus beliin buah buahan juga buat nia, ini uangnya sisanya kamu ambil aja. " Ucap mommy mega memberikan beberapa lembar uang merah pada Edwin
Edwin menerima nya. "Oke, siap tante." Jawabnya dengan girang lalu melangkahkan kaki dengan gontai dari ruangan rawat fasyin
Sedangkan Arya hanya mendengus saja melihat mommy nya mencueki dirinya. "Apa kamu? Nggak usah memasang wajah seperti itu. " Ucap mommy mega sengit
Sedangkan fasyin dan bik surti tersenyum kecil melihat perdebatan antara ibu dan anak itu.
**
**
"Sesil sayang, ini uang untuk kamu. Katanya kamu mau membeli alat make up yang baru kan? " Ucap seorang pria paruh baya bernama Abraham
"Wah, makasih banyak om. Om tau aja apa yang sesil butuhkan. " Ucapnya dengan wajah yang sumringah
"Tentu dong! Apapun akan om berikan untukmu, asalkan service kamu semakin oke, " Jawab Abraham tersenyum mesum
"Ah om ini! Memangnya service sesil belum oke ya? " Tanya nya dengan bibir mengerucut
__ADS_1
"Sudah Oke kok. Cuma dimata om nilai kamu masih E. Om mau kamu bermain dan memuaskan om, hingga nilai A plus, " Ucapnya dengan alis yang turun naik
"Nilah E saja, om sudah merem melek seperti itu. Gimana kalo nanti sesil bisa dengan nilai A plus. " Ucapnya dengan manja
"Kamu ini. Udah ah, om sekarang harus kekantor. Kamu juga harus dengan segera berangkat sekolah bukan? " Tanyanya yang dibalas anggukan kepala oleh sesil
"Iya om. Btw makasih ya uang nya, " Ucap sesil sambil mencium sekilas bibir Abraham
Setelah berpamitan dengan manja. Sesil pun bergegas berangkat sekolah dengan menaiki taksi online.
Beberapa menit diperjalanan, sesil meminta Sang supir untuk berhenti ditempat yang tidak jauh dari gerbang sekolahnya.
Karna sesil malu jika ada orang yang mengetahuinya pulang pergi menggunakan taksi online, Mau ditaruh dimana wajah nya. Yang benar saja? Seorang anak dari Diki Saputra orang kaya nomor tiga dikotanya berangkat sekolah menggunakan taksi online?
Yang ada dirinya akan habis menjadi bulan bulanan seluruh teman sekolahnya. Secara selama ini sesil selalu saja memamerkan apa yang dia miliki, kepada seluruh temannya disekolah.
"Lho sesil? Lo jalan kaki? Mobil lo mana? " Tanya Gita sahabat sesil
Dirinya juga kebetulan baru saja sampai disekolah. Dan tanpa sengaja melihat sesil yang baru memasuki gerbang sekolah.
"Oh itu, mobil gue masuk bengkel kemarin. Jadi tadi dianter bokap. " Jawab sesil berbohong
"Duh gawat! Jangan bilang Gita ngeliat gue naik taksi. Bisa berabe ni, gue! " Sesil membatin
"Oh kirain gue, lo udah jatuh miskin, karena bokap lo udah bangkrut. " Kelakar Gita dengan tawa kecil
"Ma-maksud lo? " Ucap sesil tergagap
"Nggak ada, gue cuma bercanda. Mana mungkin keluarga lo bangkrut kan. Yuk masuk kelas. " Ajak Gita menggandeng lengan sesil
"Huft! Gue kira Gita, tau kalo gue sekarang udah jatuh miskin. Hampir aja, gue nggak bisa gini terus, pokoknya gue harus minta om Abraham beliin gue mobil baru. Kalo nggak dapat dari om Abraham masih ada om burhan. "Diam diam sesil menghela nafas lega saat Gita tidak mengetahui sama sekali bahwa ia dan keluarganya sudah jatuh miskin saat ini.
**
**
"Mau lagi? " Tanya Arya pada fasyin
Saat ini mereka yang berada didalam ruangan itu tengah menikmati makan siang nya. Setelah selesai Arya menyodorkan satu buah apel yang sudah dikupas, dan dipotong nya dengan kecil.
Tentu agar fasyin tidak kesusahan saat memakannya. "Udah mas, aku udah kenyang. " Jawab fasyin yang memang sudah kenyang.
Bagaimana tidak. Edwin justru membelikan mereka nasi padang yang memiliki porsi jumbo. Arya yang memiliki tugas untuk menyuapi fasyin terus memaksanya makan agar lekas pulih.
__ADS_1
"Baiklah. Minum obat ini, lalu beristirahat. " Ucap Arya memberikan obat
Fasyin hanya mengangguk saja dan meminum obat yang diberikan oleh Arya. "Mommy pamit pulang ya nak. Kasian kalo daddy kamu pulang, tapi mommy nggak ada dirumah. " Ucap mega berpamitan
"Nyonya pulang? Bibi ikut ya. Soalnya ada pekerjaan lain yang harus bibi kerjakan di apartemen. " Ucap bik surti
"Oh yasudah. Bibi pulang aja nggak papa. Nia biar sama Arya aja disini. " Jawab Arya
"Mommy pulang ya nia. Kamu Arya, jaga nia baik baik ya. " Pamit mommy mega yang dibalas anggukan kepala oleh fasyin dan Arya
"Hati hati ya bu, bibi juga. " Ucap fasyin
Mommy mega dan juga bik surti pamit pulang. Sekarang hanya ada arya, Edwin dan juga fasyin yang masih setia berada diruangan itu.
"Lo nggak pulang win? " Tanya Arya
"Enggak. Pulang juga gue mau ngapain, mending disini nemenin lo sambil mantau kerjaan. " Jawab Edwin yang hanya ditanggapi oh ria saja oleh Arya
**
**
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Fasyin pun tertidur karna merasakan kantuk yang tak dapat ditahan lagi. Arya yang melihat fasyin tertidur pun mengulas senyum dibibir sexy nya.
Arya mendekat pada Edwin dan duduk disamping nya sambil mengusap wajah dengan kasar. "Lo kenapa sih? Dari tadi gue perhatiin biasa aja. Terus kenapa sekarang malah kaya orang yang banyak beban begini. " Ucap Edwin yang risih melihat Arya yang bertingkah seperti itu.
"Nggak papa. Gue cuma lagi mikir aja, gue harus extra hati hati dalam menjaga nia. Gue takut gertakan kecil yang kita berikan dengan Naura, tak membuatnya jera. " Ucap Arya menyampaikan yang ia pikirkan sedari tadi.
"Oh itu! Udah lo tenang aja, lagian kan om bramantyo sudah menaruh beberapa bodyguard disekitar nia dari kejauhan. Jadi gue yakin Naura nggak berani berbuat semaunya lagi. " Ucap Edwin
"Yakin lo nggak berani? Ini sekarang apa buktinya? Nia justru masuk rumah sakit akibat bodyguard kiriman daddy yang nggak becus jaga nia. " Jawab Arya yang membuat Edwin terdiam
Benar juga apa yang dikatakan oleh Arya. Bukannya bramantyo sudah menaruh bodyguard terpercaya nya untuk memantau fasyin dari kejauhan. Lalu bagaimana bisa kecolongan seperti ini. "Kalo gitu, lo tambah aja lagi bodyguard buat jaga nia. Tapi sebelum itu lakukan penegasan agar mereka nggak kecolongan lagi seperti ini. " Ucap Edwin yang membuat Arya mengangguk kecil
"Boleh! Nanti gue coba. Tapi ada lagi yang jadi beban pikiran gue. " Ucap Arya serius
Edwin menoleh kesamping menatap wajah pria yang tampannya sama seperti dirinya. "Apa? " Tanya Edwin dengan alis bertaut
"Huft! Gue belum memberi tau nia soal kebangkrutan bokapnya. Gue masih takut buat memberi tau. Secara nia itu sayang banget sama bokapnya, walaupun udah diperlakukan buruk seperti itu. " Ucap Arya jujur
"Lo bisa kasih tau nanti. Jangan sekarang, tapi pelan pelan aja, gue yakin nia bakal ngerti kok. " Ucap Edwin
"Gue harap juga begitu. Yasudah gue mau tidur duluan. " Ucap Arya beranjak dari duduk nya dan mendekat keranjang milik fasyin.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari fasyin belumlah tertidur sepenuhnya. Jadi dapat dikatakan fasyin mendengar semua obrolan Arya dan juga Edwin. Tapi fasyin memilih untuk diam saja ketimbang harus menyahutinya.
Fasyin berpikir. Mungkin ada baiknya jika papanya jatuh miskin karna ulah Arya. Ya hitung hitung sebagai pembelajaran atas keserakahan dan kesombongan Diki waktu itu.