
Pengharapan itu sampai hari ini masih ada. Aku masih diam-diam memandangi wajah Haris yang begitu bahagia saat berbicara dengan ibuku. Keakraban yang tercipta diantara kami seperti sebuah keluarga yang sedang menunggu kabar bahagia.
Begitu asyiknya suasana sore ini di rumahku yang sungguh jarang sekali terjadi. Haris begitu terhanyut dengan candaan ibuku hingga ia tak sadar bahwa hari sudah mulai gelap.
" Udah gelap kayak nya nih tante..." ucap Haris sambil melihat ke langit.
" Iya ya, gak terasa kalau udah jam setengah enam aja" ucap ibuku sambil melihat jam dinding.
" Kalau gitu aku pulang dulu ya tante, Felly..." ucap Haris pamit dan menyalami ibuku.
" Hati-hati ya Ris pulang nya" ucapku tersenyum malu hingga membuat ibuku tertawa geli melihat sikapku.
" Ok... sampai ketemu besok di sekolah ya Fel" ucap Haris melambaikan tangan sambil mengayuh sepedanya.
Seiring berlalunya Haris dari penglihatanku, maka semakin besar pula rasa aneh yang bergejolak di dalam hatiku. Ekspresi wajahku tidak bisa dipungkiri bahwa aku masih berharap dengan sosok dirinya.
Pergejolakan hati yang tengah aku rasakan memang berlangsung cukup lama semenjak peristiwa pelepasan tadi sore. Aku seakan belum rela melepaskan Haris pulang ke rumahnya. Masih ingin rasanya memandangi wajah nya dari dekat. Tapi apa boleh buat, hal itu sungguh tidak mungkin.
Sungguh hari ini adalah sebuah hari yang susah untuk aku lupakan. Momen-momen yang telah tercipta tanpa disengaja tadi begitu indah, sampai-sampai selalu terbayang di ingatanku. Aku sepertinya akan bisa tidur nyenyak malam ini sambil terus membayangi wajah dan senyum manis Haris.
**************
Keesokan harinya, alhamdulillah aku bisa bangun dengan cepat seperti biasa. Setelah aku mandi dan bersiap-siap, aku segera menyantap sarapan yang telah ada di meja makan. Kemudian aku pamit dengan kedua orang tuaku dan langsung bergegas pergi ke sekolah.
Ketika aku telah sampai di gerbang sekolah, aku tidak sengaja berpapasan dengan Nita yang juga baru datang.
" Sepulang sekolah kemaren kamu pergi kemana Fel?" tanya Nita yang agak ngos-ngosan seperti baru siap lari.
" Gak ada pergi kemana-mana tuh... cuma di rumah aja, emangnya kenapa?" ucapku yang terus berjalan dan diiringi oleh Nita.
" Serius kamu gak kemana-mana?" tanya Nita penasaran.
" Iyaa... ngapain aku harus bohong coba" jawabku yang sedikit bingung.
__ADS_1
" Oh gitu..iya deh aku percaya..." ucap Nita tersenyum.
" Emangnya ada apa sih... kok kamu nanya kayak gitu?" ucapku yang ikut penasaran.
" Eh gak ada apa-apa kok, aku cuma nanya aja... siapa tau kan kamu kemaren pergi keluar gitu" ucap Nita seperti menyembunyikan sesuatu.
" Gak kok, aku cuma di rumah aja" ucapku sambil melangkahkan kaki masuk kelas.
Di kelas, ternyata sudah banyak prajurit mungil yang siap diberi nutrisi agar bisa menghadapi perang besar yang akan terjadi sebulan dari sekarang. Para prajurit seperti kami tentunya sangat membutuhkan nutrisi yang banyak.
" Pangeran... sepertinya sang putri sudah datang" ucap Fikri yang berbicara kepada Haris.
" Apakah tempat duduknya sudah dibersihkan terlebih dahulu pengawalku?" tanya Haris yang membuatku dan Nita jadi heran dan geli.
" Sudah dong pangeran... sang putri yang cantik dan juga dayangnya yang imut sudah bisa duduk dengan tenang" ucap Fikri sambil sok merendahkan dirinya di hadapan Haris.
" Kerja yang bagus pengawal... sekarang silahkan kembali ke asalmu" ucap Haris yang sok bijaksana.
" Baiklah pangeran... titah pangeran hamba laksanakan" ucap Fikri sambil berlalu ke tempat duduknya.
Menyaksikan drama singkat yang diperankan oleh Haris dan Fikri tadi, aku hanya bisa menggeleng dan tersenyum geli sambil duduk di bangkuku. Nita pun juga merasa aneh dan tertawa dengan adegan konyol yang baru saja berlangsung.
Selang beberapa menit kemudian, bel masuk berdering dan suasana kembali hening. Buk Ririn memasuki kelas, dan pelajaran pun dimulai.
" Pagi anak-anak ibuk semua nya!!" sapa buk Ririn.
" Pagi juga buk cantik!!" ucap kami serentak sambil tersenyum.
" Ibuk jadi malu kalau dipanggil cantik kayak gini" ucap buk Ririn tersipu malu.
" Ibuk Ririn kan emang cantik... gak cuma cantik luar nya aja, dalamnya juga cantik" ucap Fikri dengan rayuan mautnya.
" Kamu bisa aja deh Fikri... pagi-pagi udah bikin ibuk melayang-layang aja" ucap buk Ririn yang tersenyum melihat Fikri.
__ADS_1
" Jangan terlalu tinggi melayangnya ya buk, nanti jatuh loh buk" ucap Haris menambahkan.
" Udah-udah... kayaknya pagi ini hati kalian lagi senang ya.. berarti kita bisa mulai pelajaran pagi ini" ucap buk Ririn sambil mengeluarkan buku IPA dari tas cantiknya.
" Iya buk..." jawab kami serentak dan juga mengeluarkan buku yang sama.
" Anak-anak ibuk harus ingat kalau bulan besok kita udah mulai ujian akhir kelulusan. Jadi, jangan ada lagi yang malas belajar nya... paham?" ucap buk Ririn tegas.
" Paham ibuk" ucap kami kembali dengan perasaan agak takut.
" Gak usah takut gitu menghadapi ujiannya... semuanya akan baik-baik aja kok" ucap buk Ririn mengobati ketakutan kami.
" Gimana gak takut buk... kalau kami gak bisa jawab ujiannya nanti, kami bakalan gak lulus dong buk" ucap Nita yang benar-benar takut sekali.
" Masa iya kalian gak bisa jawab ujiannya... kan soalnya tentang materi yang telah dipelajari" ucap buk Ririn yang tersenyum menatap Nita.
" Insya Allah kami bakalan bisa menjawab semua soalnya buk, dan bisa lulus 100 %" ucapku meyakinkan semua teman-temanku.
" Aamiin ya Allah" ucap kami sambil berdoa.
" Baiklah, sekarang ayo kita mulai pelajaran kita hari ini... yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran IPA, tolong disimpan dulu" ucap buk Ririn tegas sambil menuju ke papan tulis.
Pelajaran IPA berlangsung sangat baik. Kami semua menikmati nutrisi yang diberikan oleh buk Ririn untuk keberhasilan kami dalam menghadapi ujian akhir. Aku begitu seriusnya mencerna nutrisi yang sangat bermanfaat demi masa depan ku, hingga aku pun sejenak kembali terlupa dengan sebuah harapan tentang Haris.
Harapan yang ingin aku wujudkan, bukan hanya perihal romantika saja. Tetapi, karir yang telah menungguku di depan juga harus aku kejar. Semua harapan yang telah aku rangkai lama, begitu cantik dengan bingkai doa dari orang-orang tersayang. Dalam diam ku panjatkan doa, semoga semua itu nyata....
**************
Hari yang dinanti-nantikan telah tiba. Ujian akhir sekolah telah di depan mata. Sekuat apapun kita menghindarinya, tentu sungguh tidak bisa. Aku dan teman-teman hanya bisa berusaha dan berdoa. Kemudian hasilnya, kami serahkan kepada sang Maha Kuasa.
πΈππΈππΈππΈππΈππΈππΈππΈπ
Episode 11 udah meluncur nih readers...
__ADS_1
Monggo lebih semangat lagi baca nya, dan jangan lupa tinggalkan jejak nya ya.. Thank'sππ₯°