
Sebenarnya, kisah romantika yang aku alami dimulai saat aku berumur lima tahun. Kalian pasti tidak menyangka bahwa diumurku yang masih belia, ternyata aku sudah mulai mengenal kata misteri yang dinamakan dengan cinta. Alunan melodi romantika ini memang dimulai sejak aku pertama kali mengenal dunia, plisss jangan heran ya!. Maksudnya, aku mulai mengenal rasa aneh disaat aku sudah mengenal akan diriku dan lingkungan sekitarku. Nah, jadi di umur aku yang menginjak lima tahun inilah rasa aneh itu mulai tumbuh dan perjalanan romantika ku mulai tayang. Hihihi kayak film aja!.
Pagi itu...
Dengan penuh rasa percaya diri, aku melangkahkan kaki beriringan dengan bekal roti dan botol air yang selalu menemaniku di sekolah. Bisikan manis dari ku menyapa seisi ruangan yang tidak begitu besar.
" Hai semua... gimana kondisi hati kalian pagi ini?" sapa aku dengan penuh senyuman.
" Tidak begitu baik Fel" jawab Vira, Nadin dan Naomi.
Oooh iyaa aku benar-benar lupa kalau aku belum mengenalkan nama aku pada tulisan ini dan hanya sebutan aku, aku, dan aku dari awal cerita. ok, my name is Felly Aprilia. you can call me Felly. Hehehe sok bule lu Felly...
Kembali pada situasi sebelumnya mengenai sebuah kata misteri. Kata misteri itu mampu menumbuhkan sebuah rasa yang aku sendiripun juga belum mengetahui maknanya, sehingga aku menyebutnya sebagai sebuah rasa yang sungguh aneh. Begitulah pemikiran anak kecil sepertiku dan anak kecil lainnya saat menjumpai rasa itu. Ketika itu, aku baru saja mengenali perbedaan laki-laki dan perempuan yang aku ketahui saat aku berbicara dengan teman-temanku. Jadi, aku memiliki rasa suka kepada temanku yang bernama Riyan. Rasa yang aku alami mungkin sangat konyol, karena rasa itu hanya teruntuk kepada seorang teman laki-laki saja. Rasa senang saat bertemu dan berbicara dengannya, rasa sedih dan marah jika bukan dia yang pulang bersamaku seperti yang terjadi hari ini.
Hari ini semua kegiatan telah aku jalani di sekolah, hingga tak terasa bel sekolah ikut menyanyi mengiringi senyumanku. Tiba-tiba Riyan datang menghampiriku...
" Felly, maaf ya hari ini aku gak bisa pulang bareng kamu dan ayahmu.. gak papa kan?" ucap Riyan sambil menunduk.
" Kenapa kamu gak bisa pulang bareng aku hari ini Riyan? apa kamu udah gak mau lagi temanan sama aku?? atau aku ada salah sama kamu???" tanyaku dengan bertubi-tubi hingga Riyan jadi bingung untuk menjawab yang mana dulu.
" Kamu jangan salah paham gitu dong... aku hanya ingin pulang sendiri aja, aku juga gak mau ngerepotin kamu dan ayah kamu terus " jawab Riyan lagi.
" Oh gitu ya,,,ya udahlah kalau kamu gak mau pulang denganku hari ini..tapi cuma hari ini aja ya...ok!! " ucapku sambil menunjuk Riyan dengan jari mungil ku.
" Hmmm....ok ok cuma hari ini aja kok" ucap Riyan lirih.
" Horeee... " teriak ku sambil tersenyum bahagia.
Sedang asyiknya aku dan Riyan ngobrol, ternyata tanpa disadari ada sesosok makhluk yang ikut nimbrung.
" Felly, aku mau dong pulang bareng kamu dan ayah kamu" ucap Rino sambil membujuk.
__ADS_1
" Apa??? gak salah tu...tumben kamu mau pulang bareng aku" jawabku kaget.
" Aku juga ingin bisa pulang sama kamu, biar bisa dekat terus gitu" ucap Rino dengan genitnya.
"Iiih apaan sih kamu..." jawabku dengan perasaan sedikit jijik.
" Ya udahlah Fel, No, aku cabut dulu ya.." ucap Riyan dan berlalu meninggalkan kedua temannya.
" Bye Riyan...hati-hati di jalan ya" ucapku sambil melambaikan tangan.
" Gimana Fel, aku boleh kan pulang bareng kamu? " tanya Rino sambil senyum-senyum.
" Ok lah kalau kamu mau pulang bareng aku, ayo!!" ucapku sedikit lesu.
Sungguh aneh sekali rasa yang menari di dalam hatiku kala itu. Aku juga mulai tersipu malu ketika ayahku yang dari tadi memperhatikan kami ikut jail dan menertawakan sikapku yang sungguh konyol itu. Ayahku memang tahu bahwa anak gadisnya sedang mengalami perasaan yang begitu indah yang tertuju pada Riyan.
" Ayo anak-anak, waktunya kita pulang" ucap ayah.
" Gak usah ditarik gitu juga kali tanganku..emangnya tanganku ini tali apa??" ucapku sedikit kesal.
Rino hanya bisa tertawa bahagia melihat sikapku yang cuek dengannya. Akhirnya, kami pergi meninggalkan tempat bisu di sekolah itu.
*****************
Keesokan harinya, masih sama seperti hari-hari sebelumnya hanya ada anak-anak mungil dan orang dewasa yang memenuhi ruangan sekolah. Aku pun juga selalu mengumbar senyum manis ku kepada semua orang yang aku temui.
Ketika waktu istirahat tiba, aku segera mencari tempat untuk bisa menyantap bekal yang hari ini menunya nasi goreng buatan ibuku. Aku mulai menyendok nasi goreng itu ke dalam mulutku, tiba-tiba tak sengaja aku melihat pemandangan yang begitu angker. Aku melihat dua sosok yang aku kenali sedang duduk berdua sambil mengobrol di taman sekolah. Mataku terus mencoba untuk lebih fokus dengan kedua sosok itu, dan ternyata dua sosok itu adalah Riyan dan Vira. Aku pun diam-diam menguping pembicaraan mereka.
" Riyan, kamu udah makan belum? nanti kamu sakit lo kalau belum makan" ucap Vira sok perhatian.
" Udah kok, aku baru aja siap makan" balas Riyan sambil tersenyum.
__ADS_1
" Oh syukurlah kalau gitu..aku gak mau kalau kamu sakit" ucap Vira lagi.
" Aku gak bakalan sakit kok, kan aku udah makan...makasih ya atas perhatiannya" ucap Riyan dengan senyumnya yang makin lebar.
"Iya sama-sama" ucap Vira malu-malu.
Melihat mereka berdua yang begitu akrab membuat dadaku menjadi sesak, dan jika ada orang yang berniat membelikan aku obat untuk menghilangkan rasa sesakku mungkin orang itu tidak akan bisa mencari obatnya. Meskipun telah banyak apotik yang dikunjungi, namun aku yakin bahwa obat penawarnya tidak akan ada yang menjualnya. Rasa sesak yang aku alami bisa membuat jantungku berhenti berdetak jika pemandangan angker itu tidak kunjung usai dan semakin berlanjut. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi saja dan meninggalkan dua insan yang jahat itu.
Aku tahu bahwa pemandangan seperti itulah yang diimpi-impikan olah Vira selama ini. Aku mengetahui tentang gejolak hati Vira, ya karena Vira itu juga merupakan teman dekatku. Jadi, aku bisa menebak tentang apa yang sedang ia rasakan saat ini. Jujur saja, ketika aku mengetahui bahwa diam-diam Vira juga memiliki perasaan yang sama denganku, saat itu juga aku bersikap untuk tidak ingin terlalu dekat dengannya lagi.
*********************
Hari-hari semakin berlalu, tetapi kondisi hatiku tetap saja belum membaik. Aku seakan benci sekali dengan Vira yang telah mencoba merebut perhatian Riyan dariku. Hingga di suatu siang ketika aku hendak pulang, tanpa aku sadari ternyata Vira telah dari tadi memanggilku dari kejauhan namun aku tak mendengarnya dan mungkin gak mau untuk mendengarnya.
" Felly.. Fellyyyy........." teriak Vira dengan kuat.
Vira berlari begitu kencang mengejar ku yang berjalan dengan acuhnya dan seakan tak mau dengar apa-apa.
" Felly...kamu ini kenapa sih..aku panggil-panggil kok diam aja?" tanya Vira kesal.
"Ooh kamu panggil aku tadi ya? maaf deh aku gak dengar" jawabku cuek.
" Kok kamu akhir-akhir ini kayak jauh dari aku Fel.. apa aku ada salah?" tanya Vira penasaran.
" Ah..gak ada apa-apa kok, mungkin itu cuma perasaan kamu aja" jawab ku dengan nada agak tinggi.
" Hufft...ini pasti ada apa-apa nya...tapi kamu berusaha menyembunyikan itu kan dari aku?" tanya Vira makin penasaran.
" Gak ada apa-apa kata ku..kok kamu jadi ngeyel gitu.. ya udah lah aku pulang dulu" jawabku sambil berlalu.
Mungkin sikapku itu membuat Vira bertanya-tanya, namun aku berusaha untuk tidak peduli dengan hal itu. Aku saat ini hanya peduli dengan suasana hatiku yang telah dilukai oleh dua orang yang aku sayangi. Sebenarnya Vira bukan tersangka yang patut dihukum pada peristiwa yang aku lihat kemaren, karena ia kan juga tidak tahu dengan perasaanku terhadap Riyan. Namun, entah kenapa hanya Vira yang selalu ingin aku salahkan. Hatiku tidak pernah mau menyalahkan Riyan. Pada peristiwa yang cukup lama berlangsung itu, aku hanya melihat bahwa Vira lah yang mencoba untuk mendekati Riyan dengan lirikan mata dan pasona wajahnya yang menurutnya imut. Tetapi tidak bagiku. Di mataku sekarang, aku hanya melihat kalau Vira adalah seorang teman yang sangat buruk.
__ADS_1