Alunan Melodi Romantikaku

Alunan Melodi Romantikaku
Bab 38~ Gelisah


__ADS_3

Disini aku masih sering membisu tak bersuara. Apalagi mimpi yang menghantuiku tadi malam begitu terasa seperti nyata. Memang benar kalau sosok laki-laki di dalam mimpi itu, telah pergi jauh dari kehidupanku. Memang benar kalau penyebab ia pergi adalah aku, aku yang menyuruhnya pergi karena aku tidak mau untuk terus terluka lagi.


Saat ini aku hanya bisa untuk menerima semua yang terjadi. Tidak akan ada gunanya lagi aku untuk menyesali skenario yang telah digariskan ini. Aku mungkin memang bodoh, karena dengan mudahnya masuk ke dalam rayuan laki-laki itu. Tapi, harus bagaimana lagi semuanya telah terjadi tanpa diduga sama sekali.


Hal yang harus aku persiapkan sekarang adalah bagaimana caranya agar aku bisa diterima di SMA favorit yang aku inginkan. Kalau aku melihat nilai ujian akhirku waktu di SMP lumayan bagus, dan sepertinya aku bisa menempati posisi teratas di SMA yang aku inginkan itu.


Dengan usaha dan doa yang aku lantunnkan, aku berharap agar langkah perjunganku menuju masa depan bisa berjalan dengan baik. Aku juga mau membuktikan kepada semua laki-laki yang pernah masuk dengan sengaja ke dalam hatiku, kemudian dengan sengaja pula ia keluar bahwasanya aku bisa hidup tanpa mereka.


****************


Hari ini, semua keluargaku hadir di rumah. Mungkin hari ini adalah hari libur, jadi tidak ada yang pergi kemana-mana. Ayahku biasanya meskipun hari libur, beliau tetap bekerja. Namun, hari ini ayah hanya di rumah saja. Kata ayah, hari ini tempat ayah bekerja lagi libur makanya ayah juga libur.


“ Felly!! sini sebentar nak… ada yang mau ibu bicarakan!!” ucap ibuku lembut.


Aku berjalan menghampiri ibuku yang ternyata sudah dikelilingi oleh ayah dan adik-adikku. Semuanya terlihat begitu serius menatapku. Aku seperti seorang tersangka yang akan dihakimi di dalam persidangan, dan bersiap-siap untuk menerima hukuman penjara jika aku dinyatakan bersalah.


Kasus yang sedang aku jalani ini terasa begitu berat, sehingga raut wajahku menampakkan ketakutan yang amat hebat. Sebenarnya kasus apa yang sedang aku jalani ini Tuhan? apakah pembunuhan, pencurian, penggelapan, atau penipuan???.


“ Ada apa bu? apa yang mau ibu bicarakan sama aku??” tanyaku yang begitu penasaran.


“ Begini nak… kamu sudah tamat sekolah, jadi… kamu mau melanjutkan sekolah kamu kan?” ucap ibuku yang terlihat susah untuk menjelaskan.


“ Iya bu… aku mau melanjutkan ke SMA favorit bu, tiga hari lagi pendaftarannya buka!!” ucapku semangat.


“ Hmmm… nak!! kamu sayang kan sama nenek kamu?” ucap ibuku yang sontak membuatku terkejut.


“ Sayanglah bu!! kok ibu nanya kayak gitu?” ucapku makin heran.


“ Kamu mau gak sekolah SMA nya di kampung sayang? biar nenek ada temannya” ucap ibuku hati-hati.

__ADS_1


“ Apa bu? jadi ibu nyuruh aku sekolah di kampung sama nenek??” ucapku menekankan kembali ucapan ibu.


“ Iya Felly… kamu mau ya sekolah di kampung sama nenek?” ucap ibuku memohon dengan raut wajah sedih.


“ Aku gak mau jauh dari ibu… aku gak mau jauh dari ayah… dan aku gak mau jauh dari adik-adik bu…!!” ucapku yang terisak menangis.


“ Iya sayang, ibu ngerti… ibu juga gak mau jauh-jauh dari kamu. Ayah dan adik-adikmu pun juga seperti itu” ucap ibuku lagi.


“ Aku gak tau bu!! aku pusing…”ucapku yang langsung meninggalkan tempat kejadian dan menyelamatkan diri masuk kamar.


Semua orang jadi hening, dan tidak mau untuk berbicara apa-apa dulu. Ibu dan ayah hanya saling berpandangan mengisyaratkan sesuatu yang tidak aku ketahui.


Sementara aku di dalam kamar tidak henti-hentinya mengusap mataku yang telah banyak mengeluarkan air mata. Pikiranku saat ini hanya tertuju kepada permintaan nenek, paman, dan kedua orang tuaku.


Aku tau kalau permintaan itu sebenarnya pasti sudah melewati proses yang cukup panjang. Hati sadarku mengatakan bahwa tidak mungkin kedua orang tuaku bisa memutuskan permintaan semacam itu tanpa dipikirkan terlebih dahulu dengan matango.


Namun, saat ini aku sungguh belum bisa untuk menerima keputusan itu. Saat ini aku hanya bisa menyangka kalau ayah dan ibu sudah tidak sayang aku lagi sehingga aku dititipkan kepada nenek.


***************


Pandangan mataku mulai jernih lagi. Setelah titik fokus mengenai objek, barulah aku mengetahui apa sebenarnya bayangan itu.


" Kamu ngapain disini? tumben..." ucapku yang berusaha duduk.


" Emangnya aku gak boleh ada disini?" ucap sosok itu.


" Bukannya gak boleh... tapi tumben aja gitu seorang Melly ada di kamar siang bolong gini" ucapku lagi.


" Eh kok kakak ngomong kayak gitu?" ucap Melly kesal.

__ADS_1


" Emang benar kan kalau kamu sering pergi main keluar sama teman kamu?" ucapku sambil ketawa kecil.


" Kan gak tiap hari juga aku keluarnya kak...!!!!" ucap Melly tambah kesal.


" Iya deeeh...!! kakak minta kamu keluar dulu ya... kakak mau sendiri dulu" ucapku serius.


" Aku gak mau keluar... aku mau disini aja!!" ucap Melly cuek.


" Tolonglah... kamu keluar dulu. Kakak lagi gak mau diganggu" ucapku memohon.


" Siapa juga yang gangguin kakak... aku kan cuma duduk disini aja" ucap Melly yang keras untuk tetap disini.


Untuk menghindari adegan perang-perangan, akhirnya aku yang mengalah untuk pergi meninggalkan lapangan. Sepertinya ada senyum puas yang terpancar dari bibir adikku itu karena secara tidak langsung ia dapat dinyatakan menang di dalam perdebatan ini.


Aku berjalan menuju suatu tempat yang sering aku kunjungi jika aku mempunyai masalah. Tempat itu tidak lain dan tidak bukan adalah sisi belakang rumahku yang ditumbuhi oleh sebatang pohon jambu air yang kini buahnya sudah mulai memerah.


Melihat pesona buah jambu air yang begitu cantik, ia mampu menggoda manusia yang lewat untuk memetiknya. Dan kali ini, aku yang ingin untuk memetik buah itu karena sudah banyak yang matang.


Setelah ada beberapa buah yang aku petik, kemudian aku duduk di bangku panjang yang sengaja dibuat oleh ayahku untuk bersantai. Aku memakan buah jambu air tersebut sambil aku duduk dan menikmati suasana sore yang mulai gelap.


Sejenak aku berusaha untuk melupakan sesuatu yang saat ini tengah memenuhi otakku. Tapi, semakin aku berusaha untuk melupakannya, maka semakin jelas pula ingatanku tentang hal itu.


Aku tidak mau untuk berlarut-larut di dalam kesedihan ini. Aku pun selalu berharap agar semua yang terjadi ini hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang sebenarnya ada karena nenek sedang merindukanku. Bukan memintaku untuk kesana dan menemani beliau.


" Felly!!... ayo masuk, kamu belum mandi kan?" ucap ibuku yang agak terdengar serak.


" Oh iya bu... aku belum mandi" ucapku yang baru ingat kalau belum mandi.


Aku berjalan masuk ke dalam rumah, kemudian aku langsung menuju kamar. Aku menuju kamar bukan untuk tidur lagi, tapi untuk mengambil handuk dan menyandangnya di bahu. Tempat pemberhentian ku selanjutnya adalah kamar mandi. Aku pun segera menutup pintu dan menguncinya.

__ADS_1


Readers gak boleh masuk yaa...😁🤭


__ADS_2