
Sudah hampir seminggu sejak kejadian yang menyayat hati itu aku alami. Kini aku berusaha untuk menghapus semua harapanku yang dulu pernah ada untuk Haris. Tidak ada gunanya aku selalu berlarut-larut dengan harapan kosong itu. Toh, aku juga yang bakalan merasakan kepedihan itu dan bukan orang lain.
Hari ini seharusnya akan menjadi hari yang kembali mengukir sejarah di dalam kehidupanku. Dan aku harus siap menerima keadaan yang mungkin akan terjadi lebih pahit dari kisah romantikaku itu. Sepucuk surat akan sampai ke tanganku dan harus aku terima. Aku berharap surat yang akan meluncur ke tanganku itu adalah sepucuk surat cinta tanda maaf dari Haris karena telah melukai hatiku. Namun, ternyata sayang beribu kali sayang surat yang akan aku terima itu bukan dari Haris tetapi dari mata-mata yang mengerikan itu.
**********
Aku berjalan dengan penuh harap menuju sekolah, setelah seminggu sudah aku hanya mengurung diri di rumah. Aku mengurung diri di rumah, bukan berarti aku masih berduka dengan peristiwa yang menimpa diriku minggu lalu. Namun, aku dan teman-teman memang diistirahatkan dulu setelah ujian berakhir.
Kini kondisi hatiku benar-benar telah membaik, dan rasa aneh itu berangsur mulai hilang kembali. Hal itu terbukti saat mataku mengetahui keberadaan Haris yang sedang memarkirkan sepedanya.
Aku hanya terus berjalan tanpa memperdulikan keberadaan Haris. Sepertinya makhluk aneh itu berusaha memanggil namaku, tapi aku sungguh tak menghiraukannya.
" Fellyy... Fellyyy...!!!!" ucap makhluk aneh yang diberi nama Haris oleh si author nya.
" Aku kok sekarang merasa sangat bersalah pada Felly ya?" ucap Haris yang bertanya-tanya sendiri.
" Maksud aku kan cuma gak mau terlalu dekat aja gitu sama dia" ucap Haris sedih sambil memukul kepalanya agak keras.
Haris benar-benar tidak sadar telah memukul kepalanya sendiri. Pukulan itu pun nampaknya semakin keras, hingga membuat wasit harus bertindak cepat agar pemainnya tidak cedera hebat. Hihihi... Haris kesakitan, kalian kok malah ketawa ya?.
" Eh Haris udah hentikan!!" ucap Nita panik.
Mendengar ada suara wasit yang sungguh tidak asing bagi Haris, akhirnya pertarungan melawan makhluk cukup keras itu dihentikan juga. Tujuannya agar si makhluk masih bisa bernafas lega, dan menghindari cedera hebat yang mungkin bisa terjadi padanya. Kalau cedera itu sempat mengenainya, maka dijamin tidak hanya makhluk itu saja yang akan menempuh ajal tetapi lawannya yaitu Haris dipastikan akan menyusulnya kemudian.
(Ya iyalah... yang dipukul kepalanya sendiri) π
" Apa yang kamu lakukan Ris... kok kamu malah memukul kepalamu seperti itu?" tanya Nita yang begitu takut.
" Maksud kamu apa Nit? mana mungkin aku bersikap bodoh seperti itu..." jawab Haris yang seakan tidak sadar dengan apa yang ia perbuat tadi.
" Kamu aneh ya Ris... tadi kamu emang ngelakuin hal itu" ucap Nita heran dan masih takut.
" Masa sih aku kayak gitu tadi?" tanya Haris terkejut.
" Iya Bapak Haris...emang itu yang bapak lakukan tadi terhadap kepala Bapak... aku menyaksikan sendiri siaran langsungnya tadi" ucap Nita yang berubah gemes mendengar ucapan Haris.
" Mungkin aku harap-harap cemas menunggu sepucuk surat yang gak tau pengirimnya siapa" ucap Haris menutupi kegalauan hatinya.
" Kalau itu sih aku tau pengirimnya siapa.. pasti orang dari dinas lah... masa iya yang ngirim kakek kamu" ucap Nita yang tidak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
" Oh iya ya.. kok aku jadi linglung gini sekarang?" ucap Haris yang seperti berkurang kadar otaknya.
" Apa jangan-jangan...itu efek dari sikap bodoh kamu tadi..." ucap Nita menakutkan Haris.
" Hush... kamu ada-ada aja deh... emangnya aku udah gak waras apa" ucap Haris agak marah.
" Maaf deh... jangan marah gitu dong... aku kan cuma bercanda" ucap Nita memohon maaf Haris.
" Ok lah... aku maafin" ucap Haris sambil melihat ke bawah.
" Tapi kamu beneran gak apa-apa kan?" tanya Nita yang masih penasaran.
" Aku gak apa-apa kok... mungkin tadi kepalaku agak sakit sedikit aja" ucap Haris makin kacau.
" Gimana gak sakit coba, kamu aja memukul kepalamu agak keras gitu tadi" ucap Nita menggeleng.
" Maksud aku... sebelumnya mungkin kepalaku udah sakit... jadi aku pukul gitu deh" ucap Haris yang mencari alasan.
" Kalau kamu pukul, yang ada kepalamu bukannya akan membaik tetapi jadi tambah sakit lah" ucap Nita sambil menatap Haris aneh.
" Aku memang kayak gini kalau lagi sakit kepala..." ucap Haris yang terus mencari alasan.
" Iya... iya nih aku juga mau masuk... kamu duluan aja" ucap Haris tersenyum.
Tanpa menjawab ucapan Haris sepatah katapun, Nita terus saja berjalan ke dalam sekolah. Ia berjalan seperti orang yang takut ketinggalan bis atau mungkin kereta api yang berangkatnya pagi sekali.
Nita kemudian melangkahkan kakinya menuju kelas. Tanpa aku sadari, ternyata ia langsung berlari memelukku. Peristiwa haru yang mulai tercipta itu membuat seisi kelas ikut menyaksikannya.
" Aku kangen kamu Fel..." ucap Nita yang menangis sambil terus memelukku.
" Iya sayang... aku juga kangen banget sama kamu Nit..." ucapku yg agak merasa sesak karena pelukan Nita.
" Kamu selama seminggu ini kemana aja Fel?" tanya Nita yang sudah melepaskan pelukannya.
" Aku cuma di rumah aja kok... gak ada kemana-mana" ucapku yang sedang memperbaiki nafasku yang agak sesak tadi.
" Serius kamu cuma di rumah aja...? gak percaya aku" ucap Nita yang agak mengerutkan keningnya.
" Iyyaa... ngapain aku harus bohong coba sama kamu" ucapku menjelaskan.
__ADS_1
Temu kangen antara aku dan Nita yang masih baru sebentar berlangsung, tiba-tiba harus ada iklan yang mau lewat dulu... Hehehe.
Maksudnya, temu kangen aku dan Nita terhenti karena ada pengumuman bahwa kami harus berkumpul di lapangan sekarang.
Aku dan Nita masih saja terus gandengan menuju lapangan sekolah yang terletak tidak jauh dari ruangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan. Ruangan itu adalah kelasku yang sudah setahun ini ikut menjadi saksi bisu kisah romantikaku di masa merah putih. Kisah romantika yang akan mulai hilang seiring berjalannya waktu aku meninggalkan enam level ini.
************
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya kami mendapatkan juga sepucuk surat yang telah lama dinanti itu. Aku benar-benar tidak sabar lagi untuk mengetahui isi surat tersebut.
" Felly Aprilia, kelas VI A...
Selamat... kamu dinyatakan lulus!!"
Kata selamat yang terlihat di surat itu, membuat aku langsung bersorak dengan rasa syukur. Ucapan syukur itu mendorong kakiku untuk melompat seperti atlet lompat yang sedang bertanding. Begitu senangnya hatiku saat ini, ketika tau bahwa angkatanku tahun ini lulus 100 % sesuai dengan harapanku.
ALHAMDULILLAH...
πππππππππππππππ
Meluncur lagi nih readers... doain aja biar authornya up terus ya..π
Selalu diingatkan untuk tetap vote, like dan koment..
Terus ikuti kisahnya ya karena si Felly bentar lagi mau memasuki dunia baru nih dan...kayaknya Felly nya mau pergi liburan dulu tuh... dilarang rindu ya ok... karena rindu itu berat kata Dilan... hehe..πππ
Tapi tenang aja.. yg liburan cuma Felly nya kok... author nya enggakπ€
********************************************
~ PENGUMUMAN~
Maaf ya Readers... πππ
Untuk beberapa hari ini, mungkin author belum bisa untuk up dulu...
Berhubung author lagi ada kemalangan, jadi belum bisa untuk melanjutkan cerita nya..
Mohon bersabar ya readers, dan tetap jangan bosan untuk menunggu.πππ
__ADS_1