Alunan Melodi Romantikaku

Alunan Melodi Romantikaku
Bab 9 ~ Masih Berharap


__ADS_3

Hari ini aku kembali melangkah menuju level selanjutnya di dalam pencapaian hidupku. Setelah masa libur panjang seusai menerima rapor, aku mulai mencoba untuk menjadi nomor satu kembali dan hal itu membuat semangatku tidak pernah padam. Aku sungguh tidak menyangka bahwa sekarang aku sudah duduk di puncak kebebasan yaitu tepatnya pada level enam di Sekolah Dasar itu. Level enam atau kelas enam merupakan kelas penentu apakah bisa bebas dengan mudah atau malah terikat dengan celaan yang menyakitkan. Jika kita sudah dinyatakan lulus pada level enam ini, maka selanjutnya kita bisa menemui dunia baru berikutnya. Namun, jika kita dinyatakan tidak lulus, maka kita harus siap untuk memendam tangisan yang begitu dalam. Tangisan karena usaha yang gagal, dan tangisan karena efek dari kemarahan orang-orang sekitar kita.


Pada masa penentu ini, kakiku terus berjalan menyusuri mata-mata yang menakutkan. Sebenarnya mata-mata ini telah sering aku jumpai dari awal aku masuk ke dalam dunia pendidikan. Tetapi, kali ini mereka sangat berbeda, karena jika di level 6 ini aku membuat mereka marah maka akan tamatlah riwayatku. Sebelumnya kan telah aku jelaskan siapa itu mata-mata. Mata-mata ini adalah semua mata pelajaran di sekolah yang selalu siap mengawasiku.


Sejenak kita tinggalkan dulu si mata-mata yang telah mau untuk aku jadikan teman. Kita kembali kepada kisah romantikaku yang masih belum usai. Pada level 6 ini, banyak harapan yang aku ucapkan. Selain aku ingin lulus dengan nilai yang bagus, aku juga ingin di level ini lah rasa anehku itu dapat terbalas. Jadi, ketika nantinya aku pergi meninggalkan masa merah putih ini, aku pun juga bisa pergi dengan tenang. Aku pergi dengan membawa sebuah cahaya untuk dapat aku perjuangkan ketika telah dewasa nanti.


Lamunanku terhenti oleh bunyi telapak kaki seseorang. Aku tak sadar bahwa telah lumayan lama aku termenung membayangkan semua harapanku itu. Ternyata yang dengan sengaja membangunkan aku dari lamunan itu adalah Nita yang kembali sekelas denganku.


" Pagi-pagi udah ngelamun aja buk" ucap Nita sambil menepuk bahuku hingga membuat aku terkejut.


Nita baru saja datang dan segera duduk di bangkunya. Kemudian, ia duduk dengan posisi miring menghadap ke arahku dan siap untuk mendengarkan suara hatiku saat ini.


" Eh kamu ganggu lamunan aku aja deh" ucapku agak sedikit kesal.


" Sorry...sorry..kalau kamu ngerasa terganggu akan kehadiranku...ya udah deh aku keluar aja" ucap Nita merasa bersalah.


" Eiitss... gak usah keluar juga kali Nit... sini aja, aku gak marah kok" ucapku membujuk Nita.


" Tapi tadi kata kamu...aku gangguin lamunan kamu, makanya mending aku keluar aja gitu" ucap Nita yang sedikit ngambek kepadaku.


" Aduuh...aduuh..kamu ngambek ya gara-gara omongan aku tadi?" tanyaku yang berusaha menenangkan hati Nita kembali.


" Siapa juga yang ngambek...aku hanya gak mau gangguin kamu aja" ucap Nita seakan kesal dengan sikapku tadi.


" Aku minta maaf Nit... jangan gitu dong.. aku kan gak serius tadi marahnya" ucapku yang begitu memohon.


" Iya deh... aku maafin...besok-besok jangan gitu lagi ya!!" ucap Nita masih agak kesal.


" Siap bos..aku janji gak akan gitu lagi" ucapku sambil meletakkan tanganku di kepala seperti orang yang sedang hormat.


Perbincangan minta maafnya diakhiri dengan sebuah pelukan hangat antara aku dan Nita. Kami benar-benar menikmati persahabatan yang masih berjalan diantara kami sampai sekarang. Nita adalah ibarat sebuah permata bagiku. Oleh karena itu, aku sungguh tidak mau jika hatinya lecet atau rusak karenaku.


Adegan sweet dari kami, ternyata membuat semua orang jadi iri termasuk Haris sang pahlawanku.

__ADS_1


" Duh... so sweet nyaaa...jadi pengen dipeluk juga lah" ucap Haris genit.


" Suruh aja tuh Fikri meluk kamu.." ucap Nita sedikit ketawa.


" Gak mau lah aku..masa iya Fikri yang meluk aku" ucap Haris geli.


" Biasa aja kali Ris..kalian kan sohib... sama kayak aku dan Nita" ucapku sambil senyum-senyum.


" Ya beda lah...kalau cowok sama cowok mana ada yang mau pelukan gitu" ucap Haris menjelaskan.


" Ada kok yang kayak gitu.. kamu aja mungkin yang gak mau" ucap Nita sinis.


" Iya deh... emang aku yang gak mau.." ucap Haris sambil tersenyum melihatku yang hanya diam membisu.


Melihat Haris yang selalu mencoba melirik ke arahku membuat Nita merasa tidak dianggap di dalam pembicaraan ini. Sampai-sampai Nita berniat hendak keluar dari zona yang menghadirkannya seperti orang ketiga.


" Belum bel kan? aku mau keluar dulu ya..." ucap Nita yang hanya melihat keluar kelas dan tidak mau melihat ke arahku dan Haris.


" Gak ada...aku cuma gak betah aja di dalam... hawanya panas banget" ucap Nita sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan nya.


" Biarin aja lah kalau Nita mau keluar Fel" ucap Haris seakan mengharapkan sesuatu.


" Kamu apaan sih Ris...? kenapa juga Nita harus keluar" ucapku sambil menahan Nita dengan tanganku.


" Ya udah deh kalau aku gak boleh keluar... lagian bentar lagi udah mau bel juga" ucap Nita sambil duduk di bangkunya.


Hari ini aku melihat sikap Nita yang begitu aneh, entah apa yang merasuki hatinya saat ini. Aku sungguh tidak mengetahui tentang maksud dari sikapnya yang barusan. Apakah ia cemburu melihat kedekatan aku dan Haris atau ia tidak mau kalau aku yang berpaling darinya. Kalau ia cemburu dengan kami, sepertinya tidak karena aku tau bahwa Nita tidak menyukai Haris. Apa mungkin Nita tidak mau merusak rencana Haris yang mau mendekati aku. Entahlah,, yang pasti sebuah harapan sejauh ini masih ada.


Ternyata apa yang dikatakan Nita tadi benar. Tidak lama setelah Nita selesai berkata, bel masuk pun berdering memecah keheningan yang sempat tercipta oleh kami sebentar. Buk Ririn masuk beriringan dengan suara bel yang seakan tidak mau melihat kami saling terdiam. Kemudian, buk Ririn menyapa kami dengan lembut dan berusaha untuk bisa masuk ke dalam dunia kami. Di level 6 ini, aku kembali mendapatkan seorang ibu angkat yang baik di kelas. Aku juga berharap tidak akan ada lagi kejutan yang dapat mengundang air mataku untuk keluar, seperti yang pernah dilakukan dulu di level 5 oleh si ratu sok.


Tingkah Haris yang membuat hatiku luluh, makin menciptakan sebuah harapan yang kuat. Aku juga tidak sadar bahwa aku kembali tersenyum melirik Haris dari kejauhan. Kebodohan aku itu pun kembali membuat Nita makin menertawakan kedekatan kami.


" Aduuh..akhir-akhir ini dia udah sering muncul deh" ucap Nita seolah berbicara sendiri.

__ADS_1


" Siapa tuh Nit orang nya?" tanyaku yang benar-benar tidak tau arah tujuan percakapan Nita.


" Bukan orang Felly..." ucap Nita gemes dan mencubit pipiku.


" Terus kalau bukan orang, lalu siapa?" jawabku sok polos.


" Hmm...maksud aku tadi tuh senyum kamu itu.." ucap Nita makin gemes.


" Ada apa dengan senyum aku Nit.. emang salah ya kalau aku selalu mengekspresikan diriku?" ucapku hingga membuat Nita bingung untuk menjawabnya.


" Gak ada yang salah kok dengan senyum kamu yang manis itu Fel" ucap Nita membujukku.


" Terus apa dong yang salah?" tanyaku bingung.


" Gak ada yang salah kok.. cuma hari masih pagi aja, tapi kamu udah senyum-senyum gitu" ucap Nita menjelaskan.


" Oh gitu... iya deh, maaf..." ucapku malu-malu.


Sekedar pengumuman lagi... aku detik ini masih saja berharap dengan rasa aneh itu yang aku juga ingin Haris memilikinya terhadapku. Oh iya, mengenai tambahan pendidikan aku di MDA yang pernah aku ceritakan sebelumnya, sebenarnya aku sudah selesai ujian akhir MDA ketika aku naik level 6. Syukur Alhamdulillah nilai ijazahku bagus semua, dan si Agus yang dulu pernah merayuku sudah tidak tau lagi kabarnya bagaimana. Apakah ia masih berharap juga denganku atau tidak?




🌼🌾🌼🌾🌼🌾🌼🌼🌾🌼🌼🌾🌼🌾🌼🌾



**Buruan vote, like dan koment ya readers!!πŸ™πŸ˜Š**



**Silahkan tinggalkan jejaknya, ok**πŸ‘Œ

__ADS_1


__ADS_2