Alunan Melodi Romantikaku

Alunan Melodi Romantikaku
Bab 34 ~ Belajar Menerima Keadaan


__ADS_3

Kini aku mulai bisa untuk sedikit demi sedikit mencoba merelakan semua yang terjadi di dalam hidupku. Aku sempat berpikir bahwa semua kaum laki-laki itu memiliki sifat dan kelakuan yang sama. Namun, ketika aku melihat sosok ayahku yang selau setia dengan ibuku, pemikiran itu pun akhirnya dapat berubah.


Ayahku memang bukan sosok laki-laki yang sempurna, dan pastinya selalu ada kekurangan pada diri beliau. Begitupun laki-laki yang pernah aku kenal dulu, yang sempat memutuskan untuk singgah dan kemudian pergi meninggalkan hatiku.


Kini, di level penentu ini aku akan kembali fokus untuk merebut kebebasanku menuju dunia baru selanjutnya. Aku yakin dan percaya bahwa semua yang telah terjadi pada diriku dan hidupku, murni adalah sebuah rencana dan kuasa sang Illahi.


************************


Seperti biasa, setiap pagi aku kembali bersiap-siap untuk menuju ke sekolahku yang mungkin tidak akan lama lagi aku kunjungi. Tahun ini, adalah tahun terakhir untukku menyelesaikan pendidikan di masa SMP. Aku pun kembali untuk bersemangat ketika aku mulai melihat cahaya masa depan itu hadir lagi.


Tak akan ada lagi hari untukku berlarut-larut di dalam kesedihan. Tak akan ada lagi waktu yang aku buang dengan percuma untuk menangis. Dan tak akan ada lagi sosok laki-laki yang kemarin sempat singgah di relung hatiku walau sekejap.


“ Kak… aku udah siap nih, kita berangkat lagi yuk!!” ucap Melly.


“ Iya… iya!! Fandi gimana, udah siap?” ucapku sambil mencari-cari keberadaan Fandi.


“ Gak tau kak, mungkin udah” ucap Melly lagi.


“ Fandi…!! apa kamu udah siap?” ucapku lantang agar terdengar oleh Fandi.


“ Udah dong kak… ayok kita berangkaaat!!” ucap Fandi sambil membenahi rambutnya.


“ Ayah mana kak?” tanya Melly yang terlihat heran.


“ Ayah udah di luar tuh nungguin kita… ayo cepat!!” ucapku bersemangat.


“ Siap bosss!!” ucap kedua malaikat kecilku itu.


Kami pun langsung keluar menghampiri ayah. Ternyata, di luar ibu dan malaikat kecilku yaitu Sindi sudah terlebih dahulu menampakkan wujudnya. Ibuku terlihat tengah menggendong si kecil Sindi yang sedang asyik memegang bonekanya.

__ADS_1


“ Sindi kan udah bisa jalan bu… gak usah ibu gendong lagi” ucapku yang kasihan melihat ibuku.


“ Biarlah nak… adikmu kan lagi senang-senangnya ibu gendong” ucap ibuku tersenyum.


“ Tapi kan ibu kelihatan capek kali karena udah beres-beres rumah dari kemarin. Seharusnya ibu sekarang istirahat!!” ucapku sambil mencium tangan ibuku untuk pamit.


Ibuku hanya bisa tersenyum mendengar ucapanku tadi saat meminta ibuku beristirahat. Sementara itu, kedua adikku juga meniruku untuk mencium tangan ibu ketika akan berangkat ke sekolah. Kalau salam dengan ayah selalu aku dan adik-adik lakukan jika sudah sampai di sekolah.


Setelah kami puas melihat senyum ibuku, dan mencium kedua pipi adikku Sindi, barulah kami langsung berangkat ke sekolah masing-masing. Karena rumah kami yang baru ini agak jauh dari sekolahku dan Fandi, makanya kami sekarang di antar jemput oleh ayah.


Kalau sebelumnya, hanya Melly dan Fandi yang diantar jemput oleh ayah karena sekolah mereka yang jauh dari tempat tinggal lama. Mereka dulu juga bersekolah di sekolah yang sama, tapi sekarang tidak lagi karena Melly sudah masuk SMP. Sedangkan aku biasanya selalu berjalan kaki ketika berangkat sekolah dan pulang sekolah. Ada kalanya juga sih aku diantar oleh ayah ke sekolah, jika aku dalam keadaan terlambat.


Beberapa menit kemudian, aku adalah orang kedua yang diantarkan oleh ayah ke sekolah setelah Melly. Aku segera bersalaman mencium tangan ayah dan langsung bergegas masuk ke dalam menuju kelas.


Ketika sampai di kelas, aku lagi-lagi dipertemukan dengan makhluk-makhluk baru yang sudah seminggu lebih aku kenal. Padahal, kami masih berada di dalam satu lingkungan sekolah yang sama. Tetapi, karena siswa yang bersekolah disini sungguh banyak makanya kami jarang untuk bertegur sapa kalau tidak sekelas.


Sedangkan yang sekelas pun, ada juga yang tidak saling tegur sapa. Apalagi yang jelas-jelas kelasnya berbeda. Begitulah kira-kira aktivitas yang sering dijumpai di sekolah.


“ Hai… pagi juga!! kalau hari ini sih Alhamdulillah kabar aku begitu baik” sapaku balik sambil tersenyum.


“ Ooh syukurlah!! hari ini aku boleh gak duduk di sebelah kamu?” tanya temanku itu yang ternyata bernama Indri.


“ Kalau kamu duduk di sebelahku, trus Nasya duduk dimana?” ucapku heran.


“ Ooh… kamu jangan khawatir Fel. Hari ini kita baru dapat surat yang menyatakan bahwa Nasya gak masuk!!” ucap Indri menjelaskan.


“ Oh ya?? Emangnya Nasya kenapa Ndri???” tanyaku agak cemas.


“ Dia gak kenapa-kenapa kok… dia cuma minta izin karena dia mau pulang kampung gitu” ucap Indri lagi.

__ADS_1


“ Ngapain Nasya pulang kampung hari ini Ndri?” tanyaku yang masih ingin tau.


“ Katanya sih ada urusan penting gitu!! udah… udah… gimana Fel, aku boleh kan duduk disini?” ucap Indri yang terlihat memohon.


“ Kalau cuma sekedar duduk aja untuk hari ini ya… gak apa-apa!! tapi kamu harus pindah kalau Nasya besok udah masuk, oke!!” ucapku sambil memeriksa buku-buku didalam tas.


“ Oke… oke!!”


Nasya adalah teman sebangkuku yang sudah seminggu lebih menemani hari-hariku di kelas baru ini. Nasya adalah gadis yang memiliki sifat agak pendiam, dia belum mau berbicara dengan orang yang baru ia kenal. Jadi… mungkin butuh waktu agak lama untukku dan Nasya bericara dari hati ke hati.


************************


Jam istirahat telah tiba, kali ini aku lagi tidak mau pergi kemana-mana. Hatiku masih baru mencoba untuk merelakan semua kisah masa laluku yang begitu panjang. Dua tahun sudah aku jalani kebersamaan dengan sosok laki-laki yang saat ini aku sudah tidak mau untuk menyebut namanya. Entah ia masih ingat akan hal itu atau tidak? dan mungkin saja saat ini mereka sedang mempamerkan kemesraan lagi di tempat umum.


Sedang asyiknya hatiku bercengkrama sendiri, tiba-tiba Indri mengejutkanku dari belakang.


“ Baaaaaaaaaaaaaaaaaaa………!!!.” Ucap Indri dengan keras.


“ Aduuh… astaghfirullah!! Kamu ini ngagetin aku aja deh” ucapku mengusap dada.


“ Maaf deh Felly… habisnya kamu ngelamun mulu” ucap Indri ketawa.


“ Aku ngelamun cuma sebentar kok” ucapku cuek.


“ Iya deh, sebentar… oh iya, kamu gak keluar?” ucap Indri heran.


“ Gak ah Ndri… aku lagi malas keluar. Aku mau disini aja” ucapku sambil bersandar di bangkuku.


“ Oh gitu… ya udah deh, aku keluar dulu ya. Aku mau ke kantin, jaga dirimu baik-baik, oke??” ucap Indri sambil berlalu keluar.

__ADS_1


Aku hanya bisa melihat Indri keluar sendirian. Ia terlihat seperti sang dewi yang sedang menunggu giliran untuk terbang bebas dari khayangan. Sementara aku disini, masih mencoba untuk mengembalikan duniaku seperti sedia kala sebelum aku mengena akan sosok dirinya yang sampai saat ini masih belum mau aku menyebut namanya…


🌼💕🌼💕🌼💕🌼💕🌼💕🌼💕🌼💕🌼


__ADS_2